
Darsen dan Pras meninggalkan taman setelah meninggalkan sebuah jam untuk Mela di sekitar taman itu. Darsen setuju dengan ide dari Pras untuk tetap menyamar menjadi Sena yaitu teman online dari Mela. Namun ia malah teringat dengan curhatan Mela saat itu yang mengatakan jika dirinya mempunyai kakak yang sangat galak dan membuatnya ketakutan.
Segitu takutnya 'kah denganku? Batin Darsen sangat kesal.
"Bos, lebih baik memang di bicarakan langung dengan orang tua bos jika suka dengan Mela," ucap Pras sambil menyetir mobil.
"Mela itu baru 18 tahun sedangkan aku sudah 40 tahun. Nanti malah aku dianggap pedofil oleh mereka," jawab Darsen.
"Lah, mantan istriku saat ku nikahi umur 19 dan aku 25. Kita tidak ada masalah."
Darsen memukul kepala Pras, Pras mendengus kesal. Dia dengan iseng melajukan mobil dengan kencang membuat sang bos ketakutan.
"Sialan kau, Pras! Cepat hentikan mobilnya!" teriak Darsen.
"Sorry, Bos. Aku juga manusia yang mau di hargai. Apaan tuh malah mukul kepala? Emangnya aku cowok macam apa?" jawab Pras.
Darsen sangat kesal dengan sang asisten yang benar-benar gila. Apa salahnya sehingga mempunyai asisten aneh seperti Pras.
"Pras, bisakah kau memelankan mobilnya?" tanya Darsen dengan halus.
"Minta maaf dulu, bos!"
Sialan ini anak. Siapa yang di sini majikannya?
Darsen mendengus kesal, ia lebih baik mengalah ketimbang mati konyol karena sang asisten.
"Aku minta maaf," ucap Darsen.
"Gak dengar, Bos."
Darsen mengehela nafas panjang lalu mulai mengulangi perkataannya lagi. "Aku minta maaf, Pras," ucap Darsen sambil tersenyum terpaksa.
"Oke, maaf di terima."
Pras segera melajukan mobil dengan kecepatan wajar sedangkan Darsen merasa mendongkol sekali dengan sang asisten.
Setelah sampai rumah, ia segera mandi dan menemui putranya. Ibu mengatakan jika Velino terkena demam tinggi dan di bawa ke rumah sakit. Beliau juga bilang jika Darsen sempat di hubungi namun tidak menjawab.
Saat bersamaan Mela datang, ibu menyuruhnya untuk mandi dan ke rumah sakit bersama Darsen. Di sana sudah ada Pak Adi yang menunggu cucunya.
"Cepat mandi! Dalam 10 menit tidak turun maka kau akan ku tinggal," ucap Darsen sangat ketus pada Mela.
Mela mengangguk, ia segera mandi secepat kilat. Mengetahui keponakannya sedang sakit membuatnya sangat panik. Baru kemarin mereka tidur bersama tapi hari ini Velino demam.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, ia menghampiri Darsen yang sudah duduk di mobil. Mela masuk mobil dan duduk di sebelah Darsen di bangku belakang.
Darsen tersenyum kecil melihat jam pemberiannya di pakai oleh Mela.
Pras melajukan mobilnya ke rumah sakit. Dia melirik kaca spion atas dan melihat kecanggungan adik kakak itu. Pras berkali-kali berdehem dan membuat Mela sedikit risih.
"Mel, jamnya bagus," sindir Pras.
"Iya, Kak. Dapat dari teman."
"Teman mana yang memberikan jam mahal seperti itu?" tanya Pras lagi.
Mela melirik Darsen yang sedari tadi menatap luar, ia takut menjawab jika jamnya dari teman onlinenya.
"Teman dekat, Kak," jawab Mela.
Mela melirik Darsen, Darsen lalu menatapnya balik membuat Mela terkejut. Mereka memandang selama beberapa detik namun Mela memalingkan wajah karena takut dengan Darsen.
"Tatap mataku!" ucap Darsen.
Mela terkejut, ia mencoba menatap mata Darsen yang tajam namun ia tak berani dan malah menatap bagian hidung mancung milik Darsen.
"Ku bilang mata bukan hidung," ucap Darsen dingin.
"Mataku ada apa sehingga kau takut untuk menatapnya?" tanya Darsen.
Mela menggeleng, ia tersenyum kecil sambil memainkan jemarinya.
"Jika kau tidak ada salah maka jangan takut! Apa aku selama ini pernah kasar denganmu?" tanya Darsen.
"Sering," sahut Pras.
Darsen tak memperdulikan ucapan Pras. "Apa aku pernah memukulmu sehingga kau menjadi takut seperti ini?"
"Tiap hari," sahut Pras lagi.
"Aku tidak berbicara denganmu," ucap Darsen menatap tajam asistennya.
"Aku hanya menjawab isi suara hati Mela saja, Bos. Bener gak, Mel?" tanya Pras.
Mela semakin takut membuat marah Darsen. Darsen berdecih, ia kembali menatap kaca mobil memandang lalu lalang jalanan yang ramai lancar.
Suasana menjadi canggung lagi namun berselang menit kemudian ponsel Mela berbunyi yang rupanya dari Leon. Mela dengan malu-malu mengangkatnya sedangkan Darsen terlihat kesal.
__ADS_1
"Hallo, nanti malam kita bisa telpon lagi. Aku sedang menuju ke rumah sakit," ucap Mela.
"Bukan aku kok yang sakit tapi keponakanku. Bye-bye," ucap Mela lagi sambil menutup ponselnya.
Setelah itu ia menyimpan ponselnya lalu kembali menatap jalanan dengan canggung.
***
Sesampainya di rumah sakit.
Darsen dan Mela masuk ke ruangan yang merawat Velino. Pak Adi sudah ada di dalam menunggu cucunya yang terbaring lemah.
"Jika kau belum siap punya anak maka jangan mempunyai anak jika tak mampu merawatnya," ucap Pak Adi kepada Darsen.
"Apa maksud Bapak? Aku bukannya tidak peduli dengan putraku. Bapak tahu 'kan jika aku kerja keras juga untuk masa depan Velino," jawab Darsen.
"Masa depan? Saat ini saja kau tidak peduli dan malah asyik bekerja dari pada menjaga anakmu sendiri."
Entah kenapa ucapan sang ayah sangat keterlaluan. Darsen sangat menyayangi Velino dan bekerja keras juga untuk Velino. Mela menenangkan Pak Adi dan mengajaknya keluar sebelum beliau semakin marah dengan Darsen.
Darsen memandang putranya terbaring lemah, ia menciumi pipinya lalu mengusap kepalanya. Velino adalah alasan satu-satunya untuk bertahan hidup, ia akan berjanji akan segera mencarikan ibu untuk Velino.
Saat bersamaan Mela datang sendirian, ia melihat Darsen menangis namun pria itu langsung mengusap air matanya.
"Kebiasaan burukmu yang tidak mengetuk pintu sebelum masuk," ucap Darsen tak memandang Mela sedikitpun.
"Maaf, Kak."
Mela melihat keponakannya yang tertidur pulas. Dia lalu menggenggam tangannya dengan erat. Darsen melihat tatapan Mela pada putranya benar-benar sangat tulus.
"Kak, Velino demam mungkin salahku juga. Tadi malam dia tidak mau memakai selimut saat tidur denganku," ucap Mela.
"Kenapa kau diam saja saat Bapak menyalahkanku? Kau harusnya menjelaskan jika yang salahmu karena membuat putraku sakit," jawab Darsen.
Darsen sadar dengan ucapannya yang keterlaluan lalu meminta maaf. Dia tadi sangat kesal dengan sang ayah yang justru menyalahkannya dan menganggap tak pecus menjaga putranya sendiri.
"Maafkan, aku! Akhir-akhir ini aku banyak masalah jadi cepat untuk marah," ucap Darsen sambil mengusap wajahnya kasar.
Mela mengangguk, ia tahu jika Agensi Ars sedang bangkit kembali setelah kekacauan yang di buat para artisnya terutama masalah Laura.
Darsen kembali mengusap kepala Velino sedangkan Mela menatap wajah keponakannya dengan lembut. Darsen memperhatikan wajah Mela yang teduh, wajah Mela sangat membuatnya nyaman dan tenang.
"Mela, apa kau mau menjadi istriku?"
__ADS_1