Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 32 : Hampir saja


__ADS_3

Ciuman lagi, ciuman lagi. Mereka yang baru saja memutuskan untuk menjalin hubungan rahasia mulai mencium bibir satu sama lain. Darsen sangat terpikat dengan bibir Mela bahkan bibir Mela sangat candu baginya.


Gejolak asmara ini sangat besar namun tentu saja Darsen harus mengontrolnya supaya tidak lebih jauh melakukan dengan Mela.


Ciuman saja sudah cukup bagi Darsen untuk saat ini dan tentunya sisa dari nafsu yang menggebu-nggebu harus di lakukan saat mereka sudah menikah.


Mela kehabisan nafas, ia melepas ciumannya. Mereka saling menatap di ranjang yang sama.


"Mela, apa kita kawin lari saja?" tanya Darsen.


"Maksudnya?"


"Kita menikah tanpa orang lain tahu terutama Bapak dan Ibu."


Mela menggeleng. "Kita nikmati seperti ini dulu saja. Aku juga belum siapa untuk menikah."


Darsen membelai rambut Mela. Mata manik Mela seolah mengalihkan dunianya. Kedipan dari mata Elara seolah membuat dirinya terpaku. Namun lamunannya buyar saat mendengar dering telepon dari ponsel Mela.


Mela sontak langsung terduduk setelah menatap sang ayah yang menelponnya.


Mela mengangkatnya dengan cepat.


"Hallo, Pak?"


"Buka pintunya, Mela! Bapak bawa gado-gado favoritmu."


DEG!


Mela sangat terkejut, ia memandang wajah Darsen yang menatapnya penuh tanya.


"Bapak ada di depan pintu," bisik Mela.


Darsen berdiri, ia menjadi kelimpungan harus bagaimana? Pasti sang bapak akan marah jika tahu dirinya ada di apartemen Mela.


Mela panik sambil menggigit jemarinya, ia masih menatap pacar rahasianya yang santai saja.


"Kak, kenapa diam saja?" tanya Mela.


"Lalu aku harus apa? Membuka pintu untuk Bapak?" jawab Darsen.


Mela melotot saat Darsen berjalan ke arah pintu, ia langsung menarik tangannya untuk mencegah kakak rasa pacarnya itu.


"Kita 'kan sudah berjanji jika hubungan ini jangan sampai ketahuan oleh Bapak? Baru beberapa menit yang lalu kakak sudah lupa?" tanya Mela heran.


CETOOK ...


Darsen menyentil mulut Mela membuat gadis itu sangat kesakitan. Tangan Mela mengusap bibirnya yang sangat sakit bahkan matanya pun memerah.


"Baru pacaran saja sudah KDRT, bagaimana jika sudah menikah?" gumam Mela.


"Mana yang sakit, Sayang? Sini biar aku cium." Darsen mendekatkan wajahnya pada wajah Mela namun Mela langsung mundur.


"Kakak jangan bercanda deh! Bapak ada di depan, aku takut."


Darsen melihat ekspresi Mela yang begitu imut membuatnya geli sendiri. Dia melipat tangan di dadanya lalu menunjukan wajah yang santai bahkan tidak takut.

__ADS_1


"Kakak malah mematung di sini," ucap Mela tambah panik.


"Lalu kakak harus loncat dari jendela, begitu?"


Mela memukul lengan sang kakak, ini pertama kalinya Darsen mendapat pukulan pertama dari Mela yang ia anggap pukulan cinta. Ya, orang yang sedang jatuh cinta angan-angannya sangat tinggi.


Mela menarik tangan Darsen dan menyeretnya dengan paksa untuk bersembunyi di kamar mandi dan menguncinya dari luar. Setelah itu gadis 18 tahun yang tengah senam jantung segera menetralkan keadaan tubuhnya yang sedari tadi berkeringat dingin.


Ceklek ...


"Lama sekali, Mela?" tanya Bapak.


Beliau langsung masuk dan menaruh gado-gado di atas meja.


"Ambil piring, Mela! Bapak lapar sekali."


Mela langsung mengambil 2 piring dan satu teko air putih. Mereka makan bersama-sama dengan tenang. Sedari tadi Mela terus melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Mela, bagaimana hubunganmu dengan Leon?" tanya Bapak membuat lamunan Mela buyar.


"Eh ... baik-baik saja kok, Pak."


"Ayah dari Leon ini adalah sahabat Bapak. Kami ingin menambah kekeluargaan untuk menjadi besan. Semoga saja Leon terbaik untukmu."


Mela mengangguk pelan, ia sangat berdosa pada bapak yang selalu menyayanginya. Dia merasa menjadi seorang pengkhianat karena telah menduakan Leon walau sekarang mereka belum memiliki status apa-apa.


"Pak, tapi Bapak 'kan belum tahu sifat Kak Leon bagaimana 'kan? Jika dia suka memukul bagaimana?"


"Jika dia sampai melakukan itu padamu tak segan-segan Bapak akan membunuhnya. Kau jangan khawatir, Sayang!"


"Bapak mau ke mana?" tanya Mela.


"Mau ke kamar mandi sebentar."


"JANGAAAAAN!"


Sontak membuat Pak Adi kaget dengan reaksi Mela yang aneh. Mela menariknya dan menyuruhnya duduk kembali.


"Kenapa, Mela? Bapak nahan pipis dari tadi."


"Bapak harus tahan sampai pulang!"


Kening Pak Adi berkerut. Ekspresi Mela benar-benar membuat Pak Adi penasaran.


"Kau menyembunyikan apa di kamar mandi? Seorang Pria?"


"TIDAAAAAAK."


Pak Adi berdiri, ia berjalan ke arah kamar mandi namun Mela mencegahnya. Pak Adi tetep kekeh untuk berjalan ke kamar mandi namun Mela malah menangis.


"Huaaaaa ... jangan ke kamar mandi, Pak!"


"Ada apa, Mela? Kenapa kau aneh sekali?"


"Aku malu ... aku malu sekali karena pembalut bekasku masih tertinggal di kamar mandi," jawab Mela sambil menangis terisak.

__ADS_1


Pak Adi semakin heran. "Hanya karena itu kau sampai menangis?"


"Pak, itu privasiku. Jika sampai di lihat ibu saja aku malu apalagi di lihat Bapak."


Pak Adi menghela nafas panjang, putrinya semakin aneh saja.


"Kau 'kan sudah besar, walau tinggal sendiri di sini harus menjaga kebersihan. Jorok sekali jika sampai tertinggal di kamar mandi."


"Maka dari itu jangan masuk ke kamar mandi, Pak!"


Pak Adi mengusap air mata Mela lalu mengecup keningnya. Beliau berpamitan pulang karena masih ada pekerjaan yang harus di urus. Setelah kepergian Pak Adi, Mela langsung masuk ke kamar mandi. Darsen tengah duduk di atas kloset berdiam diri melamun di sana.


"Si tua itu sudah pulang?" tanya Darsen.


"Kakak kurang ajar sekali memanggil Bapak seperti itu?" gerutu Mela.


Darsen mendekat pada Mela namun Mela memalingkan wajah. Darsen mengerutkan dahi dengan heran terlihat Mela sangat marah.


"Kenapa?"


"Jangan panggil Bapakku seperti itu!"


"Iya, ya. Hem ... yang jadi pertanyaan jika kita menikah nanti siapa yang menjadi menantunya?"


Mela bingung. "Eh ... benar juga ya?"


Ekspresi Mela sangat membuat Darsen gemas. Sekali lagi ia mencium Mela, Mela hanya pasrah dan sesekali tangannya bermain kaos yang di kenakan Darsen.


Bibir menjadi basah lagi sampai benar-benar becek. Mela yang kehabisan nafas langsung melepaskan ciuman.


"Sekarang kita pacaran 'kan?" tanya Mela yang mendongak menatap sang kakak.


"Ehmm ... bisa di bilang begitu. Kau senang berpacaran dengan kakak?"


Mela mengangguk. Darsen menciumnya lagi tanpa ampun bahkan Mela sudah terbiasa dari sikap manis Darsen selama mereka hanya berduaan. Tangan Darsen tetap diam di tempat dan tidak berani menyentuh yang tidak seharusnya untuk di sentuh.


Darsen melepaskan ciumannya, ia menatap Mela yang juga menatapnya dengan intens.


"Misalnya jika kakak tak terkendali kau boleh memukul kakak sekeras mungkin dan sadarkanlah kakak! Kakak pria dewasa yang kurang sentuhan wanita, kakak memang mengakui itu."


"Baiklah, aku akan memukul kakak jika kakak berani bertindak lebih kepadaku tapi untuk berciuman saja aku tak masalah, aku mencintai kakak."


Mela langsung mencium Darsen lagi sampai benar-benar puas. Adu lidah mereka memang sangat menghanyutkan satu sama lain.


*****


Jangan lupa baca kisah si Pras dalam bentuk novel chat yang tak kalah serunya dari novel Darsen.


Kisah Darsen ataupun Pras memang tak jauh beda dengan kisah cinta satu malam yang akan merenggut kesucian seseorang. Namun bedanya, Pras tidak sengaja melakukan itu pada anak dari sahabatnya sendiri. Namanya Tiara yang ingin debut sebagai aktris malah di hamili oleh Pras somplak itu.


Pras tidak tahu jika Tiara hamil karena Tiara langsung kabur dari Pras dan memilih tinggal di tempat lain sampai hamil 5 bulan.


Yuk baca kelanjutan kisahnya ONE NIGHT STAND WITH DUDA masih di mangatoon / noveltoon.


__ADS_1


__ADS_2