
"Mela, kenapa kau tidak pernah memakai barang pemberian kakak?" tanya Darsen heran.
"Jika aku pakai barang pemberian kakak pasti kakak akan marah jika rusak sedikit."
Darsen mendengus kesal, ia melempar kertas terakhir yang ia remas ke arah Mela. Mela refleks menutup mata dan membuka mata beberapa detik kemudian tapi Darsen secepat kilat sudah ada di depannya.
Mela sangat terkejut dan langsung mundur tapi karena tidak hati-hati ia hampir terjatuh. Darsen segera memegangi punggung Mela dan terjadilah adegan romantis seperti di film-film. Mela menatap sang kakak yang juga menatapnya, mereka berpandangan cukup lama bahkan mata Mela seolah terhipnotis oleh ketampanan Darsen.
"Tumpaseahe, yumnes sodahe, tumene da janeja, tapene sodahe... Asyeek ..." ucap Pras menyanyikan lagu India saat melihat adegan mereka.
Darsen langsung melepas dan membuat Mela hampir jatuh lagi namun ia segera menarik tangan Mela supaya tidak terjatuh.
"Syahrukan sama Kajol benar-benar membuatku iri. Kalian memamerkan kemesraan di depan duda jomblo ini," ucap Pras sambil mengedipkan satu mata ke arah sang bos.
Darsen berdehem, ia melepas tangan Mela dan kembali ke kursinya. Tentu saja ia salah tingkah bahkan saat ia akan mengambil bolpoin malah mengambil spidol permanen untuk tanda tangan. Pras tertawa kecil melihat sang bos, ia mendekatinya dan menukar spidol itu dengan bolpoin.
Saat melihat kepala Darsen, Praz melihat satu rambut yang mengkilap yaitu uban.
"Bos, tunggu! Jangan bergerak! Ada uban, biar aku cabut," ucap Pras membuat Darsen sangat malu di depan Mela.
"Ah ... ini dia, wah bos memikirkan apa sampai ada uban?" sambung Pras.
Mela hanya melirik sambil memungut semua sampah kertas perbuatan kakaknya. Namun Darsen tentu saja malu jika dia terlihat tua karena mempunyai uban walau hanya 1.
Darsen menatap tajam Pras, Pras tersenyum kecil, ia tidak berniat mempermalukan sang bos di depan orang yang di sukainya.
Dengan cepat, Pras menarik Mela untuk berdiri di depan Darsen. Darsen heran dengan tingkah asistennya ini.
"Mela, jawab jujur! Wajah bos bagaimana? Tua 'kah atau masih muda?" tanya Pras pada Mela.
Darsen memukul pantat sang asisten namun Pras tetap saja ingin mendengar jawaban dari Mela.
"Kak Darsen terlihat seperti seusia Kak Pras," ucap Mela dengan malu saat di tatap serius oleh Darsen.
"Mela, jangan takut dengan Bos! Jawab yang jujur! Bos tampan 'kah?" tanya Pras sekali lagi.
Mela mengangguk namun ia segera menunduk saat Darsen terlihat menatapnya tajam. Pras menepuk-nepuk bahu Darsen namun Darsen menepisnya.
"Sudah dapat lampu hijau bos, tinggal trobos saja," ucap Pras.
__ADS_1
Mela belum paham apa arti ucapan Pras. Lampu hijau? Karena tidak mau memikirkan, ia bekerja kembali namun Pras malah mengajaknya makan cimol yang ia beli di pinggir jalan.
Pras dan Mela duduk bersebelahan, mereka makan bersama tanpa memperdulikan sang bos yang menatap mereka.
"Mel, saat kau colok cimol ini pakai lidi anggap saja sedang mencolok mata Bos yang galak itu. Luapkan kekesalanmu!" bisik Pras.
Mela tersenyum kecil mendengar ucapan Pras. Sosok Pras memang idamannya, Pras adalah orang yang humoris dan bisa membuatnya tertawa.
"Lihat ini! Anggap saja sedang mencolok mata Bos!" ucap Pras sambil mencolok cimolnya menggunakan lidi lalu ia masukan ke mulut.
"Kak Pras bisa saja," jawab Mela sambil tertawa kecil.
Plaaaak ...
Darsen memukul punggung Pras dengan kuat tentu saja membuat Pras marah. Dia mengancam ingin membongkar rahasia Darsen di depan Mela.
"Mel, sebenarnya si Bos ..."
Darsen langsung menangkup pipi Pras dan menatap matanya dengan intens. Jika orang lain melihat maka seolah seperti ada yang aneh. Darsen berkata pelan, ia mengancam dengan sorot maya yang tak main-main.
"Sekali lagi jika kau banyak bicara, maka aku akan mencolok kedua cimol mu dengan lidi itu," ancam Darsen.
"Cimol mana, Bos?"
"Tapi itu bukan cimol, Bos. Tapi buah kesemek," ucap Pras membuat Darsen kehilangan kesabarannya.
Mela yang mendengar pembicaraan mereka nampak kebingungan. Dia yang masih polos berpikir keras lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Emangnya Kak Pras mengantongi cimol dan buah kesemek? Aku mau dong buah kesemeknya," ucap Mela.
Pras tertawa terbahak-bahak dan Darsen segera melepas tangannya dari pipi Pras somplak itu. Dia menatap Mela dengan tajam. Apakah Mela sepolos itu?
"Buahahaha ... Minta sama Bos saja! Punya dia udah matang," ucap Pras yang tertawa sambil mengeluarkan air mata.
CETOOOK ...
Darsen menyentil kuping Mela sehingga memerah. Dia juga menjewernya karena sang adik sangat keterlaluan polosnya.
"Sakit, Kak," rengek Mela.
__ADS_1
Mela menunduk takut karena Darsen memandangnya dengan tajam.
"Sudah sana keluar!" ucap Darsen menyuruh Mela untuk keluar dari ruangannya.
Sambil memegangi telinganya yang memerah, ia keluar. Darsen mengusap wajahnya kasar dan menatap Pras yang masih saja tertawa.
"Dasar sinting!" gumam Darsen.
Dia merebahkan dirinya di atas sofa sementara Pras duduk di seberangnya dan menyeka air mata yang keluar akibat kelelahan tertawa.
"Adikmu terlalu polos sekali, Bos. Aku tidak bisa membayangkan jika Bos menikahinya dan menjadi instruktur saat malam pertama, hahaha ..."
"Huh ... kau tahu? Kemarin saat aku menciumnya saja ia malah bersikap biasa saja," ucap Darsen.
Pras memandang sang bos dengan lekat, ia tak menyangka jika Darsen sudah berani mencium Mela. Sungguh tak terduga.
Darsen menghela nafas panjang, kapan Mela akan menyadari jika dirinya sangat menyukainya? Apakah Mela mau menerimanya?
**
Mela sedang mengobrol dengan para staf yang kini sudah dekat dengannya. Mereka semua sangat ramah pada Mela dan apalagi bocah itu sangat cantik sekali. Banyak yang suka dengannya namun Mela tak mau menggubrisnya.
Mela melirik Pras yang lewat, ia langsung mengikutinya dan ingin memberikan sesuatu dengannya.
"Kak Pras?" tanya Mela.
"Eh, ada apa, Mel? Aku sedang terburu-buru," jawab Pras.
Mela dengan yakin menarik tangan Pras ke tempat yang sepi. Pras masih memandang gadis yang jauh lebih muda itu sedang memberikan sesuatu untuknya.
Darsen yang tidak sengaja lewat langsung bersembunyi, ia memandang dari jauh gerak-gerik mereka.
"Ini buat Kak Pras," ucap Mela sambil menyerahkan sebuah jaket yang terbordir nama Prasatya Alex.
Pras menerimanya, ia memperhatikan dengan seksama. Dia masih bingung.
"Sebelum aku menikah karena di jodohkan dan tidak tahu kapan, aku ingin bilang pada Kak Pras jika aku menyukai kakak. Aku sangat mengidolakan kakak," jelas Mela.
Darsen yang mendengarnya sontak merasa sakit hati. Ternyata saingannya adalah asistennya sendiri.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Mela? Kau jangan mengajak bercanda!" jawab Pras.
"Tidak, Kak. Aku menyukai kakak. Maafkan aku yang harus mengutarakan perasaan ini dan terkesan murahan di depan Kak Pras."