Lihat Aku, Mela!

Lihat Aku, Mela!
Bab 46 : Darsen tahu yang sebenarnya


__ADS_3

Note : Kenapa sebagian pembaca tiba-tiba menghilang ya? Atau pada ngumpulin bab?


Pak Adi sudah mengajukan gugatan perceraian pada Amira, dia tidak ingin terus menerus memiliki istri yang egois bahkan dengan tega membunuh cucunya sendiri apalagi itu adalah anak Darsen, putra yang ia sangat sayangi. Jika dia membenci Mela, setidaknya ia enggan untuk melakukan itu sebab anak yang di kandung Mela juga anak dari Darsen.


Darsen yang mengetahui kabar orang tuanya akan bercerai langsung menuju Pak Adi di tempat kerjanya. Siapa yang tidak akan marah jika ibunya di ceraikan begitu saja oleh suaminya?


"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Darsen.


"Maksudmu?"


"Bapak menceraikan ibu?"


Pak Adi mengangkat wajahnya yang sedari tadi membaca koran. Dia tersenyum kecil membuat Darsen semakin kesal.


"Ibu salah apa?" bentak Darsen.


Pak Adi menghela nafas dan menjawab dengan santai. "Kenapa kau tidak tanya pada ibu mu?"


Darsen semakin marah, ia bahkan menarik baju sang ayah tanpa rasa berdosa.


Darsen memang sangat menyayangi ibunya dan ia lebih sayang ibunya daripada ayahnya sendiri.


Pak Adi menenangkan Darsen, beliau menyuruhnya untuk duduk tenang lalu Pak Adi memberikan hasil lab jus jeruk yang saat itu diberikan pada Mela oleh Amira. Darsen masih belum sadar akan kesalahan ibunya, Pak Adi menjelaskan dengan tersenyum.


"Ibu mu yang membuat Mela keguguran, dia dengan sengaja memasukan obat aborsi pada jus jeruk Mela," jelas Pak Adi.


Pupil mata Darsen bergetar seolah tidak mempercayai ucapan sang ayah, selama ini dia tahu ibunya sangat menyayangi Mela dan tidak mungkin melakukan hal itu tapi bukti sudah kuat, Pak Adi tidak akan mengubah pikirannya untuk menceraikan Amira. Beliau ingin Amira bertanggung jawab atas perbuatannya.


Darsen mencoba untuk menelpon ibunya namun nomor itu sudah tidak aktif padahal beberapa jam yang lalu ia masih bertemu dengannya.


"Kadang fakta memang tak sejalan dengan pemikiran kita. Ibu mu selama ini cemburu pada Mela," ucap Pak Adi.


Darsen mengusap wajahnya kasar, dia masih tidak percaya jika seorang ibu melakukan hal itu yang membunuh cucunya sendiri.


Darsen melangkah keluar dan masuk ke mobilnya. Tidak bisa membayangkan perasaan Mela yang tahu jika ibunya yang sengaja memasukkan obat aborsi pada minumannya, pasti Mela akan sangat sedih.


Darsen mulai melajukan mobil, ia menuju entah kemana yang terpenting bisa melampiaskan kesedihannya. Ibunya yang selalu ia sayangi dan ia banggakan ternyata seperti itu membuatnya sangat syok.


Darsen mencoba menelpon pras, ia mengajaknya untuk ke tempat biasa. Setelah itu Darson segera menuju ketempat itu.


***


Pras heran dengan wajah murung Darsen yang hanya memainkan makanannya, bahkan sedari tadi Darsen pun tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Ada apa sih, Bos?" tanya Pras.


"Ibu ku yang sengaja menggugurkan kandungan Mela."


"Apa? Sepertinya Bu Amira tidak seperti itu."


Darsen hanya terdiam ia tidak menanggapi ucapan Pras, Pras menepuk punggung Darsen untuk menyabarkannya.


"Lalu Pak Adi bagaimana?"


"Bapak akan menceraikan ibuku."


Pras tahu jika Darsen sangat sedih atas perceraian mereka. Mana ada seorang anak yang mau orang tuanya bercerai? Tidak ada yang mau akan hal itu.


***


Mela masih dirawat di rumah sakit, ia sendirian dan merasa sangat kesepian. Yang ia tahu, Darsen masih bekerja dan akan menjenguknya siang nanti saat jam makan siang.


Pintu ruangannya terbuka, ia melihat Lexter datang sambil membawa buah-buahan.


"Di mana keluargamu?" tanya Lexter.


"Kakak ngapain di sini?"


Mela berusaha untuk duduk, Lexter membantunya. Dia heran dengan sikap Lexter yang mendadak baik.


"Darsen belum datang kemari?"


"Dia bekerja. Dia orang sibuk."


Lexter membuka buah jeruk lalu ia kupas, alih-alih untuk Mela namun ia malah memakannya sendiri. Mela merasa sangat canggung dengan pria itu. Trauma akan Leon yang sering menyakitinya kini beralih ketakutan pada Lexter.


"Kau mau?" tanya Lexter.


Mela menggeleng, ia hanya ingin Lexter cepat pergi sebelum Darsen datang ke sini. Dia tidak ingin sang suami salah paham dengan kedatangan Lexter.


"Ini yang jadi pertanyaanku. Kenapa kau menikah dengan kakakmu sendiri?" tanya Lexter.


Mela menghela nafas. "Karena kami saling mencintai."


"Itu saja?"


Lexter berdiri lalu mendekatkan wajahnya pada Mela. Mela sontak mundur namun tangan Lexter memegangi kedua bahunya.

__ADS_1


"Jika cinta menjadi alasan untuk bersama maka cinta juga menjadi alasan untuk berpisah," ucap Lexter.


Mela tidak mengerti ucapan Lexter, saat bersamaan Darsen dan Pras datang. Darsen langsung menarik baju Lexter dan berusaha memukulnya namun dicegah oleh Pras.


"Apa yang kau lakukan pada istriku?" bentak Darsen.


Lexter hanya tersenyum kecil, ia terduduk di sofa sambil menatap kemarahan Darsen yang menggebu-gebu.


"Tenanglah! Kita bicarakan baik-baik!" ucap Lexter.


"Pras, seret dia keluar!"


"Baik, Bos."


Saat Pras akan mencoba menyentuhnya, Lexter langsung menepisnya. Lexter keluar dengan mengejek Darsen. Darsen langsung memeluk Mela ia tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya.


"Kenapa kau selalu membuatku khawatir?" tanya Darsen.


"Aku tidak apa-apa."


Darsen menciumi wajah Mela, Pras yang ada di sana cukup risih. Dia memalingkan wajah lalu keluar dari ruangan itu daripada menjadi obat nyamuk.


"Aku tidak apa-apa, Kak."


"Kau harus menelponku jika dia datang, aku takut dia psiko seperti adiknya."


Mela menggeleng, ia menjelaskan jika Lexter tidak menyakitinya. Dia juga mengatakan jika Lexter sangat baik bahkan membawakan buah-buahan untuknya.


"Sejak kapan kau menjadi membelanya? Huh ... aku cemburu," ucap Darsen seperti anak kecil.


Mela menangkup wajahnya, ia sangat gemas dengan suaminya yang sangat lebay itu. Tak dapat dipungkiri lagi jika ia sangat mencintai Darsen yang merupakan cinta pertamanya. Darsen memeluknya dengan erat, ia tak ingin kehilangan Mela. Sudah cukup ia kehilangan Seila, ia tak ingin lagi kehilangan Mela.


Darsen yang tidak sabar langsung menciumnya, ia tak peduli jika ini adalah rumah sakit. Mereka berciuman sangat mesra bahkan Mela juga sangat rindu belaian dari Darsen karena ia beberapa hari ini berada di rumah sakit. Lidah mereka saling bertempur menentukan pemenangnya dan nafas mereka terengah-engah. Gejolak cinta ini sudah ada di ujung tanduk namun Darsen harus mengontrol nafsunya supaya tidak kebablasan.


"Bos?" ucap Pras yang tengah masuk ke dalam ruangan itu.


Mela langsung mendorong Darsen, ia sangat malu ketahuan berciuman di ruangan ini. Sedangkan Darsen mengelap bibirnya yang basah.


"Cih ... ini bukan hotel," sindir Pras.


"Diam kau!" jawab Darsen.


Pras membawa seseorang yaitu Pak Adi. Pak Adi hanya menggeleng-geleng tatkala melihat anak-anaknya yang mesum di sembarang tempat.

__ADS_1


"Mela, bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Pak Adi.


__ADS_2