
Undangan mulai tersebar, pernikahan tertutup ini harus berjalan sesuai rencana bahkan dirahasiakan dari para media dan tidak ingin mengundang spekulasi negatif tentang pernikahannya nya dengan adiknya sendiri, tak dapat dipungkiri lagi jika ada berita negatif akan membicarakan pernikahannya.
Sebuah gaun mewah nampak membalut tubuh mungil Mela. Gaun kali ini sangat bagus dan tentunya sangat mahal dibanding gaun yang ia pakai sebelumnya. Dia harus menutup telinganya rapat-rapat tentang omongan para orang yang akan membicarakannya nya karena menikah dua minggu kemudian setelah kematian calon suaminya.
"Baby, sudah?" tanya Darsen yang melihat Mela yang sudah siap.
"Sudah, honey," jawab Mela.
Mela mengambil sebuket bunga lalu membawanya. Dia lalu keluar kamar bersama Darsen dan menuruni tangga dengan hati-hati. Darsen memegangi Mela supaya sang calon istri tidak terjatuh.
Mereka berangkat bersama-sama ke gereja menggunakan satu mobil sedangkan orang tuanya berada di mobil lain.
Untuk pernikahan kali ini benar-benar berdebar, ia akan melepas masa lajangnya dan mengabdi kepada seorang pendiri agensi Ars sebagai istri.
Keringat dingin membasahi telapak tangannya, di dalam mobil ia terus terusan mengisap telapak tangannya pada gaunnya. Darsen yang liriknya langsung mengambil sapu tangan dan mengelap tangan sang calon istri.
"Jangan gugup!" ucap Darsen menenangkan Mela.
"Baik, honey."
Sesampainya di gereja, Mela masuk digandeng oleh Pak Adi. Sedangkan Darsen sudah ada didalam menunggu sang istri untuk mendekatinya.
Nampak semua kerabat sudah duduk di kursinya masing-masing dan akan melihat prosesi pernikahan ini dengan tenang. Pak Adi nampak bahagia saat melihat putri angkatnya sudah menemukan kebahagiaan yaitu putranya sendiri, sepertinya Pak Adi memang yang sudah menyiapkan jodoh untuk Darsen yang tidak terduga walau beliau masih menyesali cara Darsen yang sangat tidak baik. Namun semua tidak akan kembali pada semula jika ia terus-terusan memisahkan mereka.
Darsen melihat sang calon istri semakin mendekatinya. Mela tersenyum ke arahnya, tentu saja dengan sorot mata kebahagiaan. Setelah Mela benar-benar ada di hadapannya, Darsen lalu mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Mela, kini Darsen menggenggam tangan Mela dengan erat lalu mengajaknya untuk menghadap pendeta. Setelah dirasa siap dan para saksi sudah hadir, pendeta lalu mengucapkan kan prosesi janji-janji suci kepada kedua mempelai.
Setelah keduanya mengucapkan janji suci, mereka memasang cincin di jari Manis satu sama lain dan kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah.
Darsen mencium bibir Mela di hadapan semua orang, pertanda Mela adalah benar-benar miliknya. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak melihat dua sejoli yang sudah mengikat janji suci di hari ini.
Di bangku paling belakang ada seseorang yang terus memperhatikan mereka. Dia memakai kacamata hitam dan pakaian serba hitam, dia hanya tersenyum kecil saat melihat pengantin itu berciuman.
Kematian adikku sangat janggal, bisa-bisanya wanita itu menikah lagi setelah 2 minggu sepeninggalnya Leon. Awas saja! Aku akan menghancurkan rumah tangga kalian.
Pria misterius itu keluar dari gereja, ia langsung menuju ke mobilnya yang tak jauh terparkir di sana, dia adalah Lexter, kakak dari Leon yang sudah beristri namun istrinya entah pergi ke mana.
***
__ADS_1
Setelah mengikat janji suci, kini mereka menuju ke hotel tempat resepsi diadakan dan tentu saja hanya kerabat yang datang.
Mela dan Darsen begitu sangat bahagia, mereka duduk di atas pelaminan sambil menikmati makanan yang sudah dipesan. Mela sangat lapar karena dari pagi hanya makan sedikit.
"Kak, aku rasa ada tamu yang janggal," ucap Mela.
"Kak?"
"Eh ... aku lupa. Maksudku, honey."
Darsen menatap seorang pria yang memakai baju serba hitam dan kaca mata hitam sedang berdiri menatap ke arah mereka sambil membawa segelas minuman.
"Siapa orang itu?" tanya Darsen.
"Mungkin teman dari Bapak atau Ibu," terka Mela.
Darsen mengira jika itu adalah wartawan yang menyamar. Dia tidak ingin pernikahannya terekspos oleh media. Darsen memanggil Pras dan menyuruh mengawasi orang tersebut.
"Oke, Bos."
Beberapa menit kemudian, Mela merasa ingin ke kamar mandi. Dia berpamitan ke kamar mandi sendirian. Darsen awalnya ingin mengantarnya, namun Mela tidak mau karena hanya sebentar.
"Siapa kau?" tanya Mela ketakutan.
"Kau wanita yang tidak punya hati, calon suamimu meninggal 2 minggu yang lalu namun saat ini sudah menikah dan menikah dengan kakak angkatmu."
Mela hanya diam saat pria misterius itu melepas kaca matanya. Bisa di bilang ia mirip dengan Leon.
"Kau siapa?" tanya Mela sekali lagi.
"Aku yang akan merusak rumah tanggamu. Aku yakin kematian adikku ada campur tanganmu atau campur tangan dari Darsen."
Pria itu langsung pergi meninggalkan Mela yang syok, rasa kebelet pipis seketika hilang dan ia mencoba mengejar pria tadi. Dia berlari ke sana kemari membuat Darsen yang sedang mengobrol dengan saudaranya langsung mendekatinya.
"Baby, kenapa? Ada apa?"
Mela menggeleng, ia menatap Darsen dan tidak percaya jika sang suami ada di balik kematian Leon. Darsen memang bukan tipe orang seperti itu.
"Umhh .. aku hanya sedikit pusing. Bolehkah aku kembali ke kamar hotel?" tanya Mela.
__ADS_1
"Baiklah, biar aku antar."
Darsen merangkul Mela yang bergelagat aneh. Matanya melirik seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka, ia tersenyum kecil pada orang itu membuat orang misterius itu merasa mendapat ejekan dari Darsen.
Sesampai di kamar hotel.
Darsen memilih menemani Mela sebentar karena wajah Mela sangat pucat. Dia memijat kaki Mela yang pegal karena sedari pagi memakai sepatu berhak tinggi.
"Ada apa, baby?"
Mela menggeleng, wajahnya sangat pucat serta bibirnya bergetar. Dia mengusap perutnya yang sangat mual namun ia masih bisa menahannya.
"Aku ingin istirahat."
"Baiklah, aku akan bantu membaringkanmu."
Darsen dengan sigap membaringkan tubuh Mela di ranjang yang bertabur bunga mawar. Dia melepaskan sepatunya dan menyelimuti tubuh sang istri.
Saat bersamaan, pintu kamar mereka di ketuk. Darsen yang heran segera membukanya namun saat membuka pintu ia di todong sebuah pisau oleh orang misterius tadi. Darsen mundur perlahan lalu orang itu terus saja maju sampai masuk ke kamar pengantin itu dan menutup pintu.
"Tidak ada malam pengantin bagi kalian. Kalian sudah menghancurkan adikku," ucap pria itu yang terus menodongkan pisaunya.
Mela yang menyadari ada orang lain di kamarnya langsung membuka mata. Dia terkejut saat sang suami tengah terancam.
"Siapa kau?" tanya Darsen santai bahkan tidak takut dengan pisau tajam itu.
"Aku kakak dari Leon. Aku tahu kau yang membunuh adikku."
Hueeeeeek ....
Mela tiba-tiba muntah membuat kedua orang itu terkejut. Saat itu juga, Darsen menendang tangan Lexter dan membuat pisau terjatuh lalu ia ambil. Darsen setelah itu menghampiri Mela yang sudah terduduk di lantai.
"Sayang, babyku. Kau kenapa?" tanya Darsen.
"Mungkin saja dia hamil karena aku tahu saat setelah pemakaman adikku kalian melakukan malam terlarang," sahut Lexter membuat Darsen menatap tajam ke arahnya.
***
Berikan like, komen, vote, n beri hadiah juga pada novel ini supaya author semangat.
__ADS_1
Follow instagram: Marr_Mystory