
Mela dan Darsen makan malam dengan keluarganya. Mela sangat malu dengan perlakuan Darsen yang sangat manis di depan orang tua angkatnya. Darsen sangat perhatian berbeda sekali dengan sebelum mereka menikah yang jarang sekali mengajak mengobrol Mela.
"Darsen, kau harus membimbing Mela dengan baik. Walau dia sudah menikah tapi umurnya masih sangat muda," ucap Pak Adi.
"Aku pasti menjaganya, Mela juga orang yang penurut," jawab Darsen.
Mela makan dengan lahap dengan makanan favoritnya, walau ibu angkatnya menjadi menjauhinya namun Mela tak mau ambil pusing. Mela juga menyuapi anak tirinya, ia sangat perhatian dengan Velino bahkan sebelum menjadi ibu tirinya. Pak Adi melihat keharmonisan mereka membuat hati sangat tenang namun tetap saja tidak ada yang mengubah suasana kakak adik mereka apalagi umur Darsen yang terpaut cukup jauh dari Mela.
"Darsen, bagaimana agensimu?" tanya Pak Adi.
"Berjalan cukup baik."
"Bapak juga tidak ingin jika kau masuk berita karena keluar masuk club."
Darsen menggeleng lalu merangkul Mela. "Aku sudah ada dia, tak mungkin aku ke sana lagi."
Mela tersenyum senang mendengarnya, pasti suaminya akan menjaga perasaannya. Dia pun juga akan menjaga perasaan Darsen sepenuh hati, menyayanginya dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar untuk menghabiskan malam bersama tentu saja bersama Velino, bocah umur 6 tahun yang sedang kepo-keponya.
"Kenapa tante Mela jadi sering di kamar kita?" tanya Velino.
"Papa sudah menikah dengan Tante Mela, lambat laun kau pasti akan mengerti, Sayang," jawab Darsen.
Velino hanya manggut-manggut, ia tidur di tengah-tengah antara Mela dan Darsen. Tangan mereka mengelus pipi Velino yang seperti bakpao itu. Bocah kecil itu terkadang berharap bisa melihat mama kandungnya namun semua itu tidak mungkin karena sang mama sudah meninggal ketika melahirkannya.
"Papa, kenapa tidak menikah dengan Mama Seira?"
DEG...
Entah mengapa, Mela mendadak bersedih namun ia tak mau menunjukan kesedihannya. Darsen menjawab pertanyaan putranya dengan sabar.
"Papa sudah menikah dengan Tante Mela. Anggap Tante Mela adalah mamamu dan panggil dia dengan sebutan 'Mama'!"
Velino menatap Mela, ia tersenyum lalu mencium pipi Mela. "Mama," ucapnya.
Mela tersentuh, ia memeluk Velino dengan erat lalu mengecupi wajahnya. Darsen merasa senang jika putranya bisa menerima Mela. Kini tugas mereka menidurkan Velino dan setelah itu malam enak-enak lagi sampai benar-benar bosan. Setelah sekian tahun menduda pada akhirnya bisa merasakan mantap-mantap juga apalagi dengan seorang yang masih gadis.
Setelah Velino terlelap, kini Darsen memindah posisi Velino di ujung tempat tidur sementara mereka memeluk satu sama lain sambil memandang wajah.
__ADS_1
Darsen mengusap wajah Mela dan begitu juga sebaliknya. Mereka sangat menikmati waktu malam.
"Mau lagi?" tanya Darsen.
"Kata dokter jika terlalu sering akan menyakiti bayinya."
"Pelan-pelan saja!"
Tanpa menunggu jawaban dari Mela, Darsen segera melakukan apa yang harusnya di lakukan. Dia menciumi dada Mela terlebih dahulu, dada yang selalu menggoda karena ukurannya yang besar.
Darsen membuat Mela mendesah dalam setiap permainannya. Pria itu memang sangat pro dalam permainan ranjang.
"Mhhhhmmm ..."
Darsen memperkuat permainannya, permainan yang menjadi candu bagi Mela. Sebisa mungkin Mela tidak mengeluarkan suara gaduh yang membuat putra tirinya terbangun. Dia lebih memilih menggigit bibirnya ketimbang mendesah keras seperti biasanya.
"Aku masukan, ya?" tanya Darsen.
Mela mengangguk namun saat akan proses masuk tiba-tiba Velino terbangun membuat Darsen langsung mengambil selimut dan menyelimuti tubuh mereka. Darsen memeluk Mela dengan erat, ia mati gaya saat ketahuan anu-anu oleh putranya.
"Kenapa kalian main rumah-rumahan?" tanya Velino.
Keesokan hari.
Darsen makan dengan lahap, ia nampak mendongkol karena kemarin malam tidak jadi melakukan pemanasan dan lebih memilih tidur setelah ketahuan oleh Velino. Darsen makan dengan cepat sambil membunyikan piringnya membuat semua anggota keluarga heran, sedangkan Velino meliriknya lirik papanya yang aneh.
"Kemarin main rumah-rumahan aku tidak di ajak, kemarin juga main bertengkar aku juga tidak di ajak," ucap Velino.
Pak Adi menatap cucunya yang sangat polos. Darsen juga sama saja yang tidak mau mengalah.
"Velino jika malam bobok sama kakek, ya?" ajak Pak Adi.
"Apa? Dia ada orang tuanya kenapa harus tidur dengan kita?" tanya Amira kesal.
Mela tersenyum. "Velino akan tetap tidur dengan kami, jangan khawatir, ibu!"
Darsen menghela nafas panjang, ia tidak mungkin marah karena putra kandungnya mengganggunya saat malam hari. Dia mengusap kepala Velino lalu menciumnya.
"Sudah, jangan cemberut! Nanti tetap tidur dengan papa."
__ADS_1
Setelah sarapan, Darsen berangkat ke agensi. Dia mengenakan setelah biru dengan lengan kemeja yang di gulung. Darsen memang tampan dan bahkan menjadi pusat berita media ketimbang para artisnya, namun media belum tahu jika Darsen sudah menikah lagi.
Pras datang untuk menjemputnya. Mela mengantar sang suami sampai masuk ke dalam mobil. Pasutri baru itu memang sedang bahagianya apalagi akan hadir buah hati di antara mereka.
"Jangan pulang terlalu malam, Honey!" ucap Mela.
"Iya, aku akan langsung pulang. Sampai jumpa nanti malam," jawab Darsen.
Darsen masuk ke mobil bersama putranya, Velino sudah masuk ke sekolah lagi. Velino sedari tadi melirik sang papa yang tersenyum sendiri.
"Papa, kapan kita akan jalan-jalan lagi?"
"Hari minggu, bagaimana?"
Velino mengangguk. Sudah lama mereka tidak pergi bersama. Darsen lalu mengecek saham agensinya yang terus merangkak naik, apalagi dengan debutnya Cherry Girls membuat sahamnya kian meroket.
" Pras, bagaimana dengan Yeri?" tanya Darsen.
"Dia sepertinya tertekan, Bos."
"Nanti suruh datang ke ruanganku!"
Setelah sampai di kantor, Darsen memutari seluruh ruangan gedungnya terlebih dahulu. Sudah kebiasaan Darsen melakukan itu sampai ia tak sengaja bertemu dengan ibu kandung Mela. Darsen tak memperdulikannya namun tiba-tiba wanita itu mengucapkan sesuatu sehingga Darsen terhenti.
"Menantuku?"
Darsen menatapnya dengan tajam. "Tolong jangan pernah dekati bahkan menemui Mela! Dia sudah bahagia."
Wanita itu malah tertawa. "Hahaha ... jangan begitu! Lambat laun dia akan tahu."
Rahang Darsen mengeras, ia ingin sekali memukul wanita yang telah menelantarkan Mela namun ia tahan. Pras mengajaknya untuk pergi, Darsen menyetujuinya sebelum kemarahannya meledak-ledak.
Disisi lain.
Mela tengah menyirami bunga di kebun belakang rumah. Dia sangat bosan sekali berada di rumah bahkan teman-temannya sudah sibuk bekerja. Menikah muda memang pilihannya bahkan saat di jodohkan dengan Leon, ia sudah merelakan masa mudanya untuk mengabdi pada anak orang.
Mela menghirup aroma mawar yang sangat harum namun tiba-tiba dari belakang, ia di sekap oleh orang. Mela berusaha memberontak namun dirinya pingsan setelah menghirup sapu tangan dari seseorang yang menyekapnya.
"Kak Darsen, tolong," ucapnya lirih sebelum pingsan.
__ADS_1