
Mela masuk ke dalam mobil Leon yang di belinya dadakan. Leon memang orang kaya dan tentu saja bisa langsung membeli mobil walau pada akhirnya saat kembali ke London setelah menikahi Mela hanya menjadi barang tidak berguna lagi.
Ini adalah kedua kalinya Mela dan Leon bertemu. Agak sedikit canggung bagi Mela melihat calon suaminya meliriknya sinis.
"Kau tidak punya pria lain 'kan?" tanya Leon sambil menyetir mobil.
"Maksud Kak Leon?"
"Tidak apa-apa. Setelah kita menikah nanti kita akan langsung terbang ke London."
DEG!!
Tak terasa air mata Mela mengalir, ia segera mengusapnya dan tersenyum ke arah Leon. Mela hanya memikirkan perasaan Pak Adi yang sudah mau merawatnya dengan setulus hati. Masalah cinta dengan Darsen? Ah ... mungkin saja setelah menikah dengan Leon, ia bisa melupakan Darsen dan mulai mencintai sang suami sepenuh hati.
"Oh ya, kakakmu benar-benar galak sesuai dengan ucapanmu," ucap Leon.
"Tapi dia sebenarnya baik."
"Oh ya?"
Mela mengangguk dan Leon mulai menepikan mobilnya di tepi jalan. Mela bingung dengan gerak-gerik Leon apalagi saat pria tampan itu mengeluarkan ponsel dan bertelepon dengan seseorang.
"Baiklah, aku akan pulang minggu depan. Bye."
Leon menutup telponnya lalu tersenyum ke arah Mela. Mela mencoba membalas senyuman Leon walau nampak kaku. Mata Leon menyipit kala melihat leher Mela terdapat bekas merah walau itu sudah tersamarkan dengan bedak namun mata jeli Leon tidak bisa di bohongi.
Tangannya mengusap bedak yang menutupi bekas ciuman itu lalu ia tersenyum kecil.
"Wow ... belum apa-apa sudah mencuri start dulu?" tanya Leon.
Plaaaaak ...
Mela ditampar sampai pipinya memerah. Baru saja bertemu namun Leon yang terlihat lembut menamparnya. Mela menggigit bibirnya lalu mulai menangis menahan kesakitan di pipinya. Padahal sang bapak atau kakaknya yang galak tidak pernah memukul Mela.
"Kita akan menikah tapi kau tidak bisa menjaga dirimu dengan baik. Dasar pel*cur!"
Mela semakin takut dengan calon suaminya itu. Padahal saat mereka belum bertemu dan hanya komunikasi lewat telpon, Leon terlihat sangat baik dan lembut.
Leon segera melajukan mobilnya dan tidak memperdulikan Mela yang berkali-kali mengusap air matanya. Semakin lama, jalan semakin sempit bahkan berbatu. Mela belum pernah melewati jalan ini namun terlihat familiar seperti pernah melihatnya.
'"Kita mau ke mana?"
"Bersenang-senang."
Setelah melewati jalanan berbatu kini mereka memasuki hutan. Jalanan yang mereka lewati hanya bisa di lalui satu mobil saja.
Berselang menit kemudian, di jauh sudah terlihat villa kecil sendirian di tengah hutan pinus.
__ADS_1
DEG!!
Mela sadar jika villa itu adalah villa yang ada di mimpinya saat sang kakak memperkosanya.
"Kak Leon? Kita mau apa?" tanya Mela sudah sangat takut.
"Tidak bisakah jangan banyak bertanya?"
Tatapan Leon benar-benar menakutkan. Mela memalingkan wajah dan mulai mencoba menelpon keluarganya namun sialnya tidak ada sinyal.
"Kakak ingin memperkosaku? Kenapa? Kita 'kan segera melakukannya setelah menikah," ucap Mela panik.
"Cih ... memperkosamu? Tubuh murahanmu itu tidak memikatku sedikitpun."
Mela merasa sakit dengan ucapan Leon. Bagaimana pria itu bisa menjadi suaminya yang baik jika sekarang saja sering menyakiti perasaan Mela?
Mobil Leon sudah sampai di depan Villa. Dia segera turun dan Mela masih di dalam mobil. Leon memperhatikannya dan menyuruhnya untuk turun. Dengan tidak yakin Mela harus turun dengan berhati-hati. Mela menapakan kakinya di teras berbatu dan masuk ke dalam villa kayu yang benar-benar persis seperti di dalam mimpinya.
Leon mengambil senapan membuat Mela cukup terkejut. Dia berjalan mendekati Mela lalu gadis itu sangat ketakutan.
"Aku ingin berburu. Kau menunggu di sini atau ikut denganku?" tanya Leon.
"Berburu apa?"
"Burung."
"Kak Leon, katanya kita mau fitting baju pengantin?"
"Kau bisa datang sendiri."
Mela bingung dengan sikap Leon. Pria misterius itu memang membuatnya sangat bingung. Leon segera mengarahkan senapannya ke burung yang asyik bertengger di dahan lalu setelah itu menarik pelatuknya.
DOR!!
Burung itu langsung terjatuh ke tanah, senyuman Leon mengembang.
"Apa Kak Leon yakin dengan pernikahan ini? Aku pikir Kak Leon juga terpaksa."
Leon membalikan badan, ia melihat Mela dan mulai mendekatinya. Mela sangat takut namun dengan cepat Leon mencium bibirnya setelah itu ia melepaskan ciumannya.
"Tidak ada kata terpaksa," ucap Leon singkat.
***
Sore hari.
Mela datang bersama Darsen untuk fitting baju pengantin sedangkan Leon entah kemana setelah pulang dari villa. Darsen melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pacarnya memakai baju pengantin namun untuk menikah dengan pria lain.
__ADS_1
Tubuh kecil Mela sangat imut saat memakai baju pengantin. Darsen memotretnya diam-diam. Pernikahan Mela sebentar lagi dan di lakukan sederhana di gereja dan akan melakukan resepsi besar di London.
Fredy, ayah dari Leon terkejut saat mengetahui putranya ingin melaksanakan pernikahan dengan lebih cepat. Beliau langsung terbang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan putranya.
Pak Adi dan Fredy datang ke tempat fitting gaun pengantin namun mereka bingung malah ada Darsen yang ada di sana.
"Leon di mana?" tanya Pak Adi.
Darsen hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu. Pak Adi menghampiri Mela yang asyik menatap tubuhnya yang berbalut baju pengantin di depan cermin.
Pak Adi membelai rambut Mela membuatnya sangat terkejut.
"Bapak?"
"Sebentar lagi putriku akan menikah dan akan ikut suaminya ke London. Cukup berat bagi bapak untuk melepasmu."
Tangis Mela pecah, ia memeluk Pak Adi dengan erat. Selama 10 tahun ini, Pak Adi telah merawatnya dengan baik, menganggapnya seperti anak sendiri. Sekarang ini adalah balas budi bagi Mela untuk melakukan pernikahan dengan pria yang menjadi pilihan yang ayah.
Darsen memandang Mela dengan sendu, ia harus merelakan sang pacar sekaligus adiknya menikah dengan orang lain.
Aku tidak tahu harus berbuat apa padahal pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi.
Mela melepaskan pelukan sang ayah lalu berpamitan untuk berganti pakaian. Dia masuk ke ruang ganti bersama pegawai yang akan membantunya melepaskan gaun pengantinnya namun tiba-tiba Darsen datang dan menyuruh pegawai itu keluar dulu.
Setelah itu Darsen memandang Mela lalu mengusap pipi Mela.
"Aku tidak ingin menikah tapi ..."
"Ssssttt ... kita bisa pikirkan cara lain."
Darsen mencium bibir Mela dengan lembut, ia ********** dengan nikmat. Mela membalas juga dengan brutal, mungkin ini adalah ciuman terakhirnya bersama Darsen karena minggu depan ia akan segera menikah.
"Hah ... hah ... hah ..."
Nafas Mela terengah-engah, ia segera melepaskan ciumannya dan ia kaget saat Pak Adi memergokinya lagi.
"Bapak?" ucap Mela.
******
LAH, SI PRAS KAMPRET MALAH DULUAN PECAHIN PERAWAN.
Yuk baca One Night Stand With Duda.
__ADS_1