
Sudah 1 tahun kepergian Amira bahkan sudah hadir bayi mungil diantara Darsen dan Mela
ialah Delima Arsyani. Putri pertama mereka yang baru berumur 1 bulan. Mela
sedang menimangnya dan memberikan asi untuk putrinya. Sedangkan Darsen sedang
menyiapkan perlengkapan sekolah Velino yang sudah masuk SD. Dia bersyukur bisa
memiliki keluarga utuh lagi setelah sepeninggalnya mendiang istrinya. Hari-hari
biasa, ia jalani dan semua media sudah tahu jika dirinya sudah menikah dengan
Mela. Mela menjadi artis dadakan yang di kepoi oleh kalangan masyarakat yang
penasaran melihat wanita seperti apa yang bisa meluluhkan hati pemilik agensi besar itu.
“Sayang, aku mau berangkat bekerja sambil mengantar Veli berangkat sekolah,” ucap Darsen.
Mela mengangguk, Velino berpamitan dengannya dan tidak lupa mencium tangannya.
“Belajar yang pintar, Vel. Perhatikan dan dengarkan jika guru mengajar,” ucap Mela.
“Iya, Mah.”
Darsen mengecup pipi Mela dan pipi putrinya lalu berpamitan untuk segera berangkat.
Mela tersenyum dan mengantar mereka sampai depan pintu sambil menggendong putrinya. Setelah mereka berangkat, Mela
__ADS_1
menutup pintu dan kini ia hanya berdua dengan putrinya.
Di dalam mobil, Darsen sedang memperhatikan foto anak dan istrinya, baru beberapa menit
keluar, ia sudah merindukan mereka berdua. Velino menatap papanya, sebagai
seorang anak, ia cukup cemburu dengan kehadiran Delima. Darsen memperhatikannya
lalu mengusap rambut Velino.
“Apa sih, pah?” tanya Velino kesal.
“Anak papa kenapa cemberut?” tanya Darsen.
“Semenjak ada Delima, aku sudah terlupakan."
merasakan apa yang dirasakan Velino ketika Mela hadir di keluarganya secara tiba-tiba, ia tentu saja kesal namun lambat laun ia bisa menerima Mela dan kini malah menjadi istrinya.
“Vel, kau tetap anak kesayangan papa. Kalian anak kesayangan Papa, tidak ada yang Papa
bedakan.”
Velino semakin cemberut membuat Darsen sangat gemas, Dia mencubit pipi Velino dan mengecupi pipi anak SD itu.
“Velino mau apa? Nanti Papa akan mengabulkan semuanya,” ucap Darsen membujuk putranya.
Velino tersenyum cerah, ia segera memeluk Papanya. Darsen memang tahu cara membujuk putranya itu, putranya yang sudah menemani hampir 7 tahun bersamanya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian.
Darsen sudah mengantar Velino ke sekolah dan kini ia sudah sampai di agensinya. Dia masuk ke dalam bersama Pras yang sedari terus diam, ia tahu diamnya Pras pasti memiliki
masalah namun Darsen tidak mau ikut campur.
Wanita setengah baya menggunakan pakaian seksi menghampiri Darsen. Dia memang akhir-akhir ini memang mengunjungi agensi untuk mengurus kemunduran dirinya.
“Menantu?”
“Jangan panggil aku begitu!” ucap Darsen.
“Aku titip putriku padamu, aku sangat ingin mengunjunginya dan mengunjungi cucuku tapi kau selalu melarangku.”
Darsen tersenyum kecut. “ Tolong jangan menganggu kebahagiaan Mela! Dia sudah hidup bahagia dan tidak membutuhkan ibu yang tidak bertanggung jawab sepertimu.”
Darsen segera pergi, sampai sekarang memang Mela tidak mengetahui ibu kandungnya
sendiri karena Darsen tidak akan memberi tahu hal itu. Mela sudah bahagia, ia tidak ingin ibu kandung Mela menyakiti perasaan Mela lagi. Darsen akan menutup fakta jika ibu kandung Mela membuang Mela dengan sengaja hanya untuk menjadi
artis terkenal lalu Mela yang malang hidup di panti asuhan dengan kondisi memprihatinkan sampai keluarga Pak Adi mengadopsinya.
Mungkin caraku sangat salah, namun Mela tak perlu tahu akan hal itu. Aku tidak mau Mela tersakiti lagi.
Darsen masuk ke ruangannya, ruangannya sedikit ada perubahan, ia memang ingin mengubah suasana. Dia menarik kursi kerjanya dan melihat foto keluarga yang ada di atas meja. Jemari Darsen mengelusnya, ada
dirinya, Mela, Velino serta Delima. Dia mengambil lalu mendekapnya di dada. Rasa
__ADS_1
bahagia menghampirinya, setelah beberapa tahun melewati kesendirian dengan Velino akhirnya mereka memiliki keluarga yang utuh.