Maafkan Aku

Maafkan Aku
010


__ADS_3

...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Masih tersimpan kelopak bunga mawarmu


begitu mengiris hati setiap melihatnya


namun tak ingin kubuang begitu saja


walaupun telah kering dan tak wangi lagi


Seperti air mata ini


mengering seiring waktu bergulir merentan


mengikuti desir jiwa setiap detiknya


mengenang pelabuhan cinta yang telah pergi selamanya


Di taman bunga kala itu tidak kusangka


adalah pelukan terakhir kau berikan


kepergianmu meruntuhkan rantai hidupku


dalam bejana kepiluan yang teramat panjang


Saat dua purnama berlalu


kegelisahanku masih sama


menggerus palung kalbu terasa ngilu


akankah mampu aku tanpamu sampai hari yang kutuju


Angin membiarkan saja sekuntum bunga mawar


yang sedang merajuk dan berdiam diri di tangkainya


yang berkali-kali terangguk-angguk digoyang angin


Angin membiarkan bunga menggigit bibirnya sehingga


tak ada satu kata pun yang terlepas dari mulutnya


yang indah itu


Karena angin telah diajarkan oleh nenek moyangnya


tentang bagaimana cara memanjakan kekasih hati


yaitu dengan cara membiarkannya berdiam diri


pada saat ia sedang bersedih hati


Ah lelah, sekarang semuanya hanya memupuk rindu.


Padahal jarak kita hanya bagai si kampus gajah biru dan si kujang obor oren,


Tapi perasaanmu padaku sejauh si almamater kuning perbatasan dengan biru dongker pindah gedung.


Ahhh rindu rindu dan rindu.


Kalau boleh, bisakah sekali saja kita bertemu dengan dalih open house kampus?


Padahal sekalian saja open heart.


Tak apa, aku tak memaksa, hanya sedikit berusaha.


Ngomong-ngomong, apa kau tak rindu tempat kita pertama berjumpa?


Di danau kematian, katanya.

__ADS_1


Aku ingat ketika aku antusias waktu itu


Melompat-lompat melihat pesawat yang akan terbang


Dan aku tertawa ketika pesawat itu terbang


Kucoba kejar sekuat tenaga sampai pesawat itu hilang di pandangan


Lalu sebuah kenyataan mencubit


Bahwa aku masih di sini karenamu


Hari-haripun kulewati dengan membuatmu kagum


Yah… setidaknya aku mencoba


Kupu-kupu selalu berterbangan setiap kali kau senyum kepadaku


Mataku pun selalu tertuju ketika ada kehadiranmu


Duh, dasar tak tahu diri…


Kehadiranmu mengalihkanku, tahu?


Waktu berganti dan kau milik orang lain


Entah kenapa sudah seperti itu di pikiranku…


Kulihat kau bermesraan dengannya


Dan yah, tidak apa-apa…


Aku tidak akan terpengaruh


Seperti biasa, aku hanya akan menjadi badut di lingkaran kecil kita saja


Ah… Dasar bajingan kotor…


Bisa tidak nadamu sedikit merendah!


Tak pernah dengar kata “Lembut”?


Baru saja karma pergi


Bisa-bisanya kau memanggilnya kembali!


Memangnya ada apa?


Kau suka bercumbu dengannya?


Senikmat itukah rasanya?


Hei, pelacur murahan!


Kau pikir aku buta?


Keringatmu membanjiri tubuhmu


Dan kau pikir aku buta?


Ah… Dasar persetan kalian berdua!


Uruslah urusan kalian!


Jangan melampiaskan apinya kepada orang lain!


Sialan… Aku hanya bisa menatap sinis


Sialan… Aku hanya bisa menggertakkan gigi


Aku melihatmu di kolom komentarnya

__ADS_1


Menanyakan pertanyaan klise setelah melihat captionnya yang galau


Lalu kupikir,


“Apa-apaan ini…”


Kenapa “kau” ada di sana?


Kenapa kalian berdua?


Ada apa dengan kalian?


Setelah itu, kuberanikan diri untuk mendekatimu


Kuberitahu keadaannya di saat sebenarnya aku hanya mengada-ngada


Kulakukan cara licik itu untuk menyadarkanmu


Bahwa sebenarnya Aku-lah yang pantas


Aku-lah yang pantas di sisimu


Aku-lah yang pantas kau khawatirkan


Aku-lah takdirmu


Dan akhirnya, kau memakan umpanku


Kau menanyakan sebuah pertanyaan klise kepadaku


Siklus kebingunganpun akan terulang lagi


Waktu kehancuranku juga akan terulang lagi


Namun, seperti seorang putri, aku hanya tersenyum


Menantikan hari-hari penuh warna bersamamu


Kutunggu pesanmu setiap saat


Dan kutunggu tulisan darimu di kertasku


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


......................


Akhirnya Wildan mengantar Winda ke tempat kelas X5 biasa berkumpul. Setibanya disana Wildan ingin langsung pergi tapi Winda menahannya.


"mau kemana? kamu harus jelasin kemereka dulu donk kenapa aku bisa lama kayak gini"


"itu bukan urusanku"


"pokoknya kamu harus jelasin kemereka" ujar Winda seraya menarik lengan Wildan dan membawanya masuk.


Disana Wildan melihat yang lainnya sedang membahas materi dengan selingan sendau gurau sehingga tak menyadari kedatangan mereka berdua. Dilihatnya seluruh anak diruangan itu. Winda hanya diam membiarkana Wildan mengamati mereka. Terdengar debatan kecil di antara mereka. Berdebat tentang mana yang benar dari soal itu, dimana debatan itu tetap diselinggi candaan. Tiba-tiba Wildan mengatakan sesuatu dan membuat seisi ruangan diam sesaat karenanya.


"yang kalian debatkan itu salah, teorinya seperti ini..." ujar Wildan dan dilanjutkan penjelasan Wildan di depan ruangan dimana disana ada sebuah papan tulis kayu. Wildan menjelaskan apa yang didebatkan mereka. Semua anak mendengarkan setiap penjelasan Wildan dimana mereka dengan tenang mencatat setiap point dari penjelasan itu termasuk Winda. Setelah selesai menjelaskan Wildan berbalik dan tertegun melihat ekspresi kawannya yang lain yang sangat fokus dan tersungging senyum disana dikala mereka telah memahami penjelasan itu.


"wah luar biasa, biasanya kalau kami belajar itu ndk akan pernah selesai debatnya dan ternyata salah juga pada akhirnya." ujar Santi


"iya kamu luar biasa, ndk nyangka kita dapat bertemu teman yang bisa mrnjadi penengah dan solusi dari perdebatan panjang ini. oh ya kenalkan aku Andri ketua kelas X5 kalau kamu?" sapa Andri dengan ramah dan pujian yang diberikannya hanya membuat Wildan terdiam seakan tidak percaya bahwa dirinya berharga bagi kawan-kawannya itu


"hmmm, bengong aja sih. itu diajak kenalan. ealah malah diam, dia Wildan ndri, dia teman sebngku denganku. karenanya aku telat tapi syukur deh pas aku bawa dia dia dapat menjawab dari pertanyaan sebelumnya yang sulit aku jelaskan" jelas Winda menanggapi sapaan Andri yang hanya ditatap diam oleh Wildan


"oh ya Win, soal matematika kemarin kami dah ngerjain tapi masih ada beberapa soal yang belum kami pahami, boleh kita lanjut jelasin itu" potong Bagas mengalihkan kecanggungan itu


akhirnya Winda menjelaskan apa yang ditanyakan mereka. Wildan ikut membantu Winda menjelaskan itu. Tanpa disadari Wildan sudah mulai terbuka dan berbaur. Hal yang membuat Winda, Helen dan Mala terheran soalnya setelah beberapa kali kesempatan bersama mereka tak pernah melihat sisi ramah yang mereka liat sekarang. Suasana belajar pun menjadi lebih seru dengan candaan dan sisipan cerita lucu tapi tetap mereka dengan seriusnya memahami setiap materi yang mereka bahas itu.


......................


...Happy Reading Everyone...

__ADS_1


__ADS_2