
Darsen dan Mela langsung bangkit dari tempat tidur. Mereka menghadap sang ayah yang menampakan ekspresi teduh tanpa ada kemarahan sedikit pun.
Mela sudah mengeluarkan keringat dingin. Dia takut membuat sang ayah kecewa.
"Pak, maafkan aku! Maafkan aku yang telah mencintai anak angkat Bapak. Aku mencintai Mela," ucap Darsen berbicara jujur tanpa ada yang di tutupi lagi.
Mela meremas jemarinya, ia menggigit bibir sambil meneteskan air mata. Pasti sang ayah yang sangat menyayanginya kecewa.
"Apa tidak ada stok wanita lain yang bisa kau cintai? Kenapa harus putri kesayangan Bapak?" tanya Pak Adi masih terkontrol dan berbicara dengan tenang.
"Karena cinta tidak butuh alasan. Aku mencintai Mela secara sadar. Bapak pasti mengerti."
Pak Adi menatap putra satu-satunya yang berbicara jujur lewat sorot mata. Kehidupan Darsen memang cukup pelik apalagi ia kehilangan sang istri setelah melahirkan Velino.
"Pak, aku ingin meminta restu dari Bapak untuk menikahi Mela," sambung Darsen.
Pak Adi tersenyum kecil bahkan membuat Darsen cukup bingung. Setelah helaan nafas keluar dari mulut Pak Adi, ia mulai mengatakan sesuatu yang membuat Darsen bingung.
"Darsen, mari kita bicarakan di ruangan Bapak!" pinta Pak Adi lalu berjalan keluar dari kamar Mela.
Darsen mengusap pipi Mela dan menjanjikan semua akan baik-baik saja dan sebelum itu Darsen memastikan Mela terlebih dahulu.
"Jika kita mendapat restu dari Bapak, mau 'kan menikah denganku?"
Mela mengangguk pelan, ia terkesan malu untuk menjawab. Tak dapat di pungkiri jika Mela juga mencintai Darsen. Darsen senang mengetahui jika Mela menerimanya, ia mengecup bibir Mela lalu setelah itu menyusul Pak Adi di ruangannya.
Langkah Darsen penuh doa, ia berharap sang ayah merestui hubungan mereka semestinya. Saat sudah membuka pintu, Pak Adi terlihat menyusun foto-foto wanita menggendong bayi di atas meja. Darsen menyaksikan dengan seksama.
"Sudah lihat semua foto ini? Ini adalah foto Mela saat masih bayi dan ibunya," ucap Pak Adi.
Darsen masih bingung, kenapa sang ayah mempunyai semua foto ini?
__ADS_1
"Mela adalah darah dagingku. Dia putri kandungku dari wanita ini."
DEG!
Darsen sontak terkejut, selama ini sang ayah menyembunyikan rahasia besar ini. Darsen teringat saat dia masih kuliah, ada seorang wanita yang menggendong bayi mencari Pak Adi dan saat itu Darsen yang membukakan pintu.
"Kau tahu jawaban Bapak apa 'kan? Kalian tidak bisa menikah. Kalian satu darah daging dari Bapak walau berbeda Ibu," ucap Pak Adi.
"Apa ibu tahu semua ini?" tanya Darsen dengan rahang mengeras serta tangan yang mengepal.
Pak Adi mengangguk membuat Darsen semakin murka. Kini yang ada di pikirannya adalah perasaan ibunya dari pada perasaannya yang hancur berkeping-keping setelah mengetahui jika wanita yang di cintai ternyata adalah adik kandungnya.
"Bajingan! Bisa-bisanya kau mengkhianati ibu ku. Dasar brengsek!" ucap Darsen sangat emosi.
Kemarahan Darsen membara begitu saja tapi Pak Adi tetap berekspresi biasa saja. Emosi tidak menyelesaikan semua masalah dan akan memperburuk keadaan.
"Awas saja! Aku akan membawa ibu pergi dari mu. Bisa-bisanya kau melakukan ini pada ibu ku. Bapak selama ini adalah panutanku malah ternyata seorang bajingan," ucap Darsen.
"Bu, kemasi barang ibu dan kita akan pindah ke apartemenku sekarang juga! Tinggalkan rumah ini! Tinggalkan Bapak sekarang juga!" ucap Darsen.
Amira tentu saja heran, ia menutup telpon lalu memandang wajah putranya yang tersulut emosi.
"Ada apa, Sen?" tanya Amira sambil menangkup pipi putra besarnya itu.
Pak Adi datang, ia merangkul Mela dan menatap putranya itu. Darsen memandang Mela penuh kebencian, Mela adalah anak dari sang ayah dengan wanita lain. Mela bingung dengan tatapan Darsen, ia sangat takut bahkan hanya sebentar saja menatap sang kakak yang tiba-tiba berubah sikap.
"Ibu mu sudah tahu jika Mela adalah putriku dengan wanita lain. Dia tak masalah dan justru menyayangi Mela sepenuh hati," ucap Pak Adi.
Amira menatap Darsen, ternyata masalah ini yang membuat Darsen sangat marah dan murka. Darsen lalu memandang sang ibu, ia heran kenapa ibunya selama ini hanya diam.
"Kenapa ibu menyimpan rasa sakit ini sendirian? Bapak selingkuh hingga lahir anak sebesar Mela," ucap Darsen.
__ADS_1
Mela sontak terkejut dengan ucapan Darsen. Dia belum tahu ranah pembicaraan mereka. Mela hanya tahu jika sedari kecil ia di panti asuhan dan ibu panti mengatakan jika Mela adalah anak yatim piatu.
"Tenanglah, Darsen! Ibu baik-baik saja! Kita tidak harus pergi dari rumah ini yang harus pergi adalah Mela. Mela yang selama ini menyakiti perasaan ibu. Dia bisa bahagia di atas penderitaan ibu selama ini," ucap Ibu.
Mela masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pak Adi menghela nafas panjang, saat ini ia masih bisa tersenyum membuat Darsen muak.
"Jika kau memang masih ingin keluarga ini utuh. Kau harus secepatnya mengusir Mela dari sini," pinta Ibu.
Mata Mela memerah, gadis cantik itu tak tahu apa-apa. Bahkan ibunya yang selama ini baik malah akhir-akhir ini menunjukan taringnya setelah mengetahui Mela akan menjadi ahli waris dari harta kekayaan Pak Adi.
"Aku salah apa?" tanya Mela dengan bibir yang bergetar.
Pak Adi menepuk punggungnya, ia menyuruh pembantu membawakan koper Mela ke dalam mobil. Mela masih bingung bahkan mulai menitikan air mata.
"Minta maaflah pada ibu mu jika ada salah!" ucap Bapak pada Mela.
Mela malah menangis, ia merasa di usir dari sini padahal sudah 10 tahun ia menjadi bagian dari keluarga mereka apalagi dengan perubahan sikap ibu angkatnya yang semakin hari semakin ketus padanya.
"Ibu, aku minta maaf."
"Pergilah! Jangan pernah kembali lagi ke sini!"
Pak Adi merangkulnya lalu mengajaknya untuk mencari tempat tinggal untuk Mela. Darsen memandangi punggung Mela dengan bergetar. Orang yang di cintainya ternyata adik kandung sendiri.
"Tante Mela .... Jangan pergi!" teriak Velino yang menangis mengejar Mela.
Mela terhenti lalu memeluknya memberikan kecupan pada keponakannya itu. Darsen memandangnya semakin sakit hati, ia tidak bisa menjadikan Mela menjadi ibu untuk Velino.
****
Darsen meminum air putih yang di berikan oleh Pras, saat ini ia ada di rumah Pras untuk curhat tentang masalahnya. Pras mendengarkan dengan seksama lalu mencoba memberi solusi untuk sang bos.
__ADS_1
"Emang sudah ada bukti jika Pak Adi adalah ayah kandung dari Mela? Bos sudah membuktikan sendiri? Bos, aku akan membantu menyelidiki masalah ini. Mulai dari seluk beluk wanita yang melahirkan Mela lalu hubungan dengan Pak Adi dan kenapa Mela bisa di titipkan pada panti asuhan saat masih bayi. Jangan percaya dengan hanya katanya, Bos! Mulut orang terkadang berdusta," ucap Pras.