
Keesokan harinya.
Mela terbangun dengan keringat dingin, rupanya ia bermimpi buruk. Sama seperti mimpi pertama, mimpi kedua ini malah tentang Velino. Keponakannya itu di culik oleh orang-orang jahat.
"Mel, sudah bangun? Ini minum air putih dulu!" ucap ibu.
"Pak, Bu. Aku dimana?" tanya Mela masih sangat bingung.
Mela menenggak air putih itu sampai habis, ia merasa sangat dehidrasi sekali seperti seharian tidak minum.
Terdengar suara pintu terbuka, mereka melihat Darsen masuk yang sudah memakai baju formal siap untuk berangkat bekerja.
Seperti biasa, bagi Mela sang kakak selalu menampilkan ekspresi dingin seolah sangat membencinya.
"Pak, Bu, Bocah-bocah nakal dan para orang tuanya sudah datang," ucap Darsen.
Mela bingung yang di maksud oleh Darsen. Bapak dan ibu langsung turun menemui mereka sedangkan kini ada hanya ada Darsen dan Mela di kamar. Mela menunduk takut melihat tatapan Darsen yang sangat tajam.
"Tadi malam tidak ada pria yang melakukan itu padamu 'kan?" tanya Darsen.
Mela mulai mendongak, ia tidak mengerti ucapan dari Darsen. Darsen menghela nafas lalu mendekati Mela, Mela sangat ketakutan. Jika Darsen mendekatinya maka ia akan menyentilnya atau mencubit hidungnya dengan kuat. Mela mulai mundur dan memejamkan namun sesuatu yang terasa hangat menempel pada dahinya. Mela membuka mata, ia melihat tangan Darsen menempel pada keningnya.
"Untung saja demam mu sudah turun. Kau sempat demam saat tengah malam dan terus mengigau membuat orang tuaku sangat cemas," ucap Darsen namun ia mengernyitkan dahi saat melihat Mela ketakutan.
Darsen melepas tangannya pada dahi Mela lalu sudah bersiap-siap menyentil dahi putih itu namun Mela sudah membuat tameng dengan menutup dahinya menggunakan kedua tangannya. Darsen tersenyum kecil, ia malah mencium kening Mela dan mengelus kepalanya.
"Jadilah anak yang baik dan jangan terlalu bodoh juga!" ucap Darsen.
Ekspresi Mela sangat terkejut, baru pertama kali ini Darsen mencium keningnya. Sang kakak juga tersenyum manis kearahnya. Apakah ini hanya mimpi? Sejak kapan Darsen mulai bersikap halus padanya?
"Ya sudah, ayo turun untuk menemui teman-temanmu!" ucap Darsen sambil berjalan ke arah pintu.
"Kak ... "
Darsen membalikan badan, ia bingung namun baru sadar ketika melihat kaki Mela yang masih sakit.
"Huh ... Kenapa kau selalu merepotkanku?" gerutu Darsen.
Darsen membantu Mela untuk berjalan. Dia meliriknya lalu membuang muka, tak baik memandang wajah cantik sang adik dalam arti lain.
Saat sudah sampai di ruang tamu, Mela melihat teman-teman dan para orang tuanya duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Orang tua mereka langsung menghampiri Mela dan meminta maaf sebesar-besarnya.
"Mela, maafkan teman-temanmu, ya? Mereka hanya bercanda denganmu dan tidak bermaksud untuk membuatmu ..."
"Bercanda? Mela di jebak dan mereka memesan seorang pria untuk menodai Mela masih bisa di bilang bercanda?" sahut Darsen merasa sangat marah.
Mela sangat terkejut, ia baru saja teringat jika kemarin ia bersama teman-temannya berada di hotel dan setelah meminum jus yang di berikan Carla setelah itu ia tidak mengingat apa-apa.
"Apa benar yang di ucapkan kakak ku? Tapi kenapa?" tanya Mela dengan mata yang memerah.
Teman-temannya menunduk tidak berani menatap Mela kecuali Sisi yang berani berbicara.
"Maaf, Mel! Aku sudah memberitahu mereka jika perbuatan itu tidak baik namun mereka ..."
Angel langsung menyikut Sisi dan Sisi langsung terdiam. Angel berdiri lalu menghampiri Mela, ia memohon maaf pada Mela namun Mela memalingkan wajah. Betapa sakit hati kepada teman-temannya yang sudah ia percayai selama ini.
Semua teman-temannya mengikuti Angel untuk segera meminta maaf, mereka mencoba memeluk Mela namun langsung di cegah oleh Darsen.
"Minta maaf juga sudah percuma, kesalahan kalian sangat fatal. Masa depan adikku hampir saja hilang karena kalian," ucap Darsen.
Mela menatap sang kakak yang baru kali ini membelanya. Wajah Darsen menunjukan ekspresi yang sangat geram dan tidak terima jika berdamai seperti ini saja. Bagi Darsen, gadis-gadis nakal itu harus mendapat hukuman yang membuat mereka jera.
"Darsen, mereka sudah meminta maaf dan lagi pula Mela juga tidak kenapa-napa," timpal Bapak.
"Bapak ini bagaimana? Mela hampir saja kehilangan kesuciannya tapi malah ..." Darsen terhenti, ia baru saja sadar jika berekspresi tidak seperti biasanya. "Ah ... yasudahlah! Aku sudah sangat terlambat berangkat bekerja," sambung Darsen sambil berjalan meninggalkan mereka.
Darsen salah tingkah sendiri karena sifatnya yang mendadak berubah menjadi sangat peduli di depan Mela. Dia masuk ke dalam mobil yang sudah ada Pras menunggunya.
"Bagaimana, Bos?" tanya Pras menatap sang bos yang berbunga-bunga.
"Bagaimana apanya? Ayo cepat segera ke agensi! Hari ini ada konferensi pers 'kan?" jawab Darsen sambil menyembunyikan senyumannya.
Saat Pras akan melajukan mobil, dari kaca spion ia melihat putra dari Darsen mengejar. Pras segera menghentikan mobil dan melirik Darsen yang sedari tadi tersenyum sendiri.
"Bos, Velino ... "
Darsen terkejut saat menyadari jika putranya mengetuk pintu kaca mobil. Dia segera membukanya dan turun dari mobil.
"Papa jahat, aku 'kan belum berpamitan sama Papa," ucap Velino.
"Sayang, maafkan Papa, ya! Sini Papa cium! Nanti malam kita bertemu lagi dan Papa akan membeli mainan baru."
__ADS_1
Darsen mencium putranya dan setelah itu memberikan uang jajan untuk Velino. Hari ini Velino sudah mulai libur sekolah untuk 2 minggu ke depan. Velino akan masuk SD setelah ini.
"Dada Papa ... Sampai jumpa lagi."
"Dada Sayang ... Cepat sana masuk!"
Setelah mengantar Velino depan pintu, Darsen kembali ke dalam mobil. Pras menertawainya.
"Cieee ... yang jatuh cinta lagi sampai lupa pada anak sendiri," ejek Pras.
"Diam kau!" jawab Darsen yang memerah.
***
1 jam kemudian.
Mela termenung di dalam kamar, ia masih mengingat ciuman di kening dari sang kakak. Sifat Darsen mendadak baik padanya membuatnya cukup merinding jika mengingat mimpi buruknya.
Mela membuang pikiran negatifnya lalu mencoba menonton TV. Dia melihat Darsen melakukan konfrensi pers bersama para wartawan tentang skandal artisnya dan skandalnya yang keluar dari hotel bersama wanita.
Mela mengeraskan volume dan mendengarkan dengan seksama.
"Mengenai tentang foto yang beredar itu adalah sebuah kesalahpahaman. Memang benar jika itu adalah saya namun bersama adik perempuan saya," ucap Darsen menatap kamera yang menyorotnya.
"Tapi Pak Darsen, bukankah anda anak tunggal?" tanya wartawan.
Darsen tersenyum kecil lalu menunjukan sebuah foto keluarga dan foto Mela sengaja di blur supaya tidak tersorot media.
"Ini adalah keluarga Brahmana dan perempuan ini adalah adik saya. Memang sengaja kami blur supaya kehidupannya tidak terekspos media karena kami sangat menjaganya dari hal yang tidak di inginkan," jelas Darsen.
Mela mendengarnya merasa sangat terharu, walau kakaknya adalah orang terkenal namun dia masih menjadi baik privasi keluarganya. Darsen tidak ingin menjadikan Mela sorotan media karena Mela sangat cantik dan tentunya akan berbahaya di luar sana.
"Pak Darsen, saya mendengar jika adik anda itu berasal dari panti asuhan?" tanya wartawan.
Darsen terdiam sejenak lalu berdiri. "Maaf, waktu sudah habis dan saya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan dari kalian. Terima kasih."
Darsen pergi di kawal Pras untuk kembali ke mobil. Wartawan terus saja mengejar namun tidak di pedulikan oleh Darsen.
Disisi lain Mela mematikan TV dan tersenyum sendiri karena sang kakak begitu keren. Dia melindungi Mela dari pertanyaan itu.
Aku tahu jika Kak Darsen sebenarnya sangat peduli padaku. Terima kasih, Kak.
__ADS_1