
Flashback.
Villa di tengah hutan.
BUAK
BUAK
BUAK
"Arggghh ... ampun, Kak Leon!" teriak Mela.
"Siapa pria itu? Hah?"
BUAK
BUAK
"Toloooooong ... "
Mela berusaha kabur dari Leon namun pria itu tidak mungkin melepaskannya semudah itu.
"Tidak ada orang di sini kecuali kita, tutup mulutmu!" bentak Leon.
Pria yang terlihat baik dan lembut justru malah menyakiti Mela dengan cara berani memukulnya sedangkan pria yang terlihat kasar dan arogan seperti Darsen malah tidak pernah memukul Mela.
"Awas kau! Aku akan membunuh semua keluargamu jika kau tidak menuruti perkataanku."
Flashback selesai.
Darsen memberikan salep pada luka lebam di punggung Mela. Mela menahan sakit sampai meringis. Darsen tak lupa memfoto luka-luka itu dan mengirimkannya pada Pak Adi supaya tahu kelakuan calon menantu bejatnya.
"Mela, sudah selesai."
"Terima kasih, Kak."
Mela segera mengenakan bajunya lalu menatap sang kakak yang memendam kesedihan.
"Kak, terima kasih sudah membantuku."
"Sama-sama, kau adikku yang paling imut."
Mela memeluk sang kakak dengan erat. Darsen memberikan pelukan hangat supaya perasaan Mela bisa tenang. Entah esok rencana akan berhasil atau tidak yang jelas mereka akan berusaha sekuat mungkin menghadapinya.
Keesokan harinya.
Mela sudah di rias sedemikian rupa seperti pengantin pada umumya. Acara di selenggarakan pagi hari di sebuah gereja dan malam hari akan ada resepsi kecil di hotel.
__ADS_1
Gaun pengantin putih bersih serta sebuket bunga sudah ada di genggamannya. Mela berusaha untuk tersenyum di depan semua orang.
Darsen datang ke kamarnya untuk menjemputnya dan mengantarkan sang adik sekaligus sang pacar ke gereja. Darsen sudah menyerahkan kasus ini pada kepolisian dan mungkin saja Leon akan di tangkap sebelum janji suci di ucapkan di depan pendeta dan para saksi.
Darsen mengulurkan tangannya pada Mela lalu pengantin cantik itu menerima uluran tangannya. Mereka turun dari kamar dan di ruang tamu sudah ada sanak keluarga. Mereka nampak bahagia di atas penderitaan Mela. Mela belum tahu jika sang kakak sudah melaporkan calon suaminya ke kantor polisi.
Mata Mela memandang seolah mencari seseorang.
Pak Adi? Dia tidak ada di sana.
"Bapak mana?"
"Bapak sudah perjalanan ke gereja. Yuk kita langsung saja ke sana!" jawab Amira.
Mela mengangguk, Darsen membantunya untuk berjalan ke mobil. Kali ini Darsen yang akan menyetir mobil untuk mengantar sang adik menikah. Dia yakin pernikahan ini akan gagal.
Setelah sampai di gereja, orang-orang sudah datang kecuali Pak Adi yang belum menunjukan batang hidungnya sedari pagi. Darsen menggandeng Mela untuk masuk dan maju ke depan mendekati pendeta yang sudah siap menikahkan Mela dan Leon.
Leon belum juga datang membuat mereka sedikit menunggu.
Darsen menenangkan Mela yang sangat gugup, ia terus mengelus punggung tangannya sampai Mela benar-benar tenang. Nampak Sandra dan Seira juga hadir, wanita tak tahu malu itu terus saja berharap jika Darsen mau menikahi mereka.
1 jam
2 jam
3 jam
Darsen mengira jika pasti Leon sudah di tangkap polisi dalam perjalanan ke gereja. Ini semua membuatnya sangat yakin untuk membatalkan pernikahan.
"Di mana pengantin prianya? Sudah 3 jam kami menunggu," ucap Darsen.
"Nomor Leon tidak aktif dan aku yakin pasti sebentar lagi Leon akan datang," jawab Fredy mulai panik.
Berselang menit kemudian. Fredy mendapat telpon dari nomor orang tak di kenal, setelah menjawab telpon tersebut ia histeris. Penelpon yang dari pihak rumah sakit mengabarkan jika Leon berada di rumah sakit dalam keadaan meninggal dunia karena kecelakaan maut.
Semua orang terkejut termasuk Mela dan Darsen.
5 jam kemudian.
Prosesi pemakaman di lakukan pada hari itu juga. Mela yang masih menggunakan gaun pengantin hanya terdiam menatap liang lahat yang akan di timbun menggunakan tanah. Air mata tak terasa menetes tatkala calon suaminya meninggal di hari pernikahan mereka. Rasa ingin membalas dendam seketika pudar dan menyisakan pilu.
Amira mengusap bahu Mela untuk menenangkan putrinya yang pasti sangat syok. Pak Adi pun hanya menatap diam di liang lahat tersebut.
Setelah pemakaman selesai, Mela kembali ke hotel yang telah siap di sewa untuk pesta namun malah menjadi rumah duka yang di hadiri untuk memberi penghormatan terakhir untuk Leon. Mela sedari tadi hanya melamun bahkan ia bingung harus senang atau sedih, walau Leon sudah kasar padanya namun apakah karma langsung meninggal di hari pernikahan itu wajar?
"Amira, antar Mela ke kamarnya!" ucap Pak Adi.
__ADS_1
"Baik."
Mela di antar oleh ibu angkatnya menuju ke kamar hotel. Sedangkan Pak Adi masih sibuk menyalami tamu yang berdatangan untuk memberikan bela sungkawa.
Darsen mendekatinya lalu menginterogasi ayahnya.
"Bapak di mana tadi pagi? Bukan Bapak 'kan yang membunuh Leon?" tanya Darsen.
"Apa maksudmu? Mobil Bapak mogok di jalan sehingga datang terlambat."
Darsen menatap sang ayah dengan tajam. "Bapak sudah lihat foto yang aku kirim?"
Pak Adi mengangguk. "Sepertinya ini karma untuk Leon atau bahkan peringatan untuk Bapak untuk lebih berhati-hati memilih calon menantu."
Pak Adi menepuk bahu Darsen lalu menemui beberapa orang yang baru saja datang. Darsen masih melirik sang ayah yang nampak mencurigakan.
****
Di kamar pengantin penuh bunga, Mela hanya terdiam membisu sambil duduk di samping ranjang. Kejadian hari ini sangat membuatnya bingung, di satu sisi ia senang jika tidak jadi menikah namun di sisi lain ia merasa kasian dengan nasib Leon yang tragis.
Pintu terbuka yang ternyata Darsen, ia melepas jas hitamnya dan melemparnya ke lantai. Mela yang masih menggunakan gaun pengantin menatapnya. Dia memang menjanjikan malam pertama atau malam terlarang untuk Darsen.
"Apa kita masih mau melanjutkan ini setelah kematian Leon?" tanya Mela.
"Ku pikir kita harus saling mengikat diri dengan cara ini. Aku tahu ini salah tapi ku yakin Bapak akan tetap menjodohkanmu dengan orang lain dan tidak akan merestui kita."
Mela berdiri, ia berdiri membelakangi Darsen dan menyuruhnya membuka risleting gaunnya. Darsen membukanya dengan cepat lalu melepaskan gaun pengantin Mela.
Harusnya ini adalah malam pertamanya dengan Leon namun di gantikan oleh Darsen.
Tubuh Mela terekspos nyata di depan duda satu anak itu. Dada yang besar seakan mengunci mata Darsen untuk terus menatapnya. Mela menatap mata Darsen yang tanpa berkedip, ia menarik tangannya lalu menyuruh memegang pinggulnya.
"Bukannya kakak sudah berpengalaman tentang ini? Kenapa diam saja?" tanya Mela.
Darsen langsung mendorong Mela di atas ranjang yang penuh bunga. Menciumi dada besar dari tubuh gadis itu. Ini adalah pengalaman tak terduga oleh Darsen mendapat tubuh istimewa milik Mela. Mela terus mendesah pelan saat Darsen membuka branya dan menampilkan dada yang tak ada kain menutupinya.
Duda hot itu menunjukan sisi sensualnya, ia sangat beringas mendengar desahan Mela.
"Mmmhhh ..."
Darsen segera melepas dasi dan kemejanya dan kemudian celananya. Dia juga melepas celana Mela dan kini tubuh mereka sama-sama telanjang. Untuk pertama kalinya, Mela si gadis polos yang baru melihat ular berurat milik Darsen hanya menelan ludah. Ular sebesar itu apa sanggup masuk ke miliknya?
Darsen mengalihkan perhatian Mela dengan cara menciumnya dengan beringas. Lidah mereka saling beradu menunjukan siapa pemenangnya. Nafas mereka terengah-engah sampai Mela kehabisan nafas.
"Hah .. Hah... Hah..."
Setelah berciuman 10 menit, mereka bertatapan bahkan keringat sudah keluar dari kening.
__ADS_1
"Kakak akan memasukannya."
Mela mengangguk. "Pelan-pelan!"