
"Kakak tidak ke agensi?" tanya Mela mengelus kepala Darsen yang berada di atas pahanya.
Mereka pacaran di atas sofa apartemen Mela layaknya ABG. Darsen ingin sekali bermanja-manja pada perempuan yang di sukainya.
"Tidak ada pekerjaan penting di kantor. Aku ingin menghabiskan hari ini sampai malam bersamamu."
"Lalu Velino bagaimana? Kasian dia punya bapak seperti bocah yang lagi asyik jatuh cinta."
Darsen terkekeh geli. "Jadi saat kita pacaran harus membawa Velino?"
Mela mencubit hidung Darsen dengan gemas lalu memandang wajah tegas dari sang kakak yang dulu sangat garang, galak bahkan ketus padanya. Memang benar jika Darsen melalui benci jadi cinta pada Mela.
Darsen benci karena orang tuanya selalu membela Mela bahkan lebih menyayangi Mela dari pada Darsen, anak kandungnya sendiri.
Sekarang, ia tak peduli apakah orang tuanya lebih menyayanginya atau Mela. Yang terpenting Mela sudah memberikan lampu hijau untuk Darsen.
Darsen bangun dari pangkuan Mela lalu mencium pipi adik rasa pacarnya. Mela tersenyum malu saat di perlakukan manis oleh sang kakak. Darsen mendaratkan bibirnya di leher Mela, saat bersamaan ponsel Mela berbunyi yang ternyata dari calon suami. Mela mengangkatnya sementara Darsen masih fokus dengan permainannya pada leher Mela.
"Hallo?"
"Hallo, Mela. Sedang apa?"
Mela terdiam cukup lama karena ia sedang di cium oleh Darsen dan tidak mungkin mengatakan itu pada calon suaminya.
"Sedang duduk saja sambil menikmati teh manis. Kau sedang apa, Leon?"
"Di sini masih malam, aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan wajah imutmu."
Darsen mendengar ucapan Leon langsung kesal. Dia dengan keadaan kesal langsung mencium beringas bibir Mela. Mela tidak bisa melawan karena sang kakak menciumnya dengan bersemangat.
"Mela, kok diam saja?" tanya Leon.
Mela tentu saja tidak bisa menjawab. Bibirnya terkunci oleh bibir Darsen.
"Mela? Sedang sibuk?"
Darsen merebut ponsel Mela lalu mematikan telpon dari Leon. Mela terengah-engah karena tidak di beri kesempatan oleh Darsen untuk bernafas. Mela mendorong dada Darsen dan berusaha terlepas dari ciumannya.
"Kak Darsen parah sekali. Aku tidak bisa bernafas."
"Sini biar aku beri nafas buatan," goda Darsen.
Mela tersenyum menahan kesalnya. Belum menikah saja Darsen sudah beringas apalagi jika sudah menikah.
"Mela, kau harus segera memutuskan hubungan dengan Leon."
__ADS_1
"Kami bahkan tidak ada hubungan apa-apa."
"Kau harus tegas dalam menentukan keputusan. Kasian Leon yang kau permainkan seperti itu."
Ucapan Darsen memang ada benarnya namun bagaimana cara mengatakan jika ia tidak mau menikah dengan Leon? Apalagi dengan Pak Adi. Tujuan Mela mau menikah dengan Leon juga karena permintaan Pak Adi.
"Mungkin aku akan berbicara secara langsung dengan Leon setelah dia datang kemari untuk menemuiku. Aku memang wanita plin-plan," jelas Mela memasang raut wajah sedih.
Darsen menangkup wajahnya, ia sangat mengagumi sosok Mela yang masih bisa memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan perasaannya.
"Oh ya, wajah Leon seperti apa?" tanya Darsen.
Mela menunjukan foto profil dari akun Leon. Rahang Darsen mengeras karena saingannya benar-benar tampan dan masih muda.
Sialan! Kenapa bocah itu tampan sekali? Bagaimana jika Mela langsung terpikat jika bertemu langsung dengannya?
Mela melihat wajah Darsen yang sangat merah padam. Dia berdiri lalu mengambil air minum untuk ia tenggak.
Aku harus segera membuat Mela menjadi milikku seutuhnya, bagaimanapun caranya.
"Kak, Leon menelpon lagi," ucap Mela.
Darsen merebut ponsel Mela lalu memblokir nomor Leon. Duda itu benar-benar tidak ingin jika Mela jatuh hati pada pemuda itu. Tingkah laku Darsen membuat Mela begitu gemas. Duda satu anak yang sangat posesif bahkan keposesifannya melebihi sang bapak.
Tiba-tiba ponsel Darsen berbunyi ternyata dari nomor rumah. Dia segera mengangkatnya lalu ia sangat terkejut saat putranya jatuh di kamar mandi.
"Ada apa, Kak?" tanya Mela.
"Veli jatuh, aku ingin kembali ke rumah."
"Aku ikut."
Darsen dan Mela menuju ke rumah dengan cepat. Velino adalah anak kesayangan Darsen dan ia tidak mau sang anak kenapa-napa.
****
Mereka sampai rumah dan mendapati Velino bermain-main dengan pengasuhnya. Darsen sangat geram kenapa sang ibu menipunya.
Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Mela di belakangnya.
Darsen berdecih karena Sandra dan Seira sedang mengobrol dengan ibunya.
__ADS_1
"Darsen, pulang juga?" tanya ibu sambil menyeruput teh.
"Apa maksud ibu mengatakan Velino jatuh? Jangan bermain-main menggunakan nama anakku!"
Ibu tersenyum lalu memandang Mela yang mematung di belakang Darsen. Mela menunduk hormat karena selama 2 minggu ini sang ibu sudah tidak menganggapnya lagi sebagai anak angkat.
"Sandra dan Seira mau untuk di nikahi bersama-sama. Apalagi yang kau tunggu Darsen? Kau mapan dan banyak uang dan sudah ada 2 wanita yang mau dinikahimu," ucap Ibu.
"Berhentilah untuk mengatur hidupku, Ibu. Aku punya pilihan sendiri."
Ibu berdiri lalu menghampiri Mela yang diam mematung. Ibu yang selalu menyayanginya menjadi seorang ibu yang menyeramkan bahkan kini seolah memusuhinya.
"Mela, besok menginaplah di sini! Lama kita tidak minum bersama, bukan?"
Mela mengangguk dan saat itu ibu memeluknya dengan erat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Kau harus sadar jika Darsen itu kakakmu. Dia tidak bisa berhubungan denganmu. Kau mau berita menghujatmu karena memiliki hubungan dengan kakak sendiri? Jika tidak mau maka segera menjauhlah!"
Setelah itu ibu melepaskan pelukannya dan kembali duduk bersama kedua calon menantunya. Darsen tak habis pikir kenapa sang ibu bisa berubah seperti ini?
"Sandra, Seira. Aku tidak akan menikahi kalian. Kalian tidak pantas menjadi ibu untuk Velino. Camkan itu!" Darsen menarik tangan Mela untuk keluar dari rumah itu.
Velino yang sedang bermain bola di halaman menghampiri sang papa yang pulang lebih cepat. Darsen memeluknya erat, jantungnya hampir copot karna sang ibu mengatakan hal yang jelek pada putranya itu.
"Papa, ayo kita main! Besok aku sudah masuk sekolah lagi."
"Anak papa sayang, mau ikut Papa ke apartemen Tante Mela?" tanya Darsen.
Velino langsung melempar bolanya lalu mengangguk senang. Sudah lama ia tidak bermain dengan tantenya. Darsen menggendongnya untuk masuk ke mobil dan tak lupa bilang pada sang pengasuh jika mereka akan pulang nanti malam.
Mela sangat senang melihat kedekatan papa dan anaknya itu. Terasa menghangatkan.
"Mela, kami mau ke rumahmu sampai malam, ya?"
"Asyik, aku senang jika kalian main ke apartemenku."
***
London.
"Leon, ada apa?" tanya Fredy, ia adalah ayah dari Leon.
"Aku harus segera ke Indonesia untuk menemui Mela. Aku ingin melihat calon istriku."
Fredy tersenyum, putranya sepertinya tidak sabar untuk menikahi Mela, gadis yang imut bahkan baru lulus sekolah.
__ADS_1
Mela, jangan bermain-main denganku! Jika kau sudah masuk ke dalam lubangku maka jangan harap untuk bisa ke luar dengan mudah.