Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 18 : Tamparan


__ADS_3

Mela sangat bingung, begitu pun dengan Pak Adi. Tiba-tiba sang ibu bertingkah aneh, ibu lalu menyuruh Mela masuk ke kamar dan jangan keluar menemui Darsen. Darsen memandang ibunya dengan kecewa, ia lalu mengajak anaknya untuk kembali ke kamar.


Di dalam kamar, ia sangat sedih ketika ibunya terang-terangan melarang Mela mendekatinya. Sepertinya sang ibu sangat menjaga putri angkatnya.


Pintu terdengar di ketuk, ia melihat sang ibu masuk ke kamarnya.


"Biasanya seorang ibu akan mendukung putranya untuk melakukan apapun tapi kali ini ibu malah begitu denganku," ucap Darsen.


"Mela itu adikmu dan kau bisa-bisanya menyukainya."


Darsen berdecih, ia meminta ibu untuk keluar namun ibu mengancam Darsen akan menyuruhnya pergi dari rumah jika masih menyukai Mela.


"Aku tidak akan menyerah. Jika aku suka maka aku harus mendapatkannya. Mungkin saat ini dia masih 18 tahun namun beberapa tahun ke depan ia sudah benar-benar dewasa," ucap Darsen.


Ibu memandang putranya dengan nanar. Sikap keras Darsen memang tidak bisa di bantah seperti suaminya. Menurutnya tindakan Darsen sangat di luar nalar untuk menyukai sang adik yang bersamanya 10 tahun.


"Carilah wanita yang benar untukmu atau ibu yang akan mencarikannya?"


"Keluarlah, Bu! Aku ingin mengajak putraku untuk tidur cepat."


Ibu memandang putranya dengan penuh iba. Selama ini Darsen melewati masa-masa sulit setelah istrinya meninggal saat melahirkan Velino. Namun kenapa kebahagiaannya harus Mela? Itu yang ibu herankan.


Saat ibunya ke luar, Darsen mencoba menidurkan putranya. Dia menyanyikan lagu untuk Velino dan beberapa menit kemudian putranya terlelap ke ambang mimpi. Kini ia bisa menikmati malam sunyinya sendiri di kamar mewah ini.


Tok ... tok ... tok ...


Terdengar pintu di ketuk, Darsen membukanya yang ternyata Mela membawakan air kompres serta makanan kecil untuk sang kakak.


"Kakak masih sakit 'kan? Biar aku kompres dan ini aku bawa pisang molen untuk kakak," ucap Mela.


"Ibu tahu tentang ini?"


Mela menggeleng, ia langsung di tarik oleh Darsen untuk masuk ke kamar sebelum ibunya tahu.


Mela melihat Velino sudah tidur terlelap mungkin tubuhnya memang butuh istirahat.


"Kenapa tiba-tiba Ibu mendadak aneh ya, Kak?" tanya Mela sambil memeras kompresannya.


Darsen menggeleng, sorot matanya sangat sayu membuat Mela merasa kasian. Masalah pekerjaan pasti membuat Darsen terbebani apalagi kasus para artisnya yang silih berganti.

__ADS_1


"Kakak berbaringlah! Biar aku kompres," pinta Mela.


Darsen menggeleng, ia menatap wajah Mela dengan lembut. Baru kali ini melihat wajah Darsen yang sangat teduh tidak seperti biasanya.


"Mela, kau mau menemani kakak sampai tertidur. Badan kakak panas sekali," ucap Darsen sambil menarik tangan Mela untuk memegang keningnya yang sangat panas.


Mela sedikit berpikir, namun saat melihat wajah Darsen membuatnya sangat merasa kasian. Mela mengangguk membuat Darsen senang.


Suasana kamar mendadak menjadi hangat bahkan membuat Darsen merasa kepanasan.


"Kakak mau makan pisang molennya?" tanya Mela.


Darsen mengangguk, Mela menyuapi kakak manjanya itu. Jarang sekali Darsen bersikap lembut seperti ini dan ini kesempatan Mela untuk meluluhkan hati kakaknya yang biasanya sangat dingin.


Suapan demi suapan Mela lakukan saat itu juga Darsen menghentikan tangannya dan menatap wajahnya sangat dekat.


"Ada apa, Kak?" tanya Mela mulai panik.


"Aku tidak rela membiarkan adikku cepat menikah dengan orang lain."


Mela bingung bahkan wajah Darsen semakin dekat dengan wajahnya. Mela mulai mundur dan ia hampir saja terjatuh namun Darsen memegang tubuhnya. Mereka berpandangan namun Mela memalingkan wajah, ia benar-benar takut dengan Darsen.


"K--k-kakak mau apa?" tanya Mela terbata-bata.


Kami berciuman?


Di rasa otaknya bisa mulai berpikir, ia mendorong tubuh Darsen dan melepas ciuman mereka. Mela segera berdiri tapi tangannya di pegang oleh Darsen.


"Maaf membuatmu terkejut ... "


Tangan Mela bergetar seolah ingin memukul kakak kurang ajarnya itu namun entah kenapa ia seolah tak tega dengan Darsen yang memasang wajah memelas.


Mela segera lari keluar dan ia menuju ke kamarnya. Betapa tidak syok? Pria yang di anggap kakaknya sendiri berani menciumnya.


Saat masuk ke kamar, ia melihat sang ibu membuka laptopnya. Mela berdiri mematung lalu di hampiri sang ibu.


Plaaak ...


Mela di tampar oleh sang ibu tanpa sebab. Air mata langsung menetes dari pelupuk matanya dan ini baru pertama kalinya di tampar oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan? Kau membuat sebuah cerita tentang malam terlarang dengan kakak mu sendiri?" tanya Ibu.


"Ibu ..."


Plaaak ...


"Jika bapakmu tahu pasti dia akan sangat merasa kecewa denganmu," ucap Ibu.


"Ibu, itu hanya cerita," jawab Mela.


Plaaak ...


Mela menangis karena di tampar ibunya 3 kali. Dia memegang pipinya yang sangat nyeri.


"Kau sudah ku adopsi sejak SD tapi ini balasanmu? Kau tidak memikirkan perasaan suamiku yang tulus menyayangimu. Dia sangat berharap padamu tapi jika kau dan Darsen ... hah ... sudahlah! Membayangkan saja ibu sudah ngeri," ucap ibu sambil mengusap wajahnya secara kasar.


Ibu menuju ke laptop dan menghapus cerita Mela setelah itu ia memandang Mela yang masih menangis.


"Ibu akan rahasiakan ini dari bapakmu. Anggap saja jika kau tidak membuat kesalahan! Ibu takut jika bapakmu sampai tahu pasti dia akan mengusirmu. Ibu tidak ingin itu terjadi," ucap ibu.


Mela bersimpuh pada ibu, ia sangat berterima kasih karena sang ibu masih mau melindunginya. Ibu langsung pergi meninggalkan Mela yang masih menangis sesegukan.


Keesokan harinya.


Suasana meja makan nampak seperti biasanya. Ibu juga bersikap biasa saja namun Mela kini hanya diam dengan makan sambil menunduk. Dia tidak mau menatap ibu dan kakaknya.


Darsen merasa jika Mela sedikit berubah bahkan rambutnya menutupi pipinya.


"Mela, kau tidak apa-apa?" tanya Darsen.


Mela mengangguk dan melanjutkan makannya. Darsen tak percaya begitu saja, ia menyibak rambut Mela yang menutupi pipi.


"Mel, pipi mu bengkak kenapa?" ucap Darsen terkejut.


Mela langsung memundurkan wajahnya dari tangan Darsen sedangkan Pak Adi juga sangat terkejut melihat pipi putri kesayangannya.


"Mela sayang, pipi mu kenapa?" tanya Pak Adi.


"Dia terjatuh di lantai kemarin malam, benar 'kan Mela?" sahut ibu.

__ADS_1


Mela mengangguk, Pak Adi segera menyuruh pembantu untuk mengambilkan kotak obat dan memberinya salep. Gelagat Mela membuat Darsen curiga. Apakah ini ada hubungannya dengan ibu? Atau gara-gara dia cium kemarin?


Mela, maafkan aku yang egois! Aku tahu kau sangat syok setelah aku menciummu. Aku juga saat itu tidak sadar telah menciummu. Pasti sekarang kau jijik denganku.


__ADS_2