Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 21 : Kebijakan Darsen


__ADS_3

"Mel, aku bukan mau menyakitimu tapi ada seseorang yang menyukaimu. Dia temanku dan aku tidak mau menyakitinya. Maaf, ya?" jawab Pras lalu mengembalikan jaket kepada Mela.


Mela mencoba untuk tersenyum. Dia harus terlihat baik-baik saja. Pras juga sangat terkejut dengan pengakuan Mela, apalagi jika sang bos tahu betapa tidak enaknya dia.


"Terima kasih, Kak. Walau begini saja aku sudah lega. Saat aku di jodohkan nanti tidak ada perasaan yang mengganjal," ucap Mela lalu pergi meninggalkan Pras.


Pras menatap kepergian Mela lalu membalikan badan dan betapa terkejutnya ia sudah ada sang bos di belakangnya. Jantung seketika akan berhenti, bahkan seperti ingin berperang namun Darsen segera pergi meninggalkan Pras. Pras mengejar sampai ke ruangannya seperti seorang kekasih yang harus menjelaskan tentang kesalahpahaman ini.


Setelah sampai di ruangan Darsen, pria itu mencoba bekerja kembali mengurus satu agensi besar yang sudah membuat beberapa artis naik daun. Usahanya dalam memajukan para artisnya sangat di akui jempol bahkan Darsen rela melakukan apapun supaya artisnya bisa sukses dan tentu saja mengharumkan nama Agensi Ars.


"Bos, tadi bukan seperti yang bos pikirkan. Aku dan Mela ..."


"Cukup! Kembalilah bekerja!" ucap Darsen memotong ucapan Pras.


Pras mendekati Darsen lalu berjongkok di samping bangkunya. Dia tidak ingin sang bos salah paham dengannya.


"Mela menyukaimu jadi ini sudah selesai. Aku tidak akan mengganggunya lagi," ucap Darsen.


"Enggak, Bos. Mela menyukaiku hanya sesaat saja. Bos harus tetap mengejarnya!" jawab Pras.


"Mengejarnya seperti orang bodoh? Dia bahkan menganggapku sebagai kakak saja dan bahkan dia juga mengataiku tua. Sialan! Andai saja aku seumuranmu pasti kami hanya berjarak sedikit saja. Aku dan Mela berjarak 22 tahun. Jarak yang sangat jauh, aku sadar jika aku terlalu tua untuknya," ucap Darsen merasa frustasi.


Pras menghela nafas, bagaimana cara supaya sang bos tidak menyerah begitu saja seperti ini? Darsen juga tidak mau mengutarakan perasaannya pada Mela. Dia terlalu malu dengan perasaannya dan terutama masalah umurnya.


"Bos, aku tidak enak denganmu. Secara tidak langsung aku menikungmu tapi aku tidak ingin begitu. Maafkan, aku! Aku akan membantu Bos untuk mendapatkan Mela," ucap Pras.


Darsen menatap Pras dengan intens. "Kau akan ku bunuh jika melakukan itu. Mela menyukaimu dan setidaknya tidak menyukai Leon yang tidak jelas itu. Aku akan mendukung kalian jika memiliki hubungan."


Pras menggeleng, ia tidak ingin begitu. Dia tetap bersimpuh di samping Darsen serta memohon maaf yang sebesar-besarnya. Persahabatan antara Darsen dan Pras sudah terjalin cukup lama, Pras tidak ingin rusak begitu saja karena masalah percintaan.


"Kembalilah bekerja! Jangan makan gaji buta! Hari ini kerjaan cukup banyak! Apalagi masalah Laura belum sepenuhnya selesai 'kan?" tanya Darsen.


Pras berdiri, ia menunduk hormat lalu keluar dari ruangan Darsen. Setelah itu Darsen menghela nafas panjang, sepertinya ia akan mengubur perasaannya dalam-dalam.

__ADS_1


Darsen mengalihkan suasana dengan kembali bekerja, ia melihat media sosial yang membicarakan girlgrup barunya. Pro dan kontra pasti ada namun Darsen tidak mau memikirkan itu.


Saat bersamaan, ponsel Darsen berbunyi yang ternyata telpon dari aplikasi. Mata Darsen melotot saat nama Grey yang menelponnya.


Angkat atau tidak, ya?


Dengan cepat Darsen mengangkatnya. Di telpon, Mela seolah sedang menangis. Darsen berusaha untuk mengubah suaranya supaya tidak di kenali oleh Mela.


"Hallo, kenapa kau menangis?" tanya Darsen.


"Hallo, Kak. Aku boleh curhat?"


"Hem .. curhatlah!"


"Aku sedih dan bahagia saat ini. Aku bisa mengutarakan perasaanku pada orang yang ku suka walau di tolak," ucap Mela.


"Jangan menangis! Kesedihanmu akan menular padaku jika kau menangis. Pasti ini semua ada hikmahnya. Tapi aku salut padamu karena bisa mengutarakan perasaan pada orang yang kau suka," jawab Darsen.


Mereka duduk bersebarangan di kantin agensi. Darsen akan makan makanan yang sama dengan para stafnya. Dia makan dengan nikmat sampai tidak menatap Pras yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya.


"Bos ... "


"Kau sudah membuat Mela menangis, itu yang aku tidak bisa maafkan," ucap Darsen.


"Maafkan aku, Bos! Tapi memang seharusnya aku menolaknya. Aku akan tetap membantu Bos mendapatkan Mela," jawab Pras yang tak di gubris Darsen.


Seusai makan, Darsen segera menuju ke suatu tempat untuk menyendiri. Dia ke makam mendiang istrinya. Seila Natasha, wanita yang dulu ia kagumi bahkan ia nikahi di depan pendeta. Kepergiannya masih meninggalkan banyak luka namun dengan kehadiran Mela setidaknya mengurangi rasa duka itu. Mela kini sudah mengubah hidupnya menjadi cerah kembali.


"Apa kabarmu, Seila? Aku merindukanmu. Kabar putra kita baik-baik saja dan tentunya aku mengabarkan kabar gembira untukmu. Aku menyukai adikku sendiri. Itu kabar gembiranya lalu kabar sedihnya, ia tak menyukaiku dan malah menyukai Pras," ucap Darsen sambil memegangi batu nisan putih itu.


Ini bukan pertama kalinya Darsen sakit hati dan kecewa namun kali ini terasa berbeda karena dia sakit hati konyol karena adiknya sendiri. Darsen tidak menyangka akan terjadi seperti ini, semua tidak ada hal yang tahu.


Setelah puas curhat dengan mendiang sang istri, Darsen memutuskan untuk kembali ke kantor agensi. Dia menyetir sendiri tanpa Pras, hanya kesendirian yang ia butuhkan saat ini.

__ADS_1


Kling ...


Grey


Nanti sore harus bertemu, aku akan memberikan kakak sesuatu.


Darsen hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Sepertinya ia sudah tidak berminat lagi untuk berkomunikasi dengan teman online yaitu Mela. Harapannya sudah tidak ada untuk mendapatkan Mela.


Grey


Kakak sibuk, ya? Luangkan waktu, Kak! Aku tunggu di taman yang kemarin, sore ini.


Darsen menghela nafas, sambil menyetir ia tak bersemangat sedikitpun. Bahkan saat lampu merah, ia hampir saja menerobos. Untung saja ia tersadar dari lamunannya.


Disisi lain.


Mela duduk di bangku lantai 1. Pekerjaannya sudah selesai semua, ia memperhatikan lalu lalang para artis yang ada keperluan di agensi. Salah satunya adalah Suzan dia artis senior yang bergabung dengan Agensi Ars 2 tahun yang lalu. Dia keluar dari agensi lamanya dan bergabung dengan Agensi Ars.


Ya, benar. Dia adalah mantan istri Prasatya.


Suzan Adelia, menikah dengan Pras saat masih berumur 19 tahun dan bercerai di umur 23 tahun tanpa memiliki buah hati. Kabarnya, Suzan berselingkuh dengan bos agensinya dulu namun itu hanya rumor yang tidak tahu kebenarannya.


Mela ingin sekali meminta tanda tangannya, ia segera menghampirinya namun saat akan meminta tanda tangan malah mendapat ucapan yang tidak mengenakan hati.


"Minggir! Aku sedang sibuk, kau tahu tanda tanganku sangat mahal. Apalagi kau sangat bau, huh ... kau bekerja apa? Memungut sampah?" ucap Suzan.


Darsen yang datang dari pintu masuk langsung merangkul tubuh Mela membuat semua orang memandangnya lagi.


"Ya, dia memungut sampah di ruanganku? Apakah ruanganku sebau itu? Dan untuk apa datang kemari?" tanya Darsen.


Suzan tersenyum manis pada Darsen. "Pak Darsen, jangan terlalu ketus! Aku ini adalah aset berharga Agensi Ars."


"Cih ... dengan kesombonganmu itu akan membuatmu hancur sendiri. Aset kau bilang? Agensi ku jika sampai kehilanganmu tidak akan membuatnya bangkrut. Jadi segeralah urus keperluanmu lalu langsung pergi dari sini! Dan kau hanya menambah luka untuk Pras," ucap Darsen dengan sorot mata tak main-main.

__ADS_1


__ADS_2