Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
The diary (1)


__ADS_3

Do Hwa tersenyum begitu mendapatkan balasan pesan dari Ilya, memang ya, takdir itu tidak ada yang tahu. Dia pikir hubungannya dengan Ilya akan regang sebab kini dia menjadi tersangka yang sama saja dengan kriminal, namun rupanya Ilya tidak menjauhi dia meskipun sebentar lagi Han Do Hwa harus masuk penjara.


"Kita harus menyelesaikan kunjungan ini dengan cepat. Anda masih memiliki jadwal persidangan terakhir hari ini"


Seorang petugas sekaligus mantan Hunter yang ditugaskan untuk mengawasi Do Hwa berucap, menatap Do Hwa yang tampak santai duduk di kursi penumpang.


Do Hwa hanya mengangguk singkat. Toh dia pun ingin mengakhirinya sesegera mungkin, dia muak dengan rumah yang akan dikunjunginya hari ini.


'Aku harap ayah belum menemukannya'


Buku harian peninggalan mendiang para seniornya adalah benda yang akan Do Hwa ambil sekarang, dia menyimpannya secara rahasia di loteng rumah lama dia dan ayahnya sebelum mereka pindah ke rumah baru.


Do Hwa belum membacanya saat Ilya memberikan benda itu sebelum mereka keluar dari dungeon. Tapi dia yakin ada isi yang tidak seharusnya diketahui oleh orang-orang, apalagi manusia macam ayah angkatnya yang haus akan kekuatan.


Mungkin di dalam buku harian itu ada sebuah petunjuk tentang keberadaan potion sempurna yang mereka ciptakan dulu, mungkin buku itu menyimpan rahasia lain atau bisa jadi ada hal berbahaya dalam buku itu.


Do Hwa tidak tahu mana yang benar, tapi yang pasti dia harus segera melenyapkan apapun yang ada di dalam buku itu sebelum seseorang selain dia menemukannya.


'Berpikir tentang dungeon, pertemuan pertama ku dengan Ilya di sana ya?'


Wajahnya langsung terasa panas sebab mengingat kejadian pas awal pertemuan dia dengan Ilya dulu. Lebih tepatnya, dia mengingat tentang lamaran spontan dari lelaki bermata hazel itu padanya.


'Ilya bodoh. Sekarang kan aku jadi baper kalau ingat itu'


Meskipun itu hanya ucapan yang Ilya ucapkan dengan tidak sadar tapi Di Hwa agak berharap kalau di dalam ucapannya itu ada sedikit keseriusan—eh.


"Kita sudah sampai"


Do Hwa kembali fokus pada urusannya. Dia berusaha menepiskan pikiran tentang lamaran Ilya di dungeon dulu, sebab sekarang dia masih memiliki urusan lain yang harus segera diselesaikan.


Setelah membuka pintu mobil, Do Hwa berjalan mendekati gerbang rumah tiga tingkat di depannya. Itu adalah rumah dengan cat berwarna biru tosca, memiliki halaman yang lumayan luas lalu beberapa bunga-bunga tak terurus dan satu pohon mapel.


Di sana adalah tempat tinggalnya pada masa lalu, bersama dengan ayah


dan ibu angkatnya.


"Aku akan masuk, bisakah kamu menunggu di luar?"


Ujar Do Hwa, bertanya saat dia mau masuk ke dalam ruangan berdoa di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Petugas itu mendengus singkat. Ia meminta pada Do Hwa untuk mengulurkan tangannya, lalu dia pun memasangkan gelang yang berfungsi sebagai alat pelacak supaya Do Hwa tidak kabur.


"Jangan lepaskan itu"


Do Hwa mengangguk paham. Setelah selesai ia pun membuka pintu ruangan doa, lalu masuk ke sana sendirian.


Tidak ada banyak benda di dalam ruangan doa itu. Hanya ada meja kecil, foto, lalu bunga-bunga layu dalam vas yang usang.


"Ibu, saya pulang"


Do Hwa duduk bersimpuh di depan foto seorang wanita paruh baya yang tersenyum tipis. Itu foto mendiang ibunya, sudah lama sekali Do Hwa tidak berdoa untuk sang ibu di sana.


Ia menyatukan kedua tangannya di dada, kemudian menutup matanya dan mulai berdoa.


"Ibu. Ayah sudah pergi seperti dirimu, namun ayah pergi dalam keadaan penuh dosa dan menjadi seorang kriminal. Ayah banyak melakukan hal-hal buruk, bahkan sampai mengambil nyawa orang lain untuk tujuannya"


Dia menjeda ucapannya sejenak. Pikirannya berkelana ke masa lalu, ketika sang ayah belum menjadi seperti sekarang dan keluarga mereka hidup normal layaknya keluarga pengusaha bisa.


"Sejak ibu pergi, sifat ayah berubah. Tidak ada lagi ayah baik yang memaafkan semua kesalahan putri angkatnya, yang ada hanyalah seorang ayah tempramen dan melampiaskan kekesalan atas rencana gagalnya pada putrinya."


William tidak kasar sejak awal. Dia sebenarnya berkepribadian lembut dan baik, Do Hwa diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri meskipun dia seorang anak angkat.


"Sekarang ayah sudah tidak ada. Aku tidak tahu siapa yang membunuh ayah, tapi Ilya bilang kalau ayah dibunuh oleh seorang pembunuh Hunter atas suruhan orang lain. Mungkin ayah mendapatkan karma karena perbuatan buruknya selama ini? Aku tidak tahu, tapi aku harap jika kalian bertemu di sana ibu akan memarahi ayah."


Do Hwa terdiam sejenak. Dia mengingat apa lagi yang harus dia ceritakan pada ibunya.


"Ibu ingin tahu Ilya itu siapa? Dia adalah kakak dari guild master terkuat kedua di negara kita, selain itu dia memiliki wajah yang cukup tampan, baik, oh! Dia juga kuat tapi tidak melakukan hal jahat dengan kekuatan yang dia miliki. Dia awalnya rank F yang diremehkan orang-orang, tapi sekarang semuanya menyukai dia. Aku juga suka—"


Wajah Do Hwa merona karena mengatakan hal memalukan seperti itu.


"Bukan! Bukan itu maksudku!! Ugh, gimana ya?"


Ia jadi kikuk. Padahal ibunya tidak ada di sana, tapi dia seperti merasakan sang ibu sedang tertawa karena Do Hwa yang membicarakan tentang seorang lelaki.


"Dia tampan, usianya lima tahun lebih tua dariku dan orang-orang suka dia. Apalagi mata hazel miliknya terlihat menarik—jadi, aku tidak menyukainya sebagai lawan jenis oke? Ibu bilang aku harus mencari calon suami yang mencintaiku, tapi aku tidak tahu apakah Ilya mencintaiku juga atau tidak"


Do Hwa menghela nafas panjang. Tangannya kini menutup wajahnya sendiri, menutupi rona merah sebab merasa malu dengan pengakuan diri.


"Dia memang baik, tapi aku tahu dia baik ke semua orang. Itu hal yang membuat aku ragu, apakah aku bisa mengatakan aku mencintaimu padanya atau tidak"

__ADS_1


Perlahan dia membuka kembali tangannya yang ia pakai untuk menutupi wajah. Do Hwa menatap lantai kayu berdebu yang dia duduki.


'Aku takut hubungan kami menjadi beda kalau dia tahu perasaan ku padanya'


Dia tersenyum pahit. Padahal hubungan mereka sudah bagus, tapi bukannya akan jadi canggung kalau Do Hwa mengatakan perasaannya pada Ilya nanti? Bagaimana jika dia ditolak karena Ilya sudah punya seseorang yang dia suka? Do Hwa tidak mau hubungan mereka berubah, jadi dia memutuskan untuk mengubur perasaannya sedalam mungkin.


"Jika keadaan di sini sudah mulai kondusif aku akan menyatakan perasaan ku pada dia. Ibu jangan berharap banyak, tapi jika kami memang ditakdirkan bersama akan aku pastikan untuk mengenalkan dia pada ibu. Tolong jaga kami, terima kasih karena sudah mengadopsi saya dulu"


Do Hwa mengakhiri doanya. Dia pun berdiri, langkahnya berjalan ke depan foto sang ibu—lebih dekat kemudian mencabut foto ibunya dari dinding.


Tepat di belakang foto ibunya terdapat brangkas kecil yang masih dikunci. Do Hwa memasukkan kuncinya, lalu berangkas itu pun terbuka dan menampilkan sebuah buku harian di dalamnya.


William tidak curiga dengan tempat penyimpanan yang ada di balik foto istrinya, karena itulah dia tidak pernah menemukan buku harian senior Do Hwa yang dia cari-cari.


Kelemahan sang ayah adalah istrinya, dan Do Hwa memanfaatkan itu.


Jari Do Hwa mulai membalikkan setiap kertas buku harian itu. Tidak ada hal yang spesial, hanya beberapa tulisan hasil dari eksperimen dan catatan-catatan kecil.


Tapi dia tidak menyerah. Do Hwa harus menemukan dimana potion terakhir yang para seniornya buat, lalu melenyapkannya supaya 'dia' tidak mendapatkan itu.


'Aku harus cepat'


.


.


.


.


.


.


.


Nanggung? maaf hehe. Ini ada dua part sebenarnya, karena sangat panjang jadi aku jadiin dua aja buat chapter hari Minggu nanti.


selamat membaca, semoga harimu tidak terlalu rumit seperti cerita ini😍

__ADS_1


__ADS_2