
"Kau apakan si Bos sehingga sakit seperti ini?" tanya Pras membuat Mela kebingungan.
"Apa maksud Kak Pras?" tanya Mela kembali.
Dokter Rafi memukul punggung Pras dengan keras, ia sangat kesal pada teman bodohnya itu. Pras mendengus, ia tak suka ada kekerasan lalu mengajak bertengkar teman dokternya itu.
Terjadi kegaduhan membuat Darsen terbangun dengan mata yang sayu.
"Kenapa berisik sekali?" tanya Darsen melihat kedua temannya itu.
Darsen memandang Mela yang berdiri 3 langkah darinya.
"Aw ... sakit sekali kepalaku," ucap Darsen sambil melirik Mela.
Mela panik lalu berjongkok di depan sang kakak yang masih terbaring di sofa.
"Kita ke rumah sakit ya, Kak?" tanya Mela.
Darsen menggeleng, ia meraih tangan Mela lalu ia letakkan pada atas keningnya. Terasa panas sekali bagi Mela dan tidak mungkin Darsen berbohong.
"Jika aku juga di rumah sakit pasti Velino akan sangat khawatir. Dia juga masih sakit," jawab Darsen.
Pras dan Dokter Rafi saling memandang. Darsen sedari tadi tidak memperdulikan mereka dan fokus pada adiknya yang baru pertama kali ini perhatian.
"Tatapan bos mu pada adiknya benar-benar tulus tapi ku pikir Pak Adi tidak akan merestui mereka," bisik Dokter Rafi.
"Pak Adi dan Bos memang sama-sama keras kepala tapi ku pikir di balik beliau sangat sayang pada Mela ada sesuatu hal lain yang tidak di ketahui orang lain," jawab Pras.
"Kalian jika menggosip jangan dekat denganku juga. Aku mendengar ucapan kalian," sahut Darsen.
Pras dan Dokter Rafi terkejut, bagaimana Darsen tidak mendengarnya jika hanya berjarak kurang dari setengah meter mereka berdiri dari Darsen.
Dokter Rafi segera membuat resep dan Pras yang harus menebusnya. Setelah mereka pergi hanya ada Mela saja di sana dan sangat canggung.
"Kakak istirahat saja, ya? Aku mau kembali bekerja," ucap Mela.
"Jika aku mati kau mau tanggung jawab?"
Tanggung jawab? Memangnya aku melakukan apa?
Darsen menarik tangan Mela untuk semakin dekat dengannya. Mela sangat gugup, ia tak berani menatap sang kakak.
__ADS_1
"Kenapa tidak berani menatap mataku?" tanya Darsen.
Mela menggeleng, ia malah kini menunduk. Mela sangat takut dengan Darsen semenjak bertemu di panti asuhan. Saat itu Darsen masih muda bahkan masih melajang, dia bekerja membantu Pak Adi dalam mengurus bisnisnya sebelum mendirikan Agensi Ars. Darsen menunjukan sosok orang yang dingin lewat sorot matanya bahkan tidak bicarapun membuat Mela sangat takut.
"Kakak butuh apa biar aku ambilkan?" tanya Mela.
"Air."
Mela berdiri lalu mengambilkan air untuk sang kakak yang sangat kasian. Bagi Mela, kepergian Seila pasti sangat membuat sang kakak menjadi berat dalam menjalani hidup.
"Ini 'kak," ucap Mela menyodorkan air putih pada Darsen.
"Bagaimana cara aku memegang gelas jika tanganku lemas begini?"
Apa susahnya? Tinggal pegang lalu kepala diangkat sedikit? Batin Mela.
"Aw .. sakit sekali," ucap Darsen.
Mela tanpa banyak bicara langsung membantu mengangkat kepala Darsen lalu membantunya minum. Setelah air di dalam gelas itu habis, Mela segera meletakkan gelas di meja.
"Mela, aku butuh bantal."
Mela mencari keberadaan bantal sofa tetapi tidak ada. Dia bingung sampai ingin meminjam bantal sofa yang ada di lantai 1 namun Darsen melarangnya.
Mela merasa aneh dengan ucapan Darsen. "Kak, aku sudah dewasa jadi tidak etis jika begitu. Aku akan meminjam bantal dulu, ya? Kakak tunggu sini!"
Darsen mendengus kesal, ia langsung duduk dan menatap kesal Mela. Mela sangat ketakutan saat kakaknya menatap seperti elang yang akan menerkamnya.
"Cepat duduk sini!" ucap Darsen sambil melirik sebelahnya yang kosong.
Mela terdiam sejenak namun langsung di tarik oleh Darsen dan membuatnya terduduk di sebelah sang kakak. Darsen seketika menyandarkan kepalanya pada bahu Mela. Sontak membuat gadis itu sangat terkejut.
"Kak ... "
"5 menit saja."
Mela terdiam, ia harus menahan kepala Darsen yang berada di bahunya 5 menit saja. Selama itu hanya ada keheningan dan hanya ada suara dentingan jam dinding.
Mela melirik tangan Darsen yang mengenakan cincin pemberian Laura. Mela pikir sang kakak akan membuangnya begitu saja.
"Kak Darsen, aku ingin kembali bekerja," ucap Mela.
__ADS_1
"5 menit lagi."
"Tapi ini sudah 5 menit, Kak."
"Lagi!"
Mela tak habis pikir seolah ada yang berbeda dari sang kakak. Semenjak Mela lulus SMA, Darsen semakin bersikap aneh padanya. Mungkin saja Darsen sedang haus perhatian karena istrinya meninggal 5 tahun yang lalu saat melahirkan Velino.
"Kau yakin untuk menikah muda dengan pria yang bahkan belum pernah kau temui?" tanya Darsen.
"Demi bapak dan ibu tak masalah. Mereka sudah mau merawat dan menyekolahkanku sampai sekarang. Jadi sekarang ini aku harus membalas budi mereka," jawab Mela.
"Jangan di paksakan jika tidak suka! Pernikahan bukan perkara yang harus di jalani satu sampai dua tahun saja. Pikirkan itu baik-baik, Mela!" ucap Darsen.
Mela tersenyum kecil, sang kakak kini sangat perhatian dengannya. Mela dengan refleks memeluk Darsen, ia sangat berterima kasih karena sudah perhatian dengannya. Darsen menerima pelukan hangat dari sang adik dengan senang.
Saat bersaman, Yeri mengetuk pintu dan seketika membuat Mela mendorong Darsen. Dia berdiri sambil membenarkan rambut panjangnya.
Yeri membuka pintu, dengan wajah memelas ia langsung bersimpuh di depan Darsen tanpa memperdulikan Mela.
"Pak Darsen, ku mohon! Jangan usir saya dari agensi ini! Saya minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Yeri.
Darsen memandang Mela, Mela mengangguk untuk memberi Yeri kesempatan kedua karena sang adik menyuruhnya seperti itu maka mau bagaimana lagi dari pada Mela kecewa dengannya.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan satu kali lagi jika kau melanggarnya maka harus angkat kaki dari agensi ini!"
Yeri bangkit lalu sangat berterima kasih pada Darsen namun Darsen menyuruh berterima kasih pada Mela karena dia yang meyakinkan Darsen untuk memaafkannya. Yeri menatap Mela, rasanya sangat enggan untuk berterima kasih namun demi menarik simpati Darsen, Yeri langsung memeluk Mela.
"Terima kasih, Mel. Kau memang temanku yang baik," ucap Yeri.
"Sama-sama, Yeri. Selamat atas debutmu yang akan datang. Aku pasti akan menontonmu di TV," jawab Mela.
****
Pras datang sambil membawa obat, ia terkejut karena sang bos sudah duduk kembali di depan komputer melihat saham yang nilainya semakin naik.
"Bos, sudah sembuh?" tanya Pras sambil meletakan obat di atas meja sang bos.
"Kau yang lama sekali. Beli obat di mana kau?"
Pras menarik kursi lalu duduk di samping Darsen. Darsen menatapnya dengan curiga pasti terjadi sesuatu.
__ADS_1
Pras membisikan sesuatu pada telinga Darsen membuat pria itu sangat terkejut.
"Apa kau bilang?"