
"Apa kau bilang?" ucap Darsen sangat terkejut.
Dia membuka berita hari ini dan ada sebuah artikel yang memberitakan jika dirinya sudah bertunangan dengan Laura, mantan artisnya. Artikel itu juga menyebutkan jika Laura dan Darsen memakai cincin yang sama.
Mengetahui hal tersebut, ia melihat cincinnya. Cincin yang ia kira pemberian dari Mela.
"Pras, kau urus berita sampah ini. Aku akan mengurus masalah Mela dan Laura," ucap Darsen.
Darsen beranjak dari kursinya, ia keluar dengan keadaan tubuh yang kurang fit. Dia harus menemui Mela dan menginginkan penjelasan. Semua orang yang ia lewati tidak berani menyapanya. Melihat sorot mata Darsen yang tajam seolah menandakan akan ada bencana di gedung ini.
Disini lain, Mela tengah menyapu ruang evaluasi sebelum di gunakan. Saat bersamaan, pintu terbuka dengan keras membuatnya sangat terkejut. Dia melihat Darsen menghampirinya dengan tatapan marah dan murka.
"Mela, cincin ini dari siapa?" tanya Darsen.
Mela terdiam sejenak lalu kedua tangan Darsen mencengkeram pundak Mela. Dia menatap Mela sangat tajam membuat gadis itu sangat ketakutan.
"Kenapa diam saja? Ini darimu 'kan?" teriak Darsen.
"Itu dari Kak Laura."
Mata Darsen membulat, ia merasa hancur berkeping-keping. Cincin yang ia kira dari orang yang di sukainya justru malah dari orang rendahan itu.
"Maaf, Kak. Kak Laura mengancamku." Mela merasa sangat menyesal.
Sialan! Beraninya wanita itu mengancam adikku.
Darsen melihat wajah Mela yang meringis kesakitan karena cengkeraman tangan di bahu gadis itu seketika melepasnya. Satu kesalahan yang di buat Darsen yaitu membuat Mela semakin takut dengannya.
"Maafkan, kakak! Kita lanjut bicarakan nanti," ucap Darsen langsung pergi ke luar.
Darsen keluar dengan langkah panjangnya. Kali ini si Laura memang harus di beri pelajaran. Bisa-bisanya wanita laknat itu berani menyangkut pautkan namanya ke media. Apalagi berita tersebut mengenai status hubungan Darsen si pemilik Agensi Ars.
Karena berita pertunangan dengan wanita yang sedang terkena skandal membuat saham agensi semakin anjlok.
Semua staf di kumpulkan oleh Pras supaya tetap menyikapi berita fitnah ini secara positif, dia juga menjelaskan jika tidak ada hubungan spesial antara Darsen dan Laura.
Darsen menemui Laura di apartemennya dan tentunya tidak sendirian. Dia membawa pengacara untuk menuntut Laura atas berita palsu dan pemfitnahan.
__ADS_1
"Tidak seharusnya aku menerima mu di bawah agensiku. Kau selalu membuat masalah sampai akhir," ucap Darsen.
"Darsen, aku melakukan ini karena ... "
"Cukup! Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu! Kita selesaikan secara hukum," ucap Darsen menyela ucapan Laura.
Darsen keluar dari apartemen mewah itu dan turun dengan pengacaranya tapi di luar sana sudah ada para wartawan yang sudah siap mewawancarainya lagi. Darsen tidak memperdulikan mereka dan langsung naik ke mobil menuju rumah sakit tempat putranya di rawat.
**
Setelah sampai rumah sakit, ia menemui putranya yang kini sudah di perbolehkan untuk pulang. Pak Adi melihatnya menghela nafas. Putra satu-satunya selalu membuat ulah di media.
"Apa berita itu ... "
"Semua hanya fitnah, aku sudah membereskannya."
Darsen menghampiri putranya yang sudah siap untuk pulang setelah semalam harus di rawat di rumah sakit. Dia menggendongnya lalu keluar setelah menyelesaikan administrasi. Saat bersamaan, Sandra datang dan langsung mencium tangan Pak Adi. Darsen tidak menggubrisnya, ia menuju ke mobil.
"Darsen, aku sudah tahu berita mu. Laura memang sangat licik," ucap Sandra yang ikut masuk ke mobil Darsen.
"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk?"
Sandra tak menghiraukan, ia duduk di samping kemudi sambil memangku Velino. Velino juga tampak tidak keberatan membuat Darsen tidak ada pilihan lain.
Darsen melajukan mobilnya mengikuti mobil Pak Adi. Mereka pulang ke rumah serta Darsen harus bersembunyi dulu dari para wartawan.
Sandra memangku Velino sembari mengelus kepalanya membuat Darsen sangat tidak suka.
"Jangan sentuh kepala putraku! Aku tidak ingin dia tertular sikap negatifmu," ucap Darsen.
"Darsen, aku yakin putramu ini sangat mau jika aku menjadi ibunya. Mau 'kan, Vel?"
Velino menggeleng membuat Sandra begitu kesal.
Awas saja kau bocah kecil. Aku akan membuatmu mau menerimamu sebagai ibu mu. Cih ... namun terpaksa, yang aku inginkan hanyalah Darsen saja. Melihat wajah bocah ini menjadi mengingatkanku dengan wajah si pelakor. Seila Natasha. Untung saja dia sudah mati.
Sesampainya di rumah.
__ADS_1
Bu Ami menyambut kedatangan cucunya, ia langsung menggendong Velino dan mengajaknya untuk ke kamar. Darsen menatap Sandra yang tak kunjung pergi. Mantan pacarnya itu sangat ia benci karena sempat menaruh luka pada relung hatinya.
"Darsen, kenapa diam saja? Suruh Sandra untuk duduk dan suruh bibi untuk membuatkan minum untuknya. Bapak masih banyak pekerjaan," ucap Pak Adi.
Sandra tersenyum, ia menatap Darsen. Darsen memalingkan wajah dan tidak memperdulikan Sandra. Ketika Darsen akan membalikan badan tiba-tiba Sandra memeluknya dari belakang sontak membuatnya langsung mendorong wanita itu.
"Darsen, dulu kau sangat lembut denganku tapi kenapa setelah mengenal Seila kau jadi begini?" tanya Sandra dengan mata memerah.
"Simpan tangisanmu dan jangan menyebut nama mendiang istriku! Namanya sangat suci untuk kau sebut. Lebih baik kau pulang, aku mau istirahat. Tolong jangan membuatku untuk menyeretmu keluar!" ucap Darsen dengan sorot mata tak main-main.
Sandra mengepalkan tangan, pria yang lebih memilih orang ketiga dari hubungannya dulu sangat membuatnya kecewa. Namun ini bukan akhir dari segalanya, setelah meninggalnya Seila, ia harus mendapatkan Darsen kembali.
Darsen masuk ke kamar melihat sang ibu mendongengkan untuk cucunya. Darsen tersenyum, ia langsung memeluk ibunya dari belakang seperti anak kecil.
"Sen, badanmu panas sekali. Kau sakit?" tanya ibu.
"Hanya lelah saja, Ibu. Kemarin saat di rumah sakit aku tidak bisa tidur," jawab Darsen.
Ibu merasakan hawa panas dari putranya dan ia tahu jika Darsen sedang demam. Darsen seperti anak kecil di depan ibunya jika sedang sakit bahkan melebihi Velino saat sakit.
"Papa, kenapa?" tanya Velino.
"Papa hanya capek, Sayang. Veli sudah sembuh?"
Velino mengangguk, ia tersenyum kecil melihat sang papa masih memeluk ibunya dari belakang. Bahkan Velino tidak bisa merasakan kasih sayang ibu seperti sang papa yang mendapat dari Bu Ami.
"Sandra sudah pulang? Kenapa dia masih berani menemui mu?" tanya Ibu.
"Dia sudah ku usir, Bu. Bapak seolah masih menerimanya makanya Sandra berani mendekatiku lagi," jawab Darsen.
Ibu melepaskan pelukan Darsen, ia menatap wajah putranya yang sayu. Putra tampannya memang di gandrungi banyak wanita namun di balik itu semua membuat Darsen begitu kesusahan menjalani hidup.
"Kau sudah ada wanita untuk menjadi pendampingmu? Sen, kasian Velino. Dia masih butuh kasih sayang seorang ibu."
"Bu, hanya Ibu yang paham dengan situasi ini dari pada Bapak. Aku menyukai Mela, Bu. Aku memang salah dan tidak tahu diri tapi sekarang aku memandang Mela sebagai orang yang aku sukai," jelas Darsen.
Mata ibu terperanjat, ia memandang putranya dengan heran.
__ADS_1