Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 45 : Terkuak


__ADS_3

Darsen menunggu sang istri di rumah sakit, ia menyuapi Mela yang hanya bisa terbaring lemah. Darsen sangat ingin sekali membawa pulang Mela karena lebih mudah untuk mengurusnya namun keadaan Mela masih lemah. Bahkan dia tidak tahu jika dirinya keguguran akibat meminum obat aborsi.


"Velino mana?" tanya Mela.


"Sudah ada bapaknya malah cari anaknya. Huh ... "


Mela mencubit hidung Darsen, terkadang sifat Darsen sangat kekanakan melebihi Velino.


"Sehari tidak melihat putra cerewetku membuat aku rindu," ucap Mela.


Darsen mengecup pipi Mela yang nampak lebih chubby, ia tersenyum pada Mela. "Besok putra kita akan datang menjengukmu. Malam ini tidurlah dengan nyenyak!"


Mela mengangguk, ia mencoba untuk tertidur setelah makan namun ia malah tidak bisa tidur. Darsen terus mengelus keningnya seperti anak kecil tapi mata Mela semakin segar. Darsen mencoba menyanyikan lagu untuk Mela, Mela kagum dengan suara Darsen yang sangat bagus. Darsen memang tahu akan musik namun ia lebih memilih mendebutkan orang lain menjadi penyanyi dari pada harus bernyanyi sendiri.


Mela memperhatikan wajah ABG tua itu, wajah Darsen masih seperti usia 25 tahun bahkan tidak ada kerutan di wajahnya. Dia seolah menolak untuk tua.


"Setelah ini aku akan mengajakmu untuk berbulan madu."

__ADS_1


"Bersama Velino?"


Darsen mengangguk, tak mungkin ia meninggalkan putranya. Pasti putranya yang cerewet akan marah jika tidak di ajak. Mela tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa merasakan yang namanya berbulan madu.


Darsen menciumi wajah Mela, Gadis itu merasa geli lalu menyuruh untuk segera tidur karena hari mulai malam. Darsen memastikan Mela tertidur lebih dahulu sebelum dirinya pergi tidur.


Setelah Mela tidur, Darsen berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya yang lelah di atas sana.


Ketika akan terlelap, ia mendapat pesan dari Seira. Wanita itu tak berhenti untuk mendekatinya walau kini Darsen sudah menikah. Walau Seira saudara kembar dari mendiang istrinya namun mereka tetap berbeda orang dan cinta Darsen hanya untuk Seila bukan termasuk kembarannya.


Darsen memblokir nomor Seira dan memilih untuk tidur karena hari sudah larut malam.


Pak Adi sedang menatap Amira yang masih mengamuk sebab ia protes kenapa seluruh harta warisan atas nama Mela bukan Darsen. Pak Adi hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum ke arah Amira.


"Darsen atau Mela, mereka semua anak-anak kita. Apalagi mereka juga sudah menikah," ucap Pak Adi.


"Tapi kenapa harus Mela? Darsen adalah anak kandung kita," ucap Amira.

__ADS_1


"Darsen sudah punya usahanya sendiri. Tanpa hartaku dia sudah sukses, sedangkan Mela dia tidak punya apa-apa. Makanya aku memberi dia warisanku. Dia putri kita, sudah jangan iri dengannya lagi!"


Pak Adi lalu menunjukan sampel sebuah minuman yang sudah ia masukan ke dalam plastik pada Amira. "Kau kemarin memberinya ini 'kan? Aku akan mengujinya di lab. Jika terbukti minuman ini mengandung obat aborsi maka aku tak segan menjebloskanmu ke penjara," ucap Pak Adi.


Amira sangat terkejut, ia gugup dan langsung menarik plastik itu namun Pak Adi mengantonginya. Dia tersenyum manis pada Amira.


"Kenapa kau takut?"


Amira menggeleng, ia sudah tidak punya apa-apa lagi jika diceraikan oleh Pak Adi. Dia langsung bersujud memohon ampun pada sang suami supaya dirinya tidak diceraikan.


"Kenapa kau melakukan itu pada Mela dan calon cucumu sendiri?" tanya Pak Adi.


"Maafkan, aku! Aku memang tidak menyukai Mela. Semenjak gadis itu datang seolah mengusai semuanya," jawab Amira sambil menangis.


Pak Adi menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memang sudah lama tahu sikap Amira pada Mela, namun selama ini dia diam karena percaya jika Amira akan berubah namun sampai detik ini sang istri malah melakukan perbuatan tidak terpuji dengan menggugurkan calon cucunya.


"Semarah apa Darsen jika sampai tahu?" ucap Pak Adi.

__ADS_1


"Tolong jangan bilang pada Darsen! Aku tidak mau dibenci putraku sendiri," pinta Amira.


Pak Adi menghela nafas panjang, dia tidak memperdulikan ucapan Amira dan memilih tidur bersama Velino di kamar Darsen. Perbuatan istrinya sangat membuatnya kecewa terlebih lagi itu termasuk perbuatan pembunuhan.


__ADS_2