
Tidak mudah mengalahkan Yoo-Han yang sudah berubah, di sisi lain, Ilya masih bertarung dengan Hyun. Penampilannya sudah acak-acakan, begitu pula dengan dungeon tempat dia berpindah.
"Tuan memintaku untuk membunuhmu atau aku yang mati, tapi aku tidak bisa memilih salah satunya"
Sementara mulutnya berbicara, dia melemparkan bom seukuran kepalan tangan pada Ilya untuk mengganggu lelaki itu.
Ilya menebasnya dengan mudah, kemudian serangan lain datang dari Hyun yang kini mengikat kuat kedua tangannya dengan benang, sehingga Ilya kesulitan untuk bergerak.
"Jadi apa yang harus aku pilih? apa kita mati bersama saja?"
Benang tersebut langsung hancur sebelum Ilya terkena serangan lanjutan dari Hyun, tidak bisa begini, jika terus dilanjutkan hanya akan menghancurkan dungeon dari dalam.
Apalagi sebentar lagi Hyun seperti akan mengalami ledakan kekuatan sebagai bencana kedua.
"Hyun, berhenti! Aku bisa membantumu!"
"Kalau begitu kamu harus mati bersamaku!"
Hyun tidak mendengarkan Ilya sama sekali. Matanya seperti kehilangan kendali, ia seolah termakan oleh kekuatannya dan terus menyerang Ilya dengan membabi-buta.
Ledakan terjadi, setiap kali dungeon hampir hancur maka area di sekitarnya berubah menjadi lain.
'Sekarang tebing'
Jika Ilya adalah manusia biasa, mungkin saat ini jantungnya sedang berdegup tak beraturan sebab merasa takut pada pemandangan di bawah kakinya.
Tebing berbatu tinggi, selain itu diantara sela-sela tebing terdapat sungai panjang bercabang yang bergejolak seolah-olah air di sungat tersebut sedang mendidih begitu panasnya.
"Sungainya beracun, tempat yang cocok untuk mati kan?"
Manusia biasa yang masuk ke sana pasti tak bisa selamat, kecuali ia memiliki pertahanan yang kuat atau Hunter rank S.
"Sudah ku bilang, aku bisa membantumu!"
Ilya belum menyerah untuk membujuk Hyun. Selama perempuan itu masih menjadi calon bencana, dia tidak bisa membunuhnya—karena itulah sejak tadi Ilya menahan diri.
'Noe tidak mengatakan apapun, ke mana dia?'
Saat berpindah tempat tadi, Ilya baru menyadari ketidakhadiran Noe di dalam dirinya. Biasanya sistem itu akan cerewet, mengatakan peringatan-peringatan atau apapun itu supaya Ilya bisa cepat menjinakkan calon bencana.
Namun sejak tadi dia tidak mendengar suaranya. Seperti Noe sudah hilang tanpa jejak.
"Tidak ada yang bisa membantuku, aku adalah produk gagal yang bahkan tak bisa menghilangkan seluruh ego milikku!"
Hyun terus menyerang Ilya tanpa mendengarkan apa yang lelaki itu ucapkan. Matanya mengeluarkan darah, ia seperti menahan kekuatannya sendiri supaya tidak meledak saat itu juga.
"Aku bisa membantumu!!"
"Bagaimana caranya!!?"
__ADS_1
Tidak memiliki cara lain, Ilya melumpuhkan Hyun dengan tendangan yang sangat cepat—membuat perempuan itu terpental jauh ke belakang, menabrak setiap tebing-tebing batu yang ada di sana.
Uhuk!
Darah segar kembali keluar dari mulutnya. Satu tendangan serius dari Ilya membuatnya tak bisa berkutik, sejak tadi Ilya menahan dirinya supaya Hyun tidak terluka terlalu banyak.
"Percaya padaku, aku bisa membantumu."
Suaranya terdengar sangat lembut dan meyakinkan. Hyun memperhatikan wajah Ilya, meneliti apakah ada kebohongan dari lelaki itu—namun, dia tidak menemukannya sama sekali.
"Kau yakin?"
Dia ragu untuk percaya pada orang lain, bahkan jika itu Ilya sekalipun.
"Aku yakin, Hyun. Percaya padaku"
Tangannya terulur tanpa beban pada Hyun yang masih terduduk tak berdaya di sana. Kini tatapannya beralih menatap tangan Ilya yang penuh dengan memar, hasil dari pertarungan mereka sejak tadi.
Ilya pikir ini sudah berakhir. Setelah Hyun menyambut tangannya, dia akan memberikan potion pada Hyun lalu masalah calon bencana kedua sudah selesai. Namun, rupanya semua ini tidak semudah itu.
"Maaf, Ilya."
Jleb!
Mata hazel miliki lelaki itu menatap perutnya yang sudah tertusuk duri panjang yang tajam, ukuran duri tersebut sama seperti pohon—membuat perut bagian bawahnya memiliki luka yang menganga.
Ilya mengerang saat Hyun mendorongnya kuat ke belakang. Dia mungkin bisa menyembuhkan dirinya sendiri, namun rasa sakit dari luka itu masih bisa dia rasakan dengan jelas.
'Sial! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit!'
Dia hanya bisa menahan semua umpatannya saat ini. Sambil terhuyung ke samping, ia melihat sosok Hyun yang sudah berubah.
Hyun berteriak keras bersamaan dengan itu sulur-sulur tajam yang mirip seperti tentakel gurita muncul. Menggeliat dan mengamuk, tampak seperti hendak menyerang apapun yang ada di sekitarnya.
"Sudah di mulai."
Ilya befgumam saat tebing yang dia pijak retak. Kakinya kembali melayang di udara, sedangkan tangan kanan Ilya masih sibuk menutupi luka di perut yang belum sembuh sepenuhnya.
Satu menit terasa begitu lama, ia harus menahan rasa sakit dan kepalanya yang pusing seperti berputar-putar.
"Sakit, aku tidak mau mati! Tolong, tolong aku!"
Hyun berteriak keras sambil terus menghancurkan segala hal yang ada di dekatnya. Tebing batu itu retak, membentuk sebuah belahan panjang yang dalam.
Duri tajam muncul dari dalam tebing yang terbelah, benda itu menjulang tinggi seolah tumbuh menjadi pilar-pilar mencakar langit.
Di tengah kekacauan itu Hyun meringkuk bak seorang bayi. Terjatuh ke dalam kegelapan yang dalam, tanpa perlawanan ia masuk tertelan oleh retakan yang ia buat sendiri.
"Hyun!"
__ADS_1
Luka di perutnya sudah hilang. Ilya dengan cepat terjatuh ke dalam tebing terbelah itu, menyusul Hyun untuk menolongnya keluar dari sana.
"Hyun! Buka matamu!!"
Kesadaran perempuan itu sangat tipis. Dia hanya bergumam sendiri, sambil membiarkan tubuhnya tertarik gravitasi.
Sementara Ilya berjuang untuk mencapai Hyun, dia pun harus menghancurkan setiap sulur yang hendak menghalanginya.
Kekuatan Hyun begitu besar, ini bahkan lebih dari Remy saat dia mengamuk waktu itu.
Jika terus dibiarkan mungkin Hyun benar-benar akan menghancurkan seluruh dungeon ini, lalu Ilya pun akan ikut terkubur di dalamnya.
'Itu gak akan terjadi.'
Ia merogoh saku celananya yang terasa mengganjal, rupanya di dalam saku terdapat sebuah botol kecil yang Ilya tahu bahwa itu adalah potion untuk menjinakkan kekuatan calon bencana.
Ilya tidak tahu mengapa dia punya itu saat Noe sendiri tak ada di dalam tubuhnya, tapi yang pasti dia harus segera menjinakkan kekuatan Hyun saat ini juga.
Ilya menarik lengan Hyun saat tubuh mereka terus tertarik oleh gravitasi. Dari dekat Ilya bisa mencium bau anyir darah Hyun yang mulai kehilangan dirinya sendiri, ia jelas sudah tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya—dan itu mempersulit Ilya untuk bisa meminumkan potion pada Hyun.
Dia memutar otaknya, mencari cara untuk membuat Hyun meminum potion lalu pilihan akhir dia ambil disaat sepasang sayap Wyvern muncul di punggung Ilya.
Mengapa tak dari tadi dia gunakan kemampuan miliknya itu?
Ilya meminum potion itu, lalu ia pun menarik Hyun keluar dari celah retakan dan mencium bibir sang puan supaya ia meminum potion nya.
Setelah yakin Hyun meminum itu, ia langsung melepaskan ciuman mereka—setelahnya wajah Hyun langsung merona padam, bersamaan dengan area dungeon yang kembali berubah lagi.
Kini goa lembab dan gelap adalah tempat mereka berpindah. Rupanya efek potion itu sangat cepat, Hyun langsung sadar begitu Ilya membuatnya minum secara paksa.
"Sudah ku bilang bukan, aku bisa menolong mu."
Ilya berucap sambil menurunkan Hyun dari pangkuannya.
"Tapi tidak harus begini" Hyun memalingkan wajah tak acuh, sebenarnya dia berusaha untuk tidak menatap Ilya saat ini sebab merasakan perasaannya yang campur aduk.
"Salahmu sendiri yang kehilangan kesadaran." Di akhir ucapannya, Ilya terkekeh kecil.
"ILYA!?"
Suara teriakan Hyun adalah hal terakhir yang Ilya dengar sebelum dia melihat kegelapan di depan matanya. Terlalu banyak kekuatan yang ia gunakan—seperti terakhir kali, Ilya tertidur tanpa mengenal tempat dan situasinya.
'Saat Noe kembali nanti aku harus memarahinya'
Ilya semakin kesal pada sistem itu.
'Ku harap Ari baik-baik saja.'
Dia pun harus mencari adiknya.
__ADS_1