
Darsen mulai memasukan ularnya ke milik Mela. Mela menutup mata sambil meremas leher Darsen bahkan sampai lecet.
Milik Mela benar-benar masih sempit, ia segera menekan sedikit kuat namun tidak berhasil. Mela sudah menahan kesakitan membuat Darsen tidak tega.
"Tahan sedikit, Sayang!"
Darsen memperhatikan dengan seksama lubang sempit nan gelap. Dia mengukur dengan jemarinya lalu tersenyum kecil.
Benar-benar masih perawan.
Dia segera memasukan ularnya dengan pelan, masuk sedikit, sedikit lagi sampai benar-benar masuk.
"Uuuuggghh ..."
Mela meringis kesakitan, Darsen mengusap pipinya. Mata Mela terbuka memandang wajah tampan sang kakak yang sudah menjebol gawangnya.
"Maaf," ucap Darsen.
"Aku juga menginginkan ini. Jadi bukan salah kakak."
Darsen menciumi leher sampai dada Mela. Mela terus mendesah keenakan apalagi saat Darsen mencoba memaju mundurkan ularnya. Lawan Darsen masih belum berpengalaman membuatnya harus bermain secara halus.
"Mmhhhmmm ... Ukhhh .. "
"Sakit, Mela?"
Mela menggeleng. "Tidak."
"Kakak percepat, ya?"
Mela mengangguk.
Darsen mempercepat laju geraknya, Mela terus mendesah merasakan malam pertama yang mengesankan.
"Ah ... Mmmhhhhh ... "
"Hah ... Hah.... Hah... "
Darsen menggoyangkan pinggulnya sekuat tenaga, nafasnya terengah-engah dan keringat bercucuran, tak dapat dipungkiri lagi jika ini adalah malam keinginannya, malam yang tak pernah ia lupakan.
Hawa di kamar ini terasa sangat panas bahkan pendingin ruangan pun tidak bisa mengalahkan panas ini, keringat bercucuran membasahi sprei putih bahkan bunga-bunga yang sengaja ditaburkan di sana juga ikut basah.
Malam ini adalah malam yang sangat panas bagi mereka. Mereka menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam rapat-rapat bahkan status kakak adik pun udah hancur menjadi calon pasangan suami istri yang sah di kemudian hari suatu saat nanti.
Desahan demi desahan terus keluar bahkan Darsen semakin mempercepat menggoyangkan pinggulnya. Tubuh Mela terus saja mengejan menahan hentakan dari darsen.
Ceplok ... ceplok ... ceplok ...
__ADS_1
Kira-kira seperti itulah bunyinya. Bunyi sebuah kemenangan di malam ini, malam yang akan selalu dikenang bagi mereka.
"Ah ... ah ... Kakak, uggghhh ... "
Kedua kaki Darsen semakin lama semakin melemah menahan bobot tubuhnya di atas tubuh Mela, ia berhenti sejenak untuk beristirahat
"Ada apa, Kak?" tanya Mela.
"Kaki kakak sakit."
Mela tersenyum memandang sang kakak yang kelelahan, ia terduduk dan memperhatikan wajah darsen yang sedang mengambil nafas dalam-dalam. Tangan Mela mengusap keringat Darsen menggunakan tisu.
"Segini saja kekuatan kakak?"
"Huh ... awas saja! Kakak akan mengeluarkan kekuatan kakak setelah ini."
Mela tersenyum geli ia mencubit pipi Darsen lalu menatap dada bidang pria itu yang selama ini membuatnya malu jika tidak sengaja melihatnya.
Setelah 10 menit istirahat, mereka melanjutkan permainan dengan gaya yang berbeda. Darsen sangat berpengalaman ia akan menunjukkan semua gaya pada Mela.
Darsen menyuruh Mela untuk tidur tengkurap, ia akan menggagahinya dari belakang.
Karena Mela masih benar-benar sempit Darsen sekuat tenaga memasukkannya dari belakang
"Ukkkhhh .. "
Mela menahan sakit pada miliknya saat Darsen benar-benar memasukkannya. Tubuh Darsen mulai memaju mundurkan miliknya mengikuti irama hati yang sedang menggebu nggebu ini. Tak banyak bicara, tak banyak kata permainan kali ini harus istimewa.
Plak ... plak ... plak ... plak
Darsen terus memompa laju ularnya. Mela menggigit bibir bawahnya dengan keras sampai mengeluarkan sedikit darah. Rasanya benar-benar nikmat sampai ke ubun-ubun.
Oh surga dunia, kau memang membuat nya terbang ke awang-awang.
Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi Mela.
Hentakan dari Darsen terus membuat Mela mendesah nikmat, ia mendengarnya sangat bersemangat sekali.
"Hah ... hah ... hah ... Kakak akan keluarkan di luar, ya?" tanya Darsen.
"Ah ... iya, Kak. Ah ..."
Rasanya sungguh di luar dugaan bagi Mela, seperti memakai ekstasi lalu terbang ke angkasa tinggi. Permainan sang kakak membuatnya menjadi candu ingin lagi dan lagi namun sempat terpikir olehnya. Apakah malam terlarang ini benar-benar terbaik untuk mereka? Bagaimana jika Pak Adi sampai tahu?
Ah ... lupakan pikiran negatif untuk sesaat, mereka harus benar-benar menuntaskan malam ini juga atau mungkin sampai pagi jika Darsen benar-benar kuat.
Sepertinya duda satu anak itu tidak mungkin bisa melakukannya sampai pagi karena sekarang ini pun tenaganya kian lemas.
__ADS_1
"Kakak akan keluar sekarang. Kakak sudah tidak tahan karena sudah 5 tahun kakak berpuasa."
"Mhhhmmm ... keluarkan!"
Hentakan dari Darsen dipercepat, Mela terus saja merengkuh keenakan bahkan desahannya kian mengeras.
"Aaaah ... aaaaaah ... "
Darsen terus memompa dari belakang menunjukkan kejantanannya pada Mela. Mungkin saja setengah jam kemudian ia masih bisa mengerjai sang adik malam ini. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Mela apalagi ini adalah malam pertamanya walau belum menikah.
"Hah ... hah ... kakak akan keluar. Ooooohhhhh shit ...!"
Croooooot ...
Semua cairan putih itu masuk tanpa ampun pada milik Mela. Setelah itu Darsen membaringkan tubuhnya di sebelah Mela.
Nafas Mela terengah-engah bahkan keringat membasahi semua tubuhnya.
Iamelihat sang kakak benar-benar klimaks bahkan sampai tepar.
Setengah jam kemudian.
Darsen ingin bukan hanya dia saha yang keluar, ia ingin Mela juga keluar supaya bisa merasakan permainan yang sesungguhnya. Kali ini Darsen fokus pada Mela memainkannya dengan perlahan namun lama-kelamaan menjadi sangat cepat mela meremas sprei putih.
"Ahhkkk ... kakak ... sakit ..."
"Punyamu keluarkan, Mela!"
"Aaaah ... aaaah ... aaaaah ..."
Tak lama berselang Mela benar-benar keluar, inilah pertama kalinya ia keluar, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.
Darsen tersenyum sangat puas, ia bisa mengeluarkan nafsu mela yang menggebu nggebu.
Mreka sudah sama-sama keluar dan kini mereka mengakhiri permainan malam ini dengan membersihkan diri masing-masing setelah melakukan pergulatan hebat
"Setelah ini aku akan menikahimu? Kita bicara baik-baik dengan bapak. Jika bapak tidak setuju juga jalan terakhir menggunakan kehamilanmu nantinya."
"Jadi aku akan hamil?"
"Mungkin saja, karena aku sudah menanam benih-benih di rahimmu."
Mela memandang perutnya. Apakah ini cara yang benar untuk mendapat restu dari sang ayah? Setelah melakukannya, ia merasa sangat menyesal namun untuk apa menyesal jika ia pun sangat ikhlas melakukan semua ini dengan sang kakak?
"Terima kasih sudah memberikan perawanmu padaku? Aku janji akan menikahimu secepatnya."
"Janji ya, Kak?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku orang yang bertanggung jawab."
Mila memeluk erat tubuh Darsen dari belakang. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan kakak atau lebih tepatnya cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang mengambil keperawanannya, namun ia ikhlas tanpa paksaan sedikitpun. Mungkin ini sangat berdosa tapi biarlah menjadi dosa terindah bagi mereka karena keadaan yang memaksa mereka harus melakukan ini.