
DARSEN
Setelah dari panti asuhan, Darsen sudah memesan taksi untuk sang bapak pulang ke rumah. Sedangkan ia dan Mela akan ke suatu tempat bersama Velino.
"Jangan pulang terlalu sore!" ucap Pak Adi.
Darsen mengangguk, Mela tak lupa untuk mencium tangan Pak Adi untuk berpamitan. Kali ini dia berbohong dengan sang bapak hanya untuk menonton film romantis favoritnya.
"Sebenarnya kalian mau ke mana?" tanya Pak Adi.
"Ke apartemen Pras. Dia mengajak makan di sana," Darsen.
Setelah taksi datang, Pak Adi masuk dan sang sopir membawanya pulang. Kini Darsen mengajak Velino dan Mela masuk ke mobilnya.
"Aku agak bersalah dengan bapak karena membohonginya," ucap Mela.
"Kita tak sepenuhnya berbohong. Memang benar jika kita ke apartemen Pras dulu."
Darsen mulai melajukan mobilnya. Dia segera menuju ke apartemen Pras yang tak jauh dari sana hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam Mereka sudah sampai sana.
Setelah sampai, Darsen menggendong putranya dan mengajak Mela untuk ke apartemen Pras, namun Mela tidak mau karena masih malu dengan Pras dan pada akhirnya Darsen beserta Velino naik berdua saja.
Niat Darsen ingin menitipkan Velino pada Pras.
"Bos?" ucap Pras.
"Aku titip Velino, nanti malam aku jemput lagi di sini."
Velino si bocah polos itu hanya bingung ketika sang papa malah menitipkannya pada Pras. Darsen mengambil uang di dompetnya lalu memberikan pada putranya.
"Jangan nakal, ya! Beli apa saja pakai uang itu. Nanti malam Papa akan ke sini lagi."
Velino mengangguk paham, ia juga sudah dekat dengan Pras. Sementara Pras hanya tersenyum kecil sambil berdehem tidak jelas. Pras juga mengeluarkan benda lalu menyodorkannya pada Darsen.
"Bos, bawa ini! Takutnya kalau kebablasan," ucap Pras yang memberi kndm untuk Darsen.
"Aku hanya menonton film bukannya ke hotel."
Pras tetap memberikan pada Darsen lalu meletakkannya di saku jaket pria itu. "Apa salahnya untuk berjaga-jaga? Jika ada kesempatan trobos saja! Jadikan itu untuk menjadi alasan memiliki Mela seutuhnya."
"Setan kau!" ucap Darsen mendengar ucapan Pras yang sinting.
Darsen segera pergi, terkadang ucapan Pras memang menjadi maksiat untuknya. Dia menggeleng-gelengkan kepala menghilangkan pikiran kotornya. Tak mungkin jika harus mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Setelah sampai mobil, Darsen segera masuk. Mela tidak sabar untuk menonton film itu. Film Korea yang di bintangi aktor favoritnya yaitu Lee Min Ho.
__ADS_1
"Kak, pasti di sana ramai orang karena film ini sangat booming," ucap Mela.
"Disana akan sepi. Tenang saja!"
Tentu saja sepi, Darsen sudah membooking 1 bioskop hanya untuk Mela dan tentu saja acara menonton film romantis mereka tidak ada yang mengganggu.
***
Di bioskop.
Mela tercengang karena 1 bioskop hanya ada mereka berdua. Mela memilih duduk di bangku tengah sedangkan Darsen ada di sebelahnya. Darsen menyodorkan camilan dan Cola untuk menemani mereka menonton. Mela mengambilnya dan mulai menonton dengan serius.
Pada menit awal, aktor favoritnya melepas baju yang menampilkan tubuh berototnya. Mela berteriak histeris membuat Darsen mengernyitkan dahi.
Tubuh seperti itu pun aku punya. Batin Darsen.
Mela terus saja berteriak takjub saat melihat aktor kesayangannya beradu akting dengan lawan mainnya apalagi saat adegan berciuman, tangan Mela refleks menggenggam erat tangan Darsen namun wajahnya tetap fokus melihat layar besar itu.
"Andai saja aku yang di cium Lee Min Ho," gumam Mela yang di dengar Darsen.
"Mau berciuman denganku?" tanya Darsen membuat Mela terkejut.
Mela tak menjawab dan berpura-pura tetap menonton film namun ia tak sadar saat tangannya masih menggenggam tangan Darsen.
"Mela?"
Darsen terdiam, biasanya Darsen yang galak justru kini Mela yang lebih galak darinya. Sorot mata Mela mengandung amarah yang tak biasa. Darsen mencoba bersabar, ia melirik tangannya yang masih di genggam Mela. Mela menonton dengan tenang terkadang sampai tersenyum sendiri karena saking bapernya.
"Mela?"
"Hem ... "
"Bergandengan saja juga tidak masalah."
Mela melihat tangannya lalu segera melepas genggaman tangannya. Pipinya merah merasa malu karena tak sadar menggenggam tangan sang kakak.
Dulu aku memang ingin dekat dengan Kak Darsen namun bukan dekat karena nafsu seperti ini. Kak Darsen menganggapku bukan adiknya.
"Aku bisa melaporkan pada polisi atas kasus pelecehan. Pasti kakak akan masuk berita 'Pemilik Agensi Ars melakukan pelecehan seksual pada adik perempuannya' Dan pastinya kakak akan di penjara," ancam Mela.
Darsen tersenyum kecil. "Pelecehan? Kau tidak memberontak dan menikmati ciumanku di sebut pelecehan? Kita ini melakukan karena suka sama suka," jawab Darsen.
Mela tercekat tapi ia membantah lagi. "Kakak menghipnotisku."
Tawa kecil terdengar dari mulut Darsen, ia segera mendekati Mela. Mela mundur ke arah samping sampai punggungnya terpentok batas kursi.
"Kak, aku akan melaporkan ke Bapak."
__ADS_1
"Laporkanlah! Dia akan kecewa padamu karena tidak bisa menjaga diri."
Mela semakin bingung, di bioskop sebesar itu hanya ada mereka berdua saja. Tubuh Darsen mulai mendekat dan wajah mereka hanya berjarak 10 senti saja.
Mel, jika kau berani pasti Kak Darsen malah akan takut. Ya, seperti di film-film. Sekarang dorong dia dan tubruk dia! Cekik lehernya sampai dia meminta ampun. Batin Mela.
Mela mengambil ancang-ancang untuk mendorong tubuh Darsen lalu ia akan duduk di atas tubuhnya dan saat itu tangannya harus mencekik leher Darsen dan memberikan ancaman.
1 2 3 Dorong!!!!
Mela mendorong sekuat tenaga dan membuat Darsen kini dalam posisi setengah berbaring dan punggungnya menatap pembatas kursi. Mela yang polos itu naik dan duduk di atas tubuh Darsen, ia tersenyum menyeringai.
"Mulai sekarang aku tidak akan takut dengan kakak. Aku akan melawan kakak."
Darsen memandang Mela namun ia merasa geli dengan cara Mela yang menggertaknya. Darsen mencoba untuk berpura-pura memberontak tapi Mela semakin mengencangkan tubuhnya untuk menindih sang kakak.
"Ampun Mela!"
"Minta maaf dulu!"
"Iya, ya, kakak minta maaf."
Mela yang berusaha untuk bangun dari tubuh Darsen tapi kakinya malah terpeleset dan menyebabkan tubuhnya menubruk pria itu lagi. Mereka bertatapan, sekali lagi Mela terhipnotis oleh pesona Darsen. Debaran jantung begitu terasa, ia tak mampu menyembunyikan gejolak ini. Dulu ia memang menyukai Darsen tapi saat sang kakak menikah rasa sukanya kian menghilang. Darsen adalah cinta pertamanya, Mela menyukai Darsen ketika ia barus saja di angkat sebagai anak Pak Adi. Namun sifat Darsen sangat ketus dan galak membuat Mela takut dengannya.
"Cinta Kak Darsen adalah cinta terlarang. Aku tidak bisa membalas cinta kakak," ucap Mela.
"Kau bukan adikku bahkan kita juga tidak sedarah. Apanya yang terlarang?" tanya Darsen.
"Kita satu rumah, kita satu orang tua, kita satu kasih sayang dari mereka."
Darsen mengusap wajah Mela perempuan kurus itu tidak ada apa-apanya untuk menindihnya.
"Hanya itu permasalahannya? Aku bisa pindah dari rumah itu dan ambil saja orang tuaku! Dia lebih sayang padamu."
"Kak,"
"Mel,"
Mereka saling menatap dan kini Mela sendiri yang mendekatkan bibirnya pada bibir Darsen. Dengan yakin Mela mencium Darsen, mereka berciuman dengan mesra di gedung bioskop yang temaram ini bahkan film masih di putar. Tangan Darsen memegang punggung Mela dan mereka sama-sama menikmati ciuman itu.
"Hhhhhhh ...."
Nafas mereka terengah-engah bahkan bibir mereka sangat basah. Setelah 5 menit berciuman, Darsen membenarkan posisinya dengan memangku Mela, ia menciumi leher gadis itu. Mela sudah terbawa suasana sampai tak sadar diri. Mela menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi yang tidak terduga.
Setelah itu Darsen mengakhiri ciumannya.
"Kita akan melanjutkannya setelah menikah nanti," ucap Darsen.
__ADS_1