
Darsen pulang dengan keadaan sangat kesal, ia memang sering meminta komentar dengan temannya dan saat di beri komentar negatif ia malah marah.
Setelah masuk rumah, ia melihat Mela sedang asyik berbaring di sofa sambil mengobrol lewat panggilan video dari seseorang. Dia tidak mengetahui kedatangan sang kakak.
"Bagaimana rasanya salju? Pasti sangat asyik sekali tinggal di London," ucap Mela.
"Ya nanti jika kita sudah menikah aku akan mengajakmu kemari. Kita akan tinggal disini dan bermain salju sepuasmu jika musim dingin," ucap Leo.
CETOOOK ...
Mela sangat terkejut saat ada seseorang yang menyentil telinganya sangat kuat. Dia mendongak dan melihat Darsen menatap tajam ke arahnya.
"Bertelpon dengan siapa sampai membicarakan nikah?" tanya Darsen.
Pak Adi datang dari arah dapur, ia terkejut saat telinga putri kesayangannya memerah. Pak Adi menatap putranya itu sedangkan Darsen memalingkan wajah sangat tahu sang bapak akan memarahinya.
"Jangan kasar dengan adikmu sendiri, Darsen!"
"Pak, dia masih bocah sudah membicarakan nikah dengan pria," jawab Darsen.
Bapak mendengus, ia menjelaskan jika beliau yang menyuruhnya dan memang Mela akan menikah dalam waktu dekat ini membuat Darsen terkejut. Darsen tidak percaya dengan keadaan ini. Kenapa sang ayah menjodohkan Mela secepat ini?
"Mela, kau kembali ke kamar. Istirahatlah!" ucap bapak.
Mela mengangguk, ia tanpa melirik Darsen langsung ke kamar sesuai perintah sang ayah. Sedangkan Pak Adi menggeleng-gelengkan kepala melihat putranya yang sudah besar tapi ke kanakan.
"Carilah istri, Darsen! Aku tahu kau sangat kesepian lalu melampiaskan amarah pada orang lain. Kasian dengan Velino terkadang kau sampai lupa dengannya karena kau asyik dengan duniamu sendiri," ucap Bapak.
Darsen tersenyum tipis, ia tidak menghiraukan ucapan Pak Adi lalu segera ke kamarnya. Dia melihat Velino tidak ada di kamar, ia sangat panik. Dia segera ke kamar Mela dan melihat putranya sedang bermain dengan tantenya itu.
"Vel, sedang apa?" tanya Darsen membuat Mela terkejut.
Mela yang sudah berganti celana pendek langsung menutupi dengan selimut. Darsen memperhatikannya tanpa ekspresi.
"Papa sudah pulang? Pah, aku ingin tidur disini dengan Tante Mela," ucap Velino.
Darsen mendekatinya lalu mengajak putranya untuk kembali ke kamarnya namun Velino tidak mau.
"Kak, biar malam ini dia tidur di sini," ucap Mela.
Darsen melihat sorot mata Mela yang ketakutan menatapnya. Apakah dirinya sangat menyeramkan?
"Soal pernikahan itu jika keberatan kau boleh menolaknya. Jangan merasa tidak enak dengan orang tua ku!"
Mela tersenyum kecil dan lagi-lagi membuat Darsen berdegup kencang. Gadis 18 tahun itu sudah membuat dunianya terasa berbeda. Darsen sadar jika dirinya sangat salah mencintai adik angkatnya sendiri sejak satu tahun terakhir ini.
Mela mengangguk namun ia akan tetap menuruti orang tua angkatnya karena ingin membalas budi pada mereka.
Melihat Darsen yang semakin hari semakin sering mengajaknya berbicara membuatnya sedikit senang.
"Kak Darsen, terima kasih sudah perhatian denganku," ucap Mela.
DEG
__ADS_1
DEG
DEG
Darsen sangat senang mendengar ucapan Mela. Dia berjalan mendekatinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Sama-sama," jawabnya.
Darsen keluar meninggalkan Mela dan Velino, ia kembali ke kamarnya untuk segera mandi dan beristirahat. Perasaannya kini kian membaik setelah Mela tersenyum manis padanya. Saat mandi pun ia tersenyum sendiri seperti orang gila. Sambil berendam, ia mencoba meraih ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang yang sudah menjadi sahabat curhatnya di media sosial.
Darsen kenal dengan orang itu melalui sebuah aplikasi namun tentu saja Darsen memalsukan nama dan fotonya.
Darsen
Jika seseorang tersenyum padamu lalu kau merasa berdebar itu pertanda apa?
Grey
Dari pengalamanku itu pasti karena cinta.
Darsen
Wow, kau pasti ahli dari cinta. Bisa kau beri tahu aku tanda-tanda cinta yang lain?
Grey
Aku tidak banyak memiliki pengalaman cinta namun aku juga sedang merasakannya. Kita akan senang bahkan salah tingkah jika dekat dengan orang yang kita sukai.
Darsen
Grey
Bertemu?
Darsen
Iya, kenapa?
Grey
Besok aku harus bekerja.
Darsen
Aku akan menjemputmu. Kita 'kan satu kota.
Grey
Besok di Taman Paradise jam 5. Aku tunggu disana tapi aku masih kecil.
Darsen
Tak masalah, kita hanya bertemu sebentar dan aku akan memberikanmu hadiah karena selalu membalas curhatanku yang tidak penting.
__ADS_1
Grey
Baiklah, sampai jumpa besok.
Darsen segera mandi dan setelah itu tidur. Sebelum tidur ia melihat ke kamar Mela dan ternyata putranya juga sudah tertidur. Dia tersenyum kecil melihat Mela tidur dengan memeluk Velino.
Jika kau tidak bisa menjadi istriku, bisakah kau menjadi ibu untuk Velino? Anggap dia seperti anak sendiri!
***
Keesokan harinya.
Pukul 5 sore, Darsen keluar dari kantor bersama Pras. Mereka akan menuju ke taman tempat Darsen akan menemui sahabat onlinenya.
"Bos diam-diam curhat dengan orang lain. Bos memang tak menganggapku," ucap Pras sambil menyetir.
"Diam kau!"
Pras berdecih lalu mengejek Darsen. "Jika dia nenek-nenek bagaimana, Bos?"
Darsen tidak mempedulikan ucapan Pras. Dia memandang sebuah jam mewah dan tentunya mahal sebagai hadiah untuk sahabat curhatnya. Entah itu orang tua bahkan anak kecil, ia akan tetap memberikannya karena selama ini mau menjadi teman onlinenya yang membuatnya tidak kesepian lagi.
Setelah sampai, Darsen mengirim pesan pada Grey.
Darsen
Kau dimana dan pakai baju apa?
Grey
Aku pakai seragam kerja warna biru dan aku sedang duduk di bangku dekat pohon mangga.
Darsen dan Pras mencarinya lalu mereka menemukan wanita itu yang duduk membelakangi mereka. Mereka nampak tak asing dengan postur tubuh wanita itu.
"Bos, coba kita bersembunyi dulu lalu Bos menelponnya. Aku pikir dia orang yang Bos kenal," ucap Pras.
Darsen setuju, mereka segera bersembunyi lalu menelpon nomor Grey namun Grey tidak menjawab dan justru mengirim sebuah pesan.
Grey
Kau di mana? Jangan lama-lama! Orang tua ku pasti menungguku di rumah.
Wanita itu berdiri sambil mencari keberadaan Darsen dan saat itulah Darsen melihat wanita itu adalah Mela.
"Wah ... Bos, jika berjodoh memang tak kemana. Itu Mela, Bos," ucap Pras.
Darsen mencoba menelpon Mela, nampak wanita itu sangat ragu untuk mengangkatnya namun pada akhirnya ia angkat juga.
"Hallo, Kak Sena? Kakak dimana?"
Darsen langsung menutup telponnya. Dia sangat syok teman curhat onlinenya adalah orang yang di sukainya sendiri yaitu Mela.
Darsen segera masuk ke mobil dengan keadaan cukup bingung. Dia ingin menemuinya namun jika Mela tahu kalau Sena ternyata adalah Darsen maka ia tidak akan pernah bisa berkirim pesan lagi pada Mela.
__ADS_1
"Bos, tetap pura-pura jadi Sena supaya Mela tidak menjauhi Bos dan merasa canggung karena selama ini kalian saling curhat satu sama lain tetapi tetap berikan jam itu pada Grey alias Mela. Wah ... jodoh memang tak kemana," ucap Pras.