
NOTE: Maaf, cerita ini memang akan agak Hot seperti judulnya. Pembaca yang belum cukup umur menyesuaikan saja. Jika tidak enak di baca tinggal cari bacaan lain.
"Dari mana saja sampai pulang jam segini? Kau sudah punya anak Darsen, anakmu terus mencarimu," ucap Pak Adi yang melihat Darsen pulang tengah malam.
Darsen langsung berjalan melewati sang ayah. Dia tidak mau memperdulikan ucapan sang ayah.
"Pergilah cari tempat tinggal sendiri jika tidak mau mengikuti aturan bapak!"
Darsen terhenti dari langkahnya, ia membalikan badan menghadap sang bapak yang terlihat marah. Darsen memutar bola mata jengah lalu kembali berjalan menjauhi Pak Adi. Pak Adi mengelus dadanya untuk menyabarkan diri. Darsen memang tidak pernah berubah, putra satu-satunya itu selalu seenaknya sendiri.
Darsen masuk ke kamar, tangannya mulai membuka handel pintu lalu memutarnya. Kakinya mulai melangkah masuk dan ia melihat Mela tengah tertidur sambil memeluk Velino. Darsen mendekatinya, ia tersenyum kecil.
Kau sangat cocok menjadi ibunya Velino.
Darsen membuka jaketnya lalu menuju ke kamar mandi untuk sekedar mandi. Guyuran air dingin menyegarkan pikirannya. Apalagi ini adalah malam minggu yang harusnya di habiskan bersama pasangan namun malah ia habiskan bersama teman-teman somplaknya.
Seusai mandi, ia memakai pakaian tidur dan menghampiri mereka yang terlelap. Dia tidak ingin membangunkan Mela yang sudah terbawa ke alam mimpi.
Wajah Mela cantik dan sangat imut ketika tidur.
Darsen merebahkan diri di sebelah Velino dan kini Velino berada di tengah antara Mela dan Darsen.
Tubuh Darsen menghadap Mela dan begitu juga sebaliknya. Tangannya mulai membelai rambut Mela, mengusapnya lembut namun tetap saja membuat gadis itu terbangun.
Mela terkejut, ia segera terduduk dan mengumpulkan nyawa. Darsen memandangnya dengan manis.
"Maaf, Kak. Ku pikir kakak tidak pulang malam ini. Jadi aku menemani Velino tidur," ucap Mela.
Mela segera turun dari ranjang namun tangannya di cekal oleh Darsen. Mereka berpandangan tapi Mela segera memalingkan wajah karena tatapan sang kakak seolah berbeda.
Tatapannya seperti dalam mimpiku.
"Tetaplah tidur di dekat Velino! Dia sangat nyenyak jika tidur di sebelahmu," pinta Darsen.
Mela menggeleng, ia melepas tangan Darsen lalu mulai berdiri. Darsen juga ikut bangun, ia langsung memeluk Mela dari belakang. Mela sangat terkejut, ia memberontak namun Darsen menambah erat pelukannya.
__ADS_1
"Kakak, tolong jangan seperti ini!" pinta Mela.
"Tolong biarkan kakak seperti ini! Kakak merasa sangat tersiksa setiap kali melihatmu."
Mela bingung dengan ucapan Darsen, ia takut jika mimpi buruknya benar-benar terjadi. Mimpi yang ia sangat takuti. Nafas panas Darsen sangat terasa di tengkuk lehernya, Mela memejamkan mata karena ketakutan. Dia ingin berteriak namun ia tak ingin Pak Adi sampai tahu.
Darsen mengendorkan pelukannya dan seketika itu Mela bisa keluar dari pelukan Darsen. Mela menghadap sang kakak yang matanya memerah, tubuhnya sangat panas sekali seolah belum sembuh dari demamnya. Mela memegang kening Darsen yang membuatnya sangat terkejut. Panas sekali, pantas saja sang kakak bersikap aneh.
"Kakak belum sembuh? Kenapa malah pulang tengah malam?" tanya Mela.
Mela menyuruhnya berbaring lalu mengambil handuk untuk mengompres keningnya. Darsen melihat Mela yang tulus merawatnya saat tengah malam ini.
Saat bersamaan, perut Darsen berbunyi menandakan dirinya lapar.
"Kakak belum makan? Mau aku buatkan bubur sebentar?" tanya Mela.
Darsen mengangguk, Mela segera menuju ke dapur untuk membuatkannya bubur. Mela hanya membuat semangkuk saja supaya cepat. Hanya bubur putih yang ia buat karena itu kesukaan sang kakak.
Setengah jam kemudian bubur itu matang dan langsung ia bawa ke kamar.
"Nah, kakak makan ini!"
Darsen hanya diam, ia menunjukan tangannya bergetar dan tidak memungkinkan untuk makan sendiri. Mela langsung menyuapinya, terkadang ia masih heran kenapa sang kakak akhir-akhir ini bersikap manja.
"Besok hari minggu mau ke mana?" tanya Darsen sambil menelan bubur halus itu.
"Aku di ajak Bapak untuk ke panti asuhan. Kami mau membagi makanan dan baju," jawab Mela.
"Setelah itu?"
Mela berpikir sejenak lalu menjawab sambil tersenyum. "Pulang dan istirahat di rumah."
Mela menyuapkan sesendok bubur lagi namun bubur itu malah jatuh di dada Darsen membuat bajunya kotor.
"Eh ... maaf, Kak."
__ADS_1
Mela mengambil tisu lalu membersihkan baju kakaknya, ia sangat ceroboh sehingga membuat baju kakaknya kotor.
"Sudah, tidak apa-apa," ucap Darsen menghentikan tangan Mela yang berusaha membersihkan bajunya.
Mela yang duduk di depan kakaknya menunduk, rasa canggung menghampirinya lagi bahkan membuat jantungnya berdegup kencang.
Perasaan apa ini? Kenapa aku salah tingkah saat di tatap kakak?
Bahkan Mela tidak pernah berani menatap bibir Darsen yang pernah bersentuhan dengan bibirnya. Dia beranjak dari tempat duduk lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya namun Darsen menarik tangannya sehingga Mela jatuh di pelukan Darsen. Mela terhipnotis dengan ketampanan kakak angkatnya itu bahkan bibir Darsen seolah memikatnya.
Sadar, Mela! Dia kakakmu.
"Mungkin ini bisa di sebut kurang ajar jika aku tidak meminta izin untuk menciummu tapi kali ini aku akan meminta izin darimu. Bolehkah aku menciummu sebagai Mela?" tanya Darsen.
Entah hipnotis atau apa namun Mela mengangguk. Perasaan apa itu yang tiba-tiba menyerang Mela? Bahkan saat berada di dekat Pras perasaanya tidak meledak-ledak seperti ini.
Darsen segera menciumnya, mereka berciuman dengan mesra, Mela kali ini menikmati setiap permainan lidah, mereka menyesap satu sama lain bahkan Mela bisa mengimbangi permainan Darsen. Kini Darsen yang ada di atas Mela dan bibir mereka masih tertaut. Tangan Darsen menyangga tubuhnya supaya tidak menindih tubuh Mela dan setelah kehabisan nafas mereka melepaskan ciuman.
"Aku mencintaimu, Mela."
Mata Mela berkaca-kaca, sepertinya mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia akan di perkosa oleh kakak angkatnya sendiri.
Air mata pun menetes, Darsen terkejut dan mencoba mengusapnya.
"Kita tidak boleh begini, Kak. Kita kakak dan adik. Cinta terlarang kakak sangat salah," ucap Mela sambil menangis.
Darsen yang di atas tubuhnya segera menyingkir. Dia mengusap wajahnya kasar dan melihat Mela berusaha untuk duduk.
"Kakak hanya memandangku sebatas nafsu saja dan kakak sebenarnya sangat merindukan Kak Seila. Tolong jangan melampiaskannya ke aku!" ucap Mela sambil terisak.
"Mela, aku benar-benar mencintaimu. Jika aku memang hanya bernafsu, aku bisa mencari wanita lain untuk memuaskan hasratku tapi perasaanku padamu memang benar-benar cinta. Kau harus percaya!" jelas Darsen.
Mela menangis semakin histeris, ia sesegukan sampai keluar ingus. Bahkan sampai membangunkan Velino. Darsen memandangnya lalu berusaha untuk membelainya namun pintu kamarnya terbuka, ia melihat Pak Adi yang datang.
"Mela, kenapa kau menangis?" tanya Pak Adi lalu menatap tajam Darsen.
__ADS_1