Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 24 : Menghindar


__ADS_3

"Mela, kenapa kau menangis?" tanya Pak Adi lalu menatap tajam Darsen.


Darsen yang di depan Mela hanya terdiam. Jika Pak Adi sampai tahu pasti beliau akan menjauhkan Mela darinya.


"Kakek, tadi Papa memarahi Tante Mela," ucap Velino yang masih polos.


Mela masih menangis sesegukan, Pak Adi menggandengnya dan tentu saja memarahi Darsen.


"Apa yang kau lakukan pada Mela? Bapak tahu jika kau tidak suka dengan Mela. Tak jarang sekali Bapak melihat kau kasar dengan adikmu sendiri. Kau sudah dewasa Darsen, suka sekali membuat adikmu menangis," ucap Pak Adi.


Pak Adi merangkul Mela dan membawanya keluar dari kamar Darsen. Mereka menuju ke kamar Mela. Pak Adi membaringkan Mela namun gadis cantik itu masih saja sesegukan. Pak Adi duduk di sebelah Mela, tangannya mengusap air mata Mela dan mencium keningnya.


"Kak Darsen melakukan apa padamu sehingga kau takut dan menangis seperti ini?" tanya Pak Adi.


Mela menggeleng, ia tak mungkin memberitahu yang sebenarnya jika Darsen menyatakan cinta padanya bahkan sudah menciumnya dua kali.


"Tadi Kak Darsen memarahiku karena tidur di kamarnya," ucap Mela berbohong.


"Tapi dia tidak memukulmu 'kan?"


Mela menggeleng, Pak Adi lega jika Mela tak sampai di pukul oleh Darsen walau tak mungkin. Darsen adalah orang yang sangat menyayangi perempuan dan tidak mungkin sampai memukulnya. Pak Adi mengelus kening Mela, menidurkannya ke alam mimpi. Pak Adi sangat menyayanginya melebihi Darsen, putra kandungnya sendiri. Mela sangat beruntung bisa mendapat seorang ayah angkat seperti Pak Adi yang tulus menyayanginya.


Keesokan harinya.


Amira, ia terbangun mendapati sang suami tidak ada di sebelahnya. Dia bangun dari tempat tidur lalu turun dari kamar. Saat akan turun, ia bertemu dengan kepala pembantu yaitu Bi Inah.


"Bapak mana, Bi?" tanya Amira.


"Oh ... Bapak tidur di kamar Non Mela."


Amira terkejut, ia lantas ke kamar Mela dan saat itu juga sang suami membuka pintu.


"Sudah bangun?" tanya Pak Adi.


"Kenapa tidur di kamar, Mela?"

__ADS_1


Pak Adi turun melangkah menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Amira masih menunggu jawaban dari suaminya. Pak Adi yang wajahnya tak jauh berbeda dari Darsen masih saja terlihat tampan. Di usianya yang sudah menginjak 60 ke atas masih di sebut sebagai kakek tampan oleh teman-temannya.


"Darsen dan Mela bertengkar tadi malam jadi aku melerai mereka dan menenangkan Mela yang menangis sesegukan," ucap Pak Adi.


"Mereka bertengkar? Tumben sekali?"


Pak Adi menghela nafas, ia meletakan gelas di meja lalu meraih roti bakar yang sudah di siapkan para pembantunya. Pak Adi mengunyahnya dengan tenang sedangkan Amira menuju ke kamar Mela.


Wanita itu membangunkan Mela yang tadi malam hanya tidur beberapa jam saja. Mela langsung bangun dan mengucek matanya.


"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi antara Darsen dan kau tadi malam? Jika terjadi hal yang aneh di antara kalian maka Ibu tak segan mengembalikanmu ke panti asuhan," ucap Ibu.


"Tidak ada, Bu. Kami tidak melakukan apapun," jawab Mela.


Amira menatap Mela dengan jengah, ia keluar dari kamar Mela dan meninggalkan Mela yang masih syok atas kejadian kemarin malam. Dia masih teringat dengan ciuman panas tadi malam.


Rasa haus menghampirinya, Mela segera ke dapur untuk mengambil minum. Saat ke dapur, ia tak sengaja bertemu dengan Darsen yang juga sedang mengambil minum. Mela menghindar namun Darsen mencegahnya dengan menyekal tangan Mela.


"Mel, mau kemana? Kenapa menghindar?" tanya Darsen.


Mata Mela memerah, ia hampir menangis namun Darsen tetap pada pendiriannya untuk mengajak mengobrol Mela. Darsen ingin meminta maaf karena sikap egoisnya yang membuat Mela pasti tertekan.


"Aku hanya ingin meminta maaf, kakak sangat salah. Pasti kau sangat terkejut dengan kemarin malam."


Mela meneteskan air mata, ia mengangguk dan memaafkan Darsen. Darsen memeluknya dengan hangat, ia merasa bersalah pada Mela. Mela melepaskan pelukan sang kakak lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap datang ke panti asuhannya dulu. Mela mandi secepat kilat, ia memakai dress serta memakai bando warna biru muda. Setelah itu ia turun untuk makan bersama dengan keluarganya.


"Putri Bapak sudah mandi? Ayo makan dulu!" ajak Pak Adi.


Mela mengangguk lalu duduk di sebelah sang bapak. Pak Adi mengambilkan lauk untuk putrinya, Mela sangat tidak enak di perlakukan berlebihan oleh bapak angkatnya namun ia juga tak bisa menolak.


Amira juga terlihat mengambilkan jus untuk Mela, seperti biasa jika di depan sang suami ia harus bersikap baik pada Mela.


Darsen menatap Mela, Mela juga menatapnya walau sekilas namun dalam lubuk hatinya terbesit perasaan lain yang tak biasa. Semenjak Darsen menyatakan cintanya, Mela seolah menjadi salah tingkah sendiri dan berharap ini hanya mimpi.


"Darsen, Velino, ini hari minggu. Kalian mau ke mana?" tanya Amira.

__ADS_1


"Di rumah saja," jawab Darsen.


"Papa, aku ingin ke kebun binatang," rengek Velino.


Darsen menolak, ia hari ini hanya ingin di rumah saja tanpa ada yang menganggu. Tentu saja membuat putra satu-satunya sedih. Akhir-akhir ini Darsen kurang memperhatikan Velino, urusan pekerjaan yang sibuk dan masalah percintaannya membuat dirinya sejenak melupakan Velino.


"Velino mau ikut dengan kakak ke panti asuhan?" tanya Pak Adi.


"Ke panti? Aku mau," jawab Velino semangat.


Sedangkan Darsen terkejut. Ke panti asuhan bersama Mela?


"Pak, aku juga ingin ikut," ucap Darsen.


Bapak mengernyitkan dahi. "Katanya hanya ingin di rumah?"


"Eh ... jika Velino ikut, aku juga harus ikut untuk menjaganya," jawab Darsen hanya beralasan saja.


Mereka akhirnya pergi ke panti asuhan kecuali Amira yang tidak bisa ikut karena sedang ada arisan. Setelah sarapan, mereka pergi menggunakan mobil yang sama dan Darsen yang menyetir. Mela ada di depan duduk di sebelah Darsen, sedangkan Pak Adi dan Velino ada di belakang.


"Bagaimana masalah Laura?" tanya Pak Adi.


"Sudah selesai," jawab Darsen.


"Secepatnya kau harus mencari istri lagi. Kasian dengan anakmu dia pasti kesepian. Punya Papa tapi jarang perhatian dan hanya memikirkan diri sendiri," oceh Pak Adi.


Darsen tak menggubris, yang di ucapkan sang bapak salah besar. Justru ia sangat sayang dengan putranya namun rasa sayang itu masih tertutup cintanya yang sedang kambuh pada Mela.


"Mela, kau masih berhubungan baik dengan Leon?" tanya Pak Adi.


"Masih, Pak. Setiap malam kami bertelepon," jawab Mela.


Pak Adi tersenyum, sedangkan Darsen cemberut, tentu saja ia sangat cemburu mengingat sebentar lagi pria yang beruntung itu bisa menikahi Mela.


"Leon 2 bulan lagi akan datang menemuimu, jika dia melamarmu Bapak harap kau siap untuk menerimanya," ucap Bapak.

__ADS_1


__ADS_2