
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Masih tersimpan kelopak bunga mawarmu
begitu mengiris hati setiap melihatnya
namun tak ingin kubuang begitu saja
walaupun telah kering dan tak wangi lagi
Seperti air mata ini
mengering seiring waktu bergulir merentan
mengikuti desir jiwa setiap detiknya
mengenang pelabuhan cinta yang telah pergi selamanya
Di taman bunga kala itu tidak kusangka
adalah pelukan terakhir kau berikan
kepergianmu meruntuhkan rantai hidupku
dalam bejana kepiluan yang teramat panjang
Saat dua purnama berlalu
kegelisahanku masih sama
menggerus palung kalbu terasa ngilu
akankah mampu aku tanpamu sampai hari yang kutuju
Angin membiarkan saja sekuntum bunga mawar
yang sedang merajuk dan berdiam diri di tangkainya
yang berkali-kali terangguk-angguk digoyang angin
Angin membiarkan bunga menggigit bibirnya sehingga
tak ada satu kata pun yang terlepas dari mulutnya
yang indah itu
Karena angin telah diajarkan oleh nenek moyangnya
tentang bagaimana cara memanjakan kekasih hati
yaitu dengan cara membiarkannya berdiam diri
pada saat ia sedang bersedih hati
Ah lelah, sekarang semuanya hanya memupuk rindu.
Padahal jarak kita hanya bagai si kampus gajah biru dan si kujang obor oren,
Tapi perasaanmu padaku sejauh si almamater kuning perbatasan dengan biru dongker pindah gedung.
Ahhh rindu rindu dan rindu.
Kalau boleh, bisakah sekali saja kita bertemu dengan dalih open house kampus?
Padahal sekalian saja open heart.
Tak apa, aku tak memaksa, hanya sedikit berusaha.
Ngomong-ngomong, apa kau tak rindu tempat kita pertama berjumpa?
Di danau kematian, katanya.
__ADS_1
Aku ingat ketika aku antusias waktu itu
Melompat-lompat melihat pesawat yang akan terbang
Dan aku tertawa ketika pesawat itu terbang
Kucoba kejar sekuat tenaga sampai pesawat itu hilang di pandangan
Lalu sebuah kenyataan mencubit
Bahwa aku masih di sini karenamu
Hari-haripun kulewati dengan membuatmu kagum
Yah… setidaknya aku mencoba
Kupu-kupu selalu berterbangan setiap kali kau senyum kepadaku
Mataku pun selalu tertuju ketika ada kehadiranmu
Duh, dasar tak tahu diri…
Kehadiranmu mengalihkanku, tahu?
Waktu berganti dan kau milik orang lain
Entah kenapa sudah seperti itu di pikiranku…
Kulihat kau bermesraan dengannya
Dan yah, tidak apa-apa…
Aku tidak akan terpengaruh
Seperti biasa, aku hanya akan menjadi badut di lingkaran kecil kita saja
Ah… Dasar bajingan kotor…
Bisa tidak nadamu sedikit merendah!
Tak pernah dengar kata “Lembut”?
Baru saja karma pergi
Bisa-bisanya kau memanggilnya kembali!
Memangnya ada apa?
Kau suka bercumbu dengannya?
Senikmat itukah rasanya?
Hei, pelacur murahan!
Kau pikir aku buta?
Keringatmu membanjiri tubuhmu
Dan kau pikir aku buta?
Ah… Dasar persetan kalian berdua!
Uruslah urusan kalian!
Jangan melampiaskan apinya kepada orang lain!
Sialan… Aku hanya bisa menatap sinis
Sialan… Aku hanya bisa menggertakkan gigi
Aku melihatmu di kolom komentarnya
__ADS_1
Menanyakan pertanyaan klise setelah melihat captionnya yang galau
Lalu kupikir,
“Apa-apaan ini…”
Kenapa “kau” ada di sana?
Kenapa kalian berdua?
Ada apa dengan kalian?
Setelah itu, kuberanikan diri untuk mendekatimu
Kuberitahu keadaannya di saat sebenarnya aku hanya mengada-ngada
Kulakukan cara licik itu untuk menyadarkanmu
Bahwa sebenarnya Aku-lah yang pantas
Aku-lah yang pantas di sisimu
Aku-lah yang pantas kau khawatirkan
Aku-lah takdirmu
Dan akhirnya, kau memakan umpanku
Kau menanyakan sebuah pertanyaan klise kepadaku
Siklus kebingunganpun akan terulang lagi
Waktu kehancuranku juga akan terulang lagi
Namun, seperti seorang putri, aku hanya tersenyum
Menantikan hari-hari penuh warna bersamamu
Kutunggu pesanmu setiap saat
Dan kutunggu tulisan darimu di kertasku
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
......................
Akhirnya Wildan mengantar Winda ke tempat kelas X5 biasa berkumpul. Setibanya disana Wildan ingin langsung pergi tapi Winda menahannya.
"mau kemana? kamu harus jelasin kemereka dulu donk kenapa aku bisa lama kayak gini"
"itu bukan urusanku"
"pokoknya kamu harus jelasin kemereka" ujar Winda seraya menarik lengan Wildan dan membawanya masuk.
Disana Wildan melihat yang lainnya sedang membahas materi dengan selingan sendau gurau sehingga tak menyadari kedatangan mereka berdua. Dilihatnya seluruh anak diruangan itu. Winda hanya diam membiarkana Wildan mengamati mereka. Terdengar debatan kecil di antara mereka. Berdebat tentang mana yang benar dari soal itu, dimana debatan itu tetap diselinggi candaan. Tiba-tiba Wildan mengatakan sesuatu dan membuat seisi ruangan diam sesaat karenanya.
"yang kalian debatkan itu salah, teorinya seperti ini..." ujar Wildan dan dilanjutkan penjelasan Wildan di depan ruangan dimana disana ada sebuah papan tulis kayu. Wildan menjelaskan apa yang didebatkan mereka. Semua anak mendengarkan setiap penjelasan Wildan dimana mereka dengan tenang mencatat setiap point dari penjelasan itu termasuk Winda. Setelah selesai menjelaskan Wildan berbalik dan tertegun melihat ekspresi kawannya yang lain yang sangat fokus dan tersungging senyum disana dikala mereka telah memahami penjelasan itu.
"wah luar biasa, biasanya kalau kami belajar itu ndk akan pernah selesai debatnya dan ternyata salah juga pada akhirnya." ujar Santi
"iya kamu luar biasa, ndk nyangka kita dapat bertemu teman yang bisa mrnjadi penengah dan solusi dari perdebatan panjang ini. oh ya kenalkan aku Andri ketua kelas X5 kalau kamu?" sapa Andri dengan ramah dan pujian yang diberikannya hanya membuat Wildan terdiam seakan tidak percaya bahwa dirinya berharga bagi kawan-kawannya itu
"hmmm, bengong aja sih. itu diajak kenalan. ealah malah diam, dia Wildan ndri, dia teman sebngku denganku. karenanya aku telat tapi syukur deh pas aku bawa dia dia dapat menjawab dari pertanyaan sebelumnya yang sulit aku jelaskan" jelas Winda menanggapi sapaan Andri yang hanya ditatap diam oleh Wildan
"oh ya Win, soal matematika kemarin kami dah ngerjain tapi masih ada beberapa soal yang belum kami pahami, boleh kita lanjut jelasin itu" potong Bagas mengalihkan kecanggungan itu
akhirnya Winda menjelaskan apa yang ditanyakan mereka. Wildan ikut membantu Winda menjelaskan itu. Tanpa disadari Wildan sudah mulai terbuka dan berbaur. Hal yang membuat Winda, Helen dan Mala terheran soalnya setelah beberapa kali kesempatan bersama mereka tak pernah melihat sisi ramah yang mereka liat sekarang. Suasana belajar pun menjadi lebih seru dengan candaan dan sisipan cerita lucu tapi tetap mereka dengan seriusnya memahami setiap materi yang mereka bahas itu.
......................
...Happy Reading Everyone...
__ADS_1