Level Max Setelah 5000 Tahun

Level Max Setelah 5000 Tahun
Calista


__ADS_3

Kemarin adalah hari yang cukup panjang. Remy bangun satu jam kemudian, setelah Ilya menjelaskan bahwa dia tertidur setelah menonton film, Remy langsung meminta maaf karena merasa sudah melakukan hal yang tidak sopan.


Ilya tak mempermasalahkan itu dan Remy pamit pulang karena hari semakin siang. Dia tidak bisa diam di apartemen Ilya lebih lama dari itu dan sebenarnya Remy merasa malu.


Ilya mempersilahkan dia untuk pulang, tak lupa dia pun mengajaknya untuk mengobrol lagi kapan-kapan dan Remy hanya mengangguk singkat lalu pergi dari sana.


Sekarang, Ilya berada di supermarket tempat adik Remy bekerja. Kali ini dia mengatakan tujuannya pada Gauri dan tidak pergi tiba-tiba. Jika saja Gauri tidak ada jadwal rapat, mungkin dia sudah ikut dengan Ilya sekarang—Ilya bersyukur karena itu tidak terjadi.


“Dia tidak ada?”


Ilya berucap singkat setelah bertanya pada kasir di supermarket itu.


“Calista mengambil cuti untuk hari ini. Apakah anda memiliki urusan dengannya? Kalau iya saya bisa menyampaikan pesan itu nanti padanya”


Ilya segera menolak tawaran tersebut. Cara kasir itu melihatnya sangat membuat Ilya tak nyaman, barangkali karena Ilya memakai kacamata hitam, masker dan topi—dia sedang menyamar tapi justru malah terlihat seperti stalker.


Ini kedua kalinya dia menyamar begini. Untuk alasan yang sekarang, Ilya hanya takut identitasnya terbongkar karena dia sudah menjadi agak terkenal sejak hari itu.


“Tidak usah. Terima kasih sudah mau menjawabnya, kalau begitu permisi”


Setelah mengambil belanjaan yang berisi jajanan ia pun bergegas pergi dari sana. Ilya sudah mendatangi apartemen Calista tadi, tapi dia tidak ada di sana—karena itu dia pikir adik Remy ada di supermarket namun di sana pun dia tidak menemukannya.


Ilya menghela nafas lelah. Sambil duduk di kursi taman dia merenung.


[“mengapa kau diam?”]


“Aku capek tau”


[“Kau harus bergegas. Waktu tidak dapat diputar kembali, karena itu kau harus memanfaatkannya”]


“Ish! Aku juga tahu itu!”


Sambil bersungut-sungut Ilya berdiri dari duduknya. Dia tidak bisa santai barang sedikitpun, padahal yang dia lakukan sekarang hanya istirahat sejenak.


‘'Pemicu yang membuat Remy kehilangan kendali adalah adiknya, sudah dipastikan akan terjadi sesuatu pada adiknya dalam beberapa hari ini. Baru empat hari berlalu, dan waktu yang kau bilang adalah satu Minggu kan?”


[“Itu tidak pasti. Takdir dapat berubah, mungkin ‘sesuatu’ itu akan terjadi sekarang ataupun lebih lama lagi”]


“hah!? Gimana sih kamu jadi sistem kok plin-plan!?”


[“Ini di luar kendali ku, bodoh. Karena itu aku meminta mu untuk bergegas”]


Ilya berjalan cepat dengan perasaan kesal. Dia pikir semua sistem akan memberikan informasi yang akurat, seperti dalam game atau film yang selalu dia lihat—tapi kenapa sistem miliknya begini!? Mungkin karena Noe memiliki ego, jadi dia berbeda dengan sistem yang Ilya tahu.


‘Pencarian ini tidak akan selesai-selesai—‘


Brugh!


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya takdir masih berpihak pada Ilya, kalau tidak mana mungkin dia dipertemukan dengan adik Remy begitu saja lewat tabrakan begini.


“Maaf! Apa anda melihat anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan baju kemeja biru? Saya sedang mencarinya”


Ilya tak sempat menyampaikan tujuannya, dia malah dibanjiri pertanyaan oleh Calista yang tampak panik dan khawatir. Apa terjadi sesuatu? Ilya mulai berspekulasi, tapi dia tidak melihat anak yang Calista maksud sejak tadi.


“Aku tidak melihatnya”

__ADS_1


Calista tersentak. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa sejak tadi dia berlari, peluh di dahi dan lehernya menjadi buktinya. Karena penasaran Ilya mau bertanya, tapi Calista lebih dulu berteriak saat itu.


“Lukas!”


Teriaknya sambil menatap seorang anak yang dimasukkan ke dalam mobil. Ilya berbalik, dia pun melihat kejadian penculikan tersebut lalu ikut berlari bersama Calista.


“Naik ke punggung ku!”


Praktis Ilya berucap demikian. Calista menatapnya tak percaya, dia mau menggendongnya pada saat seperti ini? Karena lama merespons akhirnya Ilya menarik tubuh Calista lalu menggendongnya seperti karung beras.


“Hei! Lelaki cabul! Turunkan aku!”


Dia berteriak sambil memukul-mukul punggung Ilya, berharap supaya lelaki itu mau melepaskannya. Ilya tak bergeming, tapi kalau dia terus membiarkan Calista berteriak bisa-bisa dia dianggap sebagai orang jahat di sini.


“aku akan membantumu. Kau mau mengejar mobil itu kan? Kita kejar mereka bersama”


Sebelum melompat, Ilya memperhatikan sekitar. Siang itu banyak orang yang berlalu-lalang, tapi jika dia menggunakan berlari secepat mungkin maka tak akan ada yang sadar dengan keberadaannya.


“kau bercanda!?”


Calista menatap belakang kepala Ilya dengan tatapan tak percaya sedangkan Ilya tersenyum menyeringai.


“Tentu saja tidak. Asal kamu tahu saja, besok aku akan resmi menjadi Hunter rank S tahu!”


Setelah berbicara begitu Ilya langsung melompat dari sana.


“pegangan yang kuat!”


Dia mengganti posisi menggendong Calista menjadi di punggung. Calista mengalungkan tangannya di leher Ilya, lalu dengan matanya yang terbelalak dia menjerit sebab Ilya membawanya berlari di atas gedung-gedung tinggi.


“Kalau takut tutup saja matamu! Aku tidak akan membiarkan mu jatuh!”


[“Jika kau melakukan hal buruk padanya, calon bencana pertama akan mengamuk”]


‘Mana mau aku diamuk Remy nanti'


Karena takut terjatuh akhirnya Calista menutup matanya. Tangannya masih melingkar erat di leher Ilya, agak membuatnya tercekik sebenarnya tapi Ilya tidak terlalu mempermasalahkan nya karena sekarang dia harus fokus untuk mengejar mobil tadi.


Mobil hitam yang membawa anak laki-laki tadi melaju dengan cepat ke menjauh dari kota, mobil tersebut masuk ke dalam hutan—Ilya masih mengikutinya dengan cepat dan tak terdeteksi, akhirnya mereka berhenti setelah sampai di depan sebuah bangunan tua di tengah-tengah hutan.


‘'Kenapa kalau penculikan harus ke tempat begini terus sih?’


Rasanya seperti berpartisipasi dalam sebuah film. Dengan lembut Ilya menoel pipi Calista, memberikannya kode supaya dia membuka matanya. Karena sejak tadi perempuan itu diam tak bergeming, Ilya khawatir Calista malah pingsan atau lebih menakutkannya lagi meninggal dunia karena terkejut.


'Jangan gitu dong!'


“Hei, bangun. Kita sudah sampai”


Perlahan tapi pasti, Calista membuka matanya lalu pemandangan hutan dan pohon rimbun langsung menyambut dirinya—Ilya jongkok di dahan pohon besar, begitu tinggi dan menakutkan.


Dalam hatinya dia bersyukur karena Calista masih hidup.


“turun! Ayo kita turun!”


Calista meminta dengan agak memaksa. Dia punya trauma pada ketinggian, karena itulah saat ini dirinya berusaha untuk tidak pingsan dan menyusahkan Ilya yang sudah membantunya.

__ADS_1


Dengan perlahan Ilya menurunkan Calista dari gendongannya. Sekarang mereka bersembunyi di semak belukar yang tinggi.


Di depan rumah itu ada dua penjaga. Satu berbadan gempal, terlihat jelas otot kuat di lengannya dan satu lagi seorang lelaki jangkung dan kecil—tapi wajahnya sangat tegas, Ilya mengetahui kalau kedua orang itu setidaknya Hunter rank D yang punya pengalaman membunuh orang.


Ilya memasang pelindung yang dapat menyembunyikan hawa keberadaan mereka. Dia memperhatikan sekitar, dengan Calista yang jongkok di belakangnya.


"Masuk cepat!"


Lelaki lain keluar dari mobil. Dengan kasar dia mendorong paksa anak bernama Lukas yang Calista cari tadi, Ilya memperhatikan mereka dengan tenang—memperkirakan situasinya saat ini.


"Lukas dibawa masuk ke sana"


Calista berucap khawatir. Dia takut bocah itu diapa-apakan oleh orang-orang tadi.


"Kita masuk, ayo."


Calista tersentak.


"Ke sana!? Kamu gila? Bagaimana jika kita ketahuan!?"


Dia memekik dengan wajah marah. Menurutnya Ilya terlihat seperti anak sok jagoan yang mau jadi pahlawan kesiangan dan impulsif.


"Tidak akan ketahuan"


Ilya berucap dengan percaya diri.


"Jangan sombong! Kamu sendirian dan mereka berdua! aku tidak bisa membantu apapun dalam hal bertarung!"


"Aku gak butuh bantuan mu"


Calista terdiam. Dia menatap mata hazel Ilya yang tegas, mencari ketakutan dalam mata itu namun dia tak menemukannya barang sedikitpun. Ilya serius, dia tidak takut seperti dirinya.


"Sudah ku bilang kan. Aku ini Hunter rank S, mereka hanya anak kemarin sore yang bahkan tidak akan bisa imbang dengan ku. Kamu tak usah khawatir" Ilya menjeda ucapannya sejenak. Dia berdiri, perlahan membersihkan celananya dari debu karena duduk di tanah tadi.


"Kalau kamu gak mau ikut gak apa-apa. Aku pergi sendiri"


Sebelum dia pergi Calista ikut berdiri. Perempuan itu menarik lengan baju Ilya, dengan tatapan takut dia berbicara.


"Tunggu! Aku ikut!"


Ilya tersenyum puas. Ikut bersama seseorang yang kuat lebih menjamin hidupnya daripada diam sendirian di luar sini, meskipun dia akan tetap Ilya lindungi jika memilih diam tapi ikut dengan Ilya adalah pilihan yang tepat.


"Anak pintar."


Tangannya mengelus kepala Calista lembut.


"Tuan. Aku takut mati"


Calista berjalan di belakang Ilya sambil menggenggam tangan lelaki itu erat.


"Kamu gak bakal mati"


Ilya menutup wajah bagian atasnya dengan masker, lalu keluar dari semak belukar itu. Dua Hunter yang menjaga pintu melihat mereka, tepat sebelum mereka menyerangnya, kepala mereka sudah melayang lebih dulu karena serangan Ilya yang sangat cepat.


"Karena aku sendiri yang akan melindungi mu"

__ADS_1


__ADS_2