
Darsen sempat terkejut karena ayam yang di pegangnya jatuh. Dia menelan ludah lalu berdiri sambil berdehem menatap Mela yang di rasanya kurang sopan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Darsen.
"Maaf, Kak. Antingku jatuh di sini."
Mela takut dengan tatapan Darsen yang seolah mengimintidasinya. Mela menunduk lalu melihat anting di depan sepatu Darsen. Dengan yakin dia langsung berlari lalu menunduk tepat di depan Darsen membuat Darsen sangat terkejut dan refleks mundur namun karena di belakang ada Pras, ia pun tidak sengaja menginjak kaki Pras sehingga membuat asistennya kesakitan.
"Aw ... aduh, Bos ... Salah tingkah boleh tapi jangan sampai injak kaki juga dong!" ucap Pras sambil mengelus kakinya.
"Bapak kau salah tingkah, dia tiba-tiba menunduk di depanku, siapa yang tidak refleks mundur?" jawab Darsen.
Pras berdecih. "Cih ... Bos yang berpikiran mesum."
Darsen membenarkan posisinya lalu menatap Mela yang sudah sangat ketakutan pada kakak angkatnya itu.
"Kak, aku minta maaf. Soalnya anting ini pemberian dari bapak, jika hilang aku sangat tidak enak dengan bapak," jelas Mela.
Darsen menghela nafas, ia mengibaskan jari untuk menyuruh Mela keluar dari ruangannya. Mela mengangguk, ia langsung berjalan ke luar sebelum sang kakak berbicara dingin lagi. Darsen masih menatap kepergian Mela, Pras mengejutkannya dengan menepuk bahu Darsen.
"Bos, orang tua bos sepertinya sangat menyukai Mela. Pasti ini akan sangat sulit bagi bos meminta restu untuk menikahi Mela," ucap Pras.
Darsen tak menghiraukan ucapan Pras, ia melanjutkan makan dengan lahap. Pras menggeleng-gelengkan kepala melihat sang bos yang sangat jual mahal.
"Tapi terkadang aku sangat iri dengan Mela," ucap Darsen.
"Iri tidak di belikan anting, Bos?"
"Sialan kau! Sudah sana pergi!" ucap Darsen geram kepada asisten koplaknya.
Setelah keluar dari ruangan, Mela melewati lorong dan menuju ke lift. Setelah ini ia akan menuju ke perpustakaan untuk membaca buku. Kegemarannya memang membaca buku sampai berjam-jam bahkan sampai lupa untuk makan dan pulang.
Setelah sampai lantai dasar, ia tak lupa memakai topi dan masker namun sebelum sampai di pintu utama ia bertemu dengan teman yang pernah satu panti asuhan dengannya.
__ADS_1
"Mela?"
"Yeri?"
Mela melihat penampilan Yeri yang sangat cantik dengan rambut panjang dan make up ala Korea yang membuatnya sangat segar dan cantik. Yeri memang akan debut bulan ini. Setelah keluar dari panti asuhan, Yeri memang di adopsi oleh orang lain dan memilih untuk menjadi bagian dari agensi Ars sejak 3 tahun yang lalu dan tentu saja sekolahnya terhenti.
"Mel, kenapa kau ada disini?" tanya Yeri.
Yeri sendiri pun belum tahu jika Mela di adopsi oleh orang tua dari si pemilik Agensi Ars.
"Oh aku bertemu dengan orang sini," jawab Mela.
"Siapa?"
Mela terdiam sebentar lalu mengalihkan pembicaraan. "Yeri, aku pergi dulu ya, sudah di tunggu taksi nih."
Yeri memandang kepergian Mela, ia memang tak suka dengan Mela sejak di panti asuhan. Wajah Mela sangat cantik alami dengan bola mata yang besar, hidungnya lancip serta bibirnya mungil namun tebal membuat siapa pun terpanah olehnya.
Mela masuk ke dalam taksi dan menyuruh sang sopir untuk menuju ke perpustakaan umum yang tak jauh dari sana. Dalam perjalanan ia tersenyum sendiri karena mengingat saat sang kakak memakan masakannya dengan malu-malu kucing. Ini pertama kali dalam hidupnya melihat Darsen yang mulai peduli dan mau berbicara panjang dengannya.
Mela sangat ingin dekat dengan Darsen sebagai kakak adik namun terkadang mimpi buruk itu seolah menjadi pembatasnya. Dia takut jika mimpi itu benar-benar terjadi pasalnya Darsen adalah pria dewasa yang sudah di tinggal pergi istrinya beberapa tahun yang lalu dan mungkin saja haus akan nafsu.
"Kak, lepaskan! Ini sangat salah," ucap Mela.
Darsen mencengkeram lengan Mela lalu mulai menciumi tubuh Mela.
"Ah ... tidaaaaaak," teriak Mela yang sadar dari lamunannya membuat sopir taksi terheran.
"Ada apa, Mbak?"
Mela menghela nafas panjang dan menjelaskan tidak ada apa-apa. Dia hanya teringat mimpi tadi malam. Entah mengapa akhir-akhir ini bermimpi buruk yang sama.
Setelah sampai di perpustakaan, Mela turun dari taksi dan tidak lupa membayar ongkosnya setelah itu masuk ke perpustakaan umum. Dia memilih buku bacaan yang bisa menambah ilmu pengetahuan. Sambil memilih, ia merasa ada yang mengikuti sedari tadi namun setelah menengok ke belakang tidak ada orang.
__ADS_1
Mungkin hanya halusinasiku saja. Batin Mela.
Sebuah buku sastra ia ambil lalu menuju ke tempat duduk. Disana dia mulai membaca dengan tenang, sajak demi saja ia baca. Kata-kata yang indah mulai tergambar di pikirannya. Mela selama ini adalah penulis novel yang terkadang merasa buntu dalam proses pembuatannya. Maka dari itu Mela memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk sekedar membaca novel, cerpen dan lain-lain.
Mela kini sudah menulis beberapa judul novel namun ia masih simpan dan belum berani di terbitkan ke dalam buku.
Novel pertama yang dia tulis berjudul Secret Love, mengisahkan rahasia cinta antara seorang dokter dan perawatnya. Novel kedua ia menulis sebuah judul Yatim Piatu yang mengisahkan lika-liku menjadi anak yatim piatu di panti asuhan selama ini. Novel ketiga yang baru ia tulis entah mengapa membuatnya merinding sendiri,
Forbidden Night With My Brother. Dia menulis cerita ini sangat iseng dan tidak masuk logika atau dalam bahasa Indonesianya adalah Malam terlarang dengan kakakku.
"Hei ..." ucap seorang wanita yang membuatnya terkejut.
Mela langsung membuang pikiran anehnya lalu menatap wanita yang sering ia lihat di televisi. Perempuan itu langsung duduk di seberangnya.
"Apa hubunganmu dengan Pak Darsen?" tanya Laura.
Mela terdiam, memang selama ini Darsen melarangnya untuk memberitahu orang lain jika ia adalah adik angkatnya.
"Apa urusanmu?" tanya Mela.
Laura mencengkeram dagu Mela, Mela berusaha memberontak namun Laura semakin memperkuat cengkeramannya.
"Kau sugar baby nya Pak Darsen? Tak ku sangka dia sangat suka gadis sepertimu," ucap Laura.
"Lepaskan dulu! Aku akan menjelaskannya," pinta Mela.
Laura melepaskannya lalu Mela menjelaskan jika Darsen adalah kakak angkatnya dan tidak ada hubungan lebih. Laura tersenyum senang dan memiliki rencana mendekati Darsen lewat Mela.
"Maafkan aku ya adik yang tadi sempat kasar. Bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mendekatkanku dengan kakak mu itu?" tanya Laura, wanita bermuka dua itu memang tak tahu mu.
Mela cukup terkejut dengan permintaan Laura, dia sudah tahu skandal yang terjadi pada Laura dan tentu saja ia enggan untuk membantu Laura untuk mendekatkan dengan kakaknya.
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa. Kakak ku sangat berharga untuk orang sepertimu," ucap Mela sambil berdiri membawa bukunya.
__ADS_1