
Setelah sampai di rumah sakit, Darsen menunggu Mela yang sedang dirawat oleh dokter. Seluruh anggota keluarga panik tentang keadaan Mela. Darsen sedari tadi mondar-mandir
di depan ruangan sampai Pak Adi menyuruhnya untuk lebih tenang. Darsen sudah
pernah kehilangan Seila dan kini ia tidak mau kehilangan Mela.
Setelah menunggu, dokter keluar dan Darsen langsung menanyakan keadaan Mela. Dokter itu mengatakan jika Mela keguguran dan harus dilakukan proses kiret. Darsen syok
mendengarnya, ia langsung lemas dan duduk di kursi panjang. Amira memeluknya
supaya putra kesayangannya lebih tenang.
“Tapi kenapa tiba-tiba keguguran?” tanya Pak Adi.
“Dari hasil lab, Nona Mela meminum obat penggugur kandungan. Itulah yang membuatnya keguguran,” jawab Dokter.
Semuanya terkejut termasuk Darsen, Mela tidak mungkin melakukan itu semua. Mela sangat menjaga kandungannya. Ini semua ada yang janggal. Apalagi tadi Mela pergi entah ke mana. Darsen mengirim pesan
pada satpam rumahnya untuk mengecek CCTV di semua lokasi yang terpasang. Tak
lama kemudian, Darsen mendapat kiriman rekaman saat seseorang membekap Mela
dari belakang dan orang itu nampak tidak asing.
Lexter? Sialan itu menculik Mela?
Tapi kenapa Mela tidak bilang yang sebenarnya.
Darsen pergi tanpa berpamitan dengan orang tuanya, dia menuju ke mobil dan mulai melajukan
mobil tempat di mana Lexter menginap. Darsen langsung mengerahkan Pras untuk
melacak lokasi Lexter dan tak lama kemudian ia tahu keberadaan Lexter. Darah
seakan mendidih saat mengingat pria itu menculik Mela apalagi Mela kini mengalami keguguran. Darsen menduga jika semua ini perbuatan Lexter yang sengaja membuat Mela keguguran.
Setelah sampai di hotel tempat Lexter menginap, Darsen langsung masuk dan menggedor
pintu kamar Lexter. Lexter membukanya dan langsung terkena pukulan dari Darsen.
Buaaaak...
Lexter langsung membalas pukulan dan terjadilah baku hantam.
Kedua pria itu bertengkar hebat sampai tamu di kamar hotel lain keluar dan mencoba memanggil petugas keamanan.
__ADS_1
“Sialan kau! Kau yang memberi obat penggugur pada Mela ‘kan?” tanya Darsen.
“Apa maksudmu?”
“Mela keguguran setelah kau bawa pergi.”
Lexter mengusap bibirnya yang berdarah, ia menatap bingung pada Darsen. Dia tidak
melakukan apapun pada Mela namun mendengar Mela keguguran membuatnya begitu
senang. Lexter ingin membalas dendam dengan cara merebut Mela dari Darsen karena pria itu sudah jatuh cinta dengannya.
“Aku tidak tahu masalah keguguran istrimu tapi sepertinya ini akan menjadi kesempatan bagiku untuk merebut Mela darimu,” ucap Lexter.
Darsen sangat murka dengan ucapan Lexter, ia akan memukulnya lagi namun di cegah oleh beberapa orang termasuk petugas keamanan. Mereka melerai pertengkaran itu
sebelum petugas keamanan memanggil pihak kepolisian. Darsen pergi untuk kembali
ke rumah sakit, dia sangat frustasi. Leon sudah pergi kini malah ada kakaknya yang menjadi penyebab masalah baru.
Setelah kembali ke rumah sakit, ia masuk ke ruangan Mela. Nampak gadis itu sudah siuman
dan tahu bahwa dirinya keguguran. Wajahnya memang nampak sedih namun ia masuk
punggung tangan Mela.
“Ikhlaskan walau tidak ikhlas!” ucap Mela.
Darsen mengangguk, ia mengusap rambut Mela dan ingin bertanya tentang Lexter yang membawanya pergi namun masih enggan karena kondisi Mela yang masih lemah.
“Kakak sudah makan?” tanya Mela.
“Hemm.. masih saja memanggilku kakak.”
Mela mencubit hidung Darsen, ia sangat gemas dengan suaminya yang tampan namun sifatnya
terkadang mirip bocah yang haus akan perhatian.
“Tapi kurasa lebih manis jika memanggil dengan sebutan kakak dan adek. Sekarang panggil aku adek saja terlihat lebih manis,” ucap Mela.
Darsen menghela nafas, ia mengangguk membuat Mela sangat senang. Darsen hanya ingin melihat Mela senang dan bahagia. Setelah itu, Darsen menghubungi Pras untuk
menunda jadwalnya hari ini. Hari ini, ia ingin menemani Mela yang pastinya sedang sedih.
“Velino tidak kakak jemput?” tanya Mela.
__ADS_1
“Bapak yang akan menjemputnya.”
Darsen membelai rambut Mela, menyentuhnya dari dahi sampai ke bibir. Bibir Mela memang
sangat menggoda namun tidak mungkin juga jika Darsen menciumnya di sini, sebisa
mungkin ia tahan walau sangat berat. Mela memandangnya sambil tersenyum, tak
menyangka kakak yang galak sekarang ini menjadi suami sahnya.
“Aku mencintaimu, Kak Darsen.”
“Aku juga mencintaimu, Dedek Mela.”
Mereka tertawa bersama saat mendengar panggilan satu sama lain. Amira yang mengintip
mereka dari luar hanya tersenyum kecut. Dia yang ternyata memberi obat
penggugur pada jus jeruk Mela saat Mela membantu menyiapkan makanan. Amira
berpura-pura akting cemas supaya ia tidak di curigai.
Di sisi lain.
Pras mengerjakan pekerjaannya dengan tidak konsentrasi, ia masih teringat dengan
ejekan Suzan namun ia segera menepisnya. Kepalanya mendongak pada kursi milik
Darsen, ia memang asisten kampret yang berani duduk di bangku sang bos.
Andai saja Suzan tidak ada di agensi ini. Mungkin aku bisa lebih tenang. Wanita tak tahu malu itu entah apa yang ia
akan rencanakan.
Pras mendapat telpon dari seseorang lalu mengangkatnya yang ternyata adalah Tiara.
Tiara adalah wanita yang tidak sengaja ia tiduri namun Pras somplak itu tidak sadar akan perbuatannya. Setelah menerima telepon, ia segera menghampirin Tiara di apartemen namun saat akan keluar bertemu dengan Suzan.
“Di mana Pak Darsen?” tanya Suzan.
“Dia sedang ada urusan.”
Pras langsung melewatinya.
“Aku merindukanmu, Pras."
__ADS_1