
Darsen berjalan di lorong gedung agensinya, semua orang yang lewat menunduk hormat padanya dan dia memang tidak menampilkan images yang dingin karena tidak terlalu ingin dekat dengan orang lain.
Di belakangnya terdapat sang asisten setia yaitu Pras yang membawa nilai-nilai aktor, aktris, atau boy/girl grup yang akan debut pada tahun ini.
Salah satu anggota girl grup yang di dapuk akan debut pada bulan ini menatap Darsen dari balik pintu ruangannya. Dia sangat mengagumi Darsen walau Darsen tak pernah memandangnya sedikitpun.
"Yeri, sedang apa kau?" tanya salah satu temannya. "Cieee ... memandang Pak Darsen, ya?" sambungnya.
Yeri terkejut, ia langsung masuk dan menutup pintu. Dia sangat malu ketahuan memandang pria idamannya itu. Andai saja ia bisa bersanding dengan pria sekeren Darsen pasti media akan sangat heboh.
Disisi lain, Pras menekan tombol lift ke lantai teratas di mana ruang pemimpin Agensi Ars berada. Ini bukanlah gedung pertama milik Agensi Ars, agensi itu sudah 3 kali berganti gedung. Di mulai dari gedung yang sederhana sampai yang terakhir megah seperti ini karena berkat para aktor, aktris atau anggota boy/girl grup yang sukses di bawah naungan Agensi Ars.
Setelah sampai di lantai teratas, Pras membuka pintu untuk sang bos yang terlihat sangat lelah setelah mendatangi konferensi pers tadi. Pras menarik kursi dan menyuruh Darsen untuk duduk.
"Mau minum kopi, Bos?"
"Hem ..."
Selagi menunggu sang asisten membuatkan kopi, Darsen melihat nilai evaluasi mereka. Cukup baik dan layak untuk segera di debutkan. Lembar demi lembar ia baca lalu setelah itu ia letakan pada meja.
"Bos, bagaimana rasanya menjadi pahlawan untuk Mela?" tanya Pras sambil mengaduk kopi.
"Pahlawan? Apa mungkin di pikiran Mela aku adalah pahlawannya?"
Pras mengangguk sambil membawakan kopi pada sang bos. Darsen tersenyum kecil, ia mengambil dompet lalu mengeluarkan selembar 100 ribu untuk Pras.
"Wah ... makasih, Bos. Ini tips karena aku sangat pandai 'kan?" tanya Pras.
"Itu untuk memeriksakan otakmu yang geser itu. Pahlawan katamu? Cih ... Mela saja tidak berterima kasih karena aku membelanya dan malah memaafkan teman-temannya itu. Bagaimana aku tidak kecewa?" jawab Darsen.
Pras tetap menerima uang itu dan diam-diam memasukannya ke saku.
Terserah deh, Bos! Yang penting dapat duit. Haha ...
Darsen beranjak dari kursinya, ia mondar-mandir seperti orang kebingungan. Pras menatapnya sambil memakan camilan yang berada di atas meja.
"Kenapa lagi sih, Bos? Aku 'kan sudah bilang jika suka katakan saja pada Mela! Mela tidak ada ikatan darah dengan Bos," ucap Pras.
Darsen terhenti, ia menatap Pras dengan tajam. "Kenapa kau masih disini? Cepat pergi!"
Pras berdiri lalu keluar sebelum sang bos memarahinya lebih lama. Setelah Pras keluar, Laura datang ke ruangan Darsen. Wanita itu memang tidak ada kapoknya membuat masalah pada Darsen.
__ADS_1
Darsen menatapnya dengan jengah, ia kembali ke tempat duduknya dan tidak mau mengurusi mantan aktrisnya itu.
"Kita sudah tidak ada kontrak kerja, lebih baik segera angkat kaki dari sini!" ucap Darsen tanpa menatap Laura.
"Aku datang bukan karena pekerjaan. Aku datang karena ingin ... "
Tok ... tok ... tok ...
Pintu terbuka sebelum Laura melanjutkan ucapannya. Disana sudah berdiri Pras bersama Mela. Darsen menatap kedatangan Mela yang mendadak. Mela mencoba mengeluarkan senyuman namun Darsen memalingkan wajah.
"Nona Laura, lebih baik anda keluar dulu!" ucap Pras.
Pras langsung menarik tangan Laura. Laura memberontak dan menatap Mela yang baru di lihatnya.
"Lepaskan! Aku mau berbicara pada Pak Darsen," ucap Laura.
Pras tidak memperdulikan Laura dan tetap menyeretnya keluar. Setelah kepergian mereka, Mela dengan yakin melangkah mendekati Darsen dengan kaki yang pincang.
"Siapa yang menyuruhmu berkeliaran di sini?" tanya Darsen membuat Mela terhenti dari langkahnya.
Mela menjadi takut dengan nada bicara Darsen yang tidak enak. Darsen kini menatapnya, ia melihat Mela sedikit berdandan tidak seperti biasanya yang polos. Adiknya memang sudah menjadi gadis dewasa yang sudah tahu cara berdandan.
"Aku membawa makanan untuk kakak," ucap Mela.
Mel, Kak Darsen itu memang membencimu. Seberapa pun kau ingin mengambil hatinya ia tidak akan terkesan sedikitpun.
Mela mengangguk, ia membalikan badan dan keluar dalam keadaan kecewa. Dia hanya ingin mempunyai hubungan baik dengan kakaknya yang selama ini sangat ketus dan dingin padanya.
Setelah Mela keluar, ia bertemu dengan Pras. Pras melihat wajah Mela nampak sedih dan makanan yang ada di tangan Mela masih ada.
"Jika bos tidak mau menerima lebih baik buat aku saja, Mel," ucap Pras menunjuk makanan itu.
"Kak Pras mau?"
Pras mengangguk, Mela tersenyum dan menyerahkannya.
Setelah itu Mela berpamitan pulang dan Pras mengantarkan sampai Mela mendapatkan taksi.
10 menit kemudian di ruangan Darsen.
"Heeeeem ... wangi sekali harumnya. Wah ... ternyata ayam bakar dengan sambal matah buatan Mela," ucap Pras menggoda sang bos.
__ADS_1
Pras duduk di sofa sedangkan Darsen berada di kursi sedang bekerja. Darsen melirik Pras yang tengah makan dengan lahap di ruangannya.
"Wah ... masakan Mela memang mantul, mantap betul," goda Pras.
"Sedang apa kau disini? Kau tahu jika bau makananmu meracuni ruangan ini?" ucap Darsen.
DUUUUUUT ....
Terdengar suara kentut besar dari pantat Pras. Pras cengengesan. "Ini yang namanya meracuni ruangan bos," ucap Pras.
Darsen mengusap wajahnya kasar, ia berdiri lalu menyemprotkan parfum di depannya supaya bau makanan dan bau racun dari Pras tidak tercium.
Apa salahku mempunyai asisten sinting seperti dia?
Darsen menghampiri Pras melihat makanan yang berjejer di meja mahalnya.
"Apa semua ini makanan dari Mela?" tanya Darsen.
Pras mengangguk. Darsen langsung ikut duduk di samping Pras lalu memakan masakan dari Mela.
"Hah ... Bos, katanya tidak mau? Kenapa malah dimakan?" tanya Pras.
"Diam kau!" jawab Darsen.
Darsen menyantap makanan dari Mela dengan lahap, sedangkan Pras menatapnya dengan heran.
"Bos, tidak baik jika terus jual mahal. Kasian Mela, tadi dia sangat sedih ketika keluar dari ruangan bos," ucap Pras.
Darsen tidak memperdulikan ucapan Pras, ia asyik menyantapnya. Pras menatapnya jengah lalu mencoba mengambil paha ayam bakar yang ada banyak di atas kotak makan namun sebelum di ambil tiba-tiba Darsen memukul tangan Pras.
"Jangan ambil satu pun! Ini semua milikku," ucap Darsen.
"Lah, bos. Makanan ini sudah di berikan padaku."
"Sekarang jadi milikku! Pergi sana!" ucap Darsen.
Pras berdiri, ia tertawa kecil seolah mengejek Darsen yang sangat jual mahal padahal sebenarnya ia sangat mau menerima makanan itu.
Saat bersamaan, terdengar pintu terbuka ternyata Mela mencari antingnya yang mungkin terjatuh di lantai ruangan Darsen. Mela terkejut saat sang kakak asyik menyantap makanannya dan Darsen juga tak kalah terkejut sampai paha ayam goreng yang ia pegang jatuh di lantai.
Matilah aku! Mana harga dirimu, Darsen! Batin Darsen.
__ADS_1
Rupanya Kak Darsen mau memakan masakanku. Batin Mela.
Nah 'kan, selamat bermalu ria, Bos. Batin Pras.