
"Noe?"
Gauri berucap tak percaya sedangkan lelaki yang mengaku sebagai Noe terdiam menatap adik Ilya dengan tatapan gugupnya. Sebenarnya Noe pun tak tahu mengapa dia bisa memiliki tubuh begini, padahal ia jelas hanya sebatas jiwa tak bertubuh yang memerlukan wadah.
Seharusnya Noe masih di tubuh Ilya sampai waktu yang ditentukan oleh penjaga dimensi tiba, tapi sekarang ini dia jelas-jelas memiliki tubuh manusia.
"Bagaimana penampilan ku?"
Noe bertanya singkat pada Gauri yang belum menjauhkan ujung pedangnya dari leher lelaki itu.
Dahi Gauri mengkerut, kemudian dia pun menjawab sambil tersenyum remeh.
"Terlihat seperti bocah bodoh"
Rasanya Noe ingin menghajar Gauri jika saja dia bukan adik kesayangannya Ilya.
"Sialan. Maksudku warna rambut atau mata ku, bagaimana kelihatannya?" Dia berusaha sabar. Gauri mulai menjauhkan pedangnya dari Noe, rasa kewaspadaannya agak terkikis saat ini.
"Putih seperti albino dengan mata ungu, tampak tak manusiawi" Jawabnya jujur.
'Tapi itu indah'
Gauri tak bisa mengatakannya secara gamblang. Tapi, wajah Noe ini terlihat bukan datang dari dunianya—berbeda namun indah.
Sementara itu berbagai pertanyaan muncul dalam benak Noe. Lelaki itu menunduk, memperhatikan kulit tangannya yang putih pucat.
'Benar, ini bukan tubuh milikku'
Penampilan Noe lain, dia tidak memiliki rambut putih tapi warna matanya memang ungu layaknya batu Amethyst.
Tangannya sedikit mengepal, merasakan aliran kekuatan dalam tubuh tersebut. Aneh, kekuatannya bisa beradaptasi dengan sempurna seolah-olah tubuh yang dia tempati itu miliknya sendiri.
Pasti tubuh ini sudah mengalami berbagai macam hal sehingga Noe bisa merasa nyaman dengannya, namun, pertanyaan lain muncul ketika dia menyadari sesuatu.
'Antonio, sebenarnya siapa dia itu?'
Dia mengetahui siapa Noe jika dilihat dari tubuh yang Noe tempati ini. Antonio Cass adalah orang paling mencurigakan sekaligus misterius secara bersamaan, Noe pikir musuh Ilya ini sulit dihadapi.
"Apa kepalamu mengalami gangguan karena pedang ku tadi? Berdirilah, kita tidak bisa diam di sini terus" Sambil berbicara ketus, Gauri berjalan meninggalkan Noe yang masih duduk di tanah.
Lelaki itu segera berdiri, menepuk-nepuk celananya yang agak kotor kemudian menyusul Gauri berjalan di sisinya.
"Kita pindah tempat" Ini Noe yang baru menyadari keadaan mereka.
"Kita langsung teleportasi ke tempat ini saat cahaya itu muncul"
__ADS_1
Ujar Gauri, setuju dengan ucapan Noe.
Sebelum mereka terpisah dengan Ilya dan Daniel, ada cahaya menyilaukan yang menghalangi penglihatan Gauri. Saat membuka matanya dia malah berdiri di tempat ini, bersama seorang lelaki asing, lalu ternyata identitas lelaki itu adalah Noe.
'Di mana kakak?'
Gauri tidak bisa menghentikan dirinya untuk khawatir. Dia terpisah dengan kakaknya, bahkan Gauri tidak tahu Ilya ada di mana sekarang.
Kalau masalah Daniel sih dia tidak khawatir sama sekali.
"Ilya pasti baik-baik saja"
Seolah membaca pikiran sang puan, Noe berbicara dengan wajah datarnya yang menatap sekitar.
"Aku tahu"
Gauri menjawabnya singkat. Dia tahu, dia yang paling tahu kalau Ilya pasti baik-baik saja. Tapi, bagaimanapun juga dia tidak bisa merasa tenang meski tahu hal itu.
Kaki Gauri berhenti berjalan, membuat Noe pun ikut berhenti dan memperhatikannya heran.
"Jika kau masih mau hidup, keluarlah!"
Suara Gauri yang berteriak keras. Dia menatap ke belakang dengan dingin, lalu semak-semak yang tumbuh di sana pun bergerak—menandakan adanya seseorang bersembunyi.
"Aku memang tidak bisa meremehkan kemampuan guild master ya? Tak heran, nona Gauri mendapat peringkat kedua sebagai Hunter terkuat di negara kita"
Berbeda dengan reaksi Noe, tampaknya Gauri sudah memperkirakan pertemuan mereka.
"Anak yang mengundurkan diri tiba-tiba karena sudah menyerah dengan rank-nya sendiri, apa ini yang kamu pilih?"
Tak ada rasa simpati apapun dalam ucapannya. Suara ramah yang biasa dia ucapkan pada lelaki itu menghilang, kini hanya ada sosok Gauri yang menatapnya dengan tatapan dingin.
Angin menghembus halus mengelus dedaunan pohon yang ada di sana, dungeon hutan tropis—di sanalah mereka terdampar.
Lalu lelaki itu, Yoo-Han. Dia tersenyum simpul pada Gauri yang masih memperhatikannya.
"Kau tahu nona Gauri? Kamu tidak akan bisa memahami apa yang aku rasakan, soalnya kamu itu sudah muncul dengan bakat alami"
Daun bahkan belum terjatuh ke tanah, namun sosok Yoo-han dengan cepat berada di depan Gauri—menusuknya dengan belati ganda yang sangat tajam.
"Mereka memberikan aku kekuatan ini, bukannya gila? Aku yang sebelumnya tak akan bisa membuatmu mundur barang selangkah pun, tapi sekarang, senjata mu bahkan hampir retak."
Pedang yang Gauri gunakan untuk menahan serangan Yoo-Han retak, membuktikan kekuatan Yoo-Han lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku akui kau jadi lebih kuat"
__ADS_1
Crak.
Gauri menghancurkan pedangnya sendiri, lalu dia meninju Yoo-Han hingga membuat lelaki itu terpelanting ke belakang.
"Tapi bocah, sampai kapan kekuatan mu itu dapat bertahan?"
Dia meludah ke kanan saat melihat Yoo-Han yang memiliki ekspresi kesal. Gauri masih berada jauh di depannya meskipun dia memiliki kekuatan yang lebih banyak, pikirnya, kekuatannya ini sudah cukup untuk membuat Gauri terpojokkan.
"Tidak, ini belum cukup"
Yoo-Han mengambil botol kecil dari saku celananya, namun sebelum dia bisa meminum cairan dalam botol tersebut, kaki jenjang seseorang menendang dia dengan cepat.
"Apa yang mau kau minum itu?"
Noe tanpa menunggu lama langsung menyerang Yoo-Han begitu lelaki tersebut hendak meminum sesuatu, dia tahu apa yang akan Yoo-Han minum lalu tindakannya tadi adalah untuk mencegahnya.
Tapi Yoo-Han cepat. Meskipun sedikit, tapi dia sudah meminum potion itu sebelum serangan Noe mengenai dirinya.
"Dua lawan satu ya? Menarik, aku suka pertarungan ini."
Yoo-Han menyeka bibirnya dengan punggung tangan sendiri, darah mengalir dari sana sebab efek samping dari ramuan yang dia minum. Namun, Yoo-Han merasakannya. Kekuatan tambahan yang kuat, meski hanya minum sedikit tapi Yoo-Han bisa sekuat ini.
"Aku tidak akan segan padamu meskipun kamu adalah mantan anggota guild ku."
Gauri memakai senjata lain. Kali ini dia mengeluarkan tombak dari tempat penyimpanannya, senjata yang jarang dia gunakan di lapangan—tapi Gauri cukup mahir mengaplikasikannya.
"Potion penguat diri. Rupanya kamu memiliki hal macam itu, tak heran kekuatan mu jadi berbeda dari tadi."
Noe berucap singkat sebelum dia pun ikut bersiap menyerang Yoo-Han. Sebagai seseorang yang ada di sana, Noe tidak bisa hanya berdiam diri memperhatikan pertarungan Gauri dengan Yoo-Han. Dia harus membantu adik Ilya, meskipun hanya sebagai pendukung.
"Aku tidak bisa menggunakan semua kekuatan ku, jadi aku hanya akan mendukungmu dari belakang"
Ujar Noe, berbisik sementara itu Gauri tidak menjawab apapun—jadi Noe berasumsi bahwa Gauri menerima tawarannya.
"Tidak perlu menahan diri, Gauri. Aku bisa mengalahkan mu sekarang"
Gauri tersenyum tipis pada ucapan Yoo-Han.
"Haha, benarkah?"
Angin kembali berhembus, namun kali ini angin bergerak mengitari Gauri seperti hendak terjadinya badai.
Rambut obsidian milik perempuan itu berkibar karena angin, dia mengayunkan tombaknya ke udara kemudian pohon-pohon di sekitarnya pun terbelah menjadi dua dengan sempurna.
"Kalau begitu aku tidak akan menahan diri."
__ADS_1
pertarungan antara atasan dan mantan bawahannya. Yoo-Han terus menyerang Gauri, lalu perempuan itu pun melakukan hal yang sama.