Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 14 : Cemburu


__ADS_3

PRASATYA (Pras)




(Visual gak cocok skip aja)


Visual Darsen menurut kalian siapa ya??


***


"Mel, kenapa bengong?" ucap Darsen melihat sang adik yang melamun sambil menggenggam tangannya sangat kuat.


Mela sangat terkejut, ia menatap wajah sang kakak yang heran dengannya. Mela menatap Darsen yang juga menatapnya. Rupanya Mela tadi hanya berkhayal jika sang kakak menciumnya. Karena mimpi buruk itu membuatnya selalu membayangkan hal yang berlebihan.


"Kenapa wajahmu pucat sekali," tanya Darsen.


"Ah ... tidak, Kak. Aku hanya mengantuk mungkin karena kelelahan bekerja di kantor tadi."


Darsen menepuk punggung Mela lalu menyuruhnya untuk menghabiskan makanan dan setelah itu ia boleh pulang. Mela mengangguk, ia melepas genggaman tangan Darsen karena sudah beberapa menit bergandengan.


Setelah selesai makan, mereka segera keluar dari warung itu. Darsen mencarikan taksi untuk Mela dan menunggu Mela sampai naik ke taksi.


Disini Mela sangat canggung karena membayangkan yang tidak-tidak dengan kakak angkatnya itu.


Aku yakin jika Kak Darsen orang yang baik. Dia tidak mungkin melakukan itu pada adiknya.


Mela sudah naik taksi, ia membuka kaca dan melambaikan tangan pada Darsen. Darsen juga membalasnya namun tiba-tiba berdehem.


"Ehem ... sudah sana pulang!" ucap Darsen.


Mela tersenyum kecil, ia segera menyuruh sopir taksi untuk melajukan mobilnya.


Mimpi itu terasa sangat nyata. Dimana Kak Darsen memperkosaku di hutan, aku sangat takut jika hal itu terjadi. Apa aku harus menjaga jarak dengannya?


Setelah sampai rumah seperti biasa Pak Adi menyambut kedatangan Mela. Dia memang sangat menyayangi putri angkatnya itu.


"Tidurlah! Besok bekerja 'kan? Oh ya, Darsen mempekerjakanmu di bagian apa?" tanya Pak Adi.


Mela terdiam sejenak, sang bapak tidak tahu jika dirinya bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor Agensi Ars.


"Pak, aku sangat lelah. Bolehkah aku langsung ke kamar?" tanya Mela mengalihkan pembicaraan.


"Baik, sayang. Istirahatlah!" jawab bapak.


Mela langsung ke kamar, ia langsung duduk di depan laptop dan mulai mengetik novelnya. Entah mengapa ia mempunyai ide untuk membuat novel aneh itu. Percintaan kakak adik yang terlarang walau bukan sedarah namun pasti akan menimbulkan pro dan kontra bagi pembacanya.


Saat tengah mengetik, sebuah notifikasi aplikasi berbunyi. Ternyata itu adalah pesan dari Sena, teman onlinenya.


Sena


Sedang apa?


Mela


Sedang menulis novel. Kamu?


Sena


Hanya menatap langit melalui jendela.


Mela


Boleh aku menelponmu?


Sena

__ADS_1


Maaf, tidak bisa. Disini sedang banyak orang.


Mela


Baiklah.


Terima kasih untuk jam tangannya. Aku sangat suka. Aku tidak enak sekali tidak memberi mu apa-apa.


Sena


Kau sudah memberikan untukku.


Mela


Memberikan apa?


Sena


Tidak apa-apa.


Mela


Hem ... aneh.


Kak Sena umurnya berapa?


Sena


Tebak umurku berapa.


Mela


25? Mungkin.


Sena


Mela


Jadi kakak sudah tua bahkan sudah beristri? Wah ... jika begitu aku tidak enak dengan istri kakak.


Sena


Haha ... Ya memang aku sudah tua. 40 tahun.


Setelah itu Mela tidak membalas membuat Darsen sedih. Apakah Mela sangat tidak suka dengan pria yang lebih tua darinya? Darsen menghela nafas panjang, ia menutup jendela ruangan tempat putranya di rawat lalu mendekati putranya yang sudah terlelap.


"Vel, papa harus bagaimana? Papa sangat menyukai tantemu namun Papa sadar jika umur kami sangat jauh dan dia pasti tidak mau dengan pria tua sepertiku," ucap Darsen mengusap rambut Velino.


Bahkan dia saja tidak membalas pesanku setelah mengetahui umur teman onlinenya.


Darsen menatap ponselnya yang belum ada pemberitahuan pesan dari Mela. Mungkin saja gadis itu sangat jijik telah berkirim pesan dengan pria tua, itu yang ada di pikiran Darsen.


Setengah jam kemudian.


Kling ...


Darsen tersenyum karena pada akhirnya Mela membalas pesan.


Grey


Seumuran dengan kakakku. Kakak ku yang galak juga 40 tahun.


Darsen


Sedang apa baru bales?


Grey

__ADS_1


Calon suamiku tadi menelpon. Maaf ya, Kak.


Membaca pesan itu rasanya seperti di tusuk jarum ribuan kali. Mela sudah mengakui calon suaminya membuat Darsen kehilangan harapan. Darsen langsung memblokir akun Mela supaya tidak bisa mengirim pesan lagi padanya dan sebaliknya.


Disisi lain, Mela yang tengah ingin membalas pesan dari temannya itu mendadak di blokir. Apa ia melakukan hal yang salah? Atau jangan-jangan karena ia menyebut calon suaminya?


Kenapa orang ini sangat aneh? Batin Mela.


***


Keesokan harinya.


Velino kini belum di perbolehkan pulang, dokter masih memeriksanya dan Darsen menunggunya di luar.


Pak Adi dan Mela datang, Pak Adi menyuruh Darsen untuk berangkat bekerja sementara beliau bisa menjaga sang cucu tercinta.


"Terima kasih, Pak. Aku dan Mela berangkat ke kantor dulu," ucap Darsen.


Dia segera keluar dari rumah sakit dengan Mela di belakangnya. Mela menatap punggung sang kakak yang bidang. Gunung es itu memang sangat menyeramkan walau di lihat dari belakang.


Setelah sampai halaman, Pras membukakan pintu untuk sang bos dan Mela. Pras melihat wajah sang bos yang masam bahkan tidak mau menatap Mela.


Sepertinya ada masalah di antara mereka.


Di dalam mobil, Darsen hanya menatap kaca mobil sedangkan Mela yang ada di sebelahnya sangat canggung sekali.


"Bos, nanti ada evaluasi bulanan untuk para calon idola. Yeri bagaimana, bos?" tanya Pras.


Darsen tidak menjawab membuat Pras bertambah heran. Pras bertanya pada Mela namun gadis itu tidak tahu apa-apa. Mungkin saja Velino sedang sakit membuat Darsen tidak bersemangat seperti ini.


Mela menyolek tangan Darsen, ia merasakan tubuh sang kakak yang sangat panas.


"Kakak demam?" tanya Mela.


Darsen terdiam. Pras memandang dari kaca spion atas dan terlihat sang bos sedang sakit.


"Bos, kita balik ke rumah sakit saja, ya? Wajah Bos sangat pucat sekali," ucap Pras.


Darsen menggeleng, ia tetap ingin datang ke kantor karena ini adalah penilaian bagi calon idola, artis bahkan aktornya.


Di kantor.


Darsen berbaring di sofa dengan lengan yang menutup matanya. Badannya sangat panas sekali dan entah mengapa jika putranya sakit maka ia juga akan ikut sakit.


Pras datang akan mengatakan jika mereka sudah berkumpul di ruang evaluasi namun Darsen meminta di undur 1 jam.


Pras mendekatinya, melihat sang bos sakit ia segera memanggilkan Dokter Rafi.


Setengah jam kemudian.


Dokter Rafi datang, ia memeriksa keadaan Darsen yang masih berbaring di sofa.


"Pras, aku bukan dokter cinta. Kenapa kau memanggilku untuk memeriksa bos sintingmu itu?" ucap Dokter Rafi.


"Dia demam, Dok," jawab Pras.


Dokter Rafi menyingkirkan lengan Darsen yang menutupi wajah. Dia melihat wajah Darsen yang seperti kepiting rebus.


"Dia benar-benar sakit?" tanya Dokter Rafi heran. "Kau ingat saat istrinya meninggal dia juga demam parah seperti ini beberapa hari. Aku yakin ini pasti ada penyebabnya juga," sambung Dokter Rafi.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu di ketuk, Pras menyuruh untuk langsung masuk dan melihat Mela datang.


"Kak Pras, kenapa memanggilku?" ucap Mela.


"Kau apakan si Bos sehingga sakit seperti ini?" tanya Pras membuat Mela kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2