Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 27 : Darsen merajuk


__ADS_3

POV MELA


Ciuman pertamaku telah di ambil cinta pertamaku. Terpaut 22 tahun usiaku dengannya. Aku bahkan sudah separuhnya ternoda, dia menciumiku bahkan memberikan tanda merah pada leherku. Apa ini? Kenapa aku begitu murahan sekali? Bahkan ciuman yang ke dua aku yang memulai. Mel, ada apa denganmu? Kau sudah tidak waras. Dia kakakmu, dia tak pantas melakukan itu padamu, otak yang berbicara namun hati berkata lain, jika cinta bilang saja! Jika menginginkannya segara dapatkan dia!


Ku pikir mimpi burukku akan menjadi kenyataan. Apakah dia akan membawaku ke rumah misterius di tengah hutan? Apakah ia akan memperkosaku di sana? Membayangkan saja aku masih takut apalagi jika itu benar-benar akan terjadi.


Setidaknya pikirkan perasaan Leon, dia akan menjadi calon suamimu. Ya, benar. Walau tidak mencintainya harusnya aku menjaga apa yang harus ku jaga untuk Leon. Pikirkan juga tentang bapak dan ibu! Mereka sudah mengadopsiku sejak SD bahkan memfasilitasiku dengan banyak kemewahan.


22 tahun. Kak Darsen sangat terlalu tua sekali untukku. Aku 18 tahun masih bau kencur sedangkan dia sudah 40 tahun bahkan sudah mempunyai anak. Aku memang mengakui kagum dengan sosok Kak Darsen, dia pria idaman bagi semua wanita namun tembok pembatas usia dan status sebagai kakak adik seolah kokoh membatasi pergaulan kita.


Cinta memang tak memandang umur, namun aku tetap memandang umur. Kak Darsen itu adalah orang terkenal di negara ini, dia mendirikan agensi yang mencetak artis-artis besar. Ibarat Kak Darsen memakai baju mahal dan branded saja sudah menjadi bahan berita para wartawan apalagi jika ketahuan mencintai adiknya sendiri pasti itu akan merugikannya dan merugikan perusahaan yang di dirikannya selama ini.


Tapi aku tidak mau munafik, aku menyukai setiap sentuhan dari Kak Darsen apalagi ciumannya. Ciumannya seolah menjadi candu bagiku dan aku ingin terus melakukannya lagi dan lagi.


Mungkin, hanya ciuman tak masalah 'kan? Yang terpenting jangan sampai meminta lebih. Ya, itulah yang ada di pikiranku sekarang.


Berciuman saja dan tidak lebih.


POV AUTHOR


Nafas Mela ngos-ngosan karena menahan nafas selama berciuman. Tatapannya sangat lembut menatap mata Darsen bahkan ia masih berada di pangkuan sang kakak.


Tuhan menciptakan Darsen terasa begitu sempurna. Alis yang tebal, bulu mata lebat, hidung mancung nan tinggi serta bibir yang seksi membuat perempuan manapun menjadi candu untuk terus memandangnya.


"Bagaimana, kau masih menyukai Pras setelah menatap wajahku sampai air liur berjatuhan?" tanya Darsen membuat Mela terkejut lalu mengusap bibirnya.


"Sejak kapan aku bilang menyukai kakak?"


Darsen terkekeh geli, tangannya menyentil hidung Mela yang mancung membuat hidung itu langsung memerah. Mela membalasnya dengan mencubit hidung Darsen.


"Akh ... ampun!" ucap Darsen.


Darsen segera menggendong Mela dan Mela pun sangat terkejut, tangannya bergelayut pada sang kakak.


"Kak, turunkan aku!"


"Gak mau, kau milikku."


"Milikmu? Kak, jangan aneh-aneh! Turunkan aku!" rengek Mela.


Darsen sangat gemas, tubuhnya Mela sangat ringan yaitu 48 KG. Dengan berat seperti itu sangat mudah bagi Darsen untuk menggendongnya ke sana ke mari.

__ADS_1


"Ku mohon jangan seperti ini, kak! Kita berdosa," ucap Mela.


Darsen menghela nafas, ia menurunkan Mela di bangku. Wajah Darsen seolah tidak suka dengan perkataan Mela. Duda kekanakan itu memilih duduk diam sambil menikmati camilan dan cola tanpa memperdulikan Mela.


"Kak, kita pulang aja yuk! Jadi tidak konsen menonton," ajak Mela.


"Hem ..."


"Kak?"


"Apa?"


Mela melihat wajah galak Darsen lagi. Kali ini bukannya takut namun malah ingin menggodanya.


"Bapaknya Velino ngambekan," ejek Mela.


"Cih ... "


Mela berdiri lalu memutuskan untuk keluar dari bioskop. Darsen segera menyusulnya dan berjalan di belakangnya. Mela berjalan dengan pelan sehingga Darsen harus berjalan pelan juga walau susah namun Mela mendadak berhenti dari langkahnya membuat Darsen menabrak tubuh Mela. Mela hampir terpental namun Darsen segera memegang tubuhnya. Darsen sontak terkejut saat tak sengaja memegang bola bola besar yang memakai bra paling besar. Tubuh Mela memang kecil namun ia memiliki dada yang besar.


"Ahhhhhhhh .... " teriak Mela.


Di dalam mobil.


"Mela, kakak tidak sengaja. Kau boleh memukul kakak jika mau. Pukullah!" ucap Darsen.


Mela tidak mau menjawab, ia asyik menatap depan. Dia menyadari jika ponselnya sedari tadi bergetar yang ternyata dari Leon. Mela mengangkatnya tanpa memperdulikan Darsen yang melirik tajam seolah tak suka.


"Hallo?"


"Sedang apa?"


"Aku sedang ada di jalan," jawab Mela.


"Kenapa wajahmu di tekuk begitu?" tanya Leon.


Mela melirik Darsen lalu menatap layar ponselnya lagi. "Gakpapa, kita telponan nanti lagi ya?"


"Baiklah, bye sayang," ucap Leon.


Mela terdiam lalu menjawabnya pelan. "Bye juga, Sayang."

__ADS_1


Darsen masih mendengar ucapan Mela. Sorot matanya seolah murka setelah wanita pujaan hatinya mengatakan sayang pada pria lain. Darsen melajukan mobilnya dengan kencang sampai Mela heran dan ketakutan. Wajah Darsen kembali seperti semula yang dingin dan galak membuat Mela takut.


Sesampainya di apartemen Pras.


Darsen berjalan tanpa mengajak Mela. Mela yang tahu posisi sang kakak kesal segera mengikutinya lalu mereka satu lift dengan keadaan saling diam.


Setelah lift terbuka, Darsen menuju apartemen Pras lalu menekan tombol bel. Tak lama, Pras membukanya lalu berkernyit melihat Darsen memasang wajah cemberut.


"Aku boleh masuk, Kak Pras?" tanya Mela ragu.


"Masuklah!" ajak Pras.


Ini pertama kalinya Mela masuk ke rumah Pras. Sangat rapi dan mewah. Pras melihat sang bos langsung duduk di sofa lalu melamun tak jelas. Pras menyenggol Mela namun gadis cantik itu hanya mengangkat bahu seolah tidak tahu.


"Kenapa kau berdiri di sana? Ambilkan aku minum!" ucap Darsen.


"Biasanya 'kan Bos ambil sendiri."


"Ini luar biasa. Tubuhku sangat panas, aku ingin minum air dingin dengan es batu," jawab Darsen.


Pras segera menuju ke dapur untuk mengambilkan minum untung sang bos yang aneh. Sedangkan Mela ingin mencari keberadaan Velino yang tidak ada suaranya namun saat baru satu langkah berjalan tiba-tiba Darsen menghentikannya.


"Hei kau! Mau ke mana?" bentak Darsen membuat Mela terkejut.


"Ma--m--mmau cari Velino," jawab Mela terbata-bata.


"Tetap berdiri di sana! Angkat satu kakimu dan jewer telingamu sendiri!"


Mela bingung, ia tidak mau melakukannya tapi melihat sorot Darsen yang murka membuatnya sangat terpaksa melakukan hal kekanakan itu. Mela mengangkat satu kakinya dan menjewer telinganya sendiri. Saat Pras datang ia terkejut melihat Mela seperti itu di depan Darsen.


"Bos, ini bukan sekolahan yang sedang menghukum anak muridnya," ucap Pras.


Darsen tidak peduli, Pras sudah menyiapkan gelas untuk Darsen namun Darsen malah menenggak satu teko langsung. Pras dan Mela heran melihat pria 40 tahun yang tidak tahu jalan pikirannya bagaimana.


Glek ... glek ... glek ...


"Ah ... huh ... lumayan," ucap Darsen langsung melempar teko pastik itu ke arah Mela.


"Bos, ini teko dapat dari doorprize bisa-bisanya di lempar," ucap Pras memungut tekonya.


Darsen menatap Mela dengan tajam, ia bisa melihat tanda merah perbuatannya di leher Mela. Dia mendekat pada Mela lalu menyentil bibir nakal itu. Mela sangat kesakitan bahkan matanya mulai memerah seakan ingin menangis.

__ADS_1


"Kau berciuman denganku bahkan sudah ada tanda tangan bibirku di lehermu tapi mulutmu malah mengatakan sayang pada pria lain," ucap Darsen.


__ADS_2