Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 36 : Kau yakin?


__ADS_3

Pak Adi menarik tangan Mela lalu menatap tajam pada putranya, rasa kesal menusuk sampai ke tulang bahkan darah pun seketika mendidih.


"Kau sudah dewasa, apa tidak bisa bersikap jauh lebih dewasa?" tanya Pak Adi.


Darsen berdecih, ia memang tidak pernah ada rasa takut dengan ayahnya itu. Sedangkan Mela hanya mengusap air matanya kasar. Ingin sekali mengatakan tidak ingin menikah dengan Leon tapi ia tidak ingin sang ayah kecewa.


"Berita akan mengatakan hal negatif jika kalian menjalin hubungan bahkan menikah," ucap Pak Adi.


"Bahkan para media tidak tahu jika Mela itu adikku."


Mereka bertatap seolah melontarkan rasa tidak suka. Bapak dan anak itu memang selalu berbeda pendapat bahkan Pak Adi sangat tidak menyukai sikap Darsen yang seenaknya.


"Cepat ganti bajumu, Mela! Kita akan makan malam dengan keluarga Leon dan membahas pernikahan kalian," ucap Pak Adi lalu keluar dari ruangan itu.


Mela mengangguk, dengan air mata berurai ia berusaha melepas gaun tersebut. Darsen membantu membukanya bahkan saat punggung Mela terekspos gadis itu nampak biasa saja di depan Darsen. Nafsu pria matang itu tentu saja aktif namun ia menahannya.


Kini Mela hanya mengenakan bra dan celana pendek, tubuhnya membelakangi Darsen namun pria itu bisa menatap lewat pantulan cermin. Reaksi Mela hanya biasa saja atau mungkin gadis itu memang memancing nafsu Darsen?


"Kak?"


Darsen terkejut. "Apa?"


"Bisakah ambil pakaianku yang menggantung di sana?"


Darsen mengangguk, ia mengambilkan baju Mela yang menggantung di balik pintu. Mela memakainya satu persatu bahkan mata Darsen enggan untuk menoleh ke arah lain walau hanya satu detik.


"Kak, aku sudah selesai memakai baju," ucap Mela.


"Eh ... iya, ayo keluar!"


Detak jantung Darsen masih saja berperang tak terkontrol. Namun, ia masih bisa sadar untuk mengendalikan nafsunya.


Mereka keluar setelah itu menghampiri Pak Adi dan Fredy.


Pak Adi tak menatap Darsen begitu pula dengan Darsen, ia tak mau menatap sang ayah yang egois.


"Nanti malam kita berjumpa di Hotel Deluxe untuk makan malam dan pembahasan pernikahan yang diadakan dadakan ini dan untuk resepsi di London saya serahkan pada Pak Fredy," ucap Pak Adi.


"Ya, sampai jumpa nanti malam."


Mereka memutuskan untuk pulang dan saat sampai di luar terjadi perdebatan kecil lagi antara Pak Adi dan Darsen. Mereka berebut Mela supaya naik ke mobil mereka dan tentunya Mela memilih naik ke mobil sang ayah.


***


Malam hari.

__ADS_1


Makan malam mewah di selenggarakan oleh keluarga Pak Adi, mereka semua datang dengan kegembiraan kecuali Darsen yang tidak ikut datang membuat Mela sedih.


Leon sedari tadi menggenggam tangan Mela dan menunjukan sisi positifnya kepada semua orang. Mela juga pura-pura tersenyum sampai Pak Adi yakin jika putrinya menyukai Leon.


"Jika kami sudah menikah, aku akan memberikan segalanya untuk Mela. Rumah, berlian dan sebagainya," ucap Leon.


"Hahahaha, putraku ini memang sangat baik," puji Fredy.


Mela ikut tersenyum walau terpaksa, ia tiba-tiba di tarik oleh Leon untuk ke luar hotel dengan beralasan ingin lebih mengenal satu sama lain. Mela lalu mengikuti Leon dan pria itu benar-benar misterius tak seperti saat di telepon yang sangat baik dan ramah.


Setelah sampai di luar, Leon mendapat telepon dari seseorang dan ia mengangkatnya. Mela hanya mematung di belakangnya.


"Tidak bisa kah kau bersabar? Aku akan segera pulang setelah menikah dengan calon istriku."


Leon langsung menutup telpon lalu melihat ke arah Mela. Leon langsung menciumnya namun tidak mendapat balasan dari Mela. Di rasa tidak menyenangkan, Leon melepaskan ciuman lalu tangannya mengayun untuk menampar namun tiba-tiba ada tangan yang menahannya.


"Seperti ini sifat aslimu?" tanya Darsen.


"What? Hey, Man! Please, dont mind my business!"


(Apa? Hey, Pria! Kumohon, jangan mengurusi urusanku!")


Darsen melepaskan tangan Leon lalu ingin memukulnya namun Mela mencegahnya. Leon tersenyum picik melihat calon kakak iparnya yang sama arogan dengan dirinya.


"Kakak punya kuasa apa? Pernikahan kami tidak mungkin gagal," ucap Leon.


"Jangan harap bisa menikahi adikku! Camkan itu!"


Darsen menarik Mela untuk masuk ke mobilnya membiarkan Leon berkacak pinggang menatap kepergian mereka. Pria itu tersenyum licik dan tentunya ia yakin jika pernikahannya tidak akan gagal begitu saja.


****************************


Satu minggu kemudian.


Malam sebelum pernikahan.


Mela datang ke tempat hotel yang akan menjadi tempat malam pertamanya dengan Leon. Dia melihat sendiri kamar mereka di hias seperti kamar pengantin pada umumnya. Bunga-bunga sudah menghiasi ranjang besar itu.


Esok, ia sudah melepas masa lajangnya dan menikah di usia 18 tahun.


Pak Adi belum tahu jika Leon adalah pria kasar yang berani memukulnya.


Ponselnya berbunyi ternyata dari Leon.


"Kau suka dekorasi kamarnya? Aku ingin malam pertama yang mengesankan, aku tidak sabar untuk mencicipi tubuhmu itu dan jangan lupa memakai pakaian seksi yang sudah ada di dalam lemari!" ucap Leon.

__ADS_1


"Baiklah."


Mela langsung menutup telponnya lalu membuka lemari yang berisi gaun malam nan seksi. Baru pertama kali ia melihat baju haram itu.


Ceklek ...


Pintu terbuka yang ternyata Darsen dengan wajah murungnya.


"Aku bisa menunjukan rekaman CCTV saat Leon akan menamparmu pada Bapak," ucap Darsen.


"Tidak perlu, kak."


Darsen hanya menatap Mela yang tersenyum ke arahnya. Entah senyuman apa yang jelas membuat Darsen sangat heran.


Mela mengeluarkan baju haram dari dalam lemari, melepas bajunya dan memakai baju itu di depan Darsen.


Darsen masih menatap heran maksud dari adiknya.


"Kak, aku akan mewujudkan mimpiku namun kali ini aku yang menginginkannya bukan karena pemerkosaan," ucap Mela.


Darsen menaikkan alisnya yang tak paham maksud dari Mela.


"Mimpi apa?"


"Saat itu aku bermimpi kakak memperkosaku di tengah hutan namun aku sadar mimpi itu lebih mengarah hal buruk tentang Leon. Ku pikir kakak yang jahat dan tega namun rupanya calon suami ku yang bersikap buruk padaku," jelas Mela.


Mela, gadis yang dulunya ceria kini menyimpan mata kesedihan. Dia berjalan mendekati Darsen lalu menunjukan punggung yang dulunya mulus kini lebam-lebam. Leon ternyata adalah seorang psiko yang tega memukuli calon istrinya hanya masalah sepele.


Rahang Darsen mengeras, tangannya mengepal ingin sekali memukul wajah Leon itu.


"Kenapa kau diam saja? Kenapa tidak bilang padaku atau bapak?" teriak Darsen.


Mela menggeleng, ia menangis menumpahkan kesedihannya. Darsen memeluknya erat memberinya kehangatan yang tiada tara.


"Aku takut, Leon mengancamku akan membunuh semua keluarga kita jika aku tidak jadi menikah dengannya," ucap Mela.


"Serahkan semua pada Kakak. Ini semua akan berakhir."


Mela melepas pelukan sang kakak lalu menciumnya dengan beringas. Darsen refleks mendorongnya ke ranjang yang penuh bunga itu, tangan alimnya mulai meraba apa yang bisa di raba.


Darsen melepas ciumannya lalu melihat Mela yang ada di bawahnya.


"Aku ingin balas dendam pada Leon. Aku ingin malam pertama dengan kakak. Apakah kakak bisa mewujudkannya?" tanya Leon.


"Kau yakin?" tanya Darsen sangat terkejut dengan ucapan Mela yang dulu polos kini menyimpan mata dendam.

__ADS_1


__ADS_2