
Mela, kau menerangi kehidupanku, walau
aku mendekatimu dengan cara yang salah namun pada akhirnya kita memang benar-benar berjodoh. Bapak memang menyimpankan jodoh untukku. Saat pertama kali kita bertemu, kau masih bocah ingusan yang sangat takut melihatku. Saat
itu memang aku masih kekanakan, aku selalu dingin padamu namun semenjak kau menjadi dewasa, aku menjadi menyukaimu dan ingin memilikimu seutuhnya. Takdir memang ada di pihakku, kita menikah dan sudah mempunyai momongan dan tentunya ibu yang ada di sana akan ikut bahagia melihat kita.
“Pras?” ucap Darsen.
“Ya, bos?”
“Tolong suruh orang untuk mencarikan dua bunga, nanti aku ingin datang ke makam ibu dan
Seila.”
“Oke, bos.”
***
Mela sedang mengajak bermain putrinya, Delima sangat gembul bahkan wajahnya sangat mirip
dengannya. Yang menamai putrinya adalah Pak Adi. Darsen juga setuju, ia suka dengan nama pemberian ayahnya.
“Anak mama, mau minum susu?” tanya Mela sambil menggendong Delima.
Delima bermain ludah membuat Mela begitu gemas, wanita yang akan menginjak usia 21
tahun itu sudah merasakan menjadi seorang ibu. Dia sangat bahagia dan kebahagiaannya tidak bisa dirangkai dalam kata-kata. Delima terlihat memang haus, Mela melepas
kancing bajunya lalu menyusui bocah gembul itu.
“Doyan
sekali minum susu, seperti papanya,” ucap Mela.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar rupanya dari Darsen, sang suami menelpon dan Mela langsung
mengangkatnya.
“Ada apa, Kak?”
“Sayang, nanti sore kita ke makam ibu dan sekalian ke makam Seila, ya?”
“Baiklah.’
Mereka bercengkerama melalui telpon, baru sebentar ditinggal bekerja membuat Mela
sangat merindukan Darsen. Tak terasa, mereka mengobrol sampai setengah jam
bahkan Delima sudah terlelap di gendongan Mela.
“Kakak, sudah dulu, ya? Si gembul bobo,” ucap Mela.
“Baik, sayang.’
Mela meletakkan ponselnya dan membaringkan Delima di atas ranjang, si gembul satu
ini memang gampang sekali terlelap. Mumpung putrinya sedang tidur, Mela menyiapkan bahan makanan untuk ia masak. Kali ini ia akan memasak daging
panggang dengan salad sayur. Tak lupa, ia akan menyisihkan pada Darsen sore nanti. Saat memasak, ia teringat ucapan Lexter, pria itu benar-benar berpamitan pada Mela untuk kembali ke Inggris sekitar 6 bulan yang lalu. Lexter memberikan sebuah hadiah untuk Mela berupa jam tangan mewah atas nama Leon, Lexter meminta maaf atas sikap adiknya pada Mela. Mela mengambil jam tangan itu, Darsen tidak tahu atas jam tangan pemberian Lexter.
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahankan? Aku memaafkanmu, Leon.
Mela meraih ponselnya dan menelpon Darsen. “Kak, tolong belikan bunga 1 lagi untuk Leon.
Aku ingin mengunjungi makamnya.”
Setelah menelpon, Mela segera memasak kembali sebelum gembulnya terbangun.
***
__ADS_1
Pak Adi, ia terdiam di balkon kamarnya, sudah satu tahun ia kehilangan istri tercinta.
Sambil melamun, ia menggenggam surat tanah dan berbagai aset atas nama Amira.
Pak Adi sangat menyayangi Amira, wanita itu adalah cinta pertamanya dan kini
mereka di pisahkan oleh maut.
“Ami, aset yang ku berikan pada Mela hanya 30% dari asetku dan sisanya untukmu. Aku memang
tidak pernah memberitahu mu tentang hal ini karena aku sudah memperkirakan kematianku
yang mungkin akan lebih dulu meninggal, namun semua tidak ada yang tau, kau
lebih dulu meninggalkanku. Aset 70% ini untukmu, bahkan Darsen tidak dapat sama sekali karena ia sudah sukses dengan usahanya sendiri. Rencananya, aku akan membuat panti asuhan dari sisa asetku ini. Aku akan merawat dan menyekolahkan
anak-anak yatim piatu seperti Mela,” ucap Pak Adi.
Pak Adi menangis sambil memeluk foto pernikahannya dengan Amira, kematian Amira
membuatnya sangat terpukul. Dia juga sendirian di rumah sebesar itu dan hanya
ditemani beberapa pembantu.
“Bapaaaaak,” teriak Mela membuyarkan lamunan Pak Adi.
Pak Adi mengusap air matanya dan keluar menuju kamar, ternyata Mela dan Darsen yang
datang.
“Wah, cucuku datang,” ucap Pak Adi sambil mengambil gendongan Delima dari Mela.
“Aku juga cucu kakek,” rengek Velino.
“Nah, ini juga cucuku yang tampan. Sini peluk kakek.”
Velino memalingkan wajah, Pak Adi tersenyum, sifat Darsen yang pemarah menurun pada Velino.
“Kebetulan Bapak kangen masakanmu, Mela.”
Mela tersenyum, ia menaruh kotak makan pada dapur
dan kembali menghampiri mereka. Niat Mela dan Darsen datang menemui Pak Adi
untuk mengajaknya ke makam Amira. Pak Adi setuju, ia juga sudah satu bulan tidak melihat makam istrinya itu. Mereka berangkat bersama-sama dengan mobil Darsen, di dalam mobil hanya ada canda tawa dari mereka. Pak Adi juga sangat
menyayangi cucu-cucunya, buktinya beliau selalu memberikan uang setiap minggu
pada mereka.
Setelah sampai di makam, mereka mengunjungi makam Amira terlebih dahulu, Pak Adi
mengelus batu nisan sang istri tercinta. Air matanya tumpah seketika, Mela langsung memberikan pelukan padanya. Darsen juga sangat merindukan sang ibu, ibunya dulu sangat memanjakannya dan kini beliau sudah tiada. Setelah ke makam
ibu, Darsen berjalan ke makam mantan istrinya, ia tidak lupa menaburkan bunga.
“Semoga kau bahagia di atas sana, pasti di sana kau sudah bertemu dengan ibuku. Anak kita
sudah masuk SD, dia sangat cerewet sepertimu dan aku sudah memberikan adik untukknya. Delima, itu putriku bersama Melani. Kami sudah sangat bahagia, jadi di sana
jangan khawatirkan kami lagi!” ucap Darsen.
“Mama, aku belum pernah melihatmu, kau pasti sangat cantik seperti Mama Mela. Mama Mela sangat baik tapi Papa semakin galak, aku sebal dengan Papa,” ucap Velino.
Darsen mengerutkan dahi saat putranya berbicara
seperti itu. Velino cengengesan, ia langsung memeluk batu nisan mamanya. “Lihat, Mah! Papa beneran galak ‘kan?”
Di sisi lain, Mela menghampiri makam Leon. Ya, makam Amira, Seila dan Leon masih satu
__ADS_1
kompleks. Mela mencabuti rumput yang sedikit panjang. Tentu saja, keluarga Leon
sudah ada di Inggris jadi untuk makam Leon di titipkan pada seseorang.
“Leon, aku memaafkanmu. Yang tenang di sana! Semoga semua kesalahanmu di ampuni. Jujur
saja, aku merindukanmu walau kita baru sebentar berkenalan. Kau sebenarnya sangat baik.”
Mela menabur bunga di makam Leon. Darsen dan pak Adi menghampirinya dan tak lupa berdoa untuk Leon. Setelah itu mereka kembali ke rumah dalam keadaan lega. Rasa rindu
terhadap mereka yang sudah tiada lumayan berkurang.
**
Keluarga besar itu tengah menikmati makan malam di apartemen Darsen, terlihat Pras
beserta istrinya hadir untuk makan malam bersama. Berbagai makanan mereka pesan bahkan mulai dari
makanan ringan sampai penutup.
“Lebih baik Bapak menikah lagi,” ucap Darsen.
“Ah, Bapak sudah terlalu tua. Malu dengan cucu-cucuku jika Bapak menikah lagi,” jawab Pak
Adi sambil mengunyah makanan.
“Iya, Bapak harus menikah lagi. Kami akan mendukung bapak,” sahut Mela.
Pak Adi tersenyum. “Bapak sudah berjanji pada ibu kalian untuk setia sampai mati.”
Mela terenyuh, ia memeluk Pak Adi dari samping. “Ibu pasti bangga dengan bapak.”
Mereka melanjutkan makan malam sampai habis lalu tidak lupa untuk bercengkrama ke sana kemari. Pak Adi mengajak bermain cucu-cucunya dan memutuskan menginap malam
ini. Mela terlihat menuju ke dapur untuk mencuci piring lalu tiba-tiba Darsen memeluknya dari belakang.
“Ah, mengagetkan saja kakak ini,” ucap Mela.
“Terima kasih sudah menjadi istri yang baik, menantu yang baik dan ibu yang baik. Kau terhebat, Mela.”
“Terima kasih juga sudah menjadi anak, suami dan ayah yang terbaik bagi kami.”
Darsen tersenyum, ia ******* bibir Mela dan mereka berciuman dengan mesra. Jodoh
memang tidak ada yang tahu, mereka sempat satu rumah belasan tahun dan pada
akhirnya timbullah rasa suka satu sama lain.
Aku mencintaimu, Melani.
Aku juga mencintaimu, Kak Darsen.
TAMAT
****
Pembaca : Kenapa pendek amat sih thor?
Otor : Gak suka panjang-panjang.
Pembaca : Ada sekuelnya gak?
Otor : Gak ada, udah Tamat. Cerita udah klimaks tidak perlu di tambah konflik lagi.
Pembaca : Ada cerita baru lagi?
Otor : Untuk saat ini belum ada, masih fokus mengerjakan 3 cerita di aplikasi sebelah.
Terima kasih yang sudah setia sama karya-karya saya. Saya udah nulis di sini 1 tahun lebih dengan beberapa judul karya. Sekarang ini saya sedang ingin fokus pada apk sebelah. Setelah selesai saya akan menulis lagi di sini dengan judul "Tante Menikahi Bocah" (masih rencana, hehe..)
__ADS_1
Sampai jumpa di lain waktu.