
Keesokan harinya, Mela pulang ke rumah Pak Adi. Kematian Leon masih membuatnya sangat
syok bahkan susah untuk makan. Pak Adi terus menyemangatinya lalu menginterogasi Mela di ruang keluarga dan menyuruhnya bercerita tentang perlakuan
Leon kepadanya. Mela membuka punggungnya dan mereka melihat luka lebam pada
punggung mulus itu. Pak Adi menghela nafas panjang, untung saja Mela tidak jadi menikah dengan Leon. Jika iya, maka nasib putrinya akan tragis di ambang kematian. Amira nampak panik karena ia juga sering memukul Mela walau tidak sampai lebam. Kecemburuannya pada Mela membuatnya lupa diri jika ia sebenarnya juga sangat menyayanginya.
“Bapak akan bilang ini pada Om Fredy?” tanya Darsen.
“Untuk saat ini tidak, Fredy masih dalam berkabung. Kita harus menghormatinya.”
Darsen mulai menarik tangan Mela lalu menggenggam tangannya di hadapan orang tuanya. Pak Adi menunjukan sorot mata biasa saja bahkan seolah datar menatapnya.
“Aku akan menikahi Mela sebelum Mela hamil,” ucap Darsen.
“Apa maksudmu?” tanya Pak Adi mulai menunjukan emosinya.
Mela menunduk seolah malu, secara tidak langsung ia sudah merendahkan dirinya
sendiri di depan orang tua angkatnya.
“Aku sudah malam pertama dengan Mela.”
Plaaak ...
Pak Adi refleks berdiri lalu menampar Darsen, Darsen tersenyum kecil, di sudut bibirnya
mengalir darah segar. Mela menunduk tak berani menatap sang ayah.
“Kenapa tingkah kalian seperti binatang? Malah lebih berkelas binatang, mereka tahu tidak akan berbuat hal itu jika bukan dengan pasangannya.” Pak Adi menatap
tajam ke arah Darsen dan Mela.
“Binatang juga tidak pernah menjodohkan anak-anaknya seenak jidat dan mereka tidak pernah ikut campur dengan masalah jodoh anaknya,” jawab Darsen.
Plaaaak ...
Pak Adi naik pitam, ia menampar Darsen lagi. Mela langsung memeluk sang ayah supaya
menenangkan emosinya. Mela menangis, ia meminta maaf kepada Pak Adi karena
sudah mencintai putranya. Amira ikut syok, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
“Maafkan aku, Bapak! Jangan marahi Kak Darsen! Ini salahku,” ucap Mela.
“Minggir! Bapak sangat kecewa denganmu. Bapak mengadopsimu ...” air mata Pak Adi pun pecah, baru kali ini dia menangis di hadapan semua orang. “Bapak gagal menjadi
orang tua. Maafkan, Bapak!”
Mela langsung bersimpuh di depan sang ayah, ia memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Dia sangat durhaka dan bahkan berani melakukan malam terlarang dengan Darsen
yaitu sang kakak angkatnya. Darsen ikut bersimpuh memohon pada sang Bapak untuk
meminta maaf. Mereka melakukan itu dengan sadar bahkan bukan paksaan.
Pak Adi memeluk kedua anaknya, ia merasa bersalah pada mereka berdua karena sudah membuat mereka melakukan hal terlarang, ini semua memang salahnya sehingga terjadilah malam terlarang itu.
“Bapak merestui kalian, secepatnya kalian harus menikah,” ucap Pak Adi.
__ADS_1
Amira sontak terkejut, ia hanya menatap kesal pada Mela yang selalu merebut pusat
kebahagiaannya yaitu Pak Adi dan Darsen.
“Terima kasih, Bapak,” ucap Mela.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Darsen.
***
Senyuman mengembang tatkala dua sejoli itu sudah mendapat restu dari orang tuanya namun
tak termasuk Amira, Amira tidak setuju dengan pernikahan mereka namun ia memilih untuk diam daripada sang suami marah dengannya. Kini Mela dan Darsen tengah mempersiapkan pernikahan mereka mulai dari awal. Pernikahan ini akan di
lakukan secara tertutup dan hanya di hadiri kerabat saja.
Mela dan Darsen sudah memesan WO untuk mengurus acara pernikahan mereka sedangkan mereka hanya mengurus masalah gaun saja dan tentunya Darsen ingin gaun yang terbaik untuk calon istrinya. Perbedaan mereka
memang sangat jauh yaitu 40 tahun dan 18. Mungkin banyak orang akan berspekulasi jika ini pedofilia, namun bagi Darsen, ia mencintai Mela seperti wanita dewasa pada umumnya dan Mela pun juga sudah lulus sekolah.
“Mela, setelah menikah kita mau tinggal di mana?” tanya Darsen.
“Terserah kakak deh.”
Darsen mengecup pipi Mela tapi tiba-tiba terdengar suara deheman yang berada di depan
mereka.
“Eheeem, ingat kalian belum sah! Menambah dosa saja,” ucap Pak Adi.
“Sudah terlanjur berdosa, Pak Adi,” sahut Pras yang berada di sana.
Ya, mereka sedang ada di ruang tamu untuk membahas pernikahan. Pras mendapat tugas untuk menyebar undangan kepada kerabat sekitar.
Pras langsung menunduk lalu meraih undangan yang siap untuk di sebarkan. “Aku cabut
dulu ya, Bos. Sampai ketemu di kantor.”
Pak Adi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat asisten Darsen yang konyol. Beliau lalu memandang istrinya yang berwajah masam seolah tidak suka dengan pernikahan
ini.
“Amira, aku punya sesuatu untukmu. Ayo ke kamar!” ajak Pak Adi.
Setelah kepergian orang tua mereka, kini mereka hanya bertiga dengan Velino yang sedari tadi memainkan ponselnya. Velino masih belum paham jika tantenya akan menjadi mamanya.
“Papa, aku ada PR,” rengek Velino.
“Kau malah main HP?” jawab Darsen.
“Gak ngerti.”
Mela mengusap kepala keponakannya itu. “Tante ajarin mau?”
Velino mengangguk lalu Mela menggandengnya menuju ke kamar. Darsen tersenyum saat
melihat kedekatan mereka. Tak perlu susah payah untuk mendekatkan mereka karena
mereka sudah sangat dekat.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Di Agensi Ars.
Darsen mengecek jadwal acara debut para calon aktornya, ia tersenyum kecil saat saham
milik perusahaannya beranjak naik. Sebagai pendiri agensi, ia sudah sangat hebat menguasai industri dalam bidang ini. Suara pintu terbuka terdengar, ia
melihat Sandra datang dengan wajah marah. Darsen tidak memperdulikannya, ia
lalu menatap setumpuk kertas yang harus ia beri stempel agensinya.
“Apa ini?” tanya Sandra sambil melempar undangan pernikahan Darsen.
Darsen menatapnya sinis. “Kau sudah tahu jika itu undangan pernikahan masih saja
bertanya.
“Darsen, aku mencintaimu. Kita berpisah gara-gara Seila sialan itu, dia pelakor yang memutuskan hubungan kita.”
Darsen hanya tertawa kecil, ia mengambil sebuah map coklat dari berangkasnya lalu
melemparkan ke Sandra. Sandra masih bingung, ia lalu membuka map coklat tersebut dan matanya terbelalak saat
melihat foto adegan ranjangnya bersama bule sekitar 7 tahun yang lalu saat masih berpacaran dengan Darsen.
“I—i—ini ..”
“Bukan salah Seila jika dia merebutku dari mu. Semua berkat Seila juga karena membukakan mata hatiku yang selalu kau tipu,” ucap Darsen.
Sandra bergetar, ia merobek semua foto itu. Foto yang selalu di simpan di brangkas
ruangan Darsen. Brangkas yang selalu tertutup rapat dan tidak ada seorang pun yang tahu apa isinya.
“Pras! Pras!”
“Apa sih, Bos? Aku dari tadi di sini,” ucap Pras yang tengah duduk di sofa sambil meminum
kopi.
Asisten kampret, Bosnya sedang
menghadapi cewek liar ini malah dia asyik minum kopi di depan bosnya. Batin Darsen kesal.
“Bawa Sandra untuk keluar! Pastikan dia jangan masuk ke agensi ini!”
Pras mengorek hidungnya sambil berjalan ke arah Sandra, tangannya lalu ingin menarik
tangan Sandra namun wanita itu langsung mundur.
“Jangan sentuh aku! Cih ... tangan kotormu berani memegangku maka ...”
“Maka apa?” tanya Pras mendekati Sandra.
“Aaaaah ...” Sandra langsung berlari keluar.
Darsen hanya tertawa geli, ia hanya heran dengan asisten somplaknya itu. Pras lalu
mengulurkan tangan ingin menjabat tangan sang bos, Darsen lalu menjabat
tangannya sambil tersenyum karena sudah berhasil mengusir Sandra namun ia langsung sadar jika tangan Pras baru saja
mengorek harta karun.
__ADS_1
“Arggh ... Sialan! Tanganku! Sialan, kau!” umpat Darsen sambil mencari tisu basah untuk
mengelap tangannya.