Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 9 : Bertengkar


__ADS_3

Mela di jemput oleh Pak Adi, walau di usianya yang sudah menginjak 65 tahun beliau tetap masih segar bugar. Pak Adi memang sangat ingin mempunyai anak perempuan namun sang istri tidak bisa memberikannya. Dia berharap mempunyai cucu perempuan namun Darsen malah memberikannya cucu laki-laki. Terkadang Darsen sangat iri dengan Mela karena sang ayah lebih menyayangi Mela daripada cucunya yaitu Velino.


"Bapak?" tanya Mela.


"Sudah puas membaca bukunya?"


Mela mengangguk, Pak Adi merangkul Mela lalu mengajaknya masuk ke mobil. Di dalam mobil Pak Adi sempat menyinggung masalah Leon yang akan menjadi calon suami dari Mela.


"Ku harap kau mau menikah dengan calon pilihan bapak, dia bersama Leon seorang pria yang sangat sukses di London. Kalian bisa dekat dulu sebagai teman. Bapak akan memberikan nomor telponnya," ucap Pak Adi.


Tak heran jika Mela sangat terkejut, dia baru berumur 18 tahun namun sudah di carikan jodoh. Dia ingin menolak juga tidak enak karena orang tua angkatnya sudah menyayanginya sepenuh hati.


"Baik, Pak," jawab Mela.


Pak Adi mengirim nomor pada Mela, Mela memandangi nomor itu. Dia ragu untuk mengirim pesan namun sang ayah sudah menunggunya untuk mengirim pesan pada Leon. Mela tak ada pilihan lain, ia segera mengirim pesan pada Leon.


Mela


Selamat Sore, Leon.


Aku Mela.


Tak berselang lama kemudian Leon pun membalas pesan.


Leon


Mela anaknya Pak Adi?


Hai, disini masih pagi jadi selamat pagi.


Setelah itu mereka berkirim pesan dan ini semua Mela lakukan hanya untuk menyenangkan ayah dan ibunya.


Setelah sampai rumah. Mela segera mandi dan setelah itu bermain dengan Velino. Mereka bermain di ruang tamu sembari menunggu kepulangan Darsen dari bekerja.


Velino sangat menggemaskan, ia sangat mirip dengan papanya.


"Mela?" ucap suara ibu menghampiri mereka.


"Iya, Bu."


Ibu mengusap rambut Mela lalu mencubit pipinya. "Sudah ada rencana mau berkuliah di mana setelah ini?"


Mela yang terduduk di karpet terdiam sejenak. Dia tidak mempunyai pikiran untuk berkuliah karena sudah tahu akan di jodohkan dan segera menikah.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berkuliah, Bu. Aku hanya ingin bekerja apalagi aku akan segera di jodohkan 'kan? Aku hanya ingin mengabdi pada suamiku saja," jawab Mela.


Ibu mengusap kepala Mela sekali lagi, gadis itu memang sangat penurut dan baik pantas saja sangat menjadi kesayangan mereka.


"Kau ingin bekerja di mana, Sayang?" tanya ibu.


Tiba-tiba Darsen datang lalu menyahut ucapan ibu. "Dia akan bekerja di perusahaanku, Bu."


Ibu dan Mela terkejut dengan kedatangan Darsen. Darsen melepas jas dan dasinya lalu terduduk di sofa. Darsen menatap wajah Mela yang sangat takut padanya.


"Kau akan menjadikannya artis?" tanya ibu.


"Tidak, dia harus mulai belajar mengurus Agensi Ars karena dia juga bagian dari keluarga Brahmana," jawab Darsen.


Mela menggeleng, ia tidak setuju dengan permintaan Darsen. Beresiko sekali jika semua orang tahu kalau Mela adalah adik angkat Darsen mengingat orang licik seperti Laura yang menginginkan Darsen sangat banyak.


"Kenapa kau tidak mau?" tanya Darsen.


Mela menggeleng, ia lalu meraih kantong dan memberikan sesuatu untuk Darsen. Sebuah kotak cincin ia berikan pada Darsen.


Darsen dan ibu terheran namum Mela dengan cepat masuk ke kamar sebelum sang kakak menanyakan hal yang aneh-aneh.


Di dalam kamar ia teringat akan ancaman dari Laura jika tidak menuruti perkataannya. Laura mengancam akan menyebarkan rumor jelek tentang Darsen sehingga pria itu hancur sehancur hancurnya. Tentu saja Mela tidak ingin sang kakak seperti itu.


Disisi lain,


"Papa, aku lapar."


Mendengar ucapan putranya, ia langsung memakai cincin itu dan mengajak putranya untuk makan di luar.


***


Keesokan hari saat di kantor.


Darsen menatap Mela dengan pakaian petugas kebersihan. Mela sangat senang bisa menjadi petugas kebersihan di gedung agensi milik kakaknya.


"Kau yakin mau menjadi petugas kebersihan? Aku bisa menjadikanmu staf bahkan asisten pribadiku jika kau mau," ucap Darsen berdiri menatap adik imutnya.


"Bos, jika Mela di jadikan asisten pribadi nanti aku bagaimana, Bos?" sahut Pras.


"Diam kau!" jawab Darsen.


Mela tersenyum kecil, melihat senyuman Mela membuat Darsen salah tingkah sampai berdehem beberapa kali untuk menutupi rasa sukanya.

__ADS_1


"Keselek cicak, Bos?" sahut Pras lagi.


Darsen menatap Pras dengan tajam, Pras yang sedang duduk di sofa langsung berpura-pura membaca buku namun dengan posisi terbalik.


"Bukunya terbalik, bodoh!" ucap Darsen mengumpati sang asisten.


"Sorry ya, Bos! Mata ku kidal."


Mela tersenyum lagi. "Kak Pras lucu sekali," gumam Mela.


Darsen mendengar itu langsung sangat kesal. Rupanya Mela suka dengan orang lucu bukan dingin sepertinya.


"Sudah sana bekerja! Kenapa masih berdiri di sini saja?" tanya Darsen dengan nada membentak.


Mela terkejut dan langsung keluar untuk memulai pekerjaan barunya. Disini Mela bertugas untuk membersihkan ruangan serta membuatkan minuman untuk para staf dan karyawan.


Mela mulai menyapu di bagian lorong, wajahnya yang sangat imut membuat para orang yang lewat memandangnya dengan kagum.


Sedangkan di sisi lain, Darsen memandangi Mela dari rekaman CCTV layar komputernya.


Bahkan cara menyapu mu membuatku merasa sangat gemas. Batin Darsen.


"Bos, dipandang terus tidak akan bisa membuatnya menjadi milikmu. Ayo gas pol, Bos!" ucap Pras.


"Kau tidak ada kerjaan lain selain mengomentari apa yang aku lakukan?' tanya Darsen dingin.


Pras berdecih, ia menyerahkan berkas untuk sang bos lalu berpamitan keluar sebentar untuk mencari udara segar. Darsen menghela nafas, ia kembali fokus memperhatikan Mela yang kini sedang mengobrol dengan calon idolnya yaitu Yeri.


Di lorong.


"Oh ... rupaya kemarin datang ke sini untuk mendaftar menjadi petugas kebersihan?" tanya Yeri.


Mela mengangguk lalu melanjutkan menyapunya tanpa mempedulikan Yeri yang berdiri di depannya dengan bersedekap.


"Hei ... ku pikir setelah keluar dari panti asuhan kau hidup bahagia tapi malah menyedihkan seperti ini?" ejek Yeri.


"Menyedihkan? Bukannya kau yang menyedihkan? Kau rela menjadi simpanan om-om demi mendapat uang supaya bisa masuk di agensi ini?" ucap Mela.


Plaaaak ...


Mela di tampar Yeri. Mela menahan rasa sakit di pipinya.


"Jangan bilang seperti itu! Dia daddy ku dan kau tidak pantas mengatakan seperti itu!" bentak Yeri.

__ADS_1


Mela tidak memperdulikan, ia segera menghindar namun Yeri menjambak rambutnya dari belakang. Mela berteriak keras sampai orang-orang melerai mereka.


"Apa yang kau lakukan pada karyawan baru ku, Yeri?" tanya Darsen yang tiba-tiba datang dengan aura dinginnya.


__ADS_2