Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 43 : Ikhlaskan!


__ADS_3

Note : Ada perubahan judul.


Saat terbangun kepala terasa sangat pusing serta mengalami dehidrasi, gadis 18 tahun itu mencoba melihat kearah sekitarnya yang nampak tak asing di sudut jendela. Netra matanya melihat seorang lelaki yang pernah ia temui sebelumnya yaitu Lexter, pria itu nampak meminum kopi sambil memandang pemandangan luar kota ini.


Dia menoleh ketika melihat Mela sudah terbangun lalu ia mendekatinya. Mela langsung terduduk, dia sangat terkejut ketika pria menyeramkan itu mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan? Aku ada di mana?" tanya Mela.


"Tenanglah! Kita ada di hotel," jawab Lexter.


Lexter membuatkan minuman hangat untuk Mela, Mela masih ketakutan dengan pria itu. Tubuhnya refleks berhati-hati bahkan ia sudah memegang vas bunga siapa tahu Lexter melakukan hal jahat kepadanya.


Lexter memandangnya sambil tersenyum kecut, ia geli sendiri melihat tingkah laku Mela yang sangat menggemaskan.


Setelah selesai membuat kopi, dia langsung memberikannya pada Mela. Mela hanya memandang kopi itu, dia takut ada obat tidur atau racun disana.


"Minumlah! Tidak ada apa-apa di sana," ucap Lexter.


Mela meminumnya, ia menghabiskan kopi hangat itu. Setelah itu Lexter duduk di samping tempat tidurnya membuat Mela langsung bergerak mundur, dia masih takut jika Lexter akan berbuat jahat kepadanya.


Lexter memandang Mela, dia melihat wajah cantik yang sempat menjadi idaman adiknya itu namun wanita cantik itu menurutnya sudah berubah menjadi rubah yang sangat jahat ketika adiknya meninggal malah wanita itu sudah menikah lagi.


atak dapat dipungkiri lagi jika Lexter ingin membalas dendam kepada keluarga Brahmana, ia mengira jika keluarga Brahmana adalah dalang dibalik meninggalnya Leon.


"Aku masih penasaran, kenapa kau menikah dengan kakak angkatmu sendiri?" tanya Lexter.


"Kami saling mencintai dan lagi pula kami hanya saudara angkat," jawab Mela.


Rahang Lexter mengeras, ia lalu mencengkram lengan Mela. Mela menjadi sangat ketakutan melihat perubahan wajah pria menyeramkan itu. Mela berusaha berteriak namun di dalam hotel itu ternyata kedap suara.


"Tolong jangan sakiti aku! Aku sungguh tidak tahu tentang kematian adikmu, justru adikmu yang menyakitiku," jelas Mela.


Lexter melepaskan cengkramannya ia melihat wajah ketakutan bila menjadi sangat Iba, Mela lalu menjelaskan hal sebenarnya yang dilakukan oleh Leon kepadanya.


"Adikmu sering memukulku, dia melecehkanku bahkan bekas luka dari adikmu masih tersisa. kau ingin lihat?"


Mela membuka kaosnya walau dia sangat malu namun ia harus menunjukannya kepada lexter. Mata Lexter terbelalak saat melihat bekas luka hitam di seluruh punggung Mela, dia tidak percaya tidak ini perbuatan adiknya yang jelas ia tahu jika adiknya sangat baik dan lembut kepada perempuan.


"Kau bohong, adikku tidak seperti itu," ucap Lexter.

__ADS_1


"Ini fakta, Leon memukuli ku di villa tengah hutan."


Mela memakai bajunya lagi, ia memandang wajah Lexter yang tak percaya. Adiknya di kenal baik dan manis namun ia sudah menyakiti seorang wanita.


Mela juga memperlihatkan foto dan video saat Leon memukulnya dengan arogan. Mata Lexter terus saja terbelalak tak percaya pada hal itu.


"Adikku selalu tersenyum ramah pada orang lain," ucap Lexter.


"Tapi tidak untuk di belakang Kak Lexter, dia seorang psiko," jawab Mela.


Mendengar itu, Lexter mencengkeram rahang Mela membuat perempuan itu kesakitan. Mendengar suara Mela yang kesakitan membuat Lexter melepaskan cengkramannya.


"Maafkan, aku!" ucap Lexter.


Mela langsung memeluk Lexter dengan erat, ia meminta maaf jika harus menceritakan tentang ini bahkan Mela juga mengatakan untuk mengikhlaskan Leon yang sudah ada di dunia lain.


Lexter berdebar saat mendapat pelukan dari bocah lugu itu. Mela yang polos hanya ingin menenangkan Lexter, ia tak ingin Lexter membalas dendam kepada siapapun karena Leon murni mengalami kecelakaan. Lexter yang sudah tidak mendapat sentuhan wanita karena sang istri entah ke mana hanya bisa menikmati kehangatan pelukan dari Mela.


Setelah sekian detik, Mela melepaskan pelukannya dan memandang Lexter yang berwajah merah malu.


"Kematian tidak ada yang tahu bahkan itu semua sudah digariskan dan tidak ada orang yang bisa menghindarinya. Leon murni kecelakaan dan keluarga kami sempat sedih akan hal itu," jelas Mela.


Lexter terpaku memandang Mela namun ia menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri jika Mela adalah istri orang dan tengah hamil muda.


"Berikan aku nomormu!" pinta Lexter.


Dahi Mela berkerut. "Untuk apa?"


"Ehmm ... untuk bertanya tentang adikku."


Mela yang tidak curiga sedikitpun langsung memberikannya. Dia akan menjawab setiap pertanyaan Lexter mengenai Leon. Karena itu sangat wajar dalam hubungan kakak adik yang mencemaskan satu sama lain.


Setelah itu, Mela pulang dengan naik taksi. Dia memandang Lexter yang mengantarnya sampai di jalan. Lexter memandang kepergian taksi itu lalu tersenyum mengingat Mela sangat baik kepadanya.


Setelah sampai rumah, Mela melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman. Dia melihat Darsen menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.


"Kau ke mana saja?" tanya Darsen panik.


"Ehmmm ... maaf."

__ADS_1


Pak Adi keluar, ia juga cemas saat tiba-tiba Mela tidak ada di rumah bahkan satpam rumah pun tidak tahu kepergian Mela karena saat Lexter membawanya melalui pagar belakang rumah.


"Jika pergi tolong bilang pada Bapak atau ibu! Kami sangat khawatir," ucap Pak Adi.


Mela mengangguk setelah itu mereka masuk rumah untuk makan siang bersama. Mela membantu menyiapkan makanan untuk mereka namun tiba-tiba perutnya menjadi sakit.


"Akh ... "


"Ada apa, baby?" tanya Darsen.


Mela menggeleng, Darsen langsung memapahnya untuk duduk. Rasa panik semakin bertambah saat di paha Mela mengeluarkan darah segar.


"Akhh ... perutku sakit sekali ..."


Pak Adi langsung memanggil sopir dan Darsen membopong Mela untuk masuk ke mobil. Dia menangis kesakitan akibat perutnya begitu melilit tersiksa.


"Pak, ada apa?" tanya Amira.


"Mela perutnya sakit dan mengeluarkan darah dari pahanya," jawab Pak Adi tak kalah paniknya.


Amira terkejut, ia ikut masuk mobil dan melihat putrinya menangis. Darah segar terlihat keluar tiada berhenti dari pahanya.


"Akh ... sakit ..."


"Tahan, Sayang!" jawab Darsen yang terus mengelus perut Mela.


"Kenapa bisa begini, Darsen?" tanya Amira.


"Aku tidak tahu, Bu."


Amira mengusap air mata Mela, ia mencoba menenangkan putri angkatnya itu. Walau dia sangat membencinya namun terbesit rasa kasian melihat Mela.


Pak Adi masuk mobil dengan duduk di depan sebelah sopir, mereka lalu berangkat menuju ke rumah sakit.


Darsen terus berdoa supaya sang istri dan calon buah hatinya tidak terjadi apa-apa. Jika iya, ia tidak akan memaafkan dirinya.


"Yang kuat, Baby! Kita akan segera sampai rumah sakit," ucap Darsen menenangkan Mela.


"Sakit sekali, Kak. Sakit ... "

__ADS_1


Darsen memeluknya dengan erat sambil membelai rambutnya.


Semoga istri dan bayiku tidak apa-apa tapi kenapa tiba-tiba seperti ini?


__ADS_2