Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 29 : Ketahuan


__ADS_3

Darsen membawa Mela untuk keluar menemui Pak Adi. Jam segini, Pak Adi biasanya ada di ruang kerjanya. Pak Adi adalah pemilik perusahaan taksi online yang kini bisa di bilang sedang naik daun. Darsen menyeret Mela menuju ke ruangan sang ayah. Mela sangat takut dan terus memberontak namun Darsen tak semudah itu melepaskannya.


Saat sudah sampai di depan ruangan Pak Adi, dengan yakin Darsen membuka pintu dan masuk ke dalam sana.


Mela sangat takut dan melihat Pak Adi mengernyitkan dahi saat melihat mereka bergandengan tangan.


"Ada apa?" tanya Pak Adi.


"Aku ingin ... "


"Pak, Kak Darsen kasar denganku," teriak Mela.


Darsen menatapnya, sementara Mela berusaha melepas genggaman Darsen. Pak Adi berdiri, ia menghampiri putrinya yang seakan mendapat ancaman. Darsen melepas genggamannya lalu Mela memeluk Pak Adi.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Pak Adi panik.


"Kak Darsen hampir memukulku," ucap Mela berbohong demi kebaikan bersama.


Pak Adi melotot kearah Darsen. Darsen sangat terkejut dengan Mela yang mendadak pintar bersandiwara. Darsen akan mendekat tapi Pak Adi melarangnya.


"Jangan mendekat! Bapak tahu jika kau tidak suka dengan Mela tapi apa perlu kau harus memukulnya?" tanya Pak Adi.


"Bapak salah paham, Mela berbohong," ucap Darsen.


"Cukup, Darsen! Pantas saja Mela meminta tinggal di tempat kost ternyata dia tidak betah denganmu. Kemasi barang-barangmu dan pindah ke apartemenmu sendiri!"


Pak Adi mendorong Darsen untuk keluar dari ruangannya lalu menutup pintu. Darsen mengepalkan tangan melihat kelakuan Mela yang di luar perkiraannya. Darsen tahu jika Mela juga menyukainya namun gadis itu seolah membuang fakta tersebut.


Darsen berniat kembali ke kamar namun ia berjumpa para Seira. Wanita itu belum juga pulang, Darsen melewatinya namun Seira menghentikan langkahnya. Pria duda itu menghempaskan tangan Seira yang ada di bahunya, ia sangat tidak suka di sentuh oleh sembarang orang.


"Kak, ku harap kau mau menerimaku," ucap Seira.


"Jangan bermimpi! Walau kau saudara kembar mendiang istriku namun kalian tetaplah berbeda orang. Aku hanya mencintai Seila yang sudah lama meninggal bukan termasuk saudari kembarnya," ucap Darsen.


Darsen langsung masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan keras membuat putranya yang bermain sendiri sangat terkejut. Bocah 5 tahun itu selalu melihat kemarahan sang papa dan ia juga sangat takut bertanya. Darsen menghempaskan tubuhnya di sebelah putranya yang tengah menyusun lego di atas kasur. Darsen terus saja mendesah kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Argggh ... Sial! Sial!"


Velino melirik papanya dengan heran bahkan legonya ikut berantakan akibat hentakan dari kaki sang papa.


"Papa?"


"Arggh ... Huh ... Sialan!"

__ADS_1


Kali ini lego yang sudah di susun susah payah oleh Velino ambruk akibat hentakan kaki Darsen yang seperti anak kecil.


Velino menatap sang papa dengan datar, ia sudah setiap hari melihat tingkah sang papa yang aneh.


Velino tidak menangis, ia menyusunnya kembali dengan susah payah namun kaki sang papa kini tak sengaja menghancurkannya lagi.


"Papa, bisa diam atau tidak?" teriak Velino mulai kesal.


Darsen melirik Velino yang memberanikan diri untuk memelototi Darsen.


CETOOOK ...


Darsen menyentil telinga putranya karena sudah mengganggu kekesalannya. Velino kali ini hilang kesabaran, sang Papa jarang bermain dengannya justru kini malah mengganggunya bermain bahkan menyentilnya.


Velino berdiri, ia menubruk tubuh papanya berkali-kali namun Darsen tak merasakan apapun karena tubuh putranya ringan. Darsen tak memperdulikan, ia masih kesal pada Mela karena sudah menggagalkan rencananya tapi tiba-tiba sikut Velino tidak sengaja jatuh pada burung Darsen yang telah lama tidak merasakan surga dunia.


DUAAAAK...


"Argghh ... Kau!" ucap Darsen menatap tajam Velino.


"Papa ..." Velino sudah menelan ludah saat melihat sang papa berguling-guling merasakan sakit yang tiada tara. "Ampun, Pah."


Darsen meringis kesakitan, ia bahkan sudah tidak merasakan surga dunia sejak 5 tahun yang lalu kini harus merasakan sakit terkena sikut putranya.


"Veli?" panggil Darsen.


"Hem ... "


Darsen bangun, ia ikut duduk di depan putranya yang menyusun lego di lantai.


"Mau bantu Papa?"


"Bantu apa?" tanya Velino.


"Besok kita akan di suruh pindah oleh kakekmu. Kau harus menangis memohon pada kakek supaya kita tidak di suruh pergi dari sini," ucap Darsen.


"Ya 'kan yang pasti di usir papa bukan aku. Aku gak pernah nakal disini, kenapa aku yang harus menangis?" jawab Velino membuat Darsen kesal.


Darsen menghela nafas, kenapa kini Velino berani membantah ucapannya? Pasti ini ulah Pras yang mengajari putranya itu. Pras selalu mengajari orang sekitarnya untuk membantah.


"Sekarang papa ingin melihat kau akting menangis. Veli pokoknya harus menangis di depan kakek dan memohon supaya kita bisa tetap tinggal di sini."


Velino memalingkan wajah, ia tidak mau mengikuti perintah sang papa. Darsen mengacak sebal rambutnya sendiri, ia harus memikirkan cara bagaimana tetap tinggal di sini bersama Mela.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Darsen terkejut karena Seira masih di sini bahkan makan pagi bersama dengan mereka. Kali ini Darsen duduk di sebelah Mela, Mela makan dengan tenang dan tidak mau memperhatikan sang kakak.


"Kau sudah menyiapkan semua barang-barangmu dan Velino, Darsen?" tanya Pak Adi.


"Maksud Bapak untuk apa?" tanya Amira bingung.


Pak Adi meminum air putih yang ada di gelasnya lalu menjelaskan jika mulai sekarang Darsen harus tinggal di apartemennya sendiri bersama putranya. Ibu protes, ia tidak ingin putra kesayangannya pergi dari rumah ini. Jika ada yang harus pergi dari rumah ini yaitu Mela.


"Darsen sudah dewasa, sampai kapan ia mau tinggal di sini?" ucap Pak Adi.


Tiba-tiba Velino berteriak histeris karena menangis, ia membuat semua orang yang ada di meja makan terkejut.


"Huaaaaa .... Kakek, aku mau tinggal di sini. Kenapa kakek jahat? Huaaaaa .... "


"Bapak boleh egois denganku tapi jangan egois dengan Velino! Dia masih kecil dan masih butuh kalian untuk menemaninya selama aku bekerja," ucap Darsen sambil menenangkan putranya.


Darsen menatap putranya dan putranya itu mengedipkan satu mata. Akting bocah itu benar-benar bagus sepertinya bisa menjadi artis cilik naungan Agensi Ars.


Melihat tangisan cucunya yang pilu membuat Pak Adi tidak tega dengan cucu satu-satunya itu. Pak Adi merentangkan tangan untuk Velino, Velino langsung menghampirinya dan memeluknya. Darsen menghela nafas panjang, caranya berhasil untuk bisa bertahan di tempat ini. Dia melirik Mela yang sedari tadi fokus makan, tangan Darsen yang di bawah meja mencoba menggenggam tangan Mela, gadis itu terkejut namun tidak ingin terlalu bereaksi berlebihan. Sambil makan, mereka bergandengan tangan. Mela sebenarnya tahu ketulusan Darsen namun ia masih menjaga perasaan Pak Adi.


Sesuai makan, Mela kembali ke kamarnya untuk mengambil koper yang sudah ia isi baju jika memang Darsen tidak mau pergi.


Rencananya juga ia akan berhenti bekerja di tempat Darsen.


Pintu terbuka tanpa terketuk, Mela sudah menduga jika itu adalah sang kakak yang mulai kurang ajar masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.


Mata Darsen langsung tersorot ke arah koper besar milik Mela.


"Mela, mau ke mana?" tanya Darsen.


"Jika kakak tidak pergi maka aku yang harus pergi dari rumah ini." Mela menatap sang kakak lalu memalingkan wajah lagi.


"Mela, aku tidak bisa pergi dari sini. Alasanku bertahan di sini karena putraku masih membutuhkan orang tuaku."


Mela tersenyum paham, namun di balik ucapan Darsen terselip makna jika ia masih bertahan karena Mela.


Darsen mendekat, Mela terpaku dengan tatapan sang kakak yang lembut. Dia segera mencium bibir Mela, Mela pun juga ikut membalas ciuman sang kakak. Perasaan Mela campur aduk, ia sadar jika cintanya pada Darsen mulai terbuka lagi. Darsen mendorong Mela ke ranjang dan tetap melanjutkan ciuman panas, mereka melakukan tanpa ada paksaan terutama Mela yang mulai pandai membalas ciuman Darsen. Tangan Darsen terkontrol cukup baik, ia tidak memegang apapun selain kepala Mela.


"Cukup, Darsen!" ucap suara yang sangat familiar.

__ADS_1


Darsen melepaskan ciumannya lalu menoleh ke arah pintu. Mela sangat terkejut saat melihat Pak Adi sudah ada di dalam kamarnya namun pintu sudah tertutup, mereka tak menyadari kehadiran Pak Adi.


__ADS_2