Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 41 : Siang istimewa


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mela dan Darsen kembali pulang ke rumah ternyata Mela memang hamil membuat mereka sementara memilih tinggal di rumah orang tuanya.


Untung saja Mela sudah ia nikahi jika tidak pasti muncul rumor yang tidak menyenangkan dari orang lain.


Mela tengah asyik membaca artikel tentang kehamilan, ia tidak sabar untuk bertemu dengan calon buah hatinya. Darsen tiba-tiba memeluknya dari belakang sedangkan Velino yang sedang menggambar di sebelah mereka hanya bisa heran. Bocah itu belum paham jika papanya sudah menikah dengan Mela.


"Apa sih, honey?" tanya Mela.


"Aku kangen, baby."


Mereka yang terduduk di atas ranjang kamar Darsen hanya bisa bermesraan sewajarnya di depan Velino. Darsen tidak ingin putranya melihat adegan tak pantas.


"Oh ya, mengenai Kak Lexter ..."


"Aku sudah mengurusnya. Jangan khawatir!"


Darsen lalu membaringkan diri diantara mereka. Kebahagiaanya bertambah saat Mela sudah menjadi miliknya saja dan ia tidak akan menyiakannya.


Mela sangat bosan, ia menyalakan televisi lalu melihat temannya yang sudah menjadi idola muncul di televisi.


Yeri, teman di panti asuhannya sudah berhasil menjadi idola. Dia sangat cantik dengan rambut panjang dan poni. Mela memperhatikan dengan seksama bahkan menikmati lagu yang di bawakan Cherry Girls.


"Itu lagu ciptaanku," ucap Darsen.


Mela langsung menatapnya. "Benarkah? Kakak bisa menciptakan lagu?"


Darsen mengangguk, Mela mencoba mendengar lirik lagu itu dengan seksama. Dia tersenyum, lagu itu menceritakan tentang perjuangan seseorang untuk meraih mimpi.


Ternyata Darsen bukan hanya pendiri agensi, ia juga berbakat membuat lagu untuk para idola jebolan agensinya.


"Kak, aku ingin bernyanyi. Bolehkah beri aku kesempatan untuk ... "


"Tidak boleh, untuk apa? Kau sudah menjadi istri pemilik agensi. Untuk apa susah payah untuk bernyanyi? Aku tidak ingin istriku di kenal banyak orang dan tentunya para pria akan menyukaimu jika kau terkenal. Kau cukup mengurus anak-anak kita saja," ucap Darsen memotong ucapan Mela.


Mela merengut, padahal ia ingin sekali menyanyi di depan semua orang. Suaranya sangat bagus, bahkan Darsen mengaguminya.


Melihat sang istri merengut membuat Darsen ingin sekali mencium bibir Mela tapi apalah daya ada bocil kecil pengganggu di kamar mereka.


"Velino sudah besar tidur sendiri, ya?" ucap Darsen.


"Papa yang sudah besar dari aku harusnya tidur sendiri," jawab Velino.

__ADS_1


Mela tertawa karena anak tirinya sangat pandai bicara. Putra tirinya itu memang pandai membalas omongan sang papa. Darsen mencoba mencubit Velino namun di cegah oleh Mela. Dia akan melindungi putra tirinya sepenuh hati.


Darsen mendengus kesal, Mela mengkode jika akan memanjakan Velino jika dia tidur siang. Darsen mengangguk, ia mengusap pipi Mela yang mulus. Kebahagiaan menghampiri mereka.


***


Lexter mengamati foto Mela yang tersenyum saat hari pernikahan, ia merasa sakit hati sebab wanita itu bisa tersenyum saat adiknya meninggal. Dia melanjutkan memandang wajah Darsen, ia menandainya dengan spidol warna merah.


"Kalian akan merasakan karma yang berat, aku yang akan memberi kalian karma," gumam Lexter.


Lexter meminum kopi di atas balkon apartemen yang ia sewa. Fredy, sang ayah sudah kembali ke London karena pekerjaannya tidak bisa di tinggal. Lexter terus memikirkan bagaimana cara menghancurkan wanita itu? Yaps, dia akan menjadi pebinor untuk merebut Mela lalu menyakitinya.


Dia benar-benar jahat dan licik seperti adiknya.


Setelah meminum kopi, Lexter mencoba meneror nomor Mela dengan cara mengirimkan pesan ancaman beberapa kali, setelah itu ia melihat bagaimana respon Mela selanjutnya.


Disisi lain,


Mela yang mendapat pesan itu langsung menonaktifkan nomornya. Dia tahu jika pesan ini dari Lexter karena menyebut Leon. Setelah itu, ia kembali menyelimuti Velino yang sudah tidur siang. Darsen yang melihat putranya tertidur cukup senang.


"Kita ke kamarmu, yuk!" ajak Darsen.


"Umhh ... tapi ini masih siang."


"Pengantin baru tidak ada siang atau malam, selama ada waktu yang tepat. Ayo kita bersenang-senang!"


Setelah sampai kamar, Darsen mendorong Mela ke ranjang. Dia langsung melakukan apa yang harusnya di lakukan. Mela seolah terhipnotis dan badannya refleks menurut sesuai keinginan Darsen.


Darsen melakukan foreplay supaya Mela lebih puas, ia menciumi seluruh badan Mela dan Mela menggeliat hebat.


Permainan Darsen bisa di bilang sempurna, ia pandai memanjakan wanita di atas ranjang.


Tangan Mela meremas sprei dan menggigit bibirnya. Dia juga sangat bahagia bisa menikah dengan Darsen yang dulunya cuek, dingin dan galak kepadanya.


Setelah itu mereka melakukan adegan mantap-mantap di siang bolong ini.


****


Sore hari, Mela mandi untuk membersihkan badannya. Setelah adegan panas itu, tubuhnya menjadi sangat lengket akibat keringat. Setelah mandi, ia melihat sang suami yang tertidur dengan bertelanjang dada. Dia menyelimutinya dan tidak ingin membangunkannya karena masih jam 3 sore.


Pertama, ia melihat putra tirinya, apakah sudah terbangun atau belum? Dia tersenyum saat melihat Velino tertidur persis seperti papanya. Mela kembali menutup pintu pelan lalu menghampiri sang bapak yang saat ini di pastikan sedang ada di ruangan kerjanya.


"Mela? Ada apa, sayang?" tanya Pak Adi.

__ADS_1


"Bapak, entah kenapa aku rindu sama Bapak."


Mela bergelayut manja di belakang leher ayahnya. Dia berterima kasih karena sudah mengizinkan menikahi putranya.


"Jika Darsen kasar atau melakukan tindakan semena-mena segera lapor bapak!"


"Kak Darsen memperlakukanku dengan baik."


Mela melepas tangannya yang bergelayut lalu duduk di depan sang ayah yang tengah membaca laporan keuangan perusahaan taksinya.


"Pak?" ucap Mela.


Pak Adi memperhatikan Mela namun ia malah terfokus pada leher Mela yang ada bekas tanda merah. Dia tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala. Putrinya benar-benar masih polos, ya begitulah jika ABG di nikahkan.


"Kenapa Bapak tersenyum?"


"Ehmm .. berkacalah!"


Dahi Mela berkerut, ia segera berjalan ke arah kaca lalu terbelalak saat ada bekas ciuman sang kakak yang banyak di sana. Dia seketika sangat malu lalu berlari menghampiri Darsen yang tengah di alam mimpi.


"Kakak, kakak ... Bangun!!" teriak Mela sambil menggoyangkan tubuh Darsen.


Darsen mengusap, ia membuka mata lalu menarik Mela untuk mendekapnya. Mela memberontak dengan memukul dada suaminya.


DUAK..


DUAK...


DUAK...


"Kakak jahat, eh ... maksudku honey jahat. Lihatlah apa yang kau perbuat pada leherku? Bapak melihatnya."


"Hoaaaam ... Apa sih? Wajar saja, ah sudahlah, aku mau lanjut tidur. Bangunkan jam 5, ya?"


"Banguuuuun! Tanggung jawab dengan leherku!" bentak Mela.


Darsen membuka matanya, ia langsung menciumi leher Mela. Mela bergelinjang kegelian. Dia memberontak sekuat tenaga. Disaat bersamaan, Velino membuka pintu sambil mengucek mata. Lantas ia terkejut dengan pemandangan ini. Dia berlari ke arah ruangan sang kakek.


"Kakeeeeeek, papa dan tante Mela bertengkar." Velino berteriak membuat Pak Adi terkejut.


Mereka berlari ke arah kamar Mela namun bukannya berkelahi dengan cara pukul memukul justru berkelahi ala sepasang suami istri.


"Vel, ayo kakek belikan es krim!" ucap Pak Adi sambil menggaruk-garukan kepalanya.

__ADS_1


Mela dan Darsen langsung langsung terbangun melihat pintu yang sudah terbuka. Mela merapikan rambutnya, ia sangat malu dengan pemandangan ini.


"Bapak dan Velino, sedang apa di sana?" tanya Mela malu-malu.


__ADS_2