
Bagai terbawa angin, kabar Ilya yang mengalahkan bos monster sendirian pun langsung tersebar ke seluruh negri, bahkan video dirinya sudah ditonton lebih dari dua juta kali dan menjadi trending topik saat ini.
Banyak orang yang terkejut karena kekuatan Ilya. Beberapa orang ada yang tidak percaya meskipun sudah melihat video itu, mereka meminta konferensi pers untuk membuktikan Ilya yang ada dalam video.
Sementara negaranya sedang riuh karena kemungkinan muncul Hunter Rank S baru, Ilya malah keringat dingin di ruangan tengah yang sepi seolah tak terpengaruh dengan kondisi di luar sana.
'Apa yang harus aku lakukan? Noe! Kau boleh mengambil alih tubuhku sekarang!'
["Aku menolak. Ini adalah masalahmu"]
Ilya tak bisa berkutik. Suara Noe terdengar malas saat dia menjawabnya, membuat Ilya benar-benar ingin menampar sistem dengan ego miliknya itu.
'Kau! Dasar pengkhianat! Siapa yang menyuruhku untuk menyembunyikan kekuatanku coba? Itu kau!'
Dia berkoar-koar pada Noe. Menyalahkan sistem itu karena menyuruhnya untuk pura-pura lemah—yah, bukan salah Noe semua sih.
Pengecek kekuatan juga memiliki andil dalam masalah ini, kalau saja pengecek kekuatan itu menampilkan Rank Ilya yang sebenarnya dia tidak mungkin mempublikasikan diri sebagai Hunter rank F.
["Aku menyarankan itu supaya kau tidak diperhatikan oleh orang-orang kuat. Kau hanya akan kerepotan jika harus meladeni tantangan dari mereka dan tugas yang diberikan oleh penjaga dimensi padamu akan terganggu"]
'Jadi intinya kau tidak mau membantu?'
Ilya to the poin dan suara tawa Noe terdengar di telinganya.
["Tidak. Selamat berjuang Ilya Sigma"]
Suara Noe menghilang begitu saja, dia kabur entah kemana meninggalkan Ilya dalam suasana canggung dan sepi di kantor pribadi milik Gauri.
Hanya ada mereka berdua di sana dan sejak tadi tidak ada seorang pun dari mereka yang memulai pembicaraan.
Pada akhirnya suara Gauri berhasil memecah suasana sepi di sana, dia memanggil Ilya pelan membuat sang empu yang dipanggil langsung terlonjak kaget.
"Kakak"
"H—hah?"
"Aku sudah tahu"
"H—hah?"
"Aku sudah tahu"
Sang adik menatap kakaknya lurus. Ilya tidak paham apa yang Gauri maksud, jadi yang bisa dia katakan tadi hanya ucapan 'hah' singkat seperti orang bodoh.
'Apanya?'
Dahinya semakin berkeringat. Karena suasana di sana dia jadi tidak bisa berpikir jernih. Gauri paham sang kakak tidak sedang fokus, karena itu dia menjelaskannya pada Ilya.
"Aku sudah tahu tentang kekuatan kakak itu, sebenarnya kak Ilya bukan rank F kan? Kakak mungkin lebih kuat dariku"
Jawaban dari Gauri itu sukses membuat Ilya terbelalak.
"Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tidak bertanya padaku?"
Gauri menautkan kedua tangannya di atas paha. Dia tersenyum kecut, kemudian kembali berbicara.
"Aku tidak mau memaksa kakak untuk jujur. Kak Ilya pasti punya alasan sampai menyembunyikan nya kan? Aku ingin menunggu sampai kakak mau jujur padaku"
Wajah Ilya menunduk. Perasaan malu dan menyesal menyelimuti dirinya saat ini, seharusnya dia lebih percaya pada adiknya itu tapi Ilya bertindak seolah-olah dia tidak mempercayai Gauri dan menyembunyikan semuanya.
"Maaf, seharusnya aku mengatakannya padamu"
'padahal aku memiliki keluarga yang sangat berharga seperti Ari, tapi bisa-bisanya aku mengecewakan dia begini'
"Aku akan mengatakannya padamu"
__ADS_1
'Apa tidak masalah?'
["Ini adalah rahasia, tapi penjaga dimensi tidak mengirimkan sinyal apapun padaku sekarang, jadi untuk adik mu tidak apa-apa"]
Anehnya saat seperti ini Noe malah muncul, padahal tadi dia menghilang.
"Benarkah?"
"Iya. Aku akan mengatakannya padamu, tentang semua yang aku lakukan selama lima tahun hilang dari bumi dan alasan ku menyembunyikan kekuatan ku yang sebenarnya"
Gauri mengangguk singkat. Akhirnya, dia akan segera mengetahui apa yang kakaknya lakukan selama lima tahun dia menghilang.
Telinganya menangkap semua ucapan yang Ilya lontarkan, dia mendengarkan dengan fokus kemudian wajahnya semakin mengeras saat dia mendengar semua cerita tentang perjuangan Ilya untuk hidup di dungeon selama itu.
Memakan makanan tidak layak, hidup dengan ketakutan dan tidak bisa pulang. Ilya terus hidup seperti itu dalam waktu yang sangat lama, setelah ceritanya berakhir Gauri mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Bukannya itu gila? Kak Ilya terjebak selama 5000 tahun di sana!? Kakak—kamu pasti menderita selama ini"
Suaranya naik beberapa oktaf. Gauri marah pada siapapun yang membuat kakaknya terjatuh ke dungeon itu, tapi dia lebih marah lagi karena dirinya tidak bisa membantu apapun untuk Ilya.
Ilya tersenyum simpul. Melihat Gauri yang langsung percaya pada ucapannya membuatnya senang, dia pikir adiknya itu akan curiga sedikit—tapi reaksi Gauri murni mempercayainya.
"Aku memang menderita, tapi mengingat mu dan ibu adalah hal yang bisa membuatku merasa lebih baik saat di dungeon dulu. Meskipun sekarang ibu sudah tidak ada, tapi setidaknya aku memilikimu yang mendukungku kan?"
Gauri menatapnya sendu.
'Kakak tidak sakit jiwa saja sudah keajaiban, apa jadinya jika kak Ilya kembali dalam keadaan gila karena terlalu lama membunuh monster dan terluka? Aku tidak bisa membayangkannya'
"Sekarang aku tidak apa-apa. Aku hanya harus melakukan hal yang ditugaskan oleh penjaga dimensi, setelah itu kita bisa hidup damai bersama"
"Kak Ilya bilang ada sistem yang bisa mengambil alih tubuh kakak kan? Bisakah aku bicara dengannya?"
Ilya mengangguk atas jawaban dari Gauri.
"Aku bisa saja menyampaikan apa yang dia bilang padamu—"
"Tidak. Aku ingin melihat bagaimana cara dia merasuki kakak, tolong biarkan aku bicara dengannya" Dia menjeda ucapannya sejenak "Apa kakak akan merasakan sakit saat menerima luka ketika kalian bertukar jiwa?"
Ilya menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak akan merasakan sakit ketika Noe merasuki tubuhnya karena saat itu yang akan merasakan sakitnya adalah Noe.
"Tidak. Aku akan merasakan sakit saat jiwa ku tidak bertukar dengan Noe, begitu pun sebaliknya"
Gauri tersenyum tipis. Meskipun dia tersenyum, tapi tatapannya tidak melakukan hal yang sama.
"Baiklah. Tolong pertemukan aku dengannya"
Ilya segera menutup matanya, berusaha untuk konsentrasi dan berpindah jiwa dengan Noe.
'Kau jangan macam-macam pada adikku Noe!'
["Aku tidak akan melakukannya!"]
Sedetik kemudian mata Ilya terbuka, namun kini bukan warna hazel yang ada di sana tapi warna ungu seperti permata Amethyst yang indah.
Sikap angkuh Noe langsung terlihat. Meskipun dia dalam tubuh Ilya, tapi auranya jadi sangat berbeda.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan manusia—"
Suaranya tersengal saat dia merasakan pukulan telak yang Gauri arahkan di perutnya. Noe terjungkal ke belakang, membuat kursi yang dia duduki jatuh hingga menyentuh lantai.
Buagh!
Uhuk!
Dia batuk darah. Jika saja tubuh yang dia rasuki ini milik manusia biasa, sudah dipastikan dia akan mati lagi. Pukulan Gauri bukan main, itu menyakitkan dan kuat.
__ADS_1
Noe memegang perutnya yang terasa sakit. Dia mendongak, menatap Gauri yang kini juga menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bahkan suaramu saja menyebalkan. Kau menyusahkan kakak ku selama ini, pukulan dariku hanya balasan dari penderitaan yang kakak ku terima. Aku tidak akan membiarkan mu mengendalikan tubuh kakak ku seenaknya!"
Dia jelas sedang marah saat ini. Kalau Noe tahu akan mendapatkan satu pukulan telak di perut dia pasti tidak akan mau bertukar tubuh dengan Ilya.
"Kau sangat kuat, adiknya Ilya. Tapi maaf saja, aku akan ada dalam tubuh Ilya selama dia belum menyelesaikan tugasnya. Dan kami sudah melakukan kesepakatan terkait mengendalikan tubuhnya!"
Noe berucap sambil berdiri. Dia membenarkan sofa yang terjungkal ke belakang tadi, lalu kembali duduk di atas sofa itu.
Sedangkan Gauri mendengus kasar. Dia berjalan ke tempatnya duduk, perasaannya sudah agak puas setelah memukul perut Noe tadi. Dia bersyukur Noe memiliki ego sehingga sistem itu bisa merasakan rasa sakit dari pukulannya.
"Jika kau macam-macam pada tubuh kakakku saat kau merasukinya maka akan ku pastikan jiwa mu itu akan hancur berkeping-keping."
Untuk sentuhan terakhir Gauri meludah ke kiri, memberikan kesan seperti perempuan preman yang hidup di sisi gelap kota. Sebenarnya Noe sendiri merinding ketika dia melihat Gauri yang seperti ini, rasanya dia seperti akan mati lagi jika melanggar ucapan Gauri tadi.
Karenanya dia pun mengangguk meski dengan terpatah-patah. Alis Gauri tebal, matanya juga menusuk—meskipun dia memiliki bulu mata lentik tapi saat seperti ini dia tidak terlihat manis sama sekali, yang ada hanyalah kesan garang dan menakutkan—persis seperti induk singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Baiklah, aku mengerti. Berhenti menatapku seolah-olah kau mau membunuhku!"
Gauri mengangkat bahu tak acuh.
"Itulah yang akan terjadi jika kau membuat kakak ku dalam bahaya"
Noe bersumpah untuk tida akan pernah menyinggung Gauri barang sedikitpun, dia jadi merasa kasihan pada lelaki yang akan menikah dengannya—pasti nanti jadi suami takut istri.
Karena tidak mau berurusan lagi dengan Gauri, Noe segera berganti dengan Ilya saat itu juga.
Ilya langsung menahan tawanya begitu dia mendapatkan tubuhnya kembali. Pemandangan langka, Noe yang biasanya mengomeli dirinya jadi terpojok oleh Gauri adiknya yang manis dan baik hati.
Gauri menghela nafas lega. Dia duduk di sebelah Ilya, kemudian memeluknya dari samping membuat Ilya terdiam—dia merasakannya, nafas Gauri dan tangannya yang gemetar.
"Jangan merahasiakan apapun lagi. Cobalah untuk berbagi beban mu padaku. Aku akan berusaha untuk selalu membantu kakak, aku janji"
Mendengar suara Gauri yang rendah begitu membuat Ilya sakit sendiri. Tanpa sadar dia sudah menyakiti perasaan adiknya, satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini.
Saat Ilya hendak membuka mulutnya, tiba-tiba saja pintu terbuka secara kasar menampilkan sosok lelaki berbadan besar bak seorang binaragawan dengan pakaian Hawai yang mencolok.
Selain itu dia juga memakai kacamata hitam, padahal di sana tidak sedang musim dingin.
"Yo! Gauri!! Jadi, di mana kakak mu itu? Aku ingin menantangnya bertarung!"
Tidak hanya penampilannya yang eksentrik, suaranya pun nyaring dan menggelegar. Gauri melepas pelukannya dari Ilya, lalu memberikan tatapan tajam pada lelaki yang baru masuk itu.
"Gulid master Nex, tidak kah anda diajari sopan santun saat masuk ke kantor orang? Setidaknya mengetuk pintu lah dulu!"
Gauri mengomel sambil menunjuk lelaki berbadan besar itu. Sementara Ilya sedang mencerna situasinya.
Jadi saat ini ada seorang lelaki dengan penampilan eksentrik yang menganggu suasana sedihnya dengan Gauri, dan lelaki itu menantangnya untuk bertarung.
Ilya hendak berdiri, namun wajah lelaki itu tiba-tiba saja ada di depannya. Untung Ilya tidak terjungkal karena terkejut, bisa-bisanya dia ada di depannya padahal tadi dia ada di dekat pintu.
Senyumannya melebar seolah menemukan mangsa empuk baru, dia menyentuh kedua pundak Ilya kemudian berseru dengan wajah sumringah.
"Ayo bertarung denganku!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.