Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 47 : Panas


__ADS_3

Note : Ku beri yang panas-panas supaya hati tidak panas menunggu sampai tanggal 1 untuk update lagi. Ini aku sempat-sempatin untuk membuatnya.


2 bulan kemudian


Darsen dan Mella sudah pindah ke apartemen, mereka menata serapi mungkin barang-barang dengan hati-hati. Darsen lebih memilih tinggal sendiri daripada terus-menerus bersama orang tuanya, apalagi hubungan dengan ibunya kian memburuk setelah ia mengetahui jika Amira penyebab keguguran kandungan Mela, tak dapat dipungkiri lagi jika Darsen enar-benar kecewa harusnya seorang ibu bisa menjaga putrinya sekaligus menantunya itu, namun ia malah justru melakukan perbuatan tercela dengan tindakan tidak terpuji. Mela juga sangat kecewa, ia tahu jika Amira tidak menyukainya namun apakah bayinya juga harus dihilangkan? Ini semua membuatnya sangat kecewa dan marah.


Mela memasukkan baju dari koper ke lemari barunya, dia menata serapi mungkin ditemani dengan Velino, dia harus menata hidupnya lagi dan menjadi istri yang berbakti.


Darsen yang harusnya hari ini datang ke acara stasiun TV, tidak dapat menghadiri nya karena lebih memilih untuk datang di hari kepindahannya dan tidak tega meninggalkan Mela merapikan barang-barangnya sendirian.


Darsen memilih tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Pras supaya jika mereka akan melakukan malam panjang, ia bisa menitipkan Velino pada Pras. Itulah akal liciknya yang tidak mau diganggu oleh bocah kecil itu.


"Pah, bantuin tante dong! Kasian tante Mela. Papa malah main hape," gerutu Velino.


"Papa sedang cek email. Sebentar lagi papa akan bantu kalian."


"Vel, biarkan papamu bekerja! Kita hanya menata baju," ucap Mela.


Velino mendengus kesal, ia segera beranjak dan menarik sang Papa untuk membantu mereka. Dia yang merasa terganggu segera mematikan ponselnya dan mengikuti perintah putranya. Darsen membantu memasukkan barang-barang mereka ke lemari satu persatu namun memang tangan lelaki selalu salah dimata perempuan, apa yang ditata oleh Darsen selalu salah oleh Mela.


"Bukan begitu!" ucap Mela.


Mela menata ulang baju yang ditata oleh dari Darsen yang asal-asalan, Darsen menatapnya sambil cengengesan. Pria 40 tahun itu tiba-tiba memeluk Mela dari belakang sedangkan Velino yang belum juga mengerti jika Mela adalah mamanya hanya bisa terheran.


"Kak, ada Velino," bisik Mela.


"Biarkan, biar dia tahu jika kita sudah menikah."


Velino memisahkan mereka dan menghadangi mereka dengan merentangkan kedua tangannya.


Darsen mencubit hidung Velino lalu membopong Mela di ranjang.


"Jangan! Jangan bertengkar! Kenapa orang dewasa suka sekali bertengkar?" teriak Velino.


Mela berusaha berdiri namun Darsen memeluknya erat. Velino yang kesal lalu menubruk badan papanya dan tidak lupa menyikutnya.


"Sakiiiiit," ucap Darsen.

__ADS_1


"Rasakan itu!" ejek Velino.


Darsen yang kesal dengan anaknya langsung menggendong bocah nakal itu ke apartemen Pras dan tentu saja supaya tidak mengganggunya.


Tok ... tok ... tok ... tok ...


"Pras ... Pras..."


Darsen lupa jika Pras sedang bekerja. Dia lalu menelepon Pras untuk segera pulang.


Setengah jam kemudian.


Pras datang dan langsung mengetuk pintu apartemen Darsen. Dia tahu jika dirinya akan di sewa menjadi baby sitter bocah itu.


"Bos, ku ajak ke agensi saja ya?" tanya Pras yang sudah menggandeng Velino.


"Terserah saja, yang penting aku bisa berduaan dulu sama Mela."


"Huh, ada yaa bapak sepertimu," sindir Pras lalu lari sambil menggandeng Velino menghindar amukan Darsen.


Darsen menghela nafas, ia akan segera mencari pengasuh untuk Velino supaya bisa leluasa berduaan dengan Mela. Mela yang dari kamar mandi mencari keberadaan putranya.


"Sama Pras."


"Kakak kekanakan, kasian Velino."


Darsen tak memperdulikan ucapan Mela, ia segera mendorongnya ke ranjang. Mela menelan ludah mendapat suami yang sangat ganas bahkan selalu ingin menyentuhnya.


"Kak, apa sih?"


"Kita pengantin baru, wajar saja."


Darsen menciumi leher Mela, Mela mendorong kepalanya namun Darsen tak menyerah begitu saja. Dia mencengkeram lengan Mela dan melakukan serangan ciuman bertubi-tubi. Mela memberontak karena itulah yang diinginkan Darsen, ia tidak ingin Mela diam saja dan tidak melakukan perlawanan.


"Ukkhhh ... kakak."


"Enak 'kan?"

__ADS_1


"Jangan tinggalkan bekas lagi! Aku malu."


"Untuk apa malu? Itu tanda khusus dariku untukmu seorang."


Darsen menyesap leher Mela sampai benar-benar memerah kehitaman. Mulutnya bagaikan menyedot debu yang menempel pada leher. Setelah bermain dengan leher, Darsen membuka kaos Mela dan memainkan gundukan lemak yang sangat montok dan besar.


"Tubuhmu kecil tapi ini mu besar sekali?" tanya Darsen.


"Huh, apa sedari dulu kakak menatapku seperti ini?"


Darsen menggeleng. "Kakak baru sadar akhir-akhir ini. Tapi kakak puas bisa menjamahnya."


Darsen memainkan lidahnya di atas gundukan itu. Mela hanya meremas sprei dan sesekali menjambak rambut Darsen.


"Ah," desahan kecil Mela sudah keluar membuat Darsen semakin bersemangat. "Kakak, pelan-pelan."


Tangan Darsen lalu merogoh gua yang memiliki rumput yang tipis. Dia memasukan satu jari di dalamnya dan seketika Mela menjerit.


"Aaaakhh ... sakit, kuku kakak panjang," berontak Mela.


"Maaf, Sayang."


Darsen merubah strategi yang dari memasukannya kini menjadi meremasnya lembut. Mela mendesah keenakan sambil menciumi leher Darsen.


"Jangan tinggalkan bekas ya, sayang! Kau tahu sendiri 'kan jika media terlalu sensitif bagi kakak?"


"Masa bodoh, kakak memberikan bekas seenak jidat, kenapa aku tidak boleh?" tanya Mela kesal.


Dia tetap memberikan bekas ciuman untuk Darsen dan ia tersenyum saat bekas itu terlihat sangat sempurna. Darsen yang sudah terbawa nafsu tidak memperdulikannya. Dia malah membalikan tubuh Mela menjadi tengkurap.


Tentu saja, ia akan langsung bermain lewat belakang. Itu adalah posisi favoritnya. Darsen mulai memplorotkan celananya dan memasukkan miliknya pelan-pelan. Mela menggigit bibirnya kuat-kuat sambil meremas bantal yang dipeluknya.


Wuuuuus ...


Masuk. Darsen memang pemain yang handal. Dengan sekali tembakan langsung mencetak gol. Dia menggagahi Mela dari belakang tanpa ampun, Mela terus mendesah dan terus mendesah.


"Ampun, kak," desah Mela.

__ADS_1


"Enak saja ampun. Intinya harus sampai 2 ronde. Hari ini kau milikku."


"Akkkh ... Sakit .... Ampun ... " desa Mela yang merasa keenakan.


__ADS_2