Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 25 : Panti asuhan


__ADS_3

Desiran ombak mengikis pantai pasir putih, suaranya sangat khas dan terkesan menenangkan. Pikiran melayang bebas menuju tak terbatas sambil merasakan angin pagi hari yang membuat dirinya semakin ingin melupakan apa yang terjadi.


Sorot mata memandang birunya langit serta burung-burung yang menari di atasnya. Suara tawa anak kecil yang sedang bermain di dekatnya seolah memecahkan kesunyian ini.


Prasatya Alex, duduk menyendiri sambil memeluk kedua kakinya. Pernikahan yang berujung luka membuatnya enggan untuk mendekati wanita lagi dengan serius.


Flashback.


Pras menuju villa milik sang istri, dia berencana untuk menginap satu hari karena malam itu adalah malam minggu. Dia sampai di sana sekitar pukul 7 malam. Suzan saat itu sedang ada di luar kota untuk syuting film. Pras yang merasa jenuh, ia memutuskan untuk pergi ke villa sendirian.


Sesampainya di sana, tidak ada seorangpun. Pras segera masuk ke kamar lalu membuat minuman hangat. Namun setengah jam kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka dan suara Suzan beserta seorang pria yang tak asing.


Pras membawa tasnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya di dalam kamar mereka. Pras mengintip dari balik pintu jika sang istri bersama pemilik agensi yang di naunginya. Pras menyaksikan aksi perselingkuhan itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Mmmhhh ... ah geli ..."


"Kali ini 3 ronde ya, kita habiskan malam ini sampai pagi mumpung kita bersama tapi bagaimana dengan suami miskinmu itu?"


"Huh ... dia tahunya jika aku sedang syuting, jangan khawatir!"


Di balik pintu kamar mandi, Pras menatap tajam mereka lalu tangannya seolah mengepal. Guratan emosi tergambar di wajahnya apalagi ia melihat hal tak senonoh sang istri dengan pria selingkuhannya.


Suara desahan terus terdengar, Pras yang biasanya ceria mendadak menjadi orang yang menyeramkan.


"Mmmhhhh ... sakit ... "


Emosi Pras meledak-ledak, ia mengambil sebuah ember lalu diisi dengan air dingin. Dia menentengnya ke luar dari kamar mandi dan ...


BYUUUUUUR ....


Pras menyiram mereka yang sedang asyik bercinta dengan air dingin.


Flashback selesai.


Sebuah bola mengenai kaki Pras, Pras yang melamun langsung tersadar dan menyadari jika bola itu milik anak kecil. Pras mengambilnya dan anak kecil itu tersenyum manis padanya.


Setelah merasa cukup lama di pantai, ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Dia hidup sendirian tanpa ada yang menemani. Trauma akan pernikahan seolah membuatnya enggan untuk mendekati wanita dengan serius. Apalagi tentang Mela, sang bos menyuruhnya untuk mendekati Mela. Gadis polos itu terlalu baik untuknya.


***


Panti asuhan.


Mela memeluk ibu panti yang dulu merawatnya, ia senang sekali ibu panti masih sehat walau usianya tak lagi muda. Anak-anak panti juga senang saat Mela bisa menjenguk mereka.

__ADS_1


"Aku bawa baju baru dan makanan untuk kalian," ucap Mela.


Mela segera mengambil di mobil, sedangkan Pak Adi mengobrol dengan ibu panti. Pak Adi adalah penyumbang terbesar di panti asuhan ini, kedermawanannya sangat di acungi jempol.


Darsen mengikuti Mela dan membantu membawakan kardus-kardus itu. Mela tetap canggung dengan sang kakak yang sudah menyatakan cinta kepadanya.


"Mel, itu berat. Biar aku yang bawa," ucap Darsen.


"Kakak bawa yang lain saja!" jawab Mela dengan ekspresi datar.


Mela langsung melewati Darsen namun Darsen langsung menarik lengannya supaya terhenti. Mela menoleh dan menatap sang kakak yang juga menatapnya tajam.


"Kenapa kau menghindar?" tanya Darsen.


Sorot tajam Mela melemah karena ketakutan. Tangan Darsen masih mencengkeramnya kuat.


"Aku tidak menghindar."


Darsen melepas cengkeramannya lalu menghela nafas. Saat itulah Mela bisa pergi dari Darsen yang membuatnya sangat ketakutan. Setelah masuk, Mela meletakan kardus yang berisi makanan itu di atas meja dan berselang menit kemudian Darsen membawa sisanya dari dalam mobil.


Darsen melihat putranya asyik bermain dengan bocah-bocah panti itu. Darsen tersenyum dan bergabung bermain dengan mereka.


"Pak Adi, putra anda sangat tampan sekali," ucap ibu panti.


"Dia sudah menikah lagi?"


Pak Adi menggeleng. "Dia masih butuh waktu setelah istrinya meninggal."


Ibu panti melihat Mela lalu setelah itu melihat Darsen. Seperti ada kemiripan sekilas dari mereka tapi bukan kemiripan kakak adik.


"Mela sangat cocok untuk Darsen. Anda tidak berencana untuk menjodohkan mereka, Pak Adi?" tanya ibu panti membuat Pak Adi terkejut.


"Ah, menjodohkan kakak adik seperti mereka? Mela sangat berharga bagi saya dan lagi pula Darsen tak baik untuk Mela. Bahkan sering kali Darsen membuat Mela menangis karena masalah sepele," jawab Pak Adi mengamati putra dan putrinya.


Acara makan bersama pun di mulai, mereka asyik menikmati nasi kotak dan makanan ringan. Mela juga telihat lahap memakannya padahal ia tadi sudah sarapan. Darsen terlihat menyuapi putranya, ia sangat telaten namun Velino malah meminta di suapi Mela.


"Tante suapin!" pinta Velino.


"Papa suapin 'kan sama saja," ucap Darsen.


"Gak mau!"


Mela tersenyum, ia maju mendekati Velino dan menyuapinya. Velino sangat senang ketika mendapat perhatian dari Mela.

__ADS_1


"Tante, papa suapin juga dong!" ucap bocah itu.


Mela dan Darsen langsung berpandangan. Mereka yang duduk di atas tikar hanya terdiam nan malu.


"Suapin kakakmu, Mela! Biar dia bisa luluh dan lembut denganmu," sahut Pak Adi.


Mela sedikit ragu tapi ia dengan cepat menyendokkan makanan ke mulut Darsen. Darsen langsung melahapnya, dia tersenyum sedikit melihat wajah imut Mela yang canggung.


"Aku juga akan menyuapimu," ucap Darsen.


Mela terdiam saat sendok sudah ada di depannya. Dia menatap sorot mata lembut Darsen yang membawanya dalam kedamaian.


"Mel?" ucap Darsen membuat Mela terkejut.


Mela langsung melahapnya, ia salah tingkah sendiri melihat tatapan sang kakak.


Debaran macam apa ini? Batin Mela.


Mela berpamitan ke kamar mandi, ia tak ingin wajah memerahnya terlihat oleh Darsen.


Darsen mengikutinya ke kamar mandi, ia mencuci tangan dan Mela terkejut melihatnya.


"Kak, ini kamar mandi cewek," ucap Mela.


"Di depan tidak ada tulisannya makanya aku asal masuk saja. Toh, disini aku hanya mencuci tangan," ucap Darsen.


Mela langsung keluar namun tangannya di cekal oleh Darsen.


"Kak, sudah ku bilang jika aku tidak bisa menerima cinta kakak," ucap Mela.


Darsen menyentil telinga Mela dan membuat Mela kesakitan. Darsen sangat gemas dengan ekspresi Mela yang memonyongkan bibirnya.


"Setelah ini mau nonton film dengan kakak? Film Korea terbaru," ucap Darsen sambil memamerkan tiket yang sudah ia beli kemarin.


"Kak, ini 'kan film ..."


"Jika tidak mau tidak apa-apa," ucap Darsen yang langsung keluar dari kamar mandi.


Mela mengejarnya, itu adalah film yang ingin di tontonnya namun Pak Adi melarang menonton itu.


"Kak, aku mau," ucap Mela.


Darsen terhenti dari langkahnya dan langsung tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2