Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 19 : Tak pernah dipakai


__ADS_3

Darsen dan Mela berangkat bekerja bersama. Di dalam mobil mereka saling terdiam namun Darsen melirik Mela yang seperti orang yang tidak bertenaga. Darsen menepikan mobil lalu mencoba mengajak Mela mengobrol.


"Maaf! Kakak kemarin ... "


"Kakak tidak sengaja 'kan? Aku tahu jika kakak sangat merindukan Kak Seila," ucap Mela memotong ucapan Darsen.


"Mel, bukan begitu ... "


"Kak Darsen, aku paham kok. Sudah ya jangan di bahas lagi!" ucap Mela sambil tersenyum.


Darsen menghela nafas, apakah Mela ini sangat polos atau bagaimana? Kenapa setelah ia berciuman malah berpikiran jika Darsen merindukan mendiang istrinya?


Mela menutupi kecanggungan dengan memainkan ponselnya. Dia berkirim pesan pada Leon, ia harus mendekatkan diri pada calon suaminya itu sebelum Leon datang untuk berjumpa dengannya.


Darsen melajukan mobil, ia melirik Mela yang berkirim pesan sambil tersenyum. Betapa sakit hati ia melihatnya. Mungkin memang tidak ada tempat di hatinya saat ini.


"Mel, pipimu terluka memang karena jatuh?" tanya Darsen.


"Iya, Kak. Kakak jangan khawatir!" jawab Mela.


Darsen menguatkan hatinya lebih dalam lagi. Entah sampai kapan cintanya bertepuk sebelah tangan namun bisa melihat Mela tersenyum sudah membuatnya sangat bahagia.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata notifikasi dari sebuah aplikasi. Untung saja Mela tak menyadarinya, Darsen segera membaca pesan itu yang rupanya memang benar dari Mela.


Grey


Nanti ketemu yuk!


Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.


Darsen tersenyum, ia menyimpan ponselnya dan akan membalasnya nanti setelah sampai kantor.


"Mel, saat ini kau suka dengan siapa?" tanya Darsen.


Mela terkejut, ia menyimpan ponselnya. Pertanyaan dari sang kakak memang membuatnya merasa malu. Mela berdehem lalu tangannya memainkan rambut panjangnya.


"Ehem ... aku suka dengan ..."


"Dengan siapa?"


Mela menggeleng, ia malu jika harus mengatakan jika mengidolakan Pras si asisten kakaknya.

__ADS_1


"Dengan Leon?" tanya Darsen.


Mela menggeleng membuat Darsen semakin penasaran.


"Lalu dengan siapa?"


"Masih orang sekitar kok," jawab Mela.


Siapa? Apa itu aku? Batin Darsen penuh percaya diri.


Mela tersenyum sendiri mengingat wajah Pras yang tampan serta sifatnya yang lucu membuat siapapun akan menyukainya. Tidak seperti Darsen yang dingin, galak serta memiliki tatapan yang tajam membuat semua orang bahkan media takut dengannya.


Eh ... tapi kenapa sekarang Kak Darsen jadi sok dekat denganku? Biasanya saja ia sangat ketus denganku tapi hari ini ia sudah mengajakku mengobrol sepanjang perjalanan.


Sesampainya di kantor.


Mela memakai seragamnya dan kini harus membuang semua sampah di semua lantai. Dia bekerja sambil mendengarkan musik sehingga ia tidak merasa bosan saat bekerja.


Yeri lewat di depannya dan lagi-lagi ia seolah tidak mengenal Mela. Gadis tidak tahu terima kasih itu lupa diri jika Mela yang membujuk Darsen untuk tidak mengusirnya dari agensi. Tak mau ambil pusing, Mela melanjutkan pekerjaannya.


Yeri masuk ke ruang evaluasi. Disana sudah ada 5 orang anggota girlgrup yang akan segera debut. Mereka sudah merilis 1 album lagu dan 1 video clip untuk lagu utama. Yeri duduk menyendiri karena ia memang tidak di sukai anggota yang lain. Semua orang yang berkepentingan sudah datang termasuk Darsen yang kini tengah memakai kemeja warna biru muda serta celana jeans membuatnya sangat berkharisma. Walau badannya belum begitu sembuh namun ia harus tetap memberi pengarahan kepada girlgrup barunya.


"Mengerti, Pak," jawab mereka serempak.


Darsen melihat jam tangannya, ini waktunya mengunggah profil biodata para anggota girlgrup baru naungan Agensi Ars yang di namai Cherry Girls. Sebelum debut, biodata para idola harus di unggah di akun resmi Agensi Ars untuk memperkenalkan pada publik lalu setelah itu baru cuplikan video klip dari lagu mereka.


Darsen memandang Yeri yang duduk menyendiri. Rumornya, satu agensi sudah tahu insiden Yeri yang menampar seorang petugas kebersihan. Belum apa-apa namanya sudah menjadi jelek karena ulahnya sendiri.


"Yeri, good luck!" ucap Darsen yang melihat Yeri melamun.


Yeri terkejut. Dia berterima kasih atas ucapan dari sang bos.


"Untuk semuanya juga good luck. Intinya kesuksesan ada pada kalian sendiri," sambung Darsen.


Darsen lalu mengakhiri pertemuan kali ini dan ia keluar untuk kembali mengurus pekerjaannya yang lain namun saat akan masuk lift ia bertemu dengan Mela yang kesusahan membawa banyak kantong sampah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Darsen.


"Mau buang sampah, Kak."


"Pras, kau angkat sampah ini dan buang ke luar!" pinta Darsen.

__ADS_1


Pras mengernyitkan dahi tapi ia tidak mau karena bukan pekerjaannya tapi Darsen memelototinya dan membuatnya langsung mau ketimbang terkena makian sang bos.


"Mela, datanglah ke ruanganku!" pinta Darsen lalu berjalan masuk ke lift.


Mela mengikutinya dan masuk ke lift berdua dengan sang kakak. Rasa takut dengan kakaknya kini sudah berkurang karena sang kakak mulai sering mengajaknya mengobrol.


Setelah sampai di ruangan Darsen. Darsen duduk di sofa dan Mela berdiri di depannya.


"Jangan jadi petugas kebersihan! Aku akan menempatkanmu bersama Pras sebagai partner kerjanya. Kau bisa belajar dengan Pras bagaimana mengurus agensi ini," ucap Darsen.


Mela mengernyitkan dahi, bekerja dengan Pras? Orang yang ia kagumi? Ah ... pasti akan menyenangkan namun Mela takut jika rasa sukanya kian membesar kalau bekerja dengan Pras. Mela menggeleng tidak mau.


"Maaf, Kak. Aku sudah nyaman menjadi tukang bersih-bersih."


"Tapi jika Bapak sampai tahu pasti dia akan marah."


Mela menggeleng. "Jangan sampai Bapak tahu, Kak."


Darsen lalu menyuruhnya untuk membersihkan ruangan ini. Mela mengangguk. Darsen sengaja mengotori ruangan ini supaya Mela bisa datang ke ruangannya untuk membersihkannya sementara Darsen bisa memandangnya sampai puas.


Darsen mempunyai ide, bagaimana jika ia sedikit mengerjai sang adik? Pasti akan seru, ia merobek kertas lalu meremasnya, kemudian setelah itu melemparnya ke lantai dan ia melakukan itu beberapa kali.


Mela yang sedang membersihkan debu di kaca melirik ulah sang kakak. Dia segera memunguti kertas-kertas tersebut namun kertas-kertas lain berjatuhan membuatnya menatap Darsen yang pura-pura tidak tahu.


"Kak?" ucap Mela.


"Hem ..."


"Kenapa kakak buang-buang kertas?"


Darsen memandang Mela dingin membuat Mela bergidik ngeri.


"Kenapa? Kau tinggal memungutnya?" tanya Darsen.


"Oh ... baiklah."


Darsen tersenyum ketika Mela tidak membantah, ia melakukannya lagi sampai habis 1 buku. Mela tak habis pikir namun ia tidak mau melawan kakaknya yang galak itu.


Darsen memandang sepatu Mela, itu bukan sepatu yang di berikannya namun adalah sepatu pemberian Pras saat Mela berulang tahun ke 17 dan Mela juga memakai jam tangan pemberian teman onlinenya itu. Kenapa pemberian Darsen langsung tidak pernah Mela pakai?


"Mela, kenapa kau tidak pernah memakai barang pemberian kakak?" tanya Darsen heran.

__ADS_1


__ADS_2