Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 48 : Maafkan aku, Ibu!


__ADS_3

Mela menuju ke kamar mandi kesekian kalinya. Dia sangat mual serta mengalami demam. Hanya putra kecilnya yang menemaninya di apartemen, sedangkan Darsen berada di luar


kota untuk menghadiri suatu acara. Velino berjongkok di sebelah Mela yang tengah meringkuk di kamar mandi. Bocah kecil itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


“Vel, ambilkan mama kotak obat di atas meja!” pinta Mela.


Velino mengangguk lalu segera mengambilkan kotak itu dan bergegas menuju kamar mandi


lagi. Mela menerimanya dan mengambil minyak kayu putih dan mengusapkan pada


bawah hidungnya. Aroma minyak kayu putih bisa sedikit mengurangi rasa mualnya


dan seketika itu ia bisa jauh lebih lega.


“Apa aku telpon Papa saja?” tanya Velino.


“Jangan! Papamu sedang sibuk, mama tidak ingin membuatnya cemas.”


“Tante bukan mamaku.”


Bocah itu ternyata masih belum mengerti, Mela hanya tersenyum simpul sambil mengelus


kepala boca itu. “Suatu saat pasti kau paham.”


Mela berdiri dan menggandeng Velino untuk menuju ke dapur. Dia akan membuatkan


susu untuk Velino. Bocah itu masih memperhatikan gerak-gerik Mela dan mengamati


setiap pergerakan Mela. Mela memang sangat sayang dengan Velino bahkan sudah


sedari dulu semenjak menjadi keponakannya.


“Vel, minum susunya!” ucap Mela.


“Iya.”


Mela menunggu Velino untuk menghabiskan susunya lalu telinganya mendengar suara bel


pintu. Mela meninggalkan Velino di dapur dan membukakan pintu. Terlihat Amira datang sambil menenteng seplastik buah dan makanan.


“Ibu?”


“Kenapa terkejut melihat ibu?” tanya Amira.


Mela mundur perlahan dan membiarkan Amira masuk, Velino keluar dari dapur dan langsung memeluk neneknya.  Mela masih trauma


melihat Amira yang pernah membuatnya keguguran bahkan masih belum ia maafkan. Amira


menarik Mela untuk duduk lalu memberikannya makanan namun Mela hanya diam tak


bergeming. Dia masih takut bertemu dengan Amira.


“Mela, kenapa melamun?” tanya Amira membuat Mela terkejut.


“Ibu kenapa datang ke mari?”

__ADS_1


Amira tersenyum kecil. “Ibu ingin menengok cucu dan menantuku tidak boleh?”


Mela terdiam, sikap ibu memang nampaknya manis namun semua itu biasanya penuh dengan


kebohongan.


“Mela, aku tahu jika ibu sangat salah. Namun apakah ibu yang sudah merawatmu sejak SD


layak kau musuhi seperti ini? Bahkan Darsen yang putra ibu sendiri juga menjauhi ibu. Kesalahan ibu memang fatal namun ibu ingin meminta maaf yang tulus pada kalian.”


Tangan Mela bergetar, air mata langsung menetes tanpa henti dan membuat Velino langsung


memeluk Mela. Mela menangis sejadi-jadinya dan membuat ibu merasa sangat


bersalah.


“Mela,maafkan ibu! Ibu sangat menyesal. Saat itu ibu sedang khilaf. Tolong dimaafkan, ya?”


Mela menepis tangan ibu dan menyuruhnya keluar. Dia memang anak yang durhaka telah mengusir ibu sekaligus ibu mertuanya sendiri namun hati tak dapat dibohongi jika ia


sangat sakit hati.


“Pulanglah, bu! Jangan datang sekarang! Walau kejadian itu sudah beberapa bulan yang lalu


namun aku masih tidak rela memaafkan ibu yang sudah sengaja membunuh anakku,”


teriak Mela.


Ibu menangis tersedu-sedu, ia keluar dengan sangat lemas. Setelah kepergian ibu, Mela


namun melihat Mela menangis terisak membuat Velino sangat tidak tega.


Malam hari.


Darsen pulang dan langsung menuju ke apartemen. Dia tergesa-gesa dan langsung membangunkan Mela yang tengah tertidur pulas sambil memeluk Velino. Mela terkejut saat melihat Darsen yang seharusnya pulang lusa tiba-tiba sudah ada di rumah.


“Kakak?” ucap Mela sambil mengucek matanya.


“Mela, bangun! Ibu meninggal.”


DEG!


Mela yang masih sangat mengantuk tiba-tiba mendadak syok, ia membulatkan mata dan mencoba mendengarkan penjelasan Darsen dengan seksama.


“Ibu kecelakaan, mobil ibu masuk jurang. Kita harus segera pulang ke rumah. Oh ya, aku ke kamar mandi sebentar. Kau bangunkan Velino, ya!”


Ibu meninggal? Tidak mungkin, ibu baru tadi siang datang ke sini. Pasti kakak bohong.


5 menit kemudian.


Darsen keluar dari kamar mandi, ia melihat Mela belum apa-apa bahkan Velino masih


tertidur pulas.


“Sayang, kenapa? Ayo berkemas! Jenazah ibu akan pulang malam ini juga.”

__ADS_1


“Kakak pasti bohong, ibu sehat-sehat saja. Dia tadi siang baru saja datang ke sini.”


“Ibu kecelakaan, Mel. Hidup dan mati memang tidak ada yang tahu.”


Mela tiba-tiba menangis histeris, pasalnya ia sangat menyesal tadi siang sudah mengusir


Amira. Darsen menenangkannya dan memeluknya dengan erat. Tangisan Mela membuat


Velino terbangun, ia mengucek matanya dan melihat kedua orang tuanya berpelukan.


“Papa sudah


pulang?” tanya Velino.


Mereka melepas pelukannya dan memeluk Velino. Lagi-lagi bocah kecil itu tidak mengerti akan situasi ini.


****


Keesokan harinya.


Pemakaman di hadiri banyak orang, mereka sedih saat mengetahui Amira tiba-tiba meninggal dunia. Darsen pun juga tak kalah sedih, ia tak kuasa membendung air matanya.


Selama ini ia pun belum menjadi anak yang baik untuk ibunya. Pak Adi walau sempat sangat kecewa dengan Amira merasa sangat kehilangan. Sudah 40 tahun lebih mereka bersama dan kini terpisahkan oleh maut. Lexter yang menghadiri


pemakaman hanya bisa diam dan tak banyak berkomentar.


Setelah pemakaman selesai. Mereka pulang ke rumah, Velino yang sudah paham jika


neneknya meninggal menangis tanpa berhenti.  Darsen menggendongnya dan mengajaknya untuk


keluar sebentar sementara Mela mendekati Pak Adi dan memeluknya.


“Pak, aku menyesal, kemarin ibu sempat datang ke apartemen dan meminta maaf padaku namun aku malah mengusirnya,” ucap Mela.


“Yang terpenting sekarang sudah memaafkan ibu ‘kan?”


Mela mengangguk. Pak Adi mengusap air mata Mela yang mengalir deras.


“Ibu pasti sudah mendengarnya di sana, jangan bersedih lagi! Ini bukan kesalahanmu!”


Mela mengangguk, ia melepaskan pelukannya dan langsung terduduk di sofa namun saat mencium aroma beberapa kue yang ada di depan meja seketika ia mual.


Hueeeeek...


Mela muntah, Pak Adi langsung membawanya ke kamar mandi sedangkan Darsen yang mendengar suara Mela langsung masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan Mela lalu dan menemukan Mela di kamar mandi.


“Sayang, kau kenapa?” tanya Darsen.


“Perutku mual.”


“Jangan-jangan Mela hamil lagi?” tanya Pak Adi.


****


Bentar lagi TAMAT gaes.

__ADS_1


__ADS_2