
"Cih ... dengan kesombonganmu itu akan membuatmu hancur sendiri. Aset kau bilang? Agensi ku jika sampai kehilanganmu tidak akan membuatnya bangkrut. Jadi segeralah urus keperluanmu lalu langsung pergi dari sini! Dan kau hanya menambah luka untuk Pras," ucap Darsen dengan sorot mata tak main-main.
Suzan menggigit bibir bawahnya, ia langsung menyibakkan rambut berjalan menuju ruang yang akan mengurus masalahnya. Sedangkan Darsen melepaskan rangkulannya pada Mela dan pergi meninggalkannya. Mela menatap punggung sang kakak, kakak yang selalu ketus, dingin dan jarang mengajak berbicara tiba-tiba menjadi baik membuatnya terheran.
"Kak Darsen ... " teriak Mela mengejar sang kakak yang sudah masuk ke lift.
Mela menahan pintunya supaya tidak tertutup lalu masuk bersama sang kakak.
"Kenapa?" tanya Darsen.
"Ehm ... aku hanya ingin membuatkan kopi untuk kakak."
"Aku sedang tidak ingin minum kopi."
Mela memandang kakaknya yang mendadak dingin lagi. Namun Darsen tiba-tiba menjitak kepalanya, ia sangat gemas dengan Mela yang sangat imut.
"Ah ... sakit ..." rengek Mela sambil mengusap kepalanya.
"Tapi hatimu lebih sakit ''kan?" tanya Darsen membuat kening Mela berkerut.
Mela masih mencerna ucapan Darsen. Darsen melangkahkan kaki mendekati Mela lalu memeluknya.
"Pras menolakmu, sekarang ini kau pasti sangat terluka. Menangislah di pelukanku! Luapkan kesedihanmu!"
Mela terdiam, ia menghirup aroma tubuh Darsen yang membuatnya menjadi candu. Tangannya dengan yakin membalas pelukan Darsen dan seketika air matanya tumpah. Baru pertama kali ini ia menangis di depan sang kakak, biasanya ia akan mengadu dengan Pak Adi namun kali ini terasa berbeda. Pelukan Darsen lebih hangat dan membuatnya tetap ingin memeluknya.
"Cinta memang tidak bisa di paksakan! Aku ingin kau melupakan Pras dan mencari kebahagiaanmu sendiri!" ucap Darsen.
Mela mengangguk, berselang detik kemudian pintu lift menyala. Darsen segera melepas pelukan dan mengusap air mata Mela. Mela tersenyum ke arah Darsen lalu tangan pria itu mengusap lembut kepala adiknya.
"Jika tersenyum seperti itu jauh lebih cantik ketimbang menangisi orang yang bahkan tidak menyukaimu."
**
"Nak Leon, kau kapan akan ke sini? Mela tidak sabar untuk bertemu denganmu," ucap Ibu Ami.
__ADS_1
Leon yang berparas tampan hanya bisa tersenyum dari layar ponsel. "Sabar, Ibu mertua! Saya akan datang ke sana secepatnya dan menikahi Mela."
Baguslah! Datang ke sini lalu nikahi Mela dan bawa dia pergi dari sini! Aku sudah muak terus-terusan baik dengannya di depan suamiku. Suamiku selalu membela Mela bahkan seluruh warisan atas nama Mela. Dia anak pungut kenapa bisa di ratu kan seperti itu? Bahkan Darsen yang putranya sendiri tidak pernah di perlakukan seperti itu.
Mela, dia sok polos yang hanya bisa menggoda suamiku bahkan sekarang ini dia menggoda Darsenku.
Ibu menutup panggilan telepon lalu menghampiri sang suami yang sedang membaca buku di kamar. Ibu menghampiri lalu memeluknya dari samping.
"Amira? Velino mana?" tanya Pak Adi.
"Dia di kamar bermain dengan pengasuhnya. Pak, sebentar lagi adalah ulang tahun pernikahan kita yang ke 43 tahun. Putra kita sudah besar dan sudah genap 40 tahun. Tidak adakah acara spesial untuk mengenang 43 tahun kebersamaan kita?" tanya Ibu menggoda.
Pak Adi yang wajahnya tak kalah tampan dan maskulin dari Darsen meletakkan bukunya dan melihat Amira yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda menggodanya.
"Aku sudah merencanakannya. Kita akan ke Bali bersama anak dan cucu kita?" jawab Pak Adi.
Ibu Ami mengernyitkan dahi. "Ini acara kita kenapa harus dengan mereka?"
"Harus dengan mereka supaya menjadi bertambah ramai. Bapak sudah menyiapkan hotel dan akomodasi lainnya."
"Tentang Mela, kita harus segera menikahkannya. Leon adalah calon suami yang terbaik," ucap Ibu.
Di kantor Darsen.
Pras terus-terusan menghela nafas, ia melamun di sofa milik ruangan sang bos. Hari ini adalah hari yang membuatnya bingung. Mela menyatakan rasa sukanya dan Suzan datang lalu tak sengaja berjumpa.
Mengingat saat bertemu Suzan di lift :
"Hai bertemu lagi, Kak Satya."
Pras ingin keluar dari lift namun Suzan langsung mendorongnya. Dia berusaha menghindar namun wanita tak tahu malu itu langsung menciumnya. Terjadi aksi dorong namun Pras terkurung dalam lift yang masih naik ke atas. Pras yang sudah lama menduda dan tak lagi menyentuh perempuan mendadak aktif lagi. Dia membalas ciuman wanita cantik itu dengan beringas. Ketika sudah kehabisan nafas, mereka saling menatap. Jiwa nafsu mereka nampak keluar.
"Nanti malam, di kamar 103. Aku menunggu mu di sana," bisik Suzan dengan penuh sensual.
Pintu lift terbuka, Suzan keluar sambil mengedipkan satu mata pada mantan suaminya itu.
__ADS_1
Flashback selesai.
Darsen memandang Pras yang sedang galau. Dia menghampirinya dan melempar kertas ke wajahnya.
"Selesaikan masalah promosi! Aku ingin minggu depan Cherry Girls sudah sangat siap untuk debut. Panggilkan manajernya juga! Dia harus mengatur jadwal supaya idol ku tidak kelelahan saat debut nanti," ucap Darsen.
"Siap, Bos."
"Kau terlihat bingung. Ada apa?" tanya Darsen.
****
Malam hari.
Suara musik disko menggema di seluruh ruangan. Kilatan cahaya menyorot mata, para perempuan menuangkan minuman pada ketiga pria duda itu. Mereka hanya sebatas menemani saja tanpa berani menyentuh terutama Darsen. Bahkan Pria dingin itu mempunyai kata-kata maut, "Berani menyentuh, nyawa pun lenyap."
Darsen menenggak minuman kecil itu, dia teringat senyuman Mela tadi pagi apalagi Grey alias Mela memberikannya hadiah dan belum di buka oleh Darsen.
"Pras, kenapa kau masih di sini? Katanya, Suzan mengajakmu ke hotel?" tanya Rafi.
"Untuk apa menemuinya? Tak ada bedanya dengan dia jika aku mengurusinya," jawab Pras sambil menenggak Cola warna hitam itu.
Perempuan di sampingnya menuangkan ke dalam gelas Pras lagi. Pras mengelus pipinya sambil tersenyum tipis. "Dari pada mengurusi wanita sampah itu lebih baik aku bersenang-senang di sini," ucap Pras.
Pras seketika mencium bibir wanita itu lalu memainkan lidahnya yang sudah lama tidak bermain-main. Darsen yang ada di seberangnya hanya menatap datar asisten gendengnya itu. Seperti melihat sebuah adegan ciuman secara siaran langsung. Rafi menggeleng-gelengkan kepala melihat Pras yang mulai kambuh kembali.
Suara dentingan es batu di gelas yang di bunyikan oleh Darsen terlihat sangat keras. Darsen membanting gelas itu di depannya lalu menarik baju Pras yang baru saja selesai berciuman.
"Kau pun terlihat seperti sampah! Bahkan aku ingin muntah melihatmu bersikap seperti ini," ucap Darsen pada Pras.
Pras tersenyum kecil, ia memandang sang bos dengan penuh sendu. Pras adalah korban dari perselingkuhan di masa lalu. Kenangan itu sangat membekas di ingatannya bahkan sampai membuatnya depresi.
"Aku harus bagaimana, Bos? Sakit sekali hatiku, lebih sakit di selingkuhi daripada di tinggal mati. Bahkan wanita sampah itu malah masuk di Agensi Ars seolah mengibarkan bendera perang," ucap Pras dengan mata yang memerah.
Darsen melepaskan tangan dari baju Pras. Dia memeluk Pras yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Mereka berpelukan sedangkan Rafi berdecih melihat mereka yang alay.
__ADS_1