Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Rasa takut.


__ADS_3

Tidak ada yang bisa Ilya lihat. Di depannya hanya ada pemandangan hitam tak berujung dan dia berdiri sendirian menatap kedepan, mempertanyakan dimana kira-kira dirinya berada saat ini.


"Aku tidak bisa melihat apapun—"


Suara Ilya tersengal. Lehernya terasa panas seolah-olah rantai api melilit lehernya hingga dia kehilangan nafas, Ilya berontak, dia berusaha menarik rantai itu meskipun tangannya kini melepuh karenanya.


'sakit banget!'


Dengan sekuat tenaga Ilya menghancurkan rantai tersebut, menghilangkannya menjadi berkeping-keping. Nafasnya memburu, anehnya luka bakar di lehernya hilang bersamaan dengan rasa panas dan sakit yang dia rasakan tadi.


"Apa yang terjadi!?"


Tatapan Ilya beralih. Dia menunduk, menatap kakinya yang terasa berat dan dingin—rupanya tangan seseorang sedang menariknya masuk ke dalam kegelapan yang lebih jauh, Ilya menendang tangan itu lalu tiba-tiba saja menghilang.


Dari kejadian itu Ilya menyadari bahwa saat ini dia sedang bermimpi buruk, karena itulah dia pun berusaha untuk bangun dari tidurnya.


"Mimpi yang aneh, aku harus segera bangun dari sini—"


"Ilya Sigma. Kau yang membunuh kami."


Ilya tersentak begitu dia mendengar suara semi serak dan berat itu dari belakangnya. Dia berbalik, dengan cepat menemukan sosok Lune tanpa kepala dan dua temannya yang langsung menyerang Ilya begitu saja.


"!!"


Ilya terbangun. Keringatnya bercucuran, seperti habis lari maraton dihari yang terik. Dia mendapati dirinya tertidur di kasur, hari sudah gelap dan jam di meja menunjukkan pukul dua belas malam.


Berkali-kali Ilya mengatur nafasnya sendiri, berusaha kembali ke dunia nyata dan tidak memikirkan mimpi buruknya tadi.


"Noe, apa kau ada?"


Ilya berucap singkat. Berusaha memanggil Noe yang sejak dia pulang dari dungeon hanya diam tak berkutik, Ilya pikir Noe menghilang sejenak.


["Mimpi buruk?"]


Seolah mereka tidak hanya berbagi raga, Noe tahu kalau Ilya terbangun karena mimpi. Ilya yang gengsi tidak mau mengatakannya secara gamblang, karena itulah dia membungkusnya menjadi sedikit lebih baik.


"Bukan. Tiga Hunter yang aku bunuh di dungeon menghantuiku dalam mimpi,"


[.......]


["Sama saja itu mimpi buruk"]


Noe membantahnya. Ilya hendak berargumen lagi namun ucapan Noe selanjutnya sukses membuat dia terdiam.


["Kau pengecut ya. Mungkin karena kau bukan orang yang harusnya dipilih oleh penjaga dimensi, makannya kamu mengalami masalah mental setelah membunuh seseorang"]


Perempatan imajiner memenuhi kepala Ilya. Bisa-bisanya dia disebut pengecut oleh suara yang tidak jelas bentuknya seperti apa, dia jelas tidak mau menerimanya.


"Aku bukan pengecut!"


["Kau pengecut, payah. Kekuatan mu jadi tidak berguna padamu, padahal kamu bisa melakukan apapun tapi kamu memikirkannya segalanya supaya tidak keluar dari zona aman milikmu"]


Hujan fakta dari Noe menghantam hati Ilya saat itu juga. Memang benar, Ilya selalu berada di zona amannya saat dia sudah tinggal di bumi.


kekuatan miliknya jarang dia gunakan, Ilya hanya menggunakan kekuatan itu saat dibutuhkan saja. Tapi, dia tidak mau disebut pengecut.


"Aku tidak!—"

__ADS_1


["Kalau seperti ini kau tidak akan pernah berkembang, Ilya Sigma. Calon bencana pertama sudah ada di depan mata, bahkan pemicunya pun sudah kamu ketahui. Kali ini, jangan pikirkan risiko. Jangan seperti diriku yang dulu"]


Ucapan Noe sangat pelan di akhir. Ilya tidak paham maksud dari ucapan Noe. Apa sistem juga memiliki kehidupan dulunya? Ilya ingin bertanya seperti itu, tapi sekarang dia harus mengurus yang lain.


Ilya membenarkan posisinya, dia duduk dan bersandar menggunakan bantalnya yang diletakkan di dinding, kaki Ilya masih tertutup selimut—dia menatap ke arah langit-langit kamar, kemudian tatapannya beralih menatap jendela kaca besar yang dibiarkan terbuka gordennya.


cahaya bulan waktu itu masuk ke kamar Ilya, membuat kamarnya yang gelap sedikit terang karena satelit bumi tersebut.


"Aku hanya merasa takut karena membunuh seseorang. Meskipun melihat darah sudah menjadi kebiasaan untukku waktu di dungeon, tapi itu darah monster. Manusia beda lagi,"


["Mereka akan tetap mati meskipun bukan di tanganmu."]


"Aku tahu itu"


Ilya menutup matanya sejenak.


["Mereka orang jahat yang pantas mati. Jika kau merasa kasihan pada musuh hanya karena kau simpati pada kehidupannya, maka berhentilah sekarang"]


"Aku bisa berhenti?"


["Enggak lah bodoh. Kalau bisa sudah dari awal aku mengganti mu dengan orang lain"]


Ilya tersenyum kecut. Semakin hari ucapan Noe makin menusuk saja.


"Kata-kata mu selalu menusuk ya" Ujarnya jujur. Mata Ilya terasa berat karena mengantuk lagi.


["Ini bawaan lahir, sulit untuk merubahnya"]


Ilya mengernyitkan dahinya.


'Lah? Emangnya sistem dilahirkan?'


"Kau benar."


["Di masa depan nanti, mungkin kau akan mengambil lebih banyak nyawa orang lain. Musuh mu tidak akan segan untuk membunuhmu, karena itulah kau pun harus bisa melakukan hal yang sama"]


"Aku akan berusaha"


["Kau harus melakukannya"]


"Terima kasih"


["Hah? Aku enggak denger apa yang kau bilang tadi?"]


"Cih, aku bilang terima kasih!"


Meskipun sebentar tapi Ilya mendengar suara tawa Noe. Ini pertama kalinya dia mendengar sistem itu tertawa, tapi kok sistem bisa punya selera humor?


["Tidak masalah. Tugas ku memang membantumu, jadi sekarang kau harus segera tidur"]


Noe hampir saja mengambil alih tubuh Ilya lagi dan membuatnya tertidur, tapi Ilya dengan cepat berbicara padanya.


"Tunggu dulu! Noe! Ayo kita buat kesepakatan!"


Suaranya agak tinggi saat mengatakan itu. Ilya khawatir Gauri yang tidur di sebelah kamarnya akan mendengar suaranya tadi, jadi sekarang dia melambatkan nada suaranya.


[“Apa maksudmu?"] Ucap Noe bertanya singkat.

__ADS_1


"Aku tidak suka saat kau mengendalikan tubuhku dengan paksa, karena itu ayo kita buat kesepakatan tentang waktu yang boleh dan tidaknya kamu mengendalikan tubuhku"


["Aku melakukannya pun untuk kebaikan mu"]


Ilya tersedak ludahnya sendiri. Sekarang Noe jadi terlihat seperti orang tua yang menasehati anaknya.


"sekarang kau terdengar seperti orang tua"


["Apa!? Cih. Jadi, apa mau mu?"]


Ilya terkekeh geli mendengar suara Noe yang menggerutu. Dia sudah memikirkannya, kesepakatan yang akan Ilya lakukan dengan Noe sebagai sistem ber-ego yang hidup dalam tubuhnya.


"Aku akan membiarkan kamu mengambil alih tubuhku saat keadaan terdesak. Kau tahu, meskipun aku memiliki kekuatan yang kuat tapi tindakan ku kadang impulsif, jadi, saat aku tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan kau boleh mengambil alih tubuhku" Ujar Ilya. Matanya menatap ke samping, ada bingkai foto dirinya dan Gauri di sana—foto pertama mereka saat Ilya baru keluar dari dungeon.


["Aku mengerti. Akan ku lakukan seperti mau mu"]


Ilya menghela nafas lega. Dia pikir Noe akan mengajukan persyaratan yang sulit, tapi tidak disangka dia malah menyetujuinya dengan mudah.


‘Kalau tau gini harusnya aku bilang aja dari dulu'


Dengan begitu Ilya tidak sembarang dikendalikan oleh Noe.


["Aku mau tanya"]


"Apa?"


Ilya menarik selimutnya, karena sudah dini hari dia jadi ngantuk lagi dan memutuskan untuk kembali ke alam mimpi.


["Bagaimana caramu lepas dari kendali ku waktu itu?"]


Tangan Ilya membenarkan posisi bantal. Dia merenung sejenak, memikirkan saat dirinya menggunakan kekuatannya untuk membunuh para Hunter di dungeon kemarin.


"Aku gak tau. Yang jelas waktu itu kamu menghilang entah ke mana, aku jadi bisa menggunakan kekuatan ku tanpa dikontrol olehmu."


Ilya menjawab seadanya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang membuatnya tidak bisa dikendalikan oleh Noe, padahal seharusnya Noe bisa mengontrol kekuatannya waktu itu.


Mulutnya menguap, memberikan kode pada matanya untuk segera menutup dan tertidur. Ilya harus pergi bersama Gauri besok, dan besoknya lagi dia akan bertemu Remy.


“Udah ya, aku ngantuk.”


Setelah mengatakan itu Ilya pun tertidur. Begitu mudah dia mengarungi kembali alam mimpi, karena lelah jadinya dia langsung tertidur dalam hitungan detik.


Di sisi lain Noe terdiam sambil memikirkan mengapa Ilya bisa tiba-tiba lepas dari kendalinya. Padahal seharusnya selama dia masih numpang di tubuh Ilya maka dia bisa mengambil alih kesadarannya, tapi kali ini dia gagal seolah-olah kekuatan dalam diri Ilya berusaha mendorong dirinya untuk pergi.


“Tidak, ini belum waktunya aku untuk pergi”


Noe bergumam, mata sewarna Amethyst miliknya menatap tangan yang transparan. Dia belum bisa keluar dari tubuh Ilya, setidaknya nanti saat penjaga dimensi mengizinkannya—dia harus menunggu lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Amethyst itu warna ungu, aku suka mendeskripsikan warna pake nama batu mulia gitu hehe. Kayak emerald, Aquamarine, Amethyst, Zamrud dll


__ADS_2