
"Itu saja yang saya laporkan hari ini"
Remy berdiri tegap di depan meja kerja Gauri yang berada di kantornya. Setelah kembali dari dungeon dia langsung pergi ke gulid untuk melaporkan kegiatan yang dilakukan Ilya pada atasannya tersebut.
"Kakak sepertinya kelelahan setelah pulang dari dungeon kan? Aku harus memberinya istirahat besok"
Gauri berucap singkat setelah dia mendengar laporan harian tentang kegiatan yang Ilya lakukan di dungeon hari ini. Meski terkesan berlebihan, tapi Gauri melakukannya untuk membuat Ilya tetap aman. Dia ingin tahu kegiatan apa saja yang Ilya lakukan dan siapa saja orang-orang yang menganggu kakaknya tersebut.
Karena rank mereka yang berbeda jauh Gauri jadi khawatir muncul orang-orang cari mati yang sengaja menganggu Ilya, atau mencoba mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya saja. Di dunia dimana orang yang kuat berkuasa ini Gauri takut kakaknya akan menjadi mangsa karena lemah.
"Ya, beliau mungkin memang kelelahan"
Remy menjawab apa adanya. Sebenarnya dia tidak berpikir bahwa Ilya kelelahan, dengan kekuatan seperti itu Ilya tidak mungkin merasa lelah hanya karena membunuh tiga Hunter dan beberapa monster—tapi, mengingat kembali saat tangan Ilya yang gemetar setelah mereka keluar dari gate membuatnya kepikiran.
Mungkinkah Ilya terkejut melihat darah manusia untuk pertama kalinya? Remy tahu Ilya sempat menghilang beberapa tahun dan muncul baru-baru ini, tidak berlebihan baginya jika merasa takut atau terkejut saat melihat darah manusia apalagi setelah dia menghilangkan nyawa seseorang.
"Kak Ilya itu terlalu memaksakan dirinya. Aku ingat saat dia selesai melakukan tes dan hasilnya dia adalah rank F, begitu kecewanya wajah dia saat itu. Padahal aku tidak keberatan jika harus selalu melindunginya"
Gauri menopang dagu, mengingat kembali ketika dia membawa Ilya untuk melakukan tes kekuatannya. Remy hanya bisa bungkam mendengar curhatan Gauri tentang Ilya. Andai saja Gauri tahu apa yang Remy lihat saat di dungeon tadi, pasti dia tidak akan mengatakan hal itu.
'Kakak anda itu kuat, bahkan mungkin dia lebih kuat dari kita berdua'
Baru kali ini Remy melihat tingkat kekuatan seperti yang Ilya miliki. Saat itu dia yakin Ilya tidak menggunakan semua kekuatannya, bagaimana jadinya jika dia menggunakan seluruh kekuatannya? Dungeon yang mereka masuki bisa saja hancur dari dalam.
Remy membayangkan bagaimana jadinya jika Ilya memiliki kesabaran setipis tisu. Dia mungkin akan selalu melawan tanpa pandang bulu karena memiliki kekuatan kuat saat diremehkan, Remy bersyukur Ilya cukup bijak untuk tidak menggunakan kekuatannya sembarangan karena terpancing emosi—karena kalau dia begitu mungkin akan banyak masalah yang harus dia hadapi.
Remy merasa sayang karena harus merahasiakan kekuatan Ilya yang sebenarnya dari Gauri, tapi dia harus melakukannya setelah membuat janji pada Ilya.
Meskipun terlihat apatis, tapi Remy itu orang yang menghargai sebuah janji dan pasti akan menepatinya. Kepercayaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan.
"Masalah para Hunter itu, aku harus mencari tahu lebih dalam lagi tentang mereka."
Gauri berucap dengan nada serius. Remy mengatakan pada Gauri bahwa dialah yang membunuh para Hunter itu karena mereka menganggu Ilya saat di dungeon, Remy juga mengatakan hal lain tentang mereka—semua ceritanya sudah dimodifikasi jadi berbeda dengan aslinya.
Remy melakukannya sesuai dengan keinginan Ilya. Jadi sekarang yang Gauri tahu adalah waktu itu Remy tersulut emosi karena melihat Ilya yang dianiaya(?) Oleh ketiga Hunter tersebut lalu berakhirlah dia melawannya, saat dia akan mengampuni mereka dengan tidak membunuhnya salah satu dari mereka malah meminum cairan aneh yang membuatnya berubah menjadi sosok lain.
Remy berhasil mengalahkan mereka dan dia mendapati bahwa ketiga Hunter itu kemungkinan besar suruhan dari orang lain yang menargetkan Ilya dan memakai barang ilegal hasil lab yang tak terdaftar. Karena itu Remy mengeksekusi mereka di tempat.
Setelah menceritakan skenario sesuai dengan yang Ilya inginkan Remy jadi berpikir kakak dari ketua gulid nya tersebut adalah pengarang handal, bisa-bisanya dia memikirkan cerita macam itu dan membuat Gauri terperdaya.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan membunuh mereka. Jika mereka tidak mati di tanganmu, mereka akan mati karena efek ramuan aneh itu atau aku sendiri yang menghilangkan mereka"
Gauri mengakhiri ucapannya dengan senyuman penuh arti. Remy tahu saat ini dia sedang menahan emosinya sendiri, mendengar bahwa ada yang berani menganggu kakaknya bahkan sampai masuk secara ilegal ke dalam dungeon yang sudah dia beli membuatnya ingin segera mencari tahu siapa sosok dibaliknya.
Musuh Gauri itu banyak. Sejak dia menjadi pemilik gulid terkuat kedua dan rank S di negaranya banyak orang yang menaruh rasa iri dan dengki, tak jarang ada serigala berselimut domba juga yang berkeliaran disekitarnya.
'Maafkan aku Gauri. Tapi ini adalah keinginan kakak mu tersayang itu'
__ADS_1
Remy berkali-kali meminta maaf pada Gauri karena berbohong padanya—anehnya Gauri yang biasa teliti dan peka terhadap raut wajah seseorang bisa tertipu oleh cerita karangan dari Ilya. Lelaki itu bersyukur karena sepertinya Gauri jadi kurang waspada sekarang.
"Ramuan aneh yang bisa membuat seseorang menjadi seperti iblis dan monster. Pasti ada yang sedang bermain-main dengan nyawa orang lain."
Jari Gauri mengetuk-ngetuk mejanya sendiri. Kebiasaannya saat sedang berpikir hal serius, suasana dalam kantor itu menjadi dingin dalam waktu singkat.
Bereksperimen dengan manusia adalah ilegal kecuali manusia tersebut sudah menjalani berbagai macam tes dan persetujuan dari dirinya sendiri tanpa paksaan sebagai objek eksperimen, itupun harus dalam pengawasan lagi.
Dan di zaman sekarang saat eksistensi Monster dan manusia hidup, menggabungkan kedua spesies tersebut adalah sebuah kejahatan dan bisa dijatuhi hukuman dari pemerintah.
"Hal seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan dengan sekali percobaan, sebuah lab besar bisa jadi adalah dalang dibalik semua ini"
Gauri mengucapkan argumennya.
'Aku memiliki seseorang yang ku curigai, tapi saat ini aku belum memiliki bukti untuk menangkapnya'
Gauri tidak mau bersikap impulsif dan langsung tangkap tanpa bukti. Meskipun sosok yang dia curigai memiliki stigma jelek dimasyarakat, tapi jika menuduh seseorang tanpa bukti kuat maka itu hanya akan menjadi bumerang untuk dirinya.
"Saya curiga ini adalah ulah pemilik perusahaan potion Liou"
Tersentak, Gauri menatap Remy yang juga menatapnya dengan tatapan datar. Senyuman tipis terpatri di wajah Gauri, membuat dirinya terlihat memiliki kesan manis.
Pemikiran mereka sama. Gauri pun menaruh curiga pada orang yang Remy ucapkan.
"William ya? Aku juga menaruh curiga pada pak tua itu"
Diakhir ucapannya Gauri tertawa kecil.
'Mungkin, kematian para peneliti dan hanya putri angkatnya yang selamat juga ada hubungannya dengan ini?'
Otak Gauri mulai mencocokkan puzzle demi puzzle tentang kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Semuanya seperti potongan kecil yang tercerai-berai dan kini dia mulai menemukan dimana titik cahayanya.
"Saat kasus kematian para peneliti bertepatan dengan munculnya Kak Ilya, mungkin aku bisa bertanya padanya tentang Han Do Hwa"
Gauri bergumam pelan namun karena suasana kantornya yang sepi Remy pun jadi bisa mendengarnya.
"Selidiki hal ini lebih lanjut. Jika hasil lab sudah keluar, kita akan mencari dalang dibalik pembuatan ramuan itu"
Ucap Gauri. Memberi perintah akhir pada Remy yang mengangguk. Tugasnya kini bertambah, selain menjadi pengawal sementara Ilya dia pun harus menyelidiki tentang potion mencurigakan.
'Akan berbahaya jika ramuan aneh macam itu bertebaran di pasaran'
Sesuatu yang dapat memperkuat seseorang dengan instan itu menakutkan. Orang-orang pasti berbondong-bondong ingin memilikinya tanpa peduli efek apa yang akan mereka terima nanti, Gauri ingin mencegahnya dengan semua yang dia bisa.
Demi keamanan kakaknya tersayang.
"Baik, pemimpin gulid. Kalau begitu saya permisi dulu--"
__ADS_1
"Tunggu"
Remy mengentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Gauri lagi yang masih duduk di kursinya.
Gauri menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap Remy kemudian tersenyum simpul.
"Untuk kedepannya aku percayakan kak Ilya padamu. Kamu adalah rekan ku yang berharga, aku harap kamu bisa mengatakan semuanya padaku dengan jujur lain kali"
Remy hanya mengangguk singkat menjawab ucapan Gauri. Dia melengos pergi, membiarkan Gauri sendirian dalam kantornya dengan raut wajah dingin.
"Sampai akhir pun kau tetap berbohong, Re?"
Tangan Gauri menyentuh anting ditelinga kanannya yang terhubung dengan anting milik Remy. Anting itu adalah item khusus untuk perekam suara sekaligus pelacak dengan rank S, namun yang Remy tahu anting itu hanyalah aksesoris biasa. Gauri memberikannya pada Remy saat dia pertama kali masuk dalam gulid dengan alasan hadiah selamat datang darinya.
Gauri tahu Remy berbohong tentang Ilya dan kejadian di dungeon sejak awal, dia hanya berpura-pura ikut dalam skenario yang Ilya dan Remy lakukan saja.
Tadinya dia pikir Remy akan terpancing dengan ucapan terakhirnya, tapi rupanya Remy terlalu tidak peka untuk mengetahui pesan tersirat dari ucapan Gauri tadi.
"Dan juga, kenapa kakak merahasiakan kekuatannya dariku? Apa aku terlihat tidak bisa dipercaya?"
Ada perasaan kecewa dalam hatinya. Selama ini Gauri berusaha menjadi adik yang baik, dia menyayangi Ilya dan sepenuhnya percaya pada lelaki itu.
Saat dirinya tidak bisa percaya pada orang lain bahkan rekannya sendiri, Gauri percaya pada Ilya. Tapi, apa gunanya mempercayai seseorang saat orang itu tidak mempercayainya juga?
'Kakak juga tidak mengatakan apapun padaku tentang dia saat menghilang selama lima tahun'
Gauri membuka ponselnya. Wallpaper gawai terlihat di layar, menampilkan sosok masa kecil dirinya dan Ilya saat mereka berlibur ke pantai.
Gauri marah karena Ilya memiliki rahasia besar yang tidak diberitahukan kepadanya, tapi dia tidak mau memaksa kakaknya untuk mengatakan rahasia itu saat ini.
Mungkin kakaknya hanya perlu waktu. Dia akan menunggunya sampai sang kakak mengatakannya sendiri, tapi Gauri tidak bisa untuk tidak merasa bangga karena kakak yang melindunginya saat kecil dulu memiliki kekuatan besar yang bahkan lebih kuat dari dirinya.
Diam-diam Gauri tersenyum. Senyuman hangat dan tulus, tidak ada kepalsuan dalam senyumannya.
'Kakak ku hebat banget'
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.