
Dua hari yang lalu adalah hari yang sangat berat bagi Ilya. Saat dia baru bangun dari pingsannya dia harus berhadapan dengan Gauri yang menjadi semakin protektif padanya, selain itu Ilya pun mendapatkan banyak perhatian lagi karena dia berhasil membuat Remy yang mengalami ledakan kekuatan berhenti.
Untuk Remy, dia di skors selama satu bulan dan harus menjadi relawan membantu masyarakat selama tiga Minggu. Itu dilakukan sebagai bentuk hukuman karena membahayakan warga saat terjadinya ledakan kekuatan—tidak ada korban jiwa, tapi beberapa bangunan banyak yang hancur sehingga Gauri sebagai gulid master tempat Remy bekerja harus bertanggung jawab dan membayar denda.
Gauri bersikeras ingin ikut bersama Ilya jika dia harus 'menjinakkan' calon bencana selanjutnya dan itu tentu ditolak oleh Ilya. Tapi, bukan Gauri namanya kalau menerima begitu saja. Adik Ilya itu terlalu keras kepala karena dia tidak mau membiarkan Ilya pingsan lagi, dia bahkan memberikan pilihan yang membuat Ilya mau tak mau harus mengalah.
"Aku akan menempatkan lebih banyak pengawal denganmu supaya kakak tidak bertindak gegabah,"
"Lah? Sejak kapan kamu menempatkan pengawal di dekatku selain Remy?"
"Aku selalu melakukan itu sejak kakak kembali, kecuali akhir-akhir ini aku tidak melakukannya. Tapi jika kakak tidak memperbolehkan aku untuk ikut maka aku akan melakukan itu lagi"
Apapun akan Ilya lakukan supaya dia tidak diawasi oleh adiknya itu, jadi akhirnya Ilya mengizinkan Gauri untuk mencari calon bencana lainnya.
Tentang kejadian Remy kehilangan kendali itu, Ilya tidak menerima hukuman karena dialah sosok pahlawannya. Jadwal untuk mengecek rank Ilya diundur, Gauri ingin memberikan waktu istirahat untuk kakaknya itu.
Untuk Calista dan Remy sendiri, mereka sudah bertemu saat Ilya siuman. Calista langsung memeluk Ilya erat sambil menangis, dia bahkan lebih emosional daripada Gauri.
Sementara itu Remy meminta maaf dan mengucapkan terima kasih padanya, dia sudah mendengar cerita dari Calista tentang Ilya yang membantunya untuk kembali sadar—Ilya hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, lalu Remy memantapkan hati untuk terus berada di pihak Ilya.
"Seharusnya aku liburan hari ini, tapi kenapa kau menyuruhku untuk keluar sih!?"
Ilya menggerutu sambil berjalan tak tahu tujuan karena Noe yang memintanya.
Tadinya Ilya ingin menikmati waktu santainya dengan berdiam diri di apartemen, sambil menonton film atau tidur seharian—dia jarang mendapatkan kesempatan itu akhir-akhir ini, tapi Noe malah ribut menyuruhnya untuk mencari informasi tentang calon bencana selanjutnya.
["Kau bukan adonan kue yang akan berkembang jika terus diam, karena itu keluarlah lalu lanjutkan tugasmu!"]
'Tidak bisakah aku istirahat saja hari ini? Lagipula, aku tidak tahu apapun tentang si calon bencana kedua!'
Suara Noe terdengar malas saat dia menjawabnya.
["Karena itu aku menyuruhmu untuk mencari tahu."]
Padahal Ilya bisa saja mencari lewat internet dari rumah tanpa perlu keluar dan jalan-jalan.
'Tapi aku tidak punya tujuan!—'
Ilya berhenti berjalan begitu dia merasakan tangan seseorang yang melingkar di pinggangnya, ia berbalik kemudian menatap seorang perempuan yang juga menatapnya.
Hari ini Ilya keluar sambil menyamar lagi, jadi tidak mungkin ada seseorang yang mengenalinya.
"Lihat kan? Aku sudah punya pacar jadi menjauh lah!"
Tiba-tiba saja perempuan berambut merah itu memeluk lengan Ilya. Si lelaki yang gak tau apa-apa hanya melongo seperti orang bodoh, lalu dia baru menyadari kalau perempuan ini secara tidak langsung meminta tolong padanya karena diganggu oleh sekelompok lelaki yang keras kepala.
"Apa kau yakin dia pacarmu? Dia terlihat payah."
Salah satu lelaki itu berucap, meremehkan Ilya yang tampak lemah.
"Nona, lebih baik kamu bersama kami saja. Aku tidak akan melakukan apapun kok"
Tangan lelaki itu hendak menarik lengan si perempuan, tapi dia diblokir oleh Ilya yang mencengkram pergelangan tangannya lebih dulu.
Sambil menatapnya dingin Ilya berbicara.
"Kau tuli atau dungu? Pergi dan jangan ganggu dia"
Keempat lelaki itu merinding begitu melihat sikap Ilya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Mereka merasakan alarm bahaya di alam bawah sadar mereka, jika ini dilanjutkan maka mereka akan mengalami hal buruk.
"A-ayo kita pergi saja! Huh, sialan. Bilang dong kalau kau punya pacar"
Ilya melepaskan cengkraman tangannya itu dan membiarkan mereka pergi. Dia menarik nafas lega, beruntung tak ada perkelahian di sana karena mereka hanya terlihat kuat saja.
Mata Ilya menoleh ke samping, menatap perempuan tadi yang kini memandangnya dengan tatapan berbinar. Tunggu dulu-sepertinya Ilya kenal dengan tatapan itu.
__ADS_1
"Takdir pasti berpihak padaku kan? akhirnya kita bertemu lagi"
"Kau!?—"
"Halo sayang, hal tak terduga karena kita bertemu di sini"
Matanya menyipit begitu dia tersenyum pada Ilya. Sedangkan Ilya terkejut karena sosok yang dia cari sekaligus seseorang yang akan mengalami ledakan kekuatan seperti Remy ada di depannya.
Dia si calon bencana berikutnya.
"Mau kencan denganku?"
...******...
"Kasus menghilangnya Hunter dan kematian di dungeon meningkat akhir-akhir ini,"
Ia meletakan tablet yang membahas tentang kabar terkini, khususnya tentang kasus menghilangnya beberapa Hunter di dungeon. Itu menjadi trending topik, mengalahkan berita tentang Remy yang mengamuk.
"Menjadi Hunter memang pekerjaan yang beresiko meskipun memiliki gaji besar, tapi kematian banyak Hunter ini mencurigakan. Hal seperti ini jarang terjadi"
Ucap salah satu orang yang hadir di sana. Dia memakai baju casual santai, sangat cocok dengan wajahnya yang teduh.
Hari ini adalah pertemuan gulid yang selalu dilakukan secara berkala. Satu bulan sekali para gulid master akan mengadakan pertemuan, mereka membahas banyak hal terkait guild ataupun beberapa kasus seperti hilangnya para Hunter.
Ada empat gulid terbesar di negara mereka, dan Gauri berada di posisi kedua.
"Untuk kematian para Hunter mereka memiliki satu kesamaan" Gauri menjeda ucapannya sejenak "Tangan mereka menjadi hitam, itu sama seperti mayat Hunter yang kami temukan"
Di sini Gauri membahas tentang Lune. Hunter yang dilaporkan Remy memakai ramuan untuk menjadikannya kuat secara instan, hasil lab mereka menyatakan Lune memang mengkonsumsi beberapa obat-obatan dan ramuan itu adalah yang paling parah.
"Itu kasus ramuan yang menjadikan kuat kan? Ramuan mencurigakan yang tiba-tiba saja digunakan Hunter,"
Gauri mengangguk singkat atas ucapan gulid master Orion, Alexander Dane.
Guild master Nex, Daniel berucap singkat dengan tatapan datar.
"Kekuatan diperoleh dari sebuah latihan, jika kita bisa menjadi kuat karena pecandu obat maka itu tidak adil bagi mereka yang bekerja keras"
Sebagai seseorang yang lebih menghargai usaha daripada hasil, Daniel jelas tidak menyukai ramuan itu.
"Orang-orang selalu menginginkan jalan pintas, obat itu pasti terhubung dengan banyaknya Hunter yang meninggal dunia di dungeon"
Yang berbicara adalah gulid master Moon, Yui Guan. Seorang perempuan dengan rambut hitam disanggul dan rapi, berpakaian casual dan wajah teduh.
"Bagaimana anda yakin semua itu terhubung?"
Daniel bertanya singkat.
"Mayat yang kami lihat pun memiliki tangan yang hitam, itu pasti efek samping dari ramuannya"
Yui memperlihatkan map berisi foto dan hasil investigasi gulid miliknya tentang kasus tersebut, di foto itu terlihat lengan para korban berwarna hitam seperti terbakar menjadi arang.
Alex menghela nafas panjang. Masalah ini bisa membuat publik khawatir apalagi bagi mereka yang memiliki anggota keluarga seorang Hunter. Para korban pasti tak tahu tentang efek samping ramuannya, mereka hanya tahu kalau meminum ramuan itu bisa memberikan kekuatan besar pada mereka.
"Saya memberikan ini pada kalian semua. Perintah langsung dari presiden, para master gulid besar harus menyelidiki tentang kasus ini dan menangkap pelakunya"
Alex memberikan perintahnya pada para gulid master atas nama atasannya, sang presiden. Gulid Orion berada di bawah naungan presiden dan itu adalah gulid milik negara.
"Saya memang berniat melakukan itu, salah satu pengguna ramuan itu pernah menargetkan kakak saya"
Gauri berucap tegas dengan raut wajah dingin. Mengingat tentang kejadian itu membuatnya marah, bisa-bisanya mereka menargetkan sang kakak di dungeon.
"Lakukan ini secara rahasia, jangan sampai membuat publik panik"
"Baik"
__ADS_1
Mereka membahas hal lain sebelum mengakhiri pertemuan itu.
"Pertemuan hari ini selesai, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk hadir. Selain gulid master Orbit, yang lainnya boleh keluar lebih dulu. Saya ingin membahas tentang Hunter Remy"
Dua gulid master yang lain langsung keluar dari ruangan itu, meninggalkan Gauri dan Alex berdua saja.
"Aku tahu itu hanya alasan karena kau sudah mengetahui rinciannya, jadi apa yang mau kau katakan padaku?"
Gauri langsung to the poin karena sudah merasa sumpek di sana, dia ingin segera pulang dan bertemu kakaknya. Tidak ada formalitas saat mereka berdua, itu karena Alex sendiri yang memintanya seperti itu.
Sementara Alex terkekeh kecil melihat suasana Gauri yang kebelet pengen pulang. Dari dulu dia memang seperti ini, tidak suka basa-basi dan ingin langsung ke intinya.
"Bagaimana kondisi kakak mu?"
"Dia baik"
"Begitu? Syukurlah, aku menantikan untuk bertemu dengannya nanti"
Gauri mengerutkan keningnya heran. Ngapain dia mau ketemu kakaknya? Seolah paham dengan tatapan Gauri, Alex langsung menjawabnya saat itu juga.
"Apa aku tidak boleh bertemu langsung dengan kakak yang kamu cari selama ini?"
"Untuk apa kalian bertemu?"
Gauri berucap agak sinis, tidak ramah adalah sikapnya yang biasa jadi Alex tak terlalu mempermasalahkannya.
Alex tersenyum simpul, dia berjalan ke arah Gauri kemudian duduk di sebelahnya.
"Entahlah, mungkin aku akan meminta restu untuk menikah denganmu?"
Ia sedikit menelengkan kepalanya dengan wajah polos sementara Gauri menatapnya datar.
"Candaan mu tak lucu, dasar lelaki mesum"
Ia menjauhkan wajah Alex dengan tangannya dan Alex tertawa mendengar ucapan Gauri.
"Baik, baik. Maafkan aku. Dan bisa tolong berhenti menyebut ku lelaki mesum? Aku ini atasan mu lho Gauri"
Gauri tak menjawab apapun. Dia malah memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Alex yang masih duduk di sana.
'Tidak mau ya?'
Sebutan itu entah kenapa melekat pada Alex. Ia pernah bertanya ke Gauri, mengapa dirinya dipanggil demikian dan Gauri menjawab asal bahwa itu karena Alex menggunakan senjata cambuk jadi dia berpikir Alex adalah lelaki mesum yang masokis.
Padahal kan itu tidak ada hubungannya sama sekali.
'Lucu'
Alex menyukai Gauri sejak awal pertemuan mereka. Menurutnya Gauri itu sosok perempuan yang mandiri dan kuat, sangat cocok dengan tipe idealnya. Usia mereka terpaut tujuh tahun, yang artinya Daniel lebih tua dari Gauri.
Menatap wajah Gauri yang datar dan kesal membuat hatinya berdegup kencang, karena merasa tidak baik untuk jantungnya Daniel memalingkan wajahnya kemudian berbicara.
"Hanya saja aku penasaran dengan calon rank S baru kita, sebagai salah satu Hunter rank S aku pun ingin bertemu dengannya"
Itu adalah alasan yang Daniel gunakan untuk bisa bertemu Ilya.
"Asal kamu tidak macam-macam."
Gauri membalasnya singkat. Setelah itu dia pun berdiri, berniat untuk segera pulang.
"Aku tidak seperti Daniel kok"
Alex mengekor Gauri yang berjalan keluar dari ruangan tersebut, ia memperhatikan sang puan dari belakang sambil memikirkan bagaimana cara mendekati perempuan itu.
Romantisnya tipis-tipis ya, aku gak bisa nulis cerita yang terlalu serius.
__ADS_1