
Yeri hanya terdiam ketakutan, ia segera menggenggam tangan Mela seolah baik-baik saja namun Mela menepis tangannya.
"Pak Darsen, ini hanya salah paham," ucap Yeri.
Pras yang baru saja datang langsung di kode untuk membawa Yeri ke ruang khusus untuk orang yang melakukan kesalahan. Pras mengerti lalu menarik paksa Yeri.
"Mel, jelaskan jika kita hanya bercanda! Mela ... jelaskan, Mel!" teriak Yeri.
Darsen menyuruh semua orang untuk melanjutkan pekerjaan. Sedangkan ia menatap Mela yang baru saja bekerja sudah melakukan kesalahan.
"Kau datanglah ke ruanganku!" ucap Darsen.
Mela hanya pasrah dan mengikuti Darsen dari belakang. Mereka naik lift bersama dan Mela merasa sangat canggung sekali. Mereka hanya berdua saja dan tidak ada pembicaraan.
Ting ...
Setelah lift terbuka, Darsen keluar lebih dulu lalu di susul Mela, mereka lalu masuk ke ruangan Darsen.
"Duduklah!" pinta Darsen.
Mela duduk di sofa, ia melirik Darsen menelpon seseorang lalu kembali keluar meninggalkannya. Darsen menuju ke ruang evaluasi untuk menemui Yeri dan di tangannya membawa berkas.
Setelah sampai, ia melihat Yeri hanya bisa menunduk pasrah melihat sang bos besar sudah membawa surat kontrak.
"Kau belum debut sudah membuat images yang kasar dan ini tidak bisa di toleransi. Orang sepertimu bisa saja merusak reputasi Agensi Ars. Maka dari itu ... "
"Pak Darsen, ku mohon maafkan kesalahan saya! Saya sudah berlatih di sini sejak 3 tahun. Pagi, siang, malam saya sudah berlatih keras untuk debut bulan ini," ucap Yeri.
Darsen berdecih, ia merobek surat kontrak membuat Yeri langsung bersimpuh pada Darsen. Pras memandangnya tersenyum simpul menatap Yeri yang tadi sangat garang kini seperti kucing yang terkena air.
"Berikan aku kesempatan lagi Pak Darsen!" ucap Yeri dengan menangis.
Darsen tidak memperdulikan, ia segera keluar dari ruangan itu. Sedangkan Pras menyuruh Yeri untuk berdiri dan menenangkannya.
"Jika Bos sudah lebih tenang kau bisa kembali meminta maaf pada Bos. Kau tahu 'kan jika Bos sedang marah tidak bisa menoleransi apapun? Sebab itulah meminta maaf saat Bos sudah tidak marah lagi," ucap Pras.
Pras menepuk bahu Yeri untuk menyemangatinya, ia lalu kembali ke ruangan sang bos untuk mengurus pekerjaan lain.
Disisi lain, Mela sangat takut dengan kakaknya karena baru beberapa menit bekerja sudah membuat kesalahan dengan calon idola dari Agensi Ars.
__ADS_1
Pintu terbuka membuatnya cukup terkejut, ia melihat Darsen datang dengan aura dinginnya.
"Kenapa kau bisa di tampar olehnya?" tanya Darsen menyelidik.
Mela menunduk ketakutan mendengar pertanyaan dari Darsen.
"Jawab!" bentak Darsen.
Mela langsung menjawab. "Kami hanya bermain-main. Maafkan kami, Kak! Terutama untuk Yeri, dia akan segera debut..."
"Cukup! Masalah debut Yeri itu urusan Agensi Ars. Tapi pipimu tidak apa-apa 'kan?" tanya Darsen.
Mela mengangguk, ia lalu berdiri berpamitan untuk kembali bekerja namun Darsen menyuruhnya untuk tetap duduk.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter datang dengan sejuta pesonanya. Dokter itu adalah dokter pribadi milik keluarga Brahmana panggil saja dengan Dokter Rafi.
"Siapa yang sakit?" tanya Dokter Rafi.
Darsen menunjuk Mela, Mela terkejut karena ini hanya terkena tamparan saja.
"Kak Darsen, ini hanya luka kecil," ucap Mela.
Ucapan Darsen membuat Mela sedih, pasalnya Darsen adalah anak kandung dari Pak Adi namun beliau malah lebih sayang dengan Mela.
"Sadar, Bos! Umur sudah kepala 4 masih minta di sayang papi," ejek Pras yang masuk tiba-tiba ke ruangan.
Darsen menatap kesal Pras, Pras hanya cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
Dokter Rafi lalu memeriksa pipi Mela yang memerah, ia memberikan salep saja.
"Kau memang aneh, Darsen. Tinggal di pakaikan salep saja kenapa harus memanggilku?" tanya Dokter Rafi.
Darsen berdecih, ia langsung kembali ke tempat duduknya dan bekerja seolah tidak mendengar apa-apa. Pras dan Dokter Rafi saling berpandangan, mereka tak heran dengan sikap Darsen.
Darsen, Pras dan Dokter Rafi adalah teman dekat, mereka sama-sama duda namun hanya Darsen yang mempunyai anak. Pras jauh lebih muda 10 tahun dari Darsen, sedangkan Dokter Rafi seumuran dengan Darsen.
"Yasudah, Sen. Aku mau kembali ke tempat praktik ku. Jika luka kecil obati sendiri. Huh ... dasar lebay," gerutu Dokter Rafi.
"Dok, jangan lupa nanti malam!" ucap Pras sambil mengedipkan sebelah mata.
__ADS_1
Dokter Rafi lalu menatap Darsen yang fokus mengerjakan pekerjaannya. "Oke," jawabnya sambil tersenyum.
Mela juga ikut berpamitan, Darsen tak meresponnya lalu segera pergi sebelum Darsen marah lagi kepadanya.
Setelah Mela keluar, ia bertemu dengan Yeri lagi. Gadis itu menarik Mela ke tempat yang lebih sepi.
"Kenapa kau jahat, Mel? Kenapa kau tidak membelaku?" tanya Yeri.
"Itu semua perbuatanmu sendiri. Kenapa kau menamparku?"
Yeri menggenggam tangan Mela untuk memohon supaya bilang pada Darsen jika tadi hanya kesalahpahaman. Sebenarnya Mela sangat tidak tega dengan teman sepanti asuhannya itu namun terkadang omongan Yeri sangat keterlaluan dan selalu merendahkannya.
"Maafkan, aku! Aku hanya petugas kebersihan di sini dan aku tidak ada pengaruh besar untuk memohon pada Pak Darsen, kau sendiri saja yang memohon pada Pak Darsen!" ucap Mela.
Mela lalu melewati Yeri, jika berurusan dengan Darsen memang sangat sulit mengingat sang kakak galak dan keras kepala.
Maafkan aku, Yeri! Kali ini aku tidak bisa membantumu mengingat Kak Darsen yang sangat keras kepala dan aku malah yang terkena marah.
**
Malam hari,
Darsen, Pras dan Dokter Rafi sedang berada di tempat karaoke menghibur diri mereka yang sudah kesepian. Walau begitu mereka tak meminum alkohol namun hanya minuman soda saja.
Pras sedang asyik berkarouke ria bersama Dokter Rafi, sedangkan Darsen melamun tidak jelas dan tidak terlihat bahagia saat ini. Pras memandangnya lalu menyenggol Dokter Rafi. Mereka lalu mematikan musiknya dan menghampiri Darsen.
"Sen, ayolah jangan galau! Bagaimana jika panggil 1 cewek untuk mu?" tanya Dokter Rafi.
Darsen tidak menjawab, ia menghela nafas panjanv. "Kenapa Mela sangat takut sekali berada di dekatku?" tanya Darsen.
"Bos jika ngomong dengan nada kasar dan dingin sih. Wanita mana yang tidak takut?" ucap Pras.
"Aku mengobrol dengan kalian, kalian biasa saja?"
Dokter Rafi menepuk bahu Darsen namun Darsen menepisnya.
"Kau tidak ingat dengan mendiang istrimu? Dia sempat kabur gara-gara sifatmu yang kasar dan arogan," ucap Dokter Rafi.
Darsen berdiri, ia keluar dari ruang itu. Pras dan Dokter Rafi mengejarnya. Sifat Darsen memang mudah tersinggung makanya Pras dan Dokter Rafi malas memberi saran atau komentar untuk Darsen.
__ADS_1
"Sen, begitu saja marah?" ucap Dokter Rafi.