Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 13 : Memberanikan


__ADS_3

"Mela, apa kau mau menjadi istriku?"


Mela yang terbengong memandang wajah Velino tak mendengar ucapan Darsen. Darsen menatapnya dengan heran lalu menepuk bahunya membuat Mela terkejut.


"Eh ... ada apa, Kak?" tanya Mela.


"Kau tidak mendengar ucapanku?"


Mela menggeleng, ia tak mendengar ucapan Darsen. Darsen menghela nafas, susah sekali mencari momen yang pas untuk mengungkapkan perasaannya namun sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat mengingat Velino masih sakit.


"Tidak apa-apa. Kau sudah makan?" tanya Darsen.


Mela menggeleng, Darsen menyuruh Mela untuk menjaga Velino sebentar dan ia akan membeli makanan di luar.


Darsen keluar dari rumah sakit yang mulai sepi karena ini sudah malam hari. Saat di lorong ia bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Sandra Aura. Dia adalah teman dari mendiang istri dari Darsen. Ya, mendiang istri Darsen adalah perusak hubungan Sandra dengan Darsen.


"Kenapa kau di sini?" tanya Darsen.


"Kenapa? Ini rumah sakit umum dan aku bebas datang ke sini." Sandra menatap cincin yang di pakai Darsen. "Wow ... sudah ada gandengan lagi?" tanya Sandra.


Darsen memegang cincinnya lalu berjalan melewati Sandra. Sandra menatapnya dengan tersenyum picik. Pria itu dulu meninggalkannya hanya untuk menikahi pelakor, kini Sandra akan membalas dendam untuk merusak hubungan Darsen dengan wanita mana pun.


Sandra masuk ke ruangan Velino, Mela sangat terkejut dengan kedatangan mantan pacar dari sang kakak. Mela menatap Sandra dengan sangat kagum. Sandra berpostur tinggi dengan rambut hitam panjang sampai di atas pinggul sedangkan tinggi Mela hanya sebatas sampai bibir dari Sandra saja.


"Hai, Mela. Lama tidak berjumpa," ucap Sandra.


"Kak Sandra kenapa datang kemari? Jika Kak Darsen tahu maka dia akan marah."


Sandra meletakan kaca mata hitam dan maskernya. Dia juga seorang artis terkenal dari agensi sebelah yang bersaing dengan Agensi Ars. "Apa tidak boleh calon mommy dari Velino menjenguknya?" tanya Sandra.


Mela meresapi ucapan Sandra, calon ibu untuk Velino? Apa sang kakak akan balikan dengan mantan pacarnya itu?


"Mela, kau tahu wanita mana yang sedang dekat dengan Darsen?" tanya Sandra.


Kenapa dia tanya kepadaku? Katanya calon ibu untuk Velino?


Mela menggelengkan kepala, ia memang tidak tahu apa-apa tentang kakaknya. Dia memperhatikan Sandra yang mengusap kening Velino dan saat bersamaan pintu terbuka yang ternyata adalah Darsen.


"Jangan pegang putraku dengan tangan kotormu!" ucap Darsen sangat dingin.


Sandra tersenyum kecil, ia langsung mendekati Darsen dan mencium pipinya. Sontak membuat pria itu bertambah kesal lalu mendorong Sandra keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


Sandra tersenyum picik, ia tidak akan menyerah begitu saja mendapatkan cinta Darsen.


Darsen menatap kesal pada Mela, kenapa sang adik malah membiarkan wanita ular itu masuk?


"Kau punya mulut kenapa diam saja dan tidak menyuruhnya keluar?" tanya Darsen.


Mela sangat ketakutan dan bahkan tidak berani menatap mata dari sang kakak.


"Jawab!" bentak Darsen.


Mela menunduk, untuk berbicara saja ia sangat takut jika mengatakan hal yang salah karena bila Darsen marah maka apa yang di katakannya selalu benar dan di katakan orang lain akan selalu salah.


Mata Mela memerah, ia menjawab dengan bibir yang bergetar.


"Maaf, Kak. Aku memang salah membiarkan Kak Sandra masuk."


Apa aku terlalu keras dengannya sehingga dia hampir menangis? Batin Darsen.


Darsen langsung memeluk Mela membuat gadis itu sangat terkejut. Dia juga meminta maaf jika membuat Mela ketakutan. Ini pertama kalinya sang kakak memeluknya dengan hangat. Mela membalas pelukannya dan menghirup aroma tubuh Darsen yang sangat khas. Sedari dulu ia memang ingin merasakan pelukan hangat dari sang kakak yang selalu dingin padanya.


"Papa, Tante Mela?" ucap Velino yang sudah siuman melihat sang papa dan tantenya berpelukan.


Mela melepaskan pelukannya, ia mengusap wajah Velino lalu mencium keningnya. Mereka sangat senang karena Velino sudah bangun.


"Bolehkah ... "


"Velino, kami kakak adik dan tidak boleh menikah," jawab Mela memotong ucapan Darsen.


Velino nampak sedih, Mela tahu jika keponakannya itu sangat ingin mempunyai seorang ibu. Darsen mengepalkan tangan mendengar ucapan Mela jika mereka tidak bisa menikah karena status kakak adik.


"Tapi jangan bersedih! Tante Mela bisa jadi seperti ibu untuk Velino," ucap Mela sambil tersenyum.


Berselang menit kemudian, sang dokter datang untuk memeriksa kondisi Velino maka dari itu membuat Darsen dan Mela keluar dari ruangan itu. Mereka mencari makan di sekitar rumah sakit. Mela mengajak makan di warung sederhana. Mereka duduk bersebelahan di bawah lampu remang-remang.


Saat makan, ponsel Mela berbunyi yang ternyata dari Leon. Sembari melirik Darsen yang asyik makan ia memberanikan diri untuk mengangkat telponnya.


"Hallo?"


"Tutup telpon itu! Tidak sopan makan sambil berbicara," ucap Darsen yang membuat Mela refleks menutup telponnya.


Mela baru sadar jika di sebelahnya ada gunung es yang sangat dingin dan galak. Salah langkah saja bisa membuat Darsen marah lagi kepadanya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin kuliah?" tanya Darsen.


"Kata kakak jika sedang makan tidak boleh berbicara?"


"Hei, sekarang kau berani mengalihkan pembicaraan?"


Mela merasa salah lagi, kenapa setiap berbicara dengan Darsen selalu serba salah? Mela memilih untuk diam namun semua itu membuat Darsen menjewer telinga Mela karena merasa di acuhkan.


"Aw ... sakit, Kak."


Kenapa aku selalu serba salah sih? Batin Mela.


"Jika orang lain bertanya maka jawablah dengan benar!" ucap Darsen.


"Aku berusaha menjawab tapi bagi kakak tetap salah," gumam Mela.


"Apa kau bilang?"


Mela langsung menggeleng dan melanjutkan makannya tanpa banyak bicara. Darsen tersenyum kecil melihat Mela yang sangat imut. Dia melihat satu tangan Mela yang menganggur. Darsen mencoba untuk menggenggam tangan Mela dan tentu saja gadis itu sangat terkejut. Dia menatap wajah Darsen yang juga menatapnya.


"Kak, kenapa memegang tanganku?" tanya Mela.


"Tidak boleh?"


Mela terdiam, mereka saling menatap. Mela yang tidak nyaman langsung melepas tangan Darsen dari tatapannya lalu kembali menghabiskan makanannya. Darsen masih menatap Mela.


"Aku hanya mengingat mendiang istriku. Kami makan berdua dan bergandengan tangan namun kini sudah tidak bisa lagi. Dia ada di alam lain," ucap Darsen.


Mela terhenti dari makannya dan menatap Darsen yang masih menatapnya. Mela tersenyum sambil menggenggam tangan Darsen.


"Anggap saja tanganku ini tangan milik Kak Seila! Kak Darsen boleh menggenggamnya kapan pun. Kak Darsen pasti sangat merindukan Kak Seila 'kan?" tanya Mela.


Gadis polos itu tidak tahu jika Darsen hanya mencari alasan saja. Dia sudah sangat mengikhlaskan mendiang istrinya dan kini di mata Darsen hanya ada Mela, sang adik angkat yang tumbuh semakin dewasa.


Darsen menggenggam tangan Mela lalu dengan yakin mencium bibirnya sekilas.


CUP ...


Untung tidak ada orang di warung itu membuat tidak ada orang yang tahu.


Mela sangat syok, bibirnya di cium oleh kakaknya dan termasuk ciuman pertamanya.

__ADS_1


Apa Kak Darsen menganggap bibir ini seperti bibir Kak Seila? Jika tangan bisa di wakilkan apakah bibir juga bisa? Tapi kenapa rasanya sangat tidak pantas? Kami berciuman? Ciuman pertamaku di ambil Kak Darsen.


__ADS_2